Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 70 : Berpisah itu mudah!


__ADS_3


WARNING ⚠️


Episode ini mengandung unsur cerita untuk usia 18+. Bagi yang belum cukup umur atau tidak berkenan, silahkan melewatinya. Pada intinya, bab penutup ini berkisah tentang kebahagiaan Angga dan Naya.


 


...


Makan di resto terenak


Membaca di sudut paling tenang


Menonton pertunjukan musik


Telusuri jalanan dari malam hingga pagi


Kita pernah lama bersama


Semua titik di kota ini adalah kita


Walau kau putuskan untuk pergi


Cerita kita tetap 'kan abadi


Percayalah sayang berpisah itu mudah


Tak ada kamu di hidupku aku mampu


Namun menghapuskan semua kenangan kita


Adalah hal yang paling menyulitkan untukku


Simpan baju kesayangan


Tutup album fotoku rapat-rapat


Buang buku-buku puisi


Mengganti semua dekorasi


Semua hal yang kucoba lupakan


Selalu berujung padamu


Semua tempat yang telah kudatangi


Selalu ada kamu


Kamu lagi


Kamu, kamu lagi


Kamu lagi


(Rizki Febian Ft. Mikha Tambayong)


...


Tenang saja pembaca, novel ini tak akan berakhir dengan perpisahan. Meski lirik diatas berkisah tentang perpisahan, namun bukan itu yang dimaksudkan oleh Author.


Hanya karena lagunya enak, Author jadi memaksakan lirik tersebut masuk kedalam bab terakhir ini.


Hahaha, tentu tidak demikian. Betapa piciknya Author jika memaksakan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Sejatinya, Author menggaris bawahi tentang judul lagu tersebut, 'Berpisah


itu mudah'. Pembaca akan memahaminya setelah membacanya hingga bab selesai.


(Tapi beneran enak lho lagunya. Fii..Yulfii, dengerin deh 😆)


***



1 Tahun setelah tim berangkat kembali ke pulau Mawar...


"Bro..cepet dikit donk. Lu ngaca mulu dari tadi dah. Noh Pak Leo udah bolak-balik telepon!!" Beno nampak gusar.


"Lu yang berkepentingan, tapi kita bedua yang mumet, tegang, dan bersahaja. Ayoooh cepettt!!" imbuh Fikri juga dengan gusar.


PLAKK


"Ga pake 'bersahaja' segala!!" Beno melotot jengkel sambil mengayunkan tangannya ke bahu Fikri.


--Fikri hanya meringis dengan wajah tanpa merasa bersalah.


"Iye..iyeee. Bawel lu pada!" jawab Angga dengan masih mematut diri didepan cermin.


"Lah lahh..bentar woy. Hadohh gosah diseret-seret napaaa?!" tubuh Angga sejenak bergerak cepat tatkala kedua tangannya ditarik paksa oleh Beno dan Fikri.


--Mau tidak mau Angga harus mengikuti langkah kedua sahabatnya daripada jas lengan panjangnya berubah kucel.


Disamping mobil terlihat Lita dan Pak Bagas menunggu juga dengan wajah tegang. Bergegas mereka masuk kedalam mobil ketika melihat Angga ditarik paksa oleh Beno dan Fikri menuju mobil.


Pada mobil yang lain terlihat kedua orangtua Angga bersama Kaaran, Rania, dan si kembar Zoe & Zack. Mobil itu mulai bergerak mengiringi mobil yang dikemudikan Pak Bagas.


Dimana William?. Asisten Kaaran Dirga tersebut sudah berada di kediaman Pak Leo untuk membantu Rendra dan juga Rena.


Sebenarnya ada hal ikhwal apakah gerangan sehingga semua terlihat sibuk?. Yah!!, tepat sekali dugaan Author sendiri 😆. Hari ini adalah hari dimana Angga dan Naya akan melangsungkan pernikahan.


Whats??!!


Baru lulus kuliah setahun kemarin, tapi sudah buru-buru menikah?.


