
---
Tim Fikri telah berangkat satu jam yang lalu untuk mencari keberadaan Angga, Naya, dan juga Beno. Mereka bergerak dengan mengacu pada titik ditemukannya jejak Angga dan lokasi dimana Beno ditangkap sesuai yang ditunjukkan oleh Pak Herson. Sedangkan Pak Herson sendiri sesuai rencana tetaplah tinggal digubuk bersama Bu Mayang.
Sebenarnya bukan sekedar alasan sakitnya Pak Herson yang membuat Fikri mengambil keputusan untuk tidak mengajak Pak Herson dan istri. Dalam usaha penyelamatan ini, tim dituntut untuk melakukan mobilitas yang cepat dan tangkas. Tentu fisik dan usia Pak Herson kurang bisa mendukung. Tenaga-tenaga muda jauh lebih tangkas darinya. Terkecuali Pak Bagas tentunya. Dengan kemampuannya, justru tenaga-tenaga muda lainnya jauh dibawah dia.
"Pak, Kancil!" bisik Fikri saat mereka dalam perjalanan.
--Memang mereka sengaja untuk sekalian berburu, sebagai bekal agar tidak kelaparan selama di perjalanan.
Tanpa suara, Pak Bagas berlari sigap membuntuti kancil tersebut yang nampak belum menyadari akan datangnya bahaya. Dengan santainya sang kancil menikmati makan siang diantara rerumputan yang tumbuh subur.
Semua menghentikan langkah, khawatir menimbulkan gerakan berlebih sehingga menimbulkan kecurigaan bagi kancil. Berjingkat Pak Bagas memperpendek jarak.
Tersisa jarak 5 meter, menggunakan panah yang sudah dipersiapkan, Pak Bagas membidik sasaran. Telak, panah itu menancap tepat di bagian perut kancil. Meski tak langsung mati, namun panah mampu membuatnya tersungkur. Fikri menyusul membantu. Dengan cepat pula mendekati kancil kemudian menyembelihnya.
"Bravoo.." teriak Jaka girang.
"Hebat lu, Kri." Puji Rena terang-terangan.
"Hehe apa hebatnya, cuma nyembelih ini. Jaka juga bisa kalee. Pak Bagas noh yang hebat, bisa naklukin kancil yang terkenal lincah," tampik Fikri tak enak hati.
"Hehe, bagi mbak Rena mah..mas Fikri yang terhebat. Bukan begitu mbak?" goda Pak Bagas terkekeh.
"Ish," Rena menyemu merah.
Berbekal daging kancil yang sudah disiangi dan dipotong, mereka melanjutkan perjalanan pencarian. Tekad mereka hanya satu, semua harus selamat, no debat.
---
Dilain tempat, terlihat Angga dan Naya yang sedang berbicara didalam gubuk milik trio arogan.
"Kamu harus tetap makan. Bersyukur, mereka masih mau memberi makan kita," Naya tengah memberi suapan daging ke mulut Angga. Kondisi Angga yang terikat tidak memungkinkan untuk makan sendiri.
"Hhmm..Mereka itu licik. Tak mungkin mereka memberi makan secara cuma-cuma. Pasti ada maunya.." desis Angga.
"Iya sih. Tapi namanya dapet rizki, jangan ditolak hehe," ucap Naya sambil juga melakukan gigitan besar pada daging yang ia pegang.
"Logikanya, kenapa ngasih makan tapi aku masih diiket berhari-hari. Kram semua ini rasanya kaki dan tangan. Aliran darah jadi ga lancar," Angga cemberut.
"Iya..aku ngerti. Tapi biarlah sementara seperti ini. Tuhan pasti selalu punya rencana untuk kebaikan kita. Melihat kita hanya dikurung lebih dari tiga hari, namun tidak diperlakukan secara kasar, itu artinya Tuhan masih melindungi kita. Apapun keadaannya, kita harus tetap bersyukur." Tandas Naya mencoba memberikan efek penenangan terhadap Angga.
Angga tak menjawab. Ia hanya tersenyum tulus sambil memandang lekat-lekat wajah sang dewi kampus.
__ADS_1
"Inilah yang paling aku suka dari kamu. Bisa menjadi penyejuk jiwa. Setiap ucapanmu selalu membuatku damai," batin Angga.
--Tatapannya masih tetap terpaku kearah Naya, membuat si empunya wajah menjadi salah tingkah sendiri.
"Wahh, makan siang bareng nih ceritanya. Lu bedua akur banget. Gue curiga jangan-jangan kalian pacaran ye?!" Gino muncul diambang pintu gubuk.
--Candra dan Sisca tak terlihat bersamanya.
Angga hanya menatap datar ke arah Gino tanpa menjawab apapun. Justru Naya yang sibuk ngomel.
