
...
Saat bahagiaku
Duduk berdua denganmu
Hanyalah bersamamu
Mungkin aku terlanjur
Tak sanggup jauh dari dirimu
Kuingin engkau s'lalu
'Tuk jadi milikku
Kuingin engkau mampu
Kuingin engkau selalu bisa
Temani diriku
Sampai akhir hayatmu
Meskipun itu hanya terucap
Dari mulutmu
Dari dirimu
Yang terlanjur mampu
Bahagiakan aku
Hingga ujung waktuku
Selalu
Seribu jalan pun kunanti
Bila berdua dengan dirimu
Melangkah bersamamu
Kuyakin tak ada satu pun
Yang mampu merubah
Rasaku untukmu
Ku ingin engkau s'lalu
(Ungu Ft. Andien)
...
Satu bulan setelah pertempuran melawan pasukan Pablo, atau kurang lebih 2 minggu setelah Angga sadar dari koma, kini semua terlihat berkumpul dirumah Naya.
Tepatnya mereka sedang mengadakan acara bakar-bakar daging ditaman belakang rumah keluarga Naya. Semua anggota tim hadir disana.
"Ga kerasa udah hampir setengah taun sejak kita terdampar di pulau Mawar. Banyak banget kesulitan sudah kita lalui. Bahkan sampe sekarang kita belum ketemu dan tak tahu bagaimana nasib Jaka serta Sisi," ungkap Angga dihadapan tim, Pak Leo, Sonia, dan juga Rendra.
"Semua itu adalah perjalanan. Kehidupan terus berjalan seiring waktu. Suka dan duka adalah dinamikanya. Mungkin kita juga harus bersyukur pada musibah terdamparnya kalian kala itu. Tanpa ada kejadian itu, Naya tak akan pernah mengenal dan mencintai Angga, masalah saya dengan Pablo juga tak tahu bagaimana jadinya jika tak bertemu kalian," sahut Pak Leo penuh dengan rona muka bahagia.
"Mungkin, Pak!!" tandas Beno.
__ADS_1
---Perseteruan perihal kata 'mungkin' antara Beno dengan Pak Leo sepertinya akan berlangsung lama dan berlarut-larut, hahaha.
"Tapi gue punya catatan tersendiri terkait perjalanan kita. Jika kita tidak terdampar, mungkin gue ga akan jadi calon pria korban pelecehan oleh kawanannya mbak Sukma. Tapi berkat ada tim, gue juga jadi selamat. Justru sekarang kawanan haus sekz itu menjalin persaudaraan dengan kita," lanjut Beno.
"Mungkin, Ben!!" tuhkan Pak Leo masih juga membalas, hahaha.
Semuanya terpingkal mendapati Beno dan Pak Leo yang belum juga bisa move on dari kata 'mungkin'. Mungkin ini akan menjadi perseteruan abadi bagi keduanya, bahkan jika terjadi sekuel untuk novel ini sekalipun.
"Mungkin, Thor!!" sahut Beno dan Pak Leo kompak.
"Eh gue justru sangat bersyukur. Melalui skenario Tuhan yang penuh memacu adrenalin itu, gue akhirnya bisa jadian sama Rena hehe," Fikri ikut bersuara.
"Ishh..iya jadian. Tapi gosah diomong-omongin napee?!. Malu tau ga.." Rena cemberut.
"Jangan malu-malu, Kucing!" goda Beno yang langsung mendapatkan hadiah timpukan sendal dari Rena.
"Wadoww..Tongkat sakti gue!!. Aduhhh.." Beno terkaing-kaing karena sendal Rena tepat bersarang diantara kedua kakinya.
"Mamposs ga luhh!!" desis Rena sadis.
"Yaahh jangan dong. Kasihan aku juga kalau masa depan Beno suram.." Lita tiba-tiba berkata sedikit vulgar.
"Lho..lhoo kalian?!" Naya terbengong.
"Iyee..gue udah jadian sama neng Lita, hahaha. Bisa sombong dikit nah sekarang gue," Beno menanggapi.
"Cieeehh..."
