
Ketika 7 orang tim Angga sedang bergembira karena telah berhasil mengirimkan pesan kepada ayah Naya. Dibagian lain pulau itu terlihat Sisi yang sedang berjalan bersama Jaka. Langkah kaki mereka bergerak cepat menyibak semak belukar.
"Kita sudah 10 hari memisahkan diri dari tim. Untuk makan saja kita harus bersusah payah memanah hewan yang rata-rata gesit itu. Apa tidak sebaiknya kita kembali saja kesana, Sis?" ucap Jaka memelas.
"Ahh lu pengecut. Kalo mo balik, balik sono sendiri. Dasar pria ga berguna lu!!" desis Sisi kesal.
Berbulan-bulan hidup dipulau terpencil, ditambah beberapa kali depresi membuat wanita tersebut mengalami perubahan pola pikir dan perilaku. Sisi tumbuh menjadi personal yang egois dan kaku. Secara tak sadar ia telah berubah menyerupai pertumbuhan Gino Cs. Sisi masuk dalam jenis orang-orang yang individual, mementingkan diri sendiri, dan tak peduli pada nasib orang lain. Kecemburuan sosial yang sejak awal telah tumbuh didalam hatinya, kian lama berkembang lebih besar hingga menunjukkan karakter sebenarnya dari seorang Sisi.
"Ya bukan gitu juga. Gue bela-belain lepas dari tim juga demi nemenin lu, Sis. Gue ga akan balik sendiri tanpa lu ikut." Jawab Jaka sedikit emosional.
Berbeda dengan Jaka. Sebenarnya pria ini adalah sosok yang baik. Tepat seperti yang diucapkan Pak Herson sesaat sebelum ia meninggal. Namun cinta telah membutakan mata hati seorang Jaka. Rasa takut kehilangan Sisi membuatnya rela 'memberontak' dari tim hanya demi mendampingi Sisi.
"Lalu apa yang lu rencanakan sekarang?" tanya Jaka tanpa gairah.
"Simpel aja sih. Ga kayak pola pikir Angga yang goblokk itu. Kita bermukim dipantai. Menunggu kapal orang lewat. Kita minta bantuan. Kelar urusan!!" ucap Sisi dengan menggebu-gebu.
"Bagaimana kalau itu kapal pasukan penjahat yang mencari Naya?" lanjut Jaka masih bingung dengan maksud Sisi.
"Lah..bodo amat gue sekarang mah. Gue udah ga ada hubungan sama cewek manja itu. Kalo kapal penjahat itu bisa membawa kita pulang, why not?" jawab Sisi.
"Gimana kalau malah kita disekap mereka?" Jaka justru bergidik dengan ide gila Sisi.
"Lu emang begoo ya, Jack. Kita punya mulut kan?!. Bilang aja kita ga ada hubungan apa-apa dengan Naya. Kalau perlu, mereka boleh rekrut kita jadi pasukan mereka asalkan kita bisa pulang. Gue kan bisa jadi koki para penjahat itu. Gini-gini gue lebih jago masak ketimbang Lita ganjen anak penjaga kampus sialan itu," Sisi memang telah berubah, bahkan sekarang bisa dibilang sebagai salinan dari sosok Sisca.
"Kok lu gitu sih. Pak Bagas kan orang baik. Ga sopan kalo lu bilang kek gitu," Jaka berusaha menasehati.
"Halaahh. Mo Bagas kek, Naya kek, Lita kek..semua sama aja selama mereka pro Angga. Mereka semua sialan. Dan lu kalo masih pengen balik kesana, lu juga termasuk bagian dari orang-orang sialan!!" Sisi nampaknya sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
Sisi bukan sedang sakit jiwanya. Ia juga bukan seseorang yang sedang mengalami salah paham. Api angkara memang sudah bersemayam dalam diri Sisi sejak lama. Keadaan yang telah membangkitkan diri Sisi yang sesungguhnya. Selama ini yang ditampilkan hanyalah Sisi yang seolah lembut dan penakut. Namun mental yang telah ditempa dalam kerasnya hidup dipulau, membuat sisi lain dari seorang Sisi bangkit.
"Sekarang ikuti semua perintah gue kalo lu emang masih mau bareng gue!" ujar Sisi dengan kalimat tajam.
"Apa yang lu mau?" tanya Jaka dengan suara gemetar.
__ADS_1
"Kita akan bergerak kebagian pantai yang lain. Pantai yang belum pernah kita lewati. Disitu ada kemungkinan kapal akan lewat. Nanti lu disana harus bantu gue bikin tempat tinggal," balas Sisi tegas.
"Baiklah, jika itu yang lu mau. Selama gue bisa bantu dan membuat lu senang, maka gue akan melakukannya," ucap Jaka yakin.
--Keraguannya mengendap kedasar jiwa, tergeser oleh cinta.
--Jika harus menelan bumi sekalipun, selama orang yang dicintai bisa bahagia, maka Jaka akan melakukannya.
"Sebenarnya, lu kenapa kayaknya benci banget ama mereka?" tanya Jaka dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Dari dulu sejak jaman semester 1, gue udah gedek banget ama Naya. Mentang-mentang dia Putri CEO, anak orang kaya. Sok kecantikan banget. Hampir semua cowok mengidolakan dia. Padahal gue juga cantik kan?. Bokap gue juga orang kaya meski ga sekaya bokapnya Naya. Tapi kenapa semua perhatian tertuju ke dia?. Apalagi saat kita terdampar dipulau, yang diperhatiin Angga juga orang-orang cuma Naya mulu. Apa hebatnya Naya sih?!. Kalau cuma modal cantik ama kaya aja gue juga ga kalah kok.." ungkap Sisi penuh kebencian.