"Suka-suka gue dong. Mo pacaran kek, kagak kek. Bukan urusan lu," sinis Naya.
--Gino hanya tersenyum melihat kesewotan Naya.
"Nay, lu bisa diluar bentar?. Gue mo ngomong sama Angga.." ucap Gino kemudian.
"Emang kenapa kalo ada gue?" Naya mendelik sadis.
"Stt..gapapa, Nay. Kamu tinggal bentar deh.." potong Angga lembut.
--Tak ada penolakan dari Naya jika yang memerintah adalah Angga.
--Bergegas Naya bangkit dan berjalan keluar gubuk.
"Ahh..tipe istri penurut. Idaman sejuta umat," hati Angga lumer ndlewer terkewer-kewer melihat kelembutan sang dewi kampus pujaannya.
--Dia tipe yang tidak suka basa-basi.
--Jenis orang yang irit dalam berbicara diluar topik.
"Lu udah liat kan, kami cuma berdua. Bisa jadi ada penumpang lain yang juga tinggal disini.." jawab Angga sedikit mengaburkan.
--Dia tak sepenuhnya berbohong.
--Berkata sesuai kenyataan sekarang, karena memang tim Beno tidak sedang bersama Angga.
"Ah lu ngomongnya bias," tandas Gino kurang suka dengan apa yang disampaikan Angga.
"Ada ato tidak. Ga ada manfaatnya juga buat lu kan?. Gue tau kalo yang lu incar cuma Naya," Angga menanggapi dengan sinis.
"Gue juga ngincer lu," ucap Gino cepat.
"Maksud lu?" jelas terlihat kernyitan di kening Angga menandakan ia tidak paham dengan apa yang diucapkan Gino.
"Gue ada tawaran buat lu.." lanjut Gino.
--Angga hanya diam tak menanggapi.
__ADS_1
--Sebagai gantinya, hanya mata Angga yang menatap tajam ke arah Gino.
"Sebelumnya lu perlu tau dulu. Di pulau ini ada sebuah suku dengan anggota cukup banyak. Mereka semua cewek. Kami sempat mengalami konfrontasi dengan mereka. Meski cewek, tenaganya gede kayak cowok. Mereka juga lincah, gesit, dan terbiasa bertarung. Yang gue ga abis pikir, yang diincer cuma gue ama Candra. Habis-habisan mereka berusaha menangkap kami berdua. Sedangkan Sisca dibiarkan begitu saja." Gino membuka cerita tentang Putri CEO.
--keduanya belum tahu jika kini Beno sedang berada ditangan para wanita tersebut.
"Lalu?" tanya Angga yang masih belum paham dengan arah pembicaraan Gino.
"Gue mau lu bergabung dengan kita buat ngadepin mereka. Gue paham kemampuan beladiri lu tinggi. Kita bisa bahu-membahu dalam menghadapi mereka. Bisa jadi kita akan tinggal lama di pulau ini. Sudah pasti hidup kita akan bersinggungan dengan mereka terus." terang Gino.
"Kalau gue ga mau?" nada bicara Angga masih terdengar menjengkelkan bagi Gino.
"Hahaha..sebelum lu menyetujui tawaran ini maka kita bukanlah teman, Bro. Bullshit dengan kenyataan masa lalu kita di kampus. Yang pasti ini rimba. Yang kuat yang akan menang. Jadi gue bisa lakuin apa aja ke Naya jika lu menolak gabung. Gue tekanin ya, kita sekarang masih berstatus musuh, bukan teman!" kata-kata bernuansa intimidasi dilontarkan Gino dengan lugas.
"Gue tau lu jago, tapi gue bisa ngebunuh lu dengan mudah jika dalam keadaan lu terikat seperti ini. Dan setelah itu gue bisa bebas nikmatin tubuh Naya hahaha," Gino tertawa licik.
--Mata Angga mendelik tajam.
"Awas lu sampai apa-apain Naya!" ancam Angga emosi.
"Gimana menurut lu, hahh?!" Sambung Gino, masih sangat mengintimidasi.
"Beri gue waktu sehari buat berpikir," ucap Angga diplomatis.
--Sebenarnya ia tak takut pada ancaman Gino.
--Hanya keselamatan Naya yang menjadi pikirannya.
"Gue harap lu bijak buat mengambil keputusan." Gino berlalu begitu saja keluar dari gubuk setelah mengucapkan kalimatnya.
Bersambung ke episode berikutnya 🔜
---
Numpang promo gaes,
Sambil menunggu update, silahkan mampir ke novelku lainnya. Berjudul "Buscando Identidad".
Sebuah novel yang bercerita tentang perjuangan seorang Agen Pengamanan Swasta dalam mengatasi berbagai permasalahan kliennya, menjalani kisah cinta, hingga mencari orangtuanya yang hilang.
IG : @fxkdshoot
***
__ADS_1