Itu adalah permintaan dari Pak Leo yang semakin beranjak lanjut usia. Ia ingin segera mengalihkan posisi CEO kepada Naya. Namun Pak Leo bersikeras bahwa Naya harus menikah dulu sebelum menjabat sebagai CEO. Pak Leo tak ingin kesibukan sebagai CEO justru menjadikan jarak bagi Naya dan Angga jika Naya diangkat sebagai CEO sebelum menikah. Belum lagi kecantikan sang dewi mantan anak kampus akan membuat tergiurnya banyak staf perusahaan berikut relasi-relasi dari luar. Dengan bersuamikan Angga, setidaknya Pak Leo tidak akan terlalu khawatir jika anak cantiknya menerima godaan dari pria lain.


Sebenarnya ada banyak judul lagu yang bisa dikutip liriknya untuk menunjang bab pernikahan ini. Sebut saja Akad dari Payung Teduh, Janji Suci dari Yovie & Nuno, dan beberapa lirik romantis lainnya.

__ADS_1


Namun kembali lagi pada judul bab ini yang sekaligus juga merupakan judul dari sebuah lirik, 'berpisah itu mudah'. Ya memang, berpisah itu mudah. Tinggal pinjem Michael, eh kok Michael sih. Tinggal pinjem Samuel sebentar dari Yulfi, kelar urusan. Itu jelas berbeda dengan cara menyatukan cinta. Tak kurang dari 1,5 tahun perjuangan Angga dan Naya untuk bisa sampai di pelaminan (Pelaminan lho ya, jangan salah baca menjadi kelaminan!!. Jangan terburu-buru melenceng. Scene yang 'anu' nanti akan ada sendiri).


Berbagai kesulitan seperti terdampar di pulau kecil, diserang hewan buas, diserang penjahat, koma, hingga bermusuhan dengan sahabat sendiri adalah jalan terjal berliku agar mereka mampu merumuskan pernikahan ini.


Terbukti, menjalin hubungan hingga mencapai pernikahan jauh lebih sulit daripada berpisah.


***



SAHHH!!


Seluruh hadirin hadirot tersenyum lega tatkala prosesi akad nikah Angga dan Naya berlangsung lancar, hikmad, sakral, dan 'bersahaja'.


Naya yang saat itu mengenakan kebaya putih, sanggul modern, dan makeup lengkap dengan ronce melati, sungguh terlihat cantik memukau. Dewi kampus nomer wachid semakin terlihat kinclong dalam dandanan seperti itu. Naya bak ratu disana, membuat Angga sampai ngeces beberapa kali (sori tak ada istilah menelan saliva, terlalu mainstream).


Hal yang paling mengharukan adalah saat acara sungkem, yakni sesi bersalaman antara mempelai dengan orangtua mereka. Tak sedikit dari hadirin yang melinangkan airmata menyaksikannya. Dalam prosesi tersebut terkandung makna bahwa saat itulah gerbang perpisahan antara anak dan orangtua. Setelahnya, mereka akan menjalani hidup sebagai manusia dewasa lengkap dengan segala konsekuensi dan tanggungjawabnya.


"Selamat, Bro. Akhirnya lu bakal belah buah naga," kali ini Angga benar-benar mendapatkan pelukan dari Beno.


"Kok buah naga sih?" Angga mengernyitkan kening.


"Ini fakta, belah duren ga ada keluar warna merahnya. Cuma buah naga yang bisa begitu!!" bisik Beno terkesan mengerikan.


"Selamat, Sob. Semoga Samarata. Doakan sisa gatoloco segera menyusul!!" kini Fikri berganti memeluk Angga.


"Aamiin. Gue doain lu bedua cepet nyusul. Tapi apaan Samarata bro?, bukannya Samawa ya?!" Angga garuk-garuk kopyah sampai penutup kepala tersebut hampir jatuh dari tempatnya.


"Iyee..Samawa-nya samarata. Berimbang, ga berat sebelah.." tukas Fikri sok paham.


