Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 32 : Tak sadarkan diri


__ADS_3


---


Fikri terlihat sangat gusar. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang besar. Ia nampak mondar-mandir didepan gubuk, merasa tak sabar menunggu kedua sahabatnya, Naya, serta Pak Herson yang tak kunjung datang hingga hari telah berganti.


Tak hanya Fikri, semua anggota tim juga merasakan hal serupa. Berbagai pikiran negarif mendera jiwa. Kebersamaan layaknya sebuah keluarga yang telah dijalin erat selama beberapa saat telah menjadikan satu ikatan batin. Ada rasa kehilangan, ada perasaan tak lengkap jika ada anggota yang berkurang, ada kasih sayang yang terhalang, ada rindu yang tertinggal, ada tali kekeluargaan yang tertaut antara satu dengan lainnya.


Terlihat Bu Mayang menunjukan rona wajah kalut merisaukan keadaan suaminya.


Ada mata sendu Lita yang berharap Angga dan Beno segera kembali. Entah perasaan apa yang melatarbelakanginya.


Ada lelehan airmata sedih dari Rena dan Sisi yang menanti Naya, sahabat terbaik mereka.


Ada tatapan nanar Pak Bagas yang melihat bayangan Angga seolah melihat dirinya berkiprah tatkala muda.


Ada kejengkelan Jaka yang kehilangan sejolinya untuk saling meledek dan bersenda gurau ceria.


Siang yang terik dan panas. Sepanas hati mereka yang membara menahan gejolak pilu dalam kegamangan nurani. Semua terpekur, tak ada yang tahu harus berbuat apa. Sosok pimpinan telah hilang, sosok dewi cantik penyemangat tim telah raib, sosok kebapakan telah sirna, sosok paling ramah dan penuh candapun tak ada.


"Gaes.." ucap Fikri sendu menghadap kepada semua yang tersisa di halaman gubuk.


"Sesuai pesan Angga, tersisa gue sama Pak Bagas sebagai panglima tim. Kita boleh sejenak terpekur meresapi duka. Tapi jangan biarkan kecemasan merajalela. Gue akan melanjutkan memimpin kalian hingga nafas terakhir. Pak Bagas mohon bantuannya," lanjut Fikri meski dengan mata yang berkaca-kaca.


--Pak Bagas hanya mengangguk masygul.


"Apa langkah kita selanjutnya, Kri?" tanya Rena dengan bias wajah penuh keresahan.


"Jangan gegabah. Kita berdiskusi dan mencari solusi dulu. Kemudian menyusun rencana dengan matang. Jangan sekali-kali pergi ke luar sana tanpa perhitungan yang tepat. Di luar sana bisa jadi Surga, namun juga bisa menjadi neraka bagi kita." Fikri tak mau mengambil resiko dengan kehilangan lebih banyak anggota lagi.


--Dia harus berusaha bagaimanapun caranya, agar tim tetap utuh, solid, dan aman.


--Kesemuanya terlihat mengangguk paham.


"Mas..mass," Pak Bagas menepuk pundak Fikri. Tatapannya tak lepas dari salah satu aliran sungai diantara beberapa aliran sungai lainnya yang bersumber pada kolam air terjun.


Fikri mengikuti telunjuk Pak Bagas.


--"Itu disanaa..Pak Hersonn!!" lanjut Pak Bagas.


Semua menghambur kearah yang ditunjukkan Pak Bagas. Sekitar lima puluh meter dari gubuk. Telah menyusuri sungai, seorang pria yang dari posturnya menunjukkan bahwa dia adalah Pak Herson. Di kedua lengannya tergantung satu bilah pedang dan satu belati.


"Pahh.."


"Pak Bro.."


Bu Mayang dan Jaka mempercepat langkah menyongsong pria tersebut yang ternyata memang Pak Herson.


Namun..


BRUKK!


Belum sempat mereka bertegur sapa, Pak Herson sudah jatuh pingsan dipelukan Jaka. Tubuhnya penuh luka. Salah satu pergelangan kakinya terlihat membengkak. Wajah pucat itu terpejam, tak kuasa menahan rasa sakit dan letih yang teramat sangat.

