Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 41 : Airmata


__ADS_3

...


Air mata yang telah jatuh


Membasahi bumi


Takkan sanggup menghapus penyesalan


Penyesalan yang kini ada


Jadi tak berarti


Kar'na waktu yang bengis terus pergi


Menangislah bila harus menangis


Karena kita semua manusia


Manusia bisa terluka


Manusia pasti menangis


Dan manusia pun bisa mengambil hikmah


Di balik segala duka


Tersimpan hikmah


Yang bisa kita petik pelajaran


Di balik segala suka


Tersimpan hikmah


Yang kan mungkin bisa jadi cobaan


Menangislah bila harus menangis


Karena kita semua manusia


Manusia bisa terluka


Manusia pasti menangis


Dan manusia pun bisa mengambil hikmah


^^^(Dewa19)^^^


...



Angin berhembus cepat menghantarkan dua singa kembali memasuki lebatnya rimba, setelah sebelumnya dua singa itu merundukkan badan sejenak kearah Angga seperti yang telah mereka lakukan dihutan dulu, sesaat setelah Gino Cs terbunuh.


Angin terus berhembus membawa aroma anyir darah memenuhi rongga hidung. Tak kurang dari separuh pasukan lawan mati ditempat itu. Membawa PR berat bagi tim Angga untuk menguburkan mereka.


Terlihat Bu Mayang tergeletak dengan kepala dipangkuan Pak Herson. Semua berjalan mendekat, tak terkecuali Lita yang tengah terluka bahunya, dan Jaka yang tertatih karena luka pada pahanya.


"Mahh..bertahanlah!!" airmata Pak Herson tak mampu terbendung.


Suasana sedih merebak disana. Tak hanya Pak Herson, hampir semua terlihat menangis tersedu. Begitu juga dengan Angga yang terlihat matanya berkaca-kaca.


"Pa..pah. Aa.ku ga kuat la..gi," susah payah Bu Mayang bersuara.


"Tolong, Mah. Jangan tinggalkan aku sendiri..pliss, Mah. Pliss..." Pak Herson sesenggukan hebat.


"Pahh..ku..ku..tunggu ka..kamu di surga. Ang..ga titip jaga su..a..miku," tepat setelah Bu Mayang menyelesaikan kalimat, maut menjemputnya. Darah sudah keluar terlalu banyak. Tombak itu juga sudah menembus lapisan usus dari Bu Mayang.


"Mah..mamah..bangun maahh. Tidakkk!!" Pak Herson berteriak pilu.


--Semua mematung ditempatnya.



Dalam kedukaan yang mendalam, semua kembali mendirikan bangunan gubuk yang telah roboh. Wajah-wajah yang penuh airmata itu berusaha tegar, meski jiwa terasa remuk redam.


Bu Mayang telah usai dikuburkan. Terpisah dari tempat Bu Mayang, kawanan wanita pulau juga dikuburkan. Kini semua terduduk lesu dibalik dinding gubuk yang berdiri sekedarnya.


...

__ADS_1


Hampa..


Sepi mencekam nurani,


Dunia seakan terhenti,


Terputus asa.


Perih..


Luka teramat pedih,


Harap terhenti,


Lunglai,


Berai.


Binar itu hilang,


Jiwa meradang,


Penat menyatu,


Menghunus pilu.


...


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?. Semakin lama kita disini, satu persatu akan mati!" tangis Sisi memecah keheningan.


"Gue mau pulang. Kita harus pulangg.." kembali Sisi bersuara disela tangisannya.


Semua tertunduk. Meski tak bersuara, namun jelas mereka sedang mengalami depresi yang cukup menyiksa. Masa depan seperti angan semata. Kehampaan memenuhi jiwa.


"Luapkan semua tangis dan teriak jika itu bisa membuat lu lebih baik. Takdir kita berada disini. Takdir Bu Mayang meninggal disini. Semua orang pasti akan mati. Jika lu pulang dari sinipun, ga akan lepas dari mati." Ucap Angga datar namun sarat ketegasan.


"Justru jika lu putus asa dan menyerah disini, hari ini, lu bakal lebih cepet mati. Kita harus bangkit, terus berjuang, jangan biarkan pengorbanan Bu Mayang sia-sia. Lu perlu tau bahwa Tuhan akan menuruti prasangka hamba-Nya." Angga melangkah pergi meninggalkan gubuk.


Jika berpikir tentang beban yang berat, maka sebenarnya beban dipundak Angga yang paling berat. Jika takut mati, justru Anggalah yang lebih dekat dengan kematian disetiap pertarungannya.


