Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 26 : Mereka dimana?


__ADS_3


---


"Dasar monyet lu. Bisa-bisanya pura-pura kesurupan. Pake ngatain gue monyet pulak. Nih rasain gue bales. Monyet, monyet, monyettt!" Fikri mengumpat kesal. Dia yang notabene adalah sahabat dekat tentu paling bingung saat melihat Beno kesurupan.


"Wooh jahanamm lu, Ben. Lu bilang tangan gue bau semvak..Kevarat lu anjay." Jaka tak kalah emosi dibanding Fikri. Bahkan Jaka yang tadi menjadi bulan-bulanan cercaan Beno saat berpura-pura kesurupan.


"Candaan lu ga asik." Rena merengut parah. Begitu juga dengan yang lain. Rata-rata mereka kesal melihat tingkah Beno. Terlebih Pak Herson dan Bu mayang yang paling dituakan disana. Jitakan Pak Herson plus jeweran Bu Mayang terkirim komplit untuk Beno. Hanya Pak Bagas yang mesam-mesem melihat kelucuan Beno. Dia tak terlalu menyalahkan Beno, karena saat muda dulu Pak Bagas juga suka sekali bercanda seperti Beno.


"Iya ampun.. semua, maapin gue. Sekali-kali latihan ketegangan. Biar pada terlatih tegang kalau ada masalah di hutan hehe," Beno mengangkat dua jarinya sambil cengengas-cengenges. Tiga tas ransel lengkap dengan isinya sukses terlempar sempurna dari tangan para wanita ke arah Beno.


"Eh bentaran deh. Ini kan udah lebih dari 4 jam sejak Angga dan Naya berangkat patroli. Kok ga balik-balik ya mereka?. Gue jadi khawatir," ucap Beno mulai serius.


"Iya betul. Ini sudah terlalu lama untuk sekedar berpatroli. Gue juga mikir itu dari tadi," sambut Fikri senada.


"Baiknya gue cari mereka. Takut mereka kenapa-kenapa. Fikri ama Pak Bagas tetap disini melindungi tim. Kalian panglima yang tersisa.." ucap Beno berdiri sambil meletakkan tumpukan tas ransel dari tubuhnya.


"Jangan sendirian, Ben. Lu malah ilang juga tar. Gue ikut," Rena menawarkan diri.


"Jangan. Angga sudah bawa Naya. Gue ga mau malah lu juga kena masalah diluar sana. Lagipula cowok lebih leluasa bergerak daripada cewek," tolak Beno. Bagaimanapun juga dia masih sedikit menyimpan rasa untuk Rena, meskipun bertepuk sebelah tangan. Tapi setidaknya ia tak ingin Rena menghadapi bahaya.


"Gua aja yang ikut broh," Pak Herson berdiri sambil berkata menggunakan dialek lu-gue yang justru terdengar aneh jika diucapkan seorang dosen senior.


"Haha Pak, ampun. Gaul banget dah bapak sekarang," Beno terbahak.


"Kita budayakan lu-gue sebagai bahasa wajib di pulau ini. Kita penemunya, Angga raja rimbanya, kita pula yang tentuin bahasa lokalnya hahaha," Pak Herson ikut terbahak.


"Yaudah deh, Pak. Yuk kita kemon," ajak Beno sambil mulai menerapkan bahasa gaul sesuai titah bapak negeri.


"Lu bawa pedang. Masa gue tangan kosong, Sob?" keluh Pak Herson masih tetap mempertahankan bahasa barunya.


"Ente pinjem belati Fikri ya Pak bro. Kri, lu sementara pake alat lain aja," perintah Beno sebagai wakil Angga.


"Rebes bos. Lu ga liat gue dari kemarin bikin alat berupa busur ama anak panah?!, keknya lebih efektif buat berburu atau pertahanan jarak jauh," jawab Fikri menyombongkan hasil kreatifitasnya.


"Suka-suka lu dah. Asal jangan lu pake aja senjata jarum neraka dibalik celana lu!" seloroh Beno tengil sambil berlalu pergi bersama Pak Bro Herson.