__ADS_1


---



---


Dua hari berlalu. Pak Herson masih terbaring lemah di dalam gubuk air terjun. Sebenarnya ia telah siuman setelah satu hari penuh tak sadarkan diri. Namun hingga hari kedua setelah kedatangannya, ia hanya tidur dan tidur. Mungkin itu adalah efek penenang dari jamu tumbuh-tumbuhan yang telah diminumkan oleh Fikri, sehingga ia bisa tidur dengan nyenyak untuk merekonstruksi luka-luka pada tubuhnya.


Ramuan juga telah dibubuhkan pada luka luar Pak Herson. Bahkan kini luka itu mulai terlihat layu mengering.


Bu Mayangpun tak mau berpangku tangan. Kemampuan pijit ia kerahkan untuk menata kembali pergelangan kaki suaminya yang terkilir.


Pak Herson mulai terlihat segar dan bisa diajak berkomunikasi dihari ketiga.


"Aduuh..lama sekali sembuhnya, Bapaakk. Gimana tuh nasib mereka yang hilang?. Terutama Beno yang sudah dibuat telanjay tiga hari yang lalu oleh para wanita penguasa pulau. Bisa masuk angin dia, tiga hari ga pakai baju. Jangan-jangan sudah jadi perkedel tuh jarum nerakanya Beno!?, Aiih aiih aiiih.." suara misteri pembaca yang sudah tak sabar menunggu Pak Herson bercerita.


"Sebenarnya, apa yang telah terjadi, Pak?" Fikri sudah tidak sanggup menunggu lebih lama lagi. Pak Herson langsung dicecar pertanyaan olehnya.


"Aduh..kepalaku pusing. Aku tidur lagi ya.." Pak Herson masih seperti linglung.


"Wahh wahh.. jangan om. Hadohh!!" Jaka uring-uringan tak jelas demi melihatnya.


---



---


Malam hari setelah siangnya Pak Herson kembali tidur, terlihat semua berkumpul di sekeliling api unggun untuk mendengarkan cerita dari Pak Herson.


"Aku pusing.. mau tidur lagi ya,"


"Pakk!!"


"....."


"Serius, Yah!" Bu Mayang menyipitkan matanya.


"Aku masih lemes, Mah. Hmmm," Pak Herson menatap sayu.


"Alasann!!" wajah Bu Mayang menunjukkan kekesalan.


--Bibir bagian kanan atas Bu Mayang terangkat naik.


"Angga dan Naya belum berhasil kami temukan. Saat itu saya dan Beno sempat menemukan jejak berupa bekas medan pertempuran. Dugaan kuat kami, Angga yang telah bertempur disana sebelumnya. Namun kami tak menemukan Angga dan Naya. Hingga akhirnya kami bermalam dihutan karena berniat esok paginya melanjutkannya pencarian," Pak Herson sejenak diam


--Menarik napas dan hendak tidur lagi.


--Namun buru-buru Jaka menahan lengannya.


"Lanjutkan, Pak Bro.." ucap Jaka.


"Malam itu, setelah saya dan Beno menyantap ayam bakar hasil buruan. Tiba-tiba datang dua anjink hutan menyerang. Kami bertempur melawan mereka. Syukurlah satu anjink berhasil kami bunuh. Dan satunya lagi kabur menyelamatkan diri," Pak Herson kembali terdiam.

__ADS_1


"Hayoo..mau tidur lagi?!" Jaka sudah berjaga disamping bahu Pak Herson, padahal Pak Herson tidak hendak tidur.


"Sebentar, saya mau pipis dulu,"


"Pak Hersooon!" paduan suara sumbang Jaka dan Fikri memecah malam.


--Pak Herson bergerak melipir ke arah toilet yang dibangun disamping gubuk.


---



---


"Ja..jj.jadi memang ada ya manusia kanibal di pulau ini?" Jaka terkejut begitu mendengar penuturan dari Pak Herson yang menceritakan tentang kondisi penyekapan terhadap Beno.