"Nayaaa...keren lu tau ga. Lu paling cantik hari ini. Selamat ya sayaangg.." cipika-cipiki ala kaum hawa terjadi antara Rena dan Naya.


"Iya makasih, Ren. Lu sohib terbaik gue sampe kapanpun," mata Naya berkaca-kaca.


Berlanjut giliran bersalaman ada Lita, Pak Bagas, Rendra bahkan Sukma juga hadir disana. Tak lupa turut pula Kaaran, Rania, William, dan si kembar Zoe & Zack.


Disudut ruangan terlihat Pak Leo dan Sonia tengah bercengkerama bersama Kapten Kavka serta Yulfi. Tak lama berselang, Kaaran, Rania, Zoe & Zack, Lita, dan Pak Bagas ikut bergabung.


Satu pertanyaan yang akan timbul dibenak pembaca saat ini. Mengapa Sisi dan Jaka tidak hadir disana?. Apakah peristiwa pertempuran dengan suku Lampard satu tahun yang lalu dan pencarian untuk menemukan keberadaan Sisi dan Jaka tidak membuahkan hasil?.


Sebenarnya apa yang telah terjadi sejak Helikopter milik Pak Leo yang membawa tim mendarat di markas Sukma tahun lalu?.


***



Ini scene paling mendebarkan. Tapi tenang saja, tidak ada Beno di scene ini. Jadi kesakralan yang agung pada scene ini tak akan tercemari tingkah tengil Beno.


Sebenarnya Author menahan untuk menulis bagian ini. Namun sebagian besar pembaca mendukung scene untuk dibuat, mengingat ini bukan sekedar novel survival, tapi juga novel dewasa yang memerlukan setidaknya sedikit aroma 'harum' di beberapa bagian.


Malam terang bulan. Bintang-bintang berkelipan diantara hamparan gelap langit malam. Suasana syahdu dalam iringan hembus angin dingin menyapa sepasang insan yang tengah memadu kasih di atas balkon sebuah kamar hotel berbintang.


Malam ini adalah malam dimana pertama kali Angga dan Naya akan mengawali hari-hari dalam kebersamaan. Mereka takkan lagi kesepian dalam tidur malamnya yang biasa berteman guling tak bernyawa.


Setelah pagi hingga sore tadi mereka lelah mengikuti prosesi demi prosesi pernikahan, kini mereka dapat bersantai menikmati kebersamaan di kamar sebuah hotel yang sengaja disewa pihak keluarga sebagai tempat dimana kedua mempelai akan menikmati malam yang agung dan mendebarkan.


Saat ini, mereka sedang menghadap ke luar balkon dimana Angga dengan posisi menempel erat dipunggung Naya dan kedua tangannya yang melingkar lembut di selingkaran perut langsing milik sang dewi.


Kepala dan tubuh Naya sedikit bergetar merinding tatkala merasakan hembusan napas Angga yang sedang berbisik. Entah mengapa, bagi Naya kali ini suara Angga terdengar seperti mendesah dan sungguh seksie.


"Sayang..saat dipulau dulu, kamu pernah bilang kepada Sisi bahwa takdir adalah pilihan. Dan kini kita telah memilih takdir untuk bersatu menjadi belahan jiwa yang tak terpisahkan. Ehhm..bolehlah aku memanggilmu dengan awalan 'mas'?, rasanya tak sopan jika aku memanggil suami hanya dengan menyebut nama. Mulai saat ini aku adalah istri yang akan menghormatimu," ada nuansa bergetar dari setiap ucapan Naya.


--Rasa merinding, tegang, haru, gelegak cinta, dan luapan hasrat begitu berkecamuk dalam dadanya.


"Apapun sayang. Terserah kamu mau memanggil dengan cara apa. Asalkan tidak kau gunakan nama salah satu penggemarmu untuk memanggilku.." Angga sedikit bercanda untuk menurunkan tensi ketegangan.


"Ishh..sebel. Ngapain aku pakai menyebut nama mereka. Akrab juga engga!!" Naya spontan berbalik badan dan memukul manja dada bidang 'lelakinya".


