Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 43 : Kait hati


__ADS_3


Sukma dan pasukannya tinggal di wilayah hutan dekat air terjun selama seminggu untuk memastikan dan mendampingi kesembuhan Jaka dan Lita.


Penyembuhan sudah masuk hari ke 5. Jaka dan Lita sudah terlihat pulih jika dilihat dari luar tubuh. Hanya tersisa penyembuhan organ dalam akibat racun yang menggerogoti. Namun itupun juga sudah mendekati tahap final. Mereka hanya perlu waktu 1 hingga 2 hari lagi untuk menjadi benar-benar pulih.


"Kondisi sudah membaik, tinggal menunggu pulih 100%," ungkap Sukma kepada anggota tim.


"Syukurlah. Terimakasih banyak atas bantuannya," balas Pak Bagas mewakili yang lainnya.


"Harusnya saya yang berterimakasih karena sudah diterima dengan baik. Perbuatan kami sebelumnya sungguh sangat memalukan," tampik Sukma tak enak hati.


"Ini jalan yaang harus kita lalui. Semua berproses untuk mencapai titik tertentu. Tak ada yang perlu disesali. Itulah liku hidup. Yang penting kita bisa semakin baik kedepannya," timpal Pak Herson.


Meski berat ditinggalkan selamanya oleh Mayang, namun Pak Herson berusaha tabah dan memahami atas semua yang telah terjadi. Ia tak merasa dendam kepada Sukma, karena segala sesuatu telah diatur oleh Tuhan. Pasukan Sukma hanyalah perantara bagi Mayang untuk menuju alam berikutnya. Terlebih, melihat ketulusan Sukma meminta maaf, tak layak jika harus menumpahkan segala kesalahan padanya.



POV Naya


Pagi yang indah, pagi yang cerah. Suara burung-burung bersahutan. Angin berhembus lembut menyibak lembutnya rambutku.


Aku dan Angga sedang berjalan bersama ditepian hutan dekat gubuk air terjun. Hanya untuk berjalan-jalan, menghirup udara segar, sambil memetik beberapa tanaman liar untuk dimasak.


Hingga detik ini, aku begitu nyaman hidup di pulau kecil bersama Angga. Tak pernah terbayangkan jika tak ada Angga dalam sekoci malam itu, mungkin semua tak akan bisa bertahan hingga sejauh ini.


Dalam segala kebersamaan tim, telah tumbuh berbagai kesesuaian. Semua seperti saling membutuhkan. Seperti Pak Bagas dan Angga yang selalu saling membutuhkan untuk bahu membahu sebagai ujung tombak tim disetiap pertempuran.


Seperti Jaka yang selalu butuh Beno sebagai tandem untuk menyemarakkan tim. Tak ada mereka mungkin tim akan sendu dan sepi.


Kami juga membutuhkan sosok Pak Herson yang berperan sebagai figur bapak. Meninggalnya Bu Mayang sebagai sosok ibu sungguh membuat kami seperti kehilangan sebagian anggota tubuh.


Sosok mbak Lita yang ahli memasak sangat kami butuhkan. Juga betapa ahlinya dia dalam bertarung. Sungguh seorang wanita yang sarat akan ilmu dan pengalaman.


Betapa Beno dan Angga yang membutuhkan Fikri sebagai penyeimbang tim gatoloco. Dan betapa butuhnya Rena terhadap sosok Fikri, hehe. Aku paham tentang hubungan keduanya yang semakin menguat.

__ADS_1


Semua saling ada keterkaitan, saling membutuhkan, saling melengkapi. Entah bagaimana nasibku dikejar para penjahat jika tak ada Angga dan kawan-kawan.


Pun begitu juga denganku. Aku tak hanya memiliki ketergantungan yang besar pada Angga. Namun aku merasa ada kait hati yang tertaut sedemikian rupa, sehingga susah terpisahkan. Ya benar, kuakui aku luluh bin lumer juga akhirnya. Setelah perjalanan kuliah hingga mendekati penghujung kelulusan, aku baru menemukan pria yang selama ini kubutuhkan. Angga terlalu sempurna dimataku.


Sebenarnya aku juga mengamati bagaimana perhatian mbak Lita kepada Angga. Namun, aku merasa salut dengan apa yang diperbuat mbak Lita. Ia memiliki tepo sliro yang tinggi. Tak ada istilah sikut-sikutan dikamusnya. Ia sangat menghargai posisiku terhadap Angga. Bahkan akhir-akhir ini aku melihat ia perlahan menjauhkan perhatian terhadap Angga dan justru mulai merapat ke pelabuhan hati Beno. Mbak Lita adalah wanita yang baik, aku sayang padanya. Ia seperti kakak bagiku.


"Jangan terlalu jauh kedalam hutan. Aku takut kejadian seperti waktu ketemu Gino," ucapku pada Angga.


"Haha tenang saja. Lagian didalam sana justru aman, ada pasukan mbak Sukma yang berkemah disana," balas Angga yang kurasa memang ada benarnya.


'Kita naik ke puncak air terjun aja yuk. Selama ini kita belum pernah kesana," tawarku pada Angga yang langsung dijawab anggukan kepala oleh pria ter-hansome sejagad raya versiku.


