
Pagi menjelang, mengikis pekat malam. Perlahan indah cahaya mentari menyapa. Dari sela dedaunan terjulur benang sinar menembus lapisan kabut yang perlahan kian menipis. Embun terpaksa mengalir turun mencari celah yang lebih rindang demi mengakui kedigdayaan pancaran sang surya.
Beno menggeliat dari tidurnya. Bersyukur hingga pagi datang, ia dan Pak Herson tidak mendapati gangguan binatang buas lagi.
"Sebaiknya kita hemat waktu, Pak Bro. Sarapan kita tunda nanti ae digubuk. Lebih efisien jika sekarang kita langsung bergerak melanjutkan pencarian Angga dan Naya. Jika beruntung, kita bisa lekas menemukan mereka," Beno perlahan membasuh muka menggunakan air dalam tampungan botol.
--Disusul Pak Herson yang juga ikut membersihkan muka.
"Gue ikut aja apa kata lu, Bro.." jawab Pak Herson sambil menyeka sisa air diwajahnya.
"Ya iyalah ikut kata gue, masa ikut kata Cak Lontong. Diajak maen teka-teki sulit malahan ente tar bos..Haha," Beno tergelak.
--Mengambil pedang.
--Kemudian berdiri setelah sebelumnya membersihkan tanah yang menempel dibeberapa bagian pakaian.
"Sa'ae lu, Paijo!!" Pak Herson ikut terkekeh.
--Satu tangannya menepuk ringan bahu Beno.
Mereka melangkah kembali menyibak rimbunnya hutan. Satu hal yang mengganjal dihati mereka berdua adalah mengenai arah. Mereka tak tahu harus melangkah kemana. Tak ada satupun jejak yang ditinggalkan Angga, kecuali lokasi bekas pertempuran kemarin.
Tiba disebuah sungai, Beno dan Pak Herson beristirahat disana. Beningnya air yang mengalir membuat mereka berkeinginan untuk mandi barang sejenak sebagai pelepas lelah.
Baru beberapa langkah kaki mereka menapak ditepian air sungai, tak jauh dari belakang mereka terdengar teriakan bersahutan berikut suara derap suara kaki berlari yang begitu banyak.
AWUWUWU..
"Kepung!!" terdengar suara nyaring seorang wanita.
Beno dan Pak Herson terperangah. Cepat mereka berbalik badan untuk mencari sumber suara.
"Hahh.." keduanya memekik tertahan. Sepuluh meter didepan mereka terlihat puluhan wanita dengan usia yang beranekaragam. Ada sekitar 30 orang wanita bersenjatakan tombak dan senjata kayu lainnya.
Mereka tak sepenuhnya mirip suku pedalaman seperti yang diceritakan di novel-novel ataupun film. Sebagian mereka masih menggunakan pakaian berbahan kain. Sebagian pula nampak menggunakan aksesoris manusia modern seperti topi, sepatu, sandal, anting-anting, dan beberapa jenis benda yang lainnya, meskipun kesemua aksesoris dan pakaian itu sudah terlihat begitu usang. Bahkan pakaian kain yang digunakan lebih pantas disebut compang-camping mirip gembel. Namun ada juga beberapa yang menggunakan daun-daunan sebagai penutup badan.
"Masalah apa lagi iniii, Pak Broo.." Beno merengek kesal. Hampir saja ia menangis karena saking jengkelnya.
"Ini suku model gimana ya?, aneh banget.." Pak Herson juga mengernyitkan dahi karena bingung.
"Ituu tu, yang muda. Ahh guanteng, Jeng. Aku mau deh ditunggangi sama dia,"
"Aku juga mau, Bu.."
"Dahulukan angkatan Mbak Dina. Mereka lebih muda,"
"Kita mesti mengundi dulu untuk ambil giliran.."
__ADS_1
"Ah itu yang tua juga manis. Kalem juga orangnya,"
"Eh iya. Kamu seleranya kok Om-om..hahahaha,"
"Yang tua lebih berurat, Mbakyu.."
"Uuh kulitnya yang cowok muda itu sawo matang, muluss..seksii,"
"Yang tua juga sawo matang, Jeng. Bibit unggul nih mereka yaah.."
Keributan seperti layaknya pasar pindah ke hutan. Sekian banyak kaum hawa yang menyaksikan Beno dan Pak Herson terlihat sibuk berkasak-kusuk seolah menemukan durian runtuh.
"Runyam ini, Pakk. Adoohh!!" wajah Beno sudah pucat pasi.
--Pak Herson masih tenang.
--Tepatnya, berpura-pura tenang.