"Sabarkan hatimu, Ngga. Tim sedang kalut. Lambat laun akan membaik," Naya datang mendekati Angga yang berdiri jengah diluar gubuk.


--Ia paling tidak suka keluh kesah.


"Kita sudah berenang jauh, jangan berhenti. Atau kita akan tenggelam dan mati," desis Angga.


"Iya, Ngga. Tenang ya. Aku selalu mendukungmu.." Naya memeluk tubuh Angga.


--Sejenak menyalurkan ketenangan.



"Gue akan datang ke markas mereka untuk meminta penawaran racun Jaka dan mbak Lita," ucap Angga ketika hari telah malam.


"Apa yang kamu katakan?. Itu sangat berbahaya. Aku tak mau kehilangan lagi.." potong Pak Herson dengan wajah yang masih sembab.


Kondisi Jaka dan Lita terlihat melemah. Ketika siang mereka masih bisa membantu mengurus jenazah Bu Mayang dan memperbaiki gubuk. Namun malam ini, mereka tiba-tiba saja lemas tak berdaya. Bahkan untuk sekedar berjalanpun tak mampu.


"Racun itu akan bekerja dalam 3x24 jam. Proses racun itu sangat cepat. Kita tak bisa berpangku tangan dan melihat tubuh mereka mengering begitu saja dihari ketiga," ucap Angga lagi, membuat yang lain tertegun tak percaya.


"Senjata mereka telah dibubuhi racun yang bisa membuat korbannya mati mengering dalam 3 hari. Gue sangat mengenal aromanya saat pertama kali bertarung dengan mereka disana. Dan kecurigaan gue terbukti dengan mulai lemahnya tubuh Jaka dan mbak Lita. Mereka yang meracuni, dan tentu mereka yang memiliki penawarnya," lanjut Angga lagi.


"Bagaimana kalo disana nanti lu diserang atau ditangkap oleh mereka?" tanya Rena.


--Bagaimanapun juga, Angga adalah tumpuan tim.


--Semua mengakui besarnya peran Angga untuk mereka.


--Jika sesuatu terjadi pada Angga, sudah pasti mereka hanya memiliki satu sisa yakni putus asa.


"Ren, lu liat kan tadi mayat mereka yang kita kubur ada berapa?, Ada sekitar 40 orang tau ga. Itu artinya, lebih dari separo yang datang kesini tadi sudah koit. Jumlah mereka menurun drastis, pasti mikir dua kali kalo mo lawan kita lagi. Bayangkan, orang 11 bisa melibas 4 kalinya, apa ga herman mereka?!" tutur Angga meyakinkan.


"Terlebih gue udah ngancem bosnya tadi. Bosnya aja takut ama gue, apalagi bawahannya.." lanjut Angga memberikan penekanan.


"Aku percaya sama kamu. Berangkat aja gapapa, penting ati-ati. Jangan sampe kamu koma lagi seperti kapan hari," ucap Naya mendukung.


"Siapp Bu Bos. Oya, Pak Bagas dan Fikri ikut gue ya. Biar lebih aman jika bertiga. Ben, lu jaga kandang aja bareng Pak Herson. Gue ga lama kok, maksimal 5-6 jam udah balik sini lagi," Angga memberi tanda hormat ke arah Naya, berlanjut membagikan tugas kepada tim.


__ADS_1


Pagi buta sekitar jam 4 dini hari, Angga dan timmya berangkat. Ia berharap bisa sampai ke gubuk air terjun sebelum matahari terbenam.


Pagi itu, baik Jaka maupun Lita sudah tak sadarkan diri. Racun menyebar begitu cepat dalam 24 jam pertama. Nyawa mereka sedang diujung tanduk.


Angga memilih jalur yang berbeda dengan saat sebelumnya. Selain ingin menemukan jalan pintas, Angga juga menghindari wilayah yang dekat dengan gua tempat tinggal pasangan Orangutan. Waktu akan banyak terbuang jika harus berurusan lagi dengan hewan tersebut, sedangkan kondisi Jaka maupun Lita sudah semakin kritis.


"Kita percepat langkah!" perintah Angga kepada kedua temannya


"Kalau mau lebih cepat, kita bisa nunggu taksi noh ditikungan, hehe.." seloroh Fikri meredakan ketegangan, namun tetap juga ia ikut mempercepat langkah.


Mereka tiba di pemukiman wanita pulau dalam 2 jam. Tanpa mengintai, tanpa mengendap, tanpa menyelinap Angga berjalan tegap memasuki area pemukiman bersama Fikri dan Pak Bagas.


