Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 36 : Misi Penyelamatan


__ADS_3

 



 


Semua bergerak cepat membelah kedalaman hutan. Semakin ditunda, akan semakin berbahaya bagi nasib Beno. Dengan dua pedang dan enam belati, maka masing-masing dari mereka kini memegang senjata tajam. Total ada delapan orang dengan delapan senjata, belum termasuk tiga set panah dan setengah lusin tombak kayu. Selain pedang dan belati, semua alat disimpan dengan posisi tergantung dibalik punggung.


Tim bergerak ke arah selatan pulau. Mereka meyakini bahwa suku wanita tentu bermukim disana. Keputusan menuju arah selatan diambil dengan pertimbangan bahwa selama ini mereka tidak pernah bertemu dengan suku wanita di belahan utara pulau. Hal ini menunjukkan kemungkinan besar keberadaan mereka pada paruh pulau sebelah selatan.


Hingga dua jam perjalanan, tim belum juga menemukan apa yang dicari. Semua kembali lelah. Tim memerlukan waktu istirahat sejenak.


Namun sebelum mereka beristirahat, sekitar seratus meter dari hadapan mereka terlihat atap-atap jerami bangunan sederhana.


"Itu sepertinya pemukiman suku yang kita cari," ucap Fikri.


"Sepertinya begitu. Gue pikir, ga akan ada gubuk selain punya kita dan Gino, kecuali milik para suku itu. Lagian jumlah gubuk itu lebih dari lima. Itu artinya ada penghuni cukup banyak disana," jawab Angga memberi tanggapan.


"Wahh banyak juga ya.." Jaka ikut berbicara.


"Kenapa lu, takut?" ledek Fikri.


"Hahaha..ga ada ceritanya Jaka akan takut. Selama ada Angga wkwkwk," Jaka terbahak, namun cepat dibekap oleh Fikri.


"Jangan kenceng-kenceng lu, hadooh. Gimana kalo ketahuan?. Beno bisa-bisa dimutilasi sama mereka!" Fikri mendelik sadis.


"Iye iye..soriii," Jaka tak berani bertingkah lagi, terlebih tatapan tajam Angga ikut mengiringi ucapan Fikri.


"Kita coba dekati lokasi mereka untuk mempelajari situasi. Hindari gerakan yang terlalu mencolok, biar tidak memancing perhatian." Perintah Angga sambil mengatur barisan tim.


Tim memperdekat jarak pandang. Mendekati jarak 50 meter menuju pemukiman, terlihat beberapa wanita berpakaian compang-camping melakukan penjagaan.


"Ngga, Iii..ituu," Jaka berbisik sambil menunjuk bagian tengah tanah lapangan yang tak terlalu luas.


Semua terkejut. Ditengah lapangan tersebut terlihat Beno sedang terikat pada sebuah tiang. Yang lebih mengenaskan adalah kondisi Beno yang bertelanjank bulat tanpa menutup sedikitpun.


"Auhh. Mata gue ternodai!" Rena tersipu malu.


--Begitu juga dengan tim wanita lainnya saat melihat Beno tanpa busana.


--Bagaimanapun juga mereka adalah para gadis yang masih polos, belum memiliki pengalaman tentang detail onderdil lawan jenis.


--Sebuah kelangkaan bagi mereka menyaksikan suguhan horror semacam itu.


Meski pada jarak tersebut tak bisa terlihat detail onderdil pada tubuh Beno, tapi ketelanjangan yang membahana bisa diketahui semua tim yang bermata normal, kecuali mereka memiliki rabun jauh seperti myopia, hipermetropia, ataupun silindris.


"Haisst..tundukkan pandanganmu!!" reflek Angga menutup mata Naya menggunakan telapak tangannya.


--Naya tersenyum malu-malu.


--Namun itu justru membuat yang lainnya terperanjat melihat interaksi antara Angga dan Naya.