"Sttt...ssstt. Iya maaf..bukan niat gimana-gimana kok. Aku hanya bercanda untuk mencairkan suasana," Angga seperti sedang menenangkan seorang anak kecil.


Tatapan Angga yang dalam dan tajam saat berucap tersebut terasa bagi Naya begitu menembus relung hati. Memandangnya, Naya seperti terhenti untuk mampu berkata-kata. Tenggorokannya tercekat, terkalahkan oleh debar dalam dada yang sungguh menggelora.


"..."


Sesaat keduanya terdiam saling memandang tanpa tahu harus berkata apa. Dalam diamnya, Angga tergerak untuk sedikit meningkatkan agresifitas. Dengan lembut ia kecup mesra pipi putih seindah pualam yang selama ini hanya mampu ia pandang saja.


Aroma wangi langsung menusuk pusat syaraf, menghantar impuls yang seolah mengambil alih kesadaran sehingga membuat Angga terlena.


"Uhh..begitu lembut, empuk, dan harumnya pipi istriku ini.." batin Angga merasakan sensasi pertama kali mengecup pipi seorang gadis.


Perlahan tapi pasti bibir Angga beringsut mencari pertemuan dengan bibir Naya yang kata orang sungguh manis dan melambungkan.


CUPP


Awal mula, kecupan kecil mendarat di bibir mungil sang dewi. Wajah Naya sudah demikian merona merah tanpa mampu dicegah. Angga mencoba menyeruak lebih kedalam mencari celah yang lebih nyaman. Naya hanya mampu pasrah mengikuti hasrat yang kian menjalar mengisi ubun-ubun. Untuk malu, sudah kepalang. Sudah saatnya ia menyerah dengan sepenuh jiwa raga.


Permainan bibir dan lidah tak terelakkan lagi kini terjadi. Kecipak suara bagai alunan nada pelipur lara, pelepas dahaga. Kedua insan dimabuk cinta sedang berpacu meminum air cinta, lagi dan lagi.


EHHHM MAS..


Naya terhenyak saat tiba-tiba tangan kekar Angga membopong tubuh rampingnya. Setiap langkah Angga menuju peraduan seperti berdebam seirama dengan detak jantung Naya, laksana bedug yang bertalu-talu.


Kurang dari satu menit, tubuh sang dewi yang berbalut piyama jenis lingeriee tipis berbahan satin sudah tergolek aduhai diatas hamparan pembaringan bertabur melati.


"Shhh..akhirnya akan terjadi juga. A..aa.a-ku begitu malu tergolek di ranjang seperti ini.." bisik hati Naya sambil memandang pria tegap yang berdiri gagah di bibir ranjang.


Tanpa ada yang meminta, reflek bibir keduanya sejenak terlihat bergerak komat-kamit melafazhkan doa yang sudah dihafalkan tiga hari tiga malam sebelum hari H.


"Say..sa..sayang. Bolehkah aku melakukannya sekarang?" tak hanya Naya, suara Angga juga terdengar gugup mengucapkan sebuah pertanyaan bodoh yang tanpa diucapkan pun sebenarnya tetap akan disetujui oleh Naya.


Naya hanya mengangguk lembut, tak mampu lagi berucap.


Sejenak Angga menikmati pemandangan langka dihadapannya. Seorang dewi cantik dengan tubuh indah memukau sedang tergolek pasrah menunggu sang pangeran datang merengkuhnya.


Tak sabar, Angga langsung menghambur kearah istrinya dan kembali memberikan serangan kearah bibir sang pujaan hati. Kecipak suara kembali menggema. Bahkan kali ini jauh lebih dahsyat daripada saat berada di balkon tadi.


Tubuh Naya sedikit miring mengimbangi Angga yang bersandar lurus diatas ranjang dengan bertelekan tangan. Keduanya terus berpacu mengejar lidah demi lidah tanpa ada keinginan untuk sudah.