"Mana pimpinan lu?" tanya Angga ketika langkah mereka tertahan digerbang penjagaan.


Setelah sejenak mengamati, dua orang penjaga wanita sepertinya teringat sesuatu dan mulai gemetar. Mungkin mereka adalah bagian dari penyerang gubuk air terjun.


"Si..siilahkan ikut ssa..ya, Pak." Jawab salah seorang dari keduanya dengan tergagap.


"Yaelah, Pak katanya. Berasa tuwir be'eng," rutuk Fikri sewot.



"Sekali lagi saya mewakili semua warga, memohon maaf sebesar-besarnya atas perlakuan kami." Ucap Sukma sebagai pimpinan dari Putri CEO.


Mereka tak menyangka jika sepak terjang pemenuhan hasrat di pulau kecil akan menjadi malapetaka besar bagi mereka sendiri. Separuh lebih anggota mereka menjemput ajal demi membela napsu setan.


Disisi lain, mereka juga akhirnya tersadar betapa buruknya ulah bejad yang dilakukan selama ini. Ini berkat pertempuran besar melawan tim Angga. Mata mereka menjadi terbuka.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan napsu kalian sehingga terkesan barbar seperti itu?!" tanya Angga penasaran.


"Ceritanya sangat panjang. Dulu tetua kami menjalin kesepakatan dengan suku Lampard dari pulau sebelah. Mereka adalah suku yang terbentuk dari gabungan suku-suku di Indonesia. Namun yang bergabung adalah orang-orang pelarian dari suku masing-masing. Jadi intinya mereka adalah orang-orang bermasalah disukunya yang kemudian melarikan diri dan bergabung membuat satu koloni baru. Mereka tinggal di pulau Bintang, letaknya di selatan pulau ini,"


"Waktu itu tetua kami diserang suku Lampard yang mayoritas laki-laki, berbeda dengan kami. Jelaslah kami kalah kekuatan. Dalam perundingan diambil kesepakatan bahwa suku Lampard tidak akan menyerang lagi dengan syarat Putri CEO wajib menyerahkan 5 orang wanita setiap tahun kepada mereka, yang akan ditukar dengan jatah beras karena mereka mampu bercocok tanam padi disana. Dengan target pemberian wanita yang cukup banyak tiap tahunnya, ditambah kebutuhan utama kami yakni beras, akhirnya kami menjadi gelap mata dan berambisi memproduksi keturunan sebanyak-banyaknya demi menunjang itu semua." Sukma menghela napas berat.


"Pulau ini apa namanya?" tanya Fikri penasaran.


"Kami menamai pulau ini Mawar," ujar Sukma.


--Fikri menahan senyum begitu mendengarnya.


Mendengar cerita dari Sukma, tentu Angga dan kedua temannya menjadi iba. Mereka membayangkan ibu atau saudara perempuan mereka yang berjuang hidup sendiri di pulau terpencil dalam tekanan suku lain. Sungguh kasihan.


"Maaf. Jika boleh, Mas. Kami ingin meminta bantuan," ucap Sukma sungkan.


"Apa itu, Mbak?" tanya Angga ingin tahu.


"Bisakah kalian melindungi dan membantu kami melawan suku Lampard?. Maaf jika tidak berkenan.." lanjut Sukma tak enak.


--Ia tahu jika Angga dan timnya adalah orang-orang terpelajar dan baik hati.


"Kapan jadwal mereka menjemput para wanita tahun ini?" tanya Angga lagi.


"Sekitar 3 bulan lagi," terang Sukma.


"Berapa jumlah kekuatan mereka?," Pak Bagas ikut berbicara.


"Hanya 40 sampai 50 orang. Jauh lebih banyak kami sebelum sebagian gugur melawan kalian kemarin. Tapi kemampuan berperang mereka tinggi," Sukma menjawab.


--Sejenak Angga berdiskusi dengan kedua temannya.


"Baiklah. Kami akan membantu. Tapi kalian juga harus membantu teman kami yang terkena racun!" jawab Angga penuh keyakinan.


"Apa kalian bisa dipercaya?" Sukma merasa sangsi.


"Kami hanya penyintas yang terdampar. Bukan kumpulan manusia brengzek," ucap Angga tegas.


Bersambung ke next episode 🔜


^^^DPKBPC @2021^^^


^^^FigurX Productions^^^


***


Ijin promosi :


Yuk nikmati kumpulan puisi karya Author novel ini. Kunjungi,


YouTube : Genthilut Channel

__ADS_1


Mohon dukungan like, subscribe, share, dan komen yaa.. terimakasih.


***


__ADS_2