"Yaa..gue akui emang lu cantik. Gue juga naksir ke elu. Tapi ada hal yang ga lu miliki dari diri Naya. Dia lembut, penyabar, ringan tangan, ramah, ga manja meski anak gedongan. Dan satu lagi yang paling penting..lu ga dikejar penjahat seperti keistimewaan seorang Naya," ucap Jaka dalam hati tanpa berani mengucapkannya secara nyata.
Keduanya terus berjalan menyusuri hutan untuk menemukan pantai disisi lain pulau itu. Sisi telah bertengger dikerajaan egosentris yang ia bangun sendiri dengan bahan keangkuhan jiwa dan iri dengki. Jaka adalah satu dari sekian banyak pria dibumi ini yang takluk karena cinta tanpa bisa mencerna. Bahkan tanpa Jaka sadari, ia pun mungkin akan menjadi tumbal bagi keegoisan Sisi suatu saat nanti. Seorang egois hanya mampu memilih yang terbaik untuk dirinya sendiri, meski harus mengorbankan temannya sendiri sekalipun.
"Kita harus menemukan Sisi dan juga Jaka sebelum bala bantuan dari Papamu tiba," ucap Angga kepada Naya saat tim berikut Sukma usai melakukan makan bersama dipemukiman Putri CEO.
"Gue tau apa yang dirasakan Naya. Bukan kami merasa tega, tapi persahabatan sudah berakhir atas pilihan Sisi sendiri. Jadi apalah daya kita untuk mengajaknya kembali bersama, jika Sisi sendiri enggan untuk bersama," ucap Rena mewakili apa yang sedang dipikirkan oleh Naya.
"Tapi gue memiliki beban moral terhadap Bu Mayang dan Pak Herson. Gue ga bisa meninggalkan Sisi dan Jaka begitu saja setelah liku perjalanan sudah kita lalui bersama," sanggah Angga.
"Pertanyaan adalah, apa Sisi mau?" lanjut Rena sedikit jengah dengan pendirian Angga.
"Yang diinginkan Sisi hanyalah pulang. Tentu dia mau kalau kita mengajaknya pulang," jawab Angga masih tak mau mengalah.
"Belum tentu juga dia bakal mau, Mas. Setelah apa yang terjadi antara kita dengannya, kita sekarang seperti memiliki jurang pemisah dengan Sisi. Tak semudah itu untuk menawarkan kebaikan kepadanya," Pak Bagas turut menyampaikan pemikirannya.
"Kita coba dulu saja. Anggap saja ini adalah tawaran terakhir kita buat Sisi. Jika nantinya ditolak, ya sudah mau gimana lagi.." ujar Angga mempertahankan jiwa baiknya untuk dua orang 'pemberontak' yang tak tahu diuntung.
"Tapi itupun tak semudah yang Mas Angga kira. Hutan belantara begitu luas. Kecil kemungkinan bagi kita menemukan mereka. Dan lagi, maaf..bisa jadi mereka juga sudah dimangsa hewan buas diluar sana." Ucapan Sukma kali ini langsung membuat Angga murung.
"Baiklah akan saya coba mengirimkan pasukan untuk mencari Sisi dan Jaka. Ini semua saya lakukan demi menghormati mas Angga yang sudah seperti pemimpin utama bagi kami," Sukma akhirnya mengalah.
__ADS_1
"Lu terlalu baik, Ngga. Beruntung Naya bisa dapet cowok seperti lu.." Rena melunak.
"Jadi gue bukan cowok baik gitu?!" sarkas Fikri sewot.
"Apa gue harus bilang, cieee..cieee.. gitu?" potong Beno menggoda Fikri dan juga Rena.
--Baik Fikri maupun Rena hanya bisa menunduk malu.
"Mbak Sukma jangan khawatir. Saya pastikan bahwa saya akan tetap kembali membantu mbak Sukma dari deraan suku Lampard." Angga mencoba memberikan ketenangan kepada Sukma.
"Terimakasih. Terimakasih sekali atas budi baik kalian semua. Kami sudah menganggap kalian semua sebagai saudara," balas Sukma dengan tatapan berkaca-kaca.
Nun jauh di pulau Jowa..
"Ren, siapkan helikopter. Kita akan menjemput Naya!" perintah Pak Leo kepada Rendra sebagai tangan kanan dan asisten pribadinya.
"Siap, Bos." Jawab Rendra patuh.
"Dua heli yah. Sertakan juga beberapa orang yang bisa diandalkan," lanjut Pak Leo.
Bukan suatu hal yang sulit bagi seorang CEO besar seperti Pak Leo untuk mengadakan dua buah helikopter. Jangankan helikopter, jet pribadipun ia memiliki beberapa.
Beberapa saat setelah melakukan persiapan, Pak Leo segera mengudara dengan didampingi oleh Rendra dan beberapa orang kepercayaan lainnya.
Cerita belum berakhir. Perjalanan masih berliku.
Bersambung ke next episode 🔜
DPKBPC @2021
FigurX Productions
Jempol (👍) anda dibutuhkan disini.
__ADS_1
***