"Yahh..itulah. Kita semua harus pandai bersyukur dengan segala yang sudah kita alami. Bahkan ini bisa dibilang sebagai peristiwa terdampar yang paling untung besar lho. Coba bayangkan, Angga jadian sama Naya, Beno dengan Bu Lita, Fikri dengan Rena. Kurang apa lagi coba?" imbuh Sonia yang kini sudah mampu melebur bersama yang lain.
"Kurang sih, Bu. Kapten Kavka dan Kak Yulfi belum jadian..hahaha," Fikri entah kenapa lama-lama jadi ikut bocor seperti Beno.
"Wah kalian kudet, kurang update. Itu Kapten Kavka kan suaminya Kak Yulfi.." bisik Naya seolah pelan, padahal semua bisa mendengarnya.
"Yang bener lu, Nay?" Rena menatap Naya tak percaya.
"Lah kan gue yang ndekem di rumah sakit tiap hari bareng tuh Pak Kapten. Yaa otomatis apa aja bisa jadi bahan obrolan. Termasuk status pernikahan mereka yang dirahasiakan. Mereka kan agen rahasimin nih ceritanya. Jadinya ya info pribadi tertutup rapat. Hanya orang-orang tertentu dan dapat dipercaya yang bisa mengetahuinya.." tegas Naya.
"Kalian dong tar juga keren anaknya. Bisa jadi ahli beladiri yang pinter ngelawak. Hahahaha," canda Fikri kepada Lita dan Beno.
"Ga enak banget ketawa lu bro!" sinis Beno.
"Kalo makan daging bakar kek gini, jadi inget jaman kita dipulau ye. Cuma bedanya, disini ada bumbunya, saos, mayonaise, lengkap pokoknya. Disana mah hambar-hambar juga sikat aja, yang penting kenyang hehe." Ucap Angga mengimbas memori lama.
"Ini udah hampir setengah taun lho dari sejak kita pertama kali turun dipulau. Gimana ya nasib Sisi ama Jaka?. Aahh, jadi kangen mbak Sukma. Semoga suku Lampard belum datang kesana," lamun Rena.
DRRRTT
DRTTT
Handphone Pak Leo yang ada dimeja nampak bergetar. Lita yang tepat berada disamping meja langsung melirik kearah layar handphone.
"Pablo..muncul nama Pablo dilayar!!" teriak Lita panik, seperti saat Pablo menghubungi kala itu.
Semua berhambur mendekat. Lita mengambil handphone tersebut dengan maksud untuk memberikan kepada Pak Leo. Namun Beno juga bergerak kearah yang sama. Hampir saja peristiwa handphone terbang terulang kembali.
"Settt dah. Seneng banget ngulang-ngulang adegan dari episode sebelumnya. Kebanyakan ngulang malah ga lucu tauu!" Author sigap mengambil handphone tersebut dan beranjak untuk memberikan kepada Pak Leo, "Kuberi satu keseriusan, Monggo!"
Pak Leo menerima handphone tersebut dengan sedikit gemetar. Pikirannya sudah membayangkan yang tidak-tidak setelah tahu bahwa Pablo menelepon. Hatinya kembali dilanda kerisauan.
Sejenak suasana menjadi hening. Semua orang memandang kearah Pak Leo. Tak ada yang berani bersuara. Mereka ingin menyimak apa yang akan dibicarakan oleh Pak Leo dan Pablo.
Sengaja Pak Leo menekan tombol load speaker agar semua bisa mendengarkan.
"Haloo.."
"Yaa haloo bos. Sepatunya sudah jadi.."
__ADS_1
"Sepatu apa?"
"Sepatu ya sepatu orang bos. Masa sepatu-la..itu mah senjata emak-emak rempong,"
"Kamu jangan becanda ya!"
"Lho..kok jadi sensi gini. Saya serius Pak Bos Leo. Sepatunya sudah selesai!"
"Selesai apa?"
"Selesai dijahit dong Bapakkk. Masa lupa sih. Kan bulan lalu bapak yang nyuruh saya jahit sepatu pantopel punya bapak tooh?!"