"Ben, ati-ati.." ucap Lita. Beno menjawab dengan anggukan plus senyuman, sambil mulutnya kembali komat-kamit.


"Kumat lagi lu?" satu jitakan keras Pak Bro Herson mendarat akurat diatas ubun-ubun Beno.


---

__ADS_1



---


Beno dan Pak Herson mulai menyibak rerimbunan hutan, namun tanpa bergandengan tangan layaknya Angga dan Naya tentunya.


"Kita ke arah mana dulu nih, Sob?" tanya Pak Bro Herson celingukan.


"Angga tadi berangkat ke arah timur. Kita lawan arah dari Barat untuk menyongsong. Jika dia tetap berkeliling dijalur radius 100 meter dari gubuk maka kita harusnya nanti akan bertemu," jawab Beno.


"Bagaimana cara kita mengukur 100 meternya?" Pak Herson sedikit bingung.


"Pak Bro, ente ini dosen lho. Masa gitu aja ga tau sih ahh," cibir Beno.


"Yaelah bro. Gue itu dosen Patologi. Bukan Matematika ato Fisika. Yang bener aja lu," protes Pak Bro Herson.


"Hehe aim sori, Pak Bro. Yahh simpel aja sih. Langkah panjang kita mewakili 1 meter. Langkah pendek mewakili 50 centimeter," balas Beno sembari menjelaskan.


Segera mereka menentukan posisi radius yang dimaksud, sebelum kemudian memulai perjalanan mengelilingi area.


Satu jam berjalan, mereka masih belum menemukan Angga. Tentu saja Beno cukup risau. Bagaimana juga Angga adalah sahabat terbaiknya. Angga juga tumpuan bagi tim. Tanpa Angga, mustahil tim bisa bertahan lebih lama lagi.


"Aduhh..kemana sih mereka. Semoga mereka ga kenapa-kenapa," wajah Beno menampaknya raut kepanikan.


Bukan hanya khawatir pada Angga dan Naya. Beno juga khawatir pada dirinya sendiri dan Pak Herson. Jika pasangan singa itu muncul lagi, Beno bukanlah tandingannya. Terlebih Pak Herson yang tak memiliki dasar beladiri sama sekali.


Bisa jadi, muncul pula hewan lain yang tak kalah ganas. Misalkan, serigala atau beruang. Bukan menemukan Angga, justru Beno yang akan menemukan masalah. Dalam diam, Beno kembali komat-kamit melantunkan segala doa yang pernah dia hafal demi memohon keselamatan. Tak terkecuali stok doa hendak tidur, masuk kamar mandi, dan doa melihat hujan lebat ikut dilantunkan Beno, mengingat hanya 3 doa tersebut ditambah doa mau makan yang dimampui oleh Beno.


"Lu komat-kamit mulu. Mo ngeprank kesurupan lagi lu?!" lirik Pak Herson.


"Kali ini serius Pak Bro. Gue lagi doa," Beno menjawab cepat, kemudian kembali komat-kamit tanpa ada nada yang jelas.


---



---


Kembali ditempat dimana Angga dan Naya berada. Mereka masih mengamati ke arah semak-semak yang bergoyang.


Secara tak terduga, muncul beberapa orang dari balik semak. Angga dan Naya terlonjak kaget. Begitu pula dengan orang-orang tersebut.


"Ebusett..mimpi apa gue semalem sampe ketemu dewi persik sama si kutu buku disini?!," ucap seorang wanita.

__ADS_1


"Lu tuh nyusahin orang banyak tau. Dasar anak manja. Gara-gara lu, satu kapal kena getahnya. Lagian lu ya, dikejar orang bersenjata segitu banyaknya. Emang lu abis nyuri dimana sih?" lanjut si cewek dengan sombong.


"Mulut lu itu emang racun ya. Sengak banget kalo ngomong," balas Naya tajam.


Siapakah mereka?. Tiga bersaudara sombong. Sisca, Candra, Gino. Masih ingatkah pembaca pada mereka?


Hampir mirip dengan yang dialami tim Angga. Trio sombong berhasil melarikan diri dari kapal dengan menggunakan cadangan sekoci lainnya. Awalnya mereka mendarat di sisi selatan pulau. Cukup jauh dari posisi tim Angga mendarat kali pertama dahulu, berkisar 1 kilometer.