"Hustt..Siapa yang bilang manusia kanibal?" desau Pak Herson.


"Nah itu tadi, Ben-Ben sayangkuh diculik!!" jawab Jaka tak mau kalah.


"Iya diculik. Tapi bukan manusia kanibal. Lagian lu, sayang-sayang. Sejak kapan lu jadi belok?, minta dijewer lu?" Pak Herson mendelik. Sepertinya ia masih sedikit dendam atas perlakukan Jaka yang melarangnya tidur haha.


"Piss Pak Bro. Pisss..selow gosah ngegas. Gini-gini, nama Jaka masih berdiri kokoh mewakili kejantanan yang sesungguhnya. Mana ada gue suka cowok. Itu cuma becanda bos," tampik Jaka slengean.


"Intinya, ada suku aneh di pulau ini. Semuanya wanita. Tapi mereka memakai bahasa umum juga. Bukan bahasa pedalaman yang ga jelas. Dan sekarang Beno ada ditangan mereka," semua serius menyimak perkataan Pak Herson. Namun tentang telanjanknya Beno tak diungkapkan oleh Pak Herson. Khawatir menimbulkan kepanikan yang berlebihan.


"Wah gimana ini?!. Angga dan Naya belum ketemu. Sekarang malah Beno diculik. Kenapa kita jadi tercerai berai gini sih.." oceh Sisi dongkol.


--Masalah semakin rumit melilit seperti benang kusut.


"Kita harus segera bergerak menyelamatkan mereka satu per satu. Besok siang kita akan bergerak. Pak Herson belum sehat, tetaplah di gubuk bersama Bu Mayang. Tolong Pak Herson memberikan petunjuk arah semua titik yang pernah disinggahi." Perintah Fikri mengambil keputusan.


"Pagi sebelum berangkat, kita gandakan busur dan anak panah menjadi beberapa set. Tombak juga tolong disiapkan. Sementara pedang Beno silahkan dipegang oleh Pak Bagas. Gue dan Jaka masing-masing membawa satu belati,"


"Panah silahkan dipegang oleh Rena, Sisi, dan Mbak Lita. Sejenak besok pagi berlatihlah dulu sebelum berangkat, agar bisa memahami karakteristik alat yang digunakan. Tugas kalian adalah melindungi kami saat terjadi pertempuran. Jangan lupa tetap membawa tombak."


"Gue sekarang akan mengajarkan formasi serangan yang pernah diajarkan Angga jika menghadapi musuh yang bejibun," Fikri dengan tegas mengatur tim.


--Tak hanya Angga dan Beno, masing-masing personel trio gatoloco ternyata memiliki jiwa kepemimpinan yang bagus. Itulah yang sedang dilakukan oleh Fikri untuk timnya.


"Aku ikut, Kri. Aku rela mengorbankan nyawa untuk menolong mereka. Ini demi menebus kesalahanku dahulu saat turun dari sekoci," pinta Bu Mayang.


"Bu Mayang sudah kami maafkan sejak dulu, Bu. Akan lebih efektif jika Ibu tetap digubuk. Kondisi Pak Herson belum sehat. Beliau masih membutuhkan pendampingan. Dan lagi, gubuk ini juga perlu penjaga." Tolak Fikri.


"Satu lagi, tak ada yang boleh mengorbankan nyawanya. Kita semua harus tetap selamat dan hidup hingga bisa pulang kembali," imbuh Fikri memberi penekanan.


Dari sudut mata Fikri, terlihat antusiasme Rena dalam mendengarkan setiap pengarahan yang diberikan olehnya. Dari sorot mata Rena terbaca adanya kekaguman atas kepiawaian Fikri dalam mengatur tim.


Malam itu mereka berangkat tidur lebih awal guna mempersiapkan fisik lebih prima untuk perjuangan esok hari.


"Semoga saja lu semua masih bisa bertahan dan tidak kenapa-kenapa hingga kami datang menolong," gumam Fikri lirih.


***

__ADS_1


Bersambung ke next episode 🔜



__ADS_2