--Sudah sejauh mana hubungan Angga dan Naya saat ini?, mengapa perhatian Angga begitu besarnya?.

__ADS_1


"Stop om jan diterusin mesrah-mesrahnya, ada anak dibawah umur ini.." goda Sisi jahil.


Mendengar keusilan Sisi, bukannya melepaskan tangan, bahkan kini Angga merangkulkan lengan kekarnya dibahu sang dewi. Setali tiga uang, Naya ikut melingkarkan lengan ke pinggang Angga.


"Euleh..eulehh.." bola mata Rena berputar malas.


"Mampos lu semua. Dikata bisa bikin kita tersipu malu kek dulu apah?!. Sory dory mory baby, huhh!" cibir Angga full pede.


"Kalian..kaliann?" mulut Sisi ternganga lebar.


--Disisi lain terlihat Lita membuang pandangan ke arah lain.


"Apaa?!" Naya ikut berkomentar saat melihat keterpanaan Sisi dan juga lainnya.


"Hahaha udah..udah. Kembali ke laptop. Posisi Beno ada ditengah lapangan. Cukup sulit untuk kita menolongnya. Hal yang paling masuk akal adalah kita serang secara terang-terangan. Meskipun resikonya besar, tapi kita harus berani mengambil keputusan itu demi Beno. Ada yang keberatan?" Angga menyapukan pandangan kepada semua anggota tim.


"Gue ikut," jawab Fikri mantap.


"Saya akan selalu mendampingi mas Angga," Pak Bagas ikut berbicara.


"Beno itu belahan jiwa gue, haha.." Jaka tak mau kalah.


"Aku selalu mendukung kamu." Sambung Naya.


"Gue juga,"


"Gue sih iyes.."


"Aku setuju pada keputusan Angga,"


"Ok lah. Sekarang masih siang. Mari kita cari tempat istirahat dulu dan mengisi perut. Selanjutnya menyusun strategi penyerangan. Kita akan memulai aksi nanti malam agar lebih leluasa menyusup." Angga memberi instruksi.


 



 


Udara dingin malam menusuk hingga ketulang. Sangat jarang terjadi cuaca seperti itu dipulau. Mereka baru sekali merasakan hembusan angin ekstrim sebelumnya, yakni dulu ketika terjadi badai diawal kedatangan. Dan malam ini udara yang seperti itu kembali muncul.


"Gue khawatir badai datang lagi seperti waktu itu.." keluh Angga ketika mereka baru saja mengendap dalam mode senyap menuju pusat pemukiman wanita penguasa pulau.


"Sekarang kita jauh ditengah hutan, Bro. Jika terjadi badai, air pasang tak akan mencapai tempat ini." balas Fikri menenangkan.


Hampir sama dengan yang dirasakan Angga, para wanita penguasa pulau juga terlihat gusar. Pasalnya, datangnya cuaca mendung yang sangat tiba-tiba membuat rencana pesta purnama mereka menjadi kacau balau. Datangnya mendung dan hujan akan menghilangkan kehadiran sang bulan. Itu artinya, acara pesta bulan purnama bakal urung diadakan. Mungkin itu adalah bentuk perlindungan Tuhan terhadapnya Beno.


Dengan sebuah gerakan cepat, Angga memanjat sebuah pohon yang cukup tinggi. Dari atas, ia dapat melihat lebih jelas kawasan pemukiman Putri CEO. Angga berpikir cepat untuk memperhitungkan kekuatan lawan menggunakan pengamatan sebagai landasannya.


"Gue menghitung, ada sekitar dua puluh orang berada di sekitar Beno. Sedangkan puluhan lainnya terlihat berjalan tertib menuju gubuknya masing-masing. Ini kesempatan baik untuk kita. Secepatnya kita menyerang dua puluh orang tersebut, dan secepatnya pula kita pergi membawa Beno sebelum puluhan orang yang berada didalam gubuk kembali keluar," titah Angga mengarahkan tim.


