Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 42 : Dua Kubu


__ADS_3


AWUWUWU


AWUWU..


"Gawat. Suku itu datang lagi. Apa Angga dan yang lain tertangkap disana?. Mampus kitaa.." Beno tergopoh-gopoh memasuki gubuk.


--Ia baru saja mendengar teriakan pasukan wanita saat sedang berada dihalaman gubuk bersama Pak Herson.


"Anggaa.." wajah Naya merebak.


--Matanya mulai berkaca-kaca.


"Aduhh gimana ini?!" Sisi juga terlihat panik.


"Siapkan semua senjata. Kita hadapi mereka, hidup atau mati!!" deru suara Beno memberi komando.


Lima orang dari dalam gubuk segera keluar membentuk formasi berjajar, dengan segala tekadnya menatap tajam kearah pasukan Putri CEO yang mulai mendekat. Nampaknya mereka membawa sisa pasukan yang ada. Jika dihitung, tak kurang dari 40 orang beriring mendekati gubuk air terjun.


"Apalagi yang kalian inginkan?!" bentak Beno garang tatkala tim dan pasukan itu berhadapan dalam jarak hanya 5 meter.


AWUWUWU


Tiba-tiba pasukan itu seperti terbelah dua bagian. Dari tengah pasukan itu muncul Angga, Fikri, dan Pak Bagas yang tersenyum lebar.


"Ngapain lu, Ben?!" teriak Angga terpingkal.


"Lho kalian..." Rena hendak berucap, namun suaranya tercekat ditenggorokan karena rasa heran bercampur kaget.


"Bubar..pestanya udah kelar. Monggo mbak Sukma kita masuk ke dalam," ucap Fikri sambil mempersilahkan pimpinan Putri CEO memasuki gubuk.


Kelimanya masih tertegun antara kaget dan tak percaya. "Selamat, kalian kena prank hahahaha," Fikri terbahak.


--Namun kelimanya masih manyun karena emosi mereka dengan mudahnya dipermainkan begitu saja.


"Woooh dasar kingkong rabies!!" sembur Beno dongkol.


"Wihh..berani lu ngatain camer kingkong?" goda Angga ikut-ikutan memperolok Beno.


"Waduww..ampun bapak calon mertua. Mereka bedua tuh yang usil banget," Beno justru menyalahkan Angga dan Fikri.


"Eehmm hebat lu ya carmuk depan camer sampe temen sendiri dipersalahkan!?" semprot Fikri.


"Sudah..sudah. ayo segera masuk gubuk," Pak Bagas menahan senyumnya.


Sejenak Sukma berhenti untuk memberi instruksi pada pasukannya agar istirahat dan mendirikan tenda sementara dari dedaunan disekitar air terjun. Namun tatapan Beno kearah Angga menunjukkan ketidaksenangan. Sepertinya Beno masih trauma. Alhasil, Sukma memerintahkan anak buahnya untuk membuat tenda sementara dihutan, sekitar 300 meter dari gubuk air terjun demi untuk menghormati Angga dan Beno.


Sukma ditemani seorang ahli obat memasuki gubuk dan melihat dua orang yang tengah terbaring tak sadarkan diri disana. Tanpa menunda waktu, ia dan asistennya segera bergerak cepat untuk menyembuhkan Jaka dan Lita dari racun yang kian menyebar.


"Mbak, tolong rebuskan air untuk melarutkan ramuan penawar ini. Sambil menunggu, kami akan mengobati luka luarnya," ucap Sukma dengan cepat kepada Naya dan Rena yang juga berdiri disana.

__ADS_1


--Ia terlihat begitu cekatan dalam melakukan pertolongan.



"Jadi kita pren ini sekarang, Mbak?" tanya Beno antusias setelah mendengar penuturan Angga maupun Sukma tentang kesepakatan mereka.


Saat itu mereka sedang berbicara bersama dihalaman gubuk. Api unggun membantu memberi penerangan. Terlihat wajah cantik Sukma, wanita berusia 40 tahun itu terpancar dalam temaram cahaya api.


Bagaimana dengan Jaka dan Lita?


Setelah Sukma memberikan minum ramuan penawar dan olesan penawar racun pada luka, wajah keduanya terlihat lebih cerah, meski tak langsung sadar. Butuh perawatan sekurang-kurangnya satu pekan untuk membuat mereka sehat kembali. Oleh karena itulah Sukma dan pasukannya menetap sementara dihutan dekat gubuk. Mereka akan merawat Jaka dan Lita sampai sembuh.


"Haha..iya begitulah. Sekali lagi kami mohon maaf atas ulah rusuh kami selama ini. Terutama buat mas Beno, maaf banget mas.." ucap Sukma santun.


--Figur pemimpin yang baik.


--Bersedia mengakui kesalahan dan meminta maaf jika memang melakukan kesalahan.


"Tapi bagaimana dengan suku Lemper yang kamu bilang tadi, apa mereka akan segera datang?" tanya Beno dengan mimik muka lelah.


--Ia lelah dengan segala yang terjadi dipulau.


--Dan terlanjur malu tujuh turunan, enam tanjakan, empat belokan, dan satu verboden karena terompet berdagingnya sudah menjadi tontonan khalayak ramai, bahkan dua kubu sekaligus yang melihatnya.