__ADS_1


Satu tangan Angga yang bertumpu bebas, perlahan mulai merayap di seantero dada mencari sesuatu yang pejal dan menggembung. Begitu mendapatkannya, tak bosan ia bermain seperti seorang anak kecil yang menemukan mainan baru. Sesekali tangan itu berlari ke belakang tubuh Naya mencari sisi gelembung lain yang ada disana. Tak pelak lagi, aksi pertempuran bibir diwarnai desis dan desahh Naya yang baru pertama kali merasakan getaran akibat ulah tangan Angga.


EHMMM


MASS..


SSHHH


Tak ingin membuang mesiu percuma. Angga cepat menyudahi aksi gila-gilaannya. Sekilas nampak rona kecewa muncul dari wajah Naya karena hasrat yang terkebiri paksa.


Namun kegundahan Naya yak berlangsung lama. Nyatanya, Angga justru menuntun Naya untuk melucuti segala kain yang ada. Pun begitu juga dengan sang jejaka yang berlanjut menghempaskan pakaiannya sendiri hingga menjuntai ke lantai.


Sejenak kedua insan terdiam dalam kekaguman yang fana. Angga pertama kalinya memandang tubuh polos sang dara jelita yang sungguh indah hingga tak bosan mata memandangnya. Naya juga demikian, tubuh atletis sang ahli beladiri begitu terlihat seksie baginya.


Bibir kembali bersua untuk kesekian kalinya mencari sisa-sisa rasa manis yang tertinggal disana. Tak berhenti disitu, bibir Angga menukik kian kebawah mencari fujiyama untuk kemudian pertama kali mengecapnya.


EHMMM


Mata Naya terpejam menikmati aliran darah yang meletup-letup dari kaki hingga kepala. Sesuatu yang sangat manusiawi sedang terjadi pada keduanya.


Jemari Angga berlari jauh kebawah sana mencari celah gua berlapis belukar sang dewi surgawi. Sebentar jemari itu bergerilya hingga menginderakan suasana lembab pertanda siap dibuahi. Inilah waktu yang tepat untuk berpacu bersama meraih surga dunia.


Angga memutar arah tubuhnya hingga kini saling sejajar dengan sang dara yang bertelentang dibawah sana seolah sedang menghiba meminta segera disudahi segala siksa nikmat yang meremangkan setiap jengkal kulit putihnya.


Dengan hati-hati Angga menempatkan ujung korek api didepan selaksa lembah lembab yang berkedut berirama.


Satu, dua upaya eksekusi hanya mampu melencengkan korek api dari jalur seharusnya. Mendekati hentakan ketiga yang dirasa Angga pada posisi paling tepat, sejenak Angga mematung tanpa bergerak.


"I love u, Aku tresno sliramu, ich liebe dich, Ana ukhibuka, U puji'ki an'dri, Je vous aime, Who ai ni, Aku cinta kamu.." selagi Naya sejenak berpikir tentang ungkapan cinta Angga dalam berbagai bahasa, disaat itu pula Angga menghujamkan tombak pusaka begitu dalam.


HHEEKHH


Suara Naya memekik tertahan. Sepercik airmata tersembul dari ujung mata sang dara yang sedetik kemudian sudah tak lagi menjadi dara. Airmata yang mewakili sakit, pedih, haru, dan bahagia. Penyatuan yang sebenarnya telah terjadi dibawah sana.


Angga sabar menanti sang istri beradaptasi dengan benda baru didalam dirinya. Perlu beberapa saat hingga Naya mampu kembali rileks dan mengendurkan urat syarafnya.


Bulir aliran merah 'buah naga' perlahan menetes menoktahkan merah alas tidur putih mereka.


Pergerakan ritmik mulai beralun berirama. Naya perlahan merasakan sesuatu yang begitu sensitif mengganti rasa sakit yang sebelumnya tercipta. Kian lama sensifitas itu kian meningkat seiring hentakan Angga yang bertahap semakin menggila diatas sana.


ASHHH


Berulangkali bibir Naya merancau menyuarakan kenikmatan khas milik para pasangan sejati diseluruh penjuru bumi.