"Siapa diantara tim cewek yang memiliki sedikit kemampuan beladiri?" tanya Angga.


"Lita seharusnya masih menguasai semua materi yang pernah saya ajarkan," jawab Pak Bagas cepat.

__ADS_1


"Oke. Kalau begitu gue akan masuk dengan mbak Lita. Skenarionya adalah dengan mbak Lita menyamar sebagai orang yang tersesat. Mbak Lita masuk terlebih dahulu dan mencoba mengajak mereka berkomunikasi. Jika keterangan Gino benar, maka mereka tak akan menyakiti mbak Lita. Disaat mbak Lita menyibukkan mereka, gue akan menyelinap untuk melepaskan Beno. Bisa dimengerti, Mbak?" tanya Angga kepada Lita.


"Ok siap. Lalu apa yang aku lakukan setelah Beno sudah dibebaskan?" balas Lita sambil bertanya balik.


"Gunakan alasan kembali kehutan untuk memanggil sisa beberapa teman," lanjut Angga.


"Ok beres," Lita menunjukkan kesiapannya.


"Plan B, jika upaya penyelamatan gue ketahuan, maka gue dan mbak Lita akan bertempur semaksimal mungkin. Tugas Pak Bagas, Fikri, dan Jaka adalah mengawal kami dari tempat tersembunyi dengan menyiagakan panah. Lindungi kami mengunakan panah-panah itu." Tutur Angga penuh strategi.


"Namun jika gue dan mbak Lita tertangkap, maka tugas kalian adalah segera mengawal Naya, Rena, dan Sisi untuk kembali secepat mungkin ke gubuk air terjun. Setelah itu, pengelolaan tim gue serahin ke Fikri untuk rencana kedepannya," pada penjelasan yang terakhir ini, mata Angga terlihat nanar.


--Ada perasaan takut kehilangan.


--Ada doa terpanjat disana.


 



 


"Siapa kamu?" dua orang suku menghentikan langkah Lita.


"Maaf Kak, Bu, Mbak, Tante..aduh saya harus menyebut apa ya?!. Perahu saya terdampar, bisakah anda membantu saya?" ucap Lita sewajar mungkin agar tak menimbulkan kecurigaan.


"Panggil aja, Mbak. Kamu sendirian atau bersama teman?" salah seorang dari keduanya berkata.


--Ia juga terlihat melambaikan tangannya ke arah teman-temannya.


"Saya bersama empat orang teman. Semuanya kebetulan cewek. Mereka sedang menunggu dihutan." Balas Lita meyakinkan.


"Apa yang bisa kami bantu, Mbak?" wanita suku mulai terlihat ramah.


"Ehmm..bolehkah kami menginap disini untuk beberapa saat?. Kami tak tahu harus berbuat apa lagi," tandas Lita dengan mimik muka seolah sedang kebingungan.


"Tentu saja. Sesama wanita harus saling membantu." ucap sang wanita pulau.


Saat orang-orang tersebut disibukkan dengan kehadiran Lita, terlihat Angga juga bergerak masuk. Menyelinap diantara dinding-dinding bangunan, akhirnya Angga bisa mendekati tempat dimana Beno berada.


"Anggaaa..lu..luu," Beno terperangah.


"Ssttt..diem lu. Gue harus lepasin ikatan lu secepatnya. Itu burung lu kondisikan yang bener. Jijay gue ngeliatnya!" Angga bergerak cepat membuka ikatan yang melilit ditubuh Beno. Setelah ikatan terlepas, Beno dan Angga segera mengambil langkah untuk menyelinap pergi.


"Woyy..berhenti!!" tak disangka, salah seorang wanita suku mengetahui pergerakan Angga dan Beno.


---Angga, Beno, dan Lita serempak terkejut.


 



 

__ADS_1


Bersambung ke next episode 🔜


***


__ADS_2