Kami menemukan jalan setapak menanjak disamping lereng air terjun. Jalan itu tak lebar. Hanya selebar dua tubuh manusia dewasa yang berdiri berjajar. Jalan itu juga bertingkat layaknya tangga. Mungkin penyintas terdahulu sempat membuatnya sebagai jalur lintasan.


Jalan setapak itu bentuknya melingkar melilit bukit air terjun. Tak terlalu panjang, mungkin hanya sekitar 50 hingga 100 meter mencapai puncak. Hanya butuh waktu 10 menitan untuk melaluinya.


"Wahh indahnya.." teriakku takjub tatkala melihat hamparan rumput segar dipuncak bukit.


Sebenarnya itu bukan benar-benar puncak bukit. Disebelahnya masih ada bukit lain yang lebih tinggi dan besar. Air mengalir dari bukit besar menuju bukit kecil seperti sungai yang berkelok. Hingga kemudian berakhir ditepi bukit kecil yang membentuk dinding curam sehingga menjadikan aliran air tersebut jatuh begitu saja kebawah sebagai air terjun.


Diatas bukit kecil kulihat gubuk air terjun dibawah sana. Sekitar 30an meter ketinggian bukit itu, dengan puncak berpermukaan datar dan tak terlalu luas. Mungkin hanya 100 meter persegi luas puncaknya.


"Menurutku sih emang bagus tempatnya, tapi kurang nyaman untuk mobilitas kita sendiri. Naik turun tebing cukup menguras tenaga, meski cukup landai.." sedikit kusanggah ucapan Angga.


"Kamu benar juga. Mungkin untuk bermukim sih nyaman. Tapi untuk kita yang sering mondar-mandir mencari ini-itu, perlu ini-itu, sepertinya kurang sesuai..tapi, sebentar. Aku jadi punya ide," sambut Angga, namun dengan kalimat menggantung.


"Ide gimana, Ngga?" lembut kutanyakan maksud perkataan Angga.


Angga ternyata tak melanjutkan kalimatnya. Bergegas ia menenteng pedangnya untuk memotong beberapa kayu berukuran sedang, juga mengambil beberapa tanaman merambat. Timbul tanda tanya dalam benakku melihat aktifitasnya yang mendadak dan sok misterius.


"Aku akan membuat pos pantau. Yah..pos untuk memantau wilayah sekeliling gubuk air terjun. Dari sini kita bisa bebas memandang jauh hingga ratusan meter kedepan. Dengan ini kita tak perlu lagi sibuk berpatroli. Hanya cukup mengatur jadwal giliran jaga. Dan aku rasa, ditempat tinggi, datar, dan tak terlalu luas seperti ini tentu binatang buas tidak akan muncul. Kecuali mungkin sebangsa ular atau binatang melata lainnya," kuakui bahwa Angga cukup cerdas dalam mengatur setiap strategi.


--Aku sejak awal dipulau ini tak pernah berhenti berdecak kagum setiap muncul ide-ide brilian dari otaknya.


Tanpa banyak bertanya lagi, aku segera membantu pria tampan atletis tersebut menyelesaikan poskamlingnya. Hanya butuh waktu satu jam untuk menyelesaikan pos mini yang hanya muat untuk dua sampai tiga orang.

__ADS_1


Melepas lelah kami duduk bersama didalam pos jaga sambil menikmati air minum yang sempat kubawa.


"Ish..kenapa liatinnya gitu banget sih. Orang lagi minum.." rajukku manja tatkala melihat tatapannya tak berkedip.


"Kamu..ehmm minum aja cakep. Apalagi kalau pas ga minum hehe," goda Angga membuatmu langsung memerah pipi karena malu.


"Gombal mukiyo!!" tinju lemahku memukul pelan bahunya.


Namun pada pukulan kedua, cepat Angga menangkap pergelangan tanganku. Sesaat kami terdiam bersama dalam keheningan nurani yang saling menunggu.


"Nay, akuu..aku,"


"I love u. Maukah kau mengikat hati denganku dan bersiap menjadi calon istriku kelak?" Angga memutar tubuhnya menghadap kearahku dengan tanganku yang masih dalam genggamannya.


Bulu kudu seketika meremang. Rasa senang, haru, kaget bercampur menjadi satu. Aku tak menyangka ia akan mengungkapkannya saat ini. Aku masih berpikir jika ia mungkin akan menyatakan perasaannya saat nanti telah berhasil pulang. Sebenarnya, setiap waktu aku berharap dan menunggu saat-saat seperti ini datang.


"Ehmm..aa..a.." lidahku kelu. Tak ada satupun kata yang berhasil terucap.


Aku hanya bisa mengangguk untuk menjawab ucapan Angga. Namun anggukan itu sudah cukup membuat Angga paham akan maksudku. Seketika ia melepas genggaman tangan dan beranjak memeluk.


Aku menangis haru dalam pelukannya. Kulihat sudut mata Angga juga mengalirkan airmata bahagia.


POV Naya off


Kembali ke POV Author


Bersambung ke next episode 🔜


***


Iklan promo :


Mari kunjungi Channel YouTube Author. "Genthilut Channel".


Nikmati kumpulan puisi karya Author yang menggetarkan jiwa.

__ADS_1


Sempatkan untuk subscribe, share, like, komen ya.. Terimakasih.


***


__ADS_2