AAAAHHH


SSSHH


MAASSS!!


Dalam satu erangan panjang, Naya terlebih dahulu menggapai puncak organisasi sebelum Angga menuntaskan cangkul-cangkulnya.


Melihat pasangannya telah menggapai puncak asmara, Angga kian berpacu demi menggapai keinginan serupa.


AHHH


AHH SAHHYANGG..


Dalam satu hentakan yang kuat, senjata Angga menghantarkan mesiu memasuki gudang penampungan senjata milik Naya pribadi yang dijaga ketat oleh jutaan sel indung telur yang siap berproduksi menjadi penerus peradaban bangsa ini.


Naya terkulai lemas. Dengan penuh kasih sayang Angga kembali membopong tubuh sang dewi istana menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri dari sisa-sisa puing pertempuran.


Malam semakin larut. Naya yang sudah tak berdaya segera terlelap dalam pelukan pangerannya. Mereka berdua bersembunyi dibalik lebarnya selimut tanpa peduli pada pakaian yang masih berserakan di lantai.


Satu jam kemudian Angga sudah kembali siaga untuk melanjutkan malam panjang pertama yang terjadi dalam seumur hidup sekali. Naya terbangun seketika mendapati tugas negara yang harus diembannya. Kembali mereka mengarungi samudera kasih untuk menikmati indahnya rasa dalam belaian cinta.


Tiga hingga berlanjut empat kali mereka mengulangi penyatuan jiwa raga dengan jarak setengah hingga satu jam dalam setiap jedanya. Pada penghujung akhir 'perbuatan' putaran ke 4, waktu telah merambah dini hari. Mereka hanya bisa terlelap beberapa menit sebelum kemudian subuh menjelang.


CUPP


"Pagi Naya cantik, istriku sayang. Yuk mandi dan bersiap ibadah subuh dulu. Bagaimanapun juga setiap kewajiban yang bersinggungan dengan kewajiban lainnya, maka kesemuanya harus tetap ditunaikan tanpa harus mengalahkan salah satu dari keduanya," kecupan lembut Angga dibibir sang dewi cinta membuat Naya terjaga, tersenyum lembut, sebentar kemudian bergelayut manja dibahu kekar sang pria untuk beranjak berdiri.


***



Akhirnya..


Season 1 novel telah usai. Misteri kisah yang belum terungkap akan dihadirkan Author pada sekuel novel Season 2 nanti.


Kisah pernikahan Angga dan Naya adalah akhir dari novel Season ini. Namun, sekaligus akan menjadi awal dari masuknya Season berikutnya.


...T.A.M.A.T...


..._______°•°_______...


...Penutup...


Bahagia kiranya bagi Author dengan tercapainya predikat TAMAT untuk novel ini.


Terimakasih tak terhingga kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas segala Karunia-Nya. Terimakasih kepada Noveltoon atas kesempatan dan perhatian yang diberikan. Terimakasih kepada Editor Li yang setia mendampingi penyusunan novel ini. Terimakasih kepada Keluarga Author atas doa dan dukungannya. Terimakasih kepada sohibku, adikku, Yulfi atas sharing, dorongan semangat, persaudaraan dan kebersamaan yang diberikan. Terimakasih kepada semua pembaca yang setia mendukung. Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung, namun tidak bisa Author sebutkan satu persatu disini.


Terus dukung karya-karya Author di Noveltoon. Perhatian dan dukungan anda adalah api semangat bagi Author untuk terus giat berkarya.


Sampai jumpa di sekuel cerita Season ke 2. Author belum tahu akan melanjutkan update Season 2 disini, ataukah akan menerbitkan dalam bentuk novel baru.


Author doakan semoga kalian semua kangen dan terbayang-bayang celoteh Beno hehe. 🤣😂


Terimakasih.


^^^Salam semvak,^^^


^^^DPKBPC @2021^^^


^^^FigurX Productions^^^


__ADS_1


***


__ADS_2