"Wah wah.. kutu buku bawa pedang nih. Sok-sokan keren lu. Ga pantes tau ga. Mirip Nobita bawa pedang. Ga ada serem-seremnya cing. Wkwkwk," Candra tergelak setelah menghina Angga. Disamping Candra, nampak Gino memandang curiga ke arah Angga. Instingnya seolah merasakan sesuatu.


"Disini kita adalah penyintas. Tak ada lagi primadona kampus. Singkatnya, kami penguasa disini. Lu bedua wajib tunduk pada kami!" bentak Sisca. Sejauh ini Angga masih saja diam. Ia masih menimbang apakah akan berkelahi dengan teman kampus sendiri?.


"Eh lu kutu buku. Gue kasih lu tugas mulia. Bawain semua perbekalan kami. Sekarang ga ada lagi teman kuliah. Lu budak gue!" perintah Candra pada Angga.


BUKK!!


Candra dengan pongahnya meninju perut Angga. Angga tak menghindar, apalagi menangkisnya. Ia sepenuhnya bersabar dalam sebuah sandiwara. Pedang Angga tersimpan dengan baik.


"Lu apa-apanya sih!?. Kasar banget jadi orang," bentak Naya tak terima atas perlakuan Candra terhadap Angga.


Sejenak trio arogan mundur dan berunding. Sesekali mata mereka memandang keji ke arah Angga dan Naya.


"Gue ama Gino menginginkan tubuh cewek itu. Dia dewi tercantik di kampus, bro. Jarang-jarang kita bisa nikmatin tubuhnya. Apalagi kita disini juga perlu asupan gizi sehat, hahaha.." ucap Candra dengan licik. Meski Gino jarang berbicara, namun ia ikut mengangguk.


"Kita perbudak yang cewek sebagai gundikk kita disini. Kalau bisa seumur idup disini gapapa sih kalau ditemenin pelacuur secantik dia, Hahaha. Sisca, lu urus tuh cowok culun. Mo lu jadiin gogilo lu juga terserah. Biar lu juga dapet asupan gizi cukup disini. Yang jelas mereka bedua akan kita perbabukan di pulau ini," Candra kembali berucap.


"Kalau dia melawan gimana?" tanya Sisca.


"Matiin aja dia kalau ga mo nurut. Membunuh di pulau ini bebas. Hukum tak bisa menyentuh pulau kecil dan terpencil seperti ini. Mereka juga tak memiliki saksi. Aman deh pokoknya," Candra dengan sangat percaya diri mengutarakan ide jahanamnya.


Beberapa langkah dari trio arogan, Angga dan Naya samar bisa mendengar apa yang mereka katakan. Mereka tak sepenuhnya berbisik, karena mereka menganggap Angga hanya seorang anak kampus biasa tanpa kemampuan lebih. Terkecuali Gino yang masih menyimpan tanda tanya pada setiap tatapannya ke arah Angga.


"Eh babii, berikan pedang lu!!" perintah Candra, namun dengan Gino yang maju untuk menerima pedang.


"Makin ngelunjak ya kalian!" Naya semakin panas. Diliriknya Angga, sangat tenang. Seolah tak memiliki daya upaya sedikitpun. Kening Naya berkerut melihat keanehan pada diri idolanya. Terkesan seperti penakut dan inferior.


Angga tak bergemping atas permintaan Candra. Pedang masih erat berada di genggaman Angga. Sejenak terlihat Gino mengeluarkan dua belati dari balik punggungnya. Pun juga dengan Candra dan Sisca yang mengeluarkan masing-masing satu bilah belati. Belati tersebut serupa dengan yang dimiliki tim Angga. Itu menunjukkan bahwa mereka juga sempat melakukan baku hantam dengan para penjahat di kapal dan berhasil merebut beberapa belati.


"Tuli apa bego lu hah?. Kesiniin pedang lu, anjink!" mulut pedas Candra terus saja menyalak. Angga sedikit tersenyum, kemudian perlahan melangkah maju.


---


__ADS_1


__ADS_2