"Owalaah. Iya iya lupa, hahaha. Maaf ya Pak Paolo!!. Iya nanti biar diambil Rendra kesana. Hahaha, aduh jadi malu saya, Pak!"
"Jangan malu-malu, Kucing!"
"Haisstt.."
Semua mata yang tadinya fokus memandang kearah Pak Leo, kini beralih menatap Lita yang terbukti salah membaca. Namun Lita ternyata mulai tertular penyakitnya Beno. Lita menjulurkan lidah dengan wajah tanpa dosa.
***
"Apa rencana kita selanjutnya, Ngga?" tanya Fikri saat trio gatoloco duduk bertiga diteras rumah Naya pasca acara makan-makan daging.
"Kita perlu segera ngampus. Kemudian mempersiapkan rencana untuk membantu mbak Sukma. Ada juga PR untuk menemukan keberadaan Sisi maupun Jaka.." jawab Angga.
"Apa perlu kita mencari Jaka dan Sisi?, Itu kan kemauan mereka sendiri!" sinis Beno.
"Bagaimanapun juga mereka punya keluarga disini. Terserah kalau lu ngebenci Sisi dan Jaka, tapi lu kudu kasihan sama keluarganya. Tentu keluarga mereka sangat sedih dan terpukul. Paling tidak kita bisa menyatukan kembali keluarga yang terpisah. Terlepas itu teman kita atau bukan," tegas Angga kepada Beno dan Fikri.
"Lu sembuhin dulu luka lu. Gosah banyak pikiran," Beno menasehati.
"Ahh lu bedua ga kompak banget siiih?!. Yang satu tanya rencana kedepan, yang satu lagi malah gue disuruh istirahat. Trus gue harus bilang wow gitu?!" Angga sewot. "Lagian lu pikir gue sakit darah tinggi?!, pake acara gosah banyak pikiran segala," Anggan semakin manyun.
Fikri menoleh, "Maksud gue juga sama kayak Beno, bro. Rencana kedepan setelah lu sembuh. Bukan sekarang. Sensi amat lu. Abis koma malah mudah emosi tau ga lu?!" Fikri menanggapi.
"Ya bukan gitu juga sih. Sebenarnya gue lagi kepikiran sesuatu. Itulah kenapa gue jadi kurang fokus dan mudah emosi," ungkap Angga terlihat lesu.
"Kalo lu anggap kita adalah sohib, harusnya lu cerita. Jangan dipendem sendiri kek gitu!" tegur Fikri.
"Fikri bener, Bro. Lu jangan main rahasia-rahasiaan. Justru kalo lu ngomong, mungkin akan mengurangi beban pikiran lu!" imbuh Beno setali tiga uang dengan apa yang diucapkan Fikri sebelumnya.
"Ada apa sih?. Cerita aja!"
"Gue..gg..gu..gue,"
"Iya lu kenapa, Ngga!"
"Gu..gu..gue kebelet e'e',"
"Woohh..Vangkeehh, Vrenggzeekh lu!!"
Bersambung dulu deh ya 🔜
Sedikit catatan,
Demi menjaga harga diri dan martabat Yulfi, perlu Author jelaskan disini. Tak ada satupun kalimat yang mengatakan Yulfi nyolong apel. Yang biasa jalan-jalan diperkebunan apel kota Malam tentu tahu bahwa disana kita bebas memakan dan membawa pulang apel dari hasil memetik sendiri dengan harga yang telah ditentukan. Jadi ga ada ceritanya Yulfi bisa bebas keluar loket dengan membawa karung tanpa ditimbang terlebih dahulu. Ok itu saja. Semoga dengan ini Yulfi bisa tidur nyenyak dan ga kepikiran lagi saat memasarkan apelnya 😜✌️.
Oya lupa, ajak dong teman-teman pembaca untuk mampir disini. Biar lebih rame, berduyun-duyun, dan hilir mudik pengunjungnya hehe. Marakas, eh Makaseeh.
Salam apel,
DPKBPC @2021
__ADS_1
FigurX Productions
***