"Lampard, Bro. Bukan Lemper," Fikri menggelengkan kepala.


"Iye iye..lagian bomat sih. Mereka jahat ini," jawab Beno asal.


"Mereka datang 3 bulan lagi. Dan saya sudah membuat kesepakatan dengan mas Angga untuk saling membantu," ungkap Sukma.


"Apapun itu saya pasrah, Mas. Ada atau tanpa kalian, tetap saya akan berjuang bersama pasukan saya untuk melawan mereka. Kami sudah jengah karena selalu diinjak-injak. Mungkin tahun ini adalah tahun punahnya Putri CEO di pulau Mawar," Sukma tertunduk sedih.


"Saya akan membantu." ucap Angga penuh keyakinan.


"Saya juga," lanjut Beno tak mau kalah.


"Mereka ikut, saya ikut!" Fikri juga tak mau tinggal diam.


"Saya yang berhutang budi karena nyawa anak saya diselamatkan. Mas Angga, ajak saya ikut serta," Pak Bagas tak ingin ketinggalan.


"Angga..aku..aku," Naya tentu saja ingin ikut. Setelah semua peristiwa di pulau Mawar, Naya tidak bisa lagi jauh dari Angga.


Angga hanya tersenyum melihat antusiasme Naya. Syukur berkali-kali ia panjatkan demi melihat sang dewi pujaan kampus bisa sedemikian dekat dengannya.


"Setelah pulang ataupun jika tim penyelamat tak datang, kita akan membahas siapa saja yang bersedia ikut. Saya tak ingin menghalangi siapa saja yang berkehendak ikut. Mbak Sukma dan yang lainnya adalah saudari-saudari kita. Persis seperti kita memperlakukan ibu, bibi, nenek, ataupun saudara perempuan kita yang saat ini tengah panik dirumah sana," ujar Angga penuh ketegasan.


--Meski awalnya Putri CEO pernah berlaku zalim, namun rasa bersalah mereka sudah sangat mewakili bahwa mereka ingin menjadi manusia baik yang bermartabat.


--Didukung lagi dengan keadaan mereka yang ternyata bertindak zalim karena dibawah tekanan suku bengis yang sebenarnya.


--Mereka juga bersedia menolong untuk kesembuhan Jaka maupun Lita.

__ADS_1


"Jika mbak Sukma bertemu suku itu, saya minta untuk mengulur waktu sebisa mungkin. Jangan dilawan dulu. Entah dengan alasan apapun agar mereka bisa menunda penjemputan wanita upeti. Saya akan segera datang membantu secepatnya!" Angga memberikan pengarahan.


Hanya dalam waktu singkat, Angga tidak hanya sekedar pemimpin tim, kini ia secara tidak langsung menjadi pemimpin atau pelindung bagi suku wanita.


"Baik, Mas. Saya akan mengikuti saran mas Angga.." balas Sukma penuh kepatuhan.


--Tak ada lagi pilihan untuknya menyelamatkan suku wanita.


"Setelah semuanya beres. Saya berjanji akan membawa semua wanita dikelompok mbak Sukma untuk kembali ke kota, menemukan jodohnya disana, dan menikmati hasrat tubuh secara halal." Lanjut Angga.


"Itu urusan nanti. Kami hanya ingin hidup tenang tanpa tekanan. Sejatinya, bukan sekz yang menjadi fokus utama kami," Sukma tersenyum malu-malu.


"Biarlah Tuhan yang akan mengaturnya nanti. Seperti hari ini, Tuhan telah mengatur kami bertemu kelompok mbak Sukma. Segala yang terjadi didunia ini tak lepas dari skenario Sang Pencipta," Beno ikut berbicara.


PLETAKK


"Lagu lu, sok iyes kalo ngomong!" satu jitakan keras Fikri mendarat di ubun-ubun kepala Beno.


"Sirik aja lu kang muntah.." cibir Beno membalas.


"Eh lu jangan bahas aib nape," Fikri menjawab tak suka.


"Yaelah juragan semvak. Aib gue aja udah diliat orang satu pulau ini.." Beno tersenyum kecut.


--Sukma semakin menunduk, tak enak hati.


"Ehmm..apa tidak sebaiknya kalian pindah saja ke pemukiman kami diselatan?. Biar lebih aman, saling menjaga, saling support. Bahkan jika tim penyelamat datang, akan lebih mudah menemukan kalian jika berada dalam komunitas yang besar," tawar Sukma memberikan solusi.


"Emohh emoh. Ga ah," Beno bergidik trauma.


"Biarkan kami berembuk dulu dengan tim untuk masalah itu," sebuah jawaban diplomatis Angga.


--Tak menolak.


--Tapi juga tidak menerima begitu saja.



Bersambung ke next episode 🔜


^^^DPKBPC @2021^^^


^^^FigurX Productions^^^


***


Iklan promo :


Mari kunjungi Channel YouTube Author. "Genthilut Channel".


Nikmati kumpulan puisi karya Author yang menggetarkan jiwa.

__ADS_1


Sempatkan untuk subscribe, share, like, komen ya.. Terimakasih.


***


__ADS_2