"Kepung dan tangkap mereka!" kembali terdengar kalimat perintah dari salah satu wanita yang nampaknya didaulat sebagai pemimpin.
"Mereka kok bisa bahasa kita yah??" bisik Pak Herson semakin bingung.
Tiga puluh wanita bergerak maju seperti air bah yang siap menelan Beno dan Pak Herson. Gerakan mereka begitu cepat dan lincah. Kaki-kaki mereka terlihat kokoh disetiap pijakan.
AWUWUWU..
Teriakan penuh semangat menggema. Beno dan Pak Herson lari pontang-panting menyelamatkan diri dari kejaran para wanita aneh tersebut.
Namun hal mencengangkan terjadi. Secepat apapun Beno dan Pak Herson berlari, itu tak cukup cepat dibanding kemampuan lari dari para wanita yang mengejar.
PLETAKK
Dalam sekali ayunan kayu, pedang Beno terlempar jauh dari tubuhnya. Para wanita itu cukup cerdas dengan berusaha menjauhkan dahulu senjata lawan sebelum menangkapnya.
AWUWUWU..
sekuat tenaga kedua pria tersebut masih berlari.
Namun..
SRAKK SRAK
"Ahh.." Pak Herson terperosok sisi tanah yang ternyata berbatasan dengan tepi jurang. Tubuh Pak Herson terguling dan menghilang tertutup pepohonan dibawah sana.
Beno tak memiliki cukup waktu untuk berbalik menolong Pak Herson. Ia terus berlari dari kejaran para wanita. Bahkan kini kesemuanya terfokus mengejar Beno saja setelah melihat Pak Herson hilang.
__ADS_1
POV Pak Herson
Setelah aku terperosok, tak ada satupun kaum hawa sialan binti aneh yang mengejarku. Mereka terfokus untuk mengejar Beno. Mungkin mereka menganggap aku telah mati saat terperosok ke jurang.
Nyatanya, jurang itu tak terlalu dalam. Mungkin hanya sekitar 10 meter kedalamannya. Itupun dengan posisi dinding yang miring, sehingga sebenarnya aku hanya terpeleset dan terseret ke bawah, bukan jatuh secara vertikal.
Terasa perih disekujur tubuhku. Meski tak ada tulang yang patah, bergesekan dengan tanah, batu, serta berbagai ranting membuat tubuhku penuh luka gores disana-sini. Kucoba berdiri tapi, Auwwh. Pergelangan kakiku terkilir.
Aku berusaha duduk dan mengatur napas. Dari posisiku, aku dapat melihat bagaimana Beno masih berlari dalam kejaran para wanita misterius. Inginku membantu, tapi apa daya tubuhku cedera seperti ini. Lagipula, meski kami berdua melawan, mustahil kami bisa mengatasi manusia yang begitu banyak.
ARRHH..
"Berhenti kalian, jangan mendekat!!" Beno tersandung sebuah batu hingga terjatuh.
--Sekejap kemudian rombongan wanita sudah mengerubungi Beno.
--Teriakan Beno tenggelam dalam riuh suara wanita.
Aku melihat dengan tatapan yang hampir tak percaya. Jarak sekitar lima belas hingga dua puluh meter masih cukup bagiku melihat dengan jelas. Tubuh Beno hilang dari pandangan, karena begitu banyak tubuh wanita yang mengelilinginya. Beno sudah seperti anak tawuran, satu orang melawan tiga puluhan orang.
Beberapa saat aku menunggu, Beno kembali terlihat. Tangannya terikat dibelakang tubuh. Ia ditarik paksa oleh rombongan itu. Tapi..
ASTAGAA!!
Beno telanjank. Mereka menanggalkan semua pakaian Beno sebelum membawanya. Wah, ini benar-benar runyam. Aku menggeleng-gelengkan kepala demi mendapati kenyataan yang begitu rumit.
Aku harus segera kembali ke gubuk dan meminta bantuan. Angga dan Naya belum ditemukan, dan sekarang tambah lagi masalah baru, Beno disekap PWB. Iya benar PWB, Pasukan Wanita Binall. Terbukti bagaimana mereka melucuti pakaian Beno.
Aku mencoba berdiri, namun kakiku sangat nyeri untuk digerakkan. Keadaan ini akan mempersulitku untuk mencapai gubuk. Duh Gusti Pangeran.. mengapa cobaan datang bertubi-tubi seperti ini?
Namun aku teringat bagaimana Mayang sempat mengajarkan ilmu pijitnya kepadaku. Dengan meringis menahan sakit, ku-urut sendiri kaki yang terkilir. Tak perlu langsung sembuh total, yang penting sedikit berkurang, dan aku bisa mencapai gubuk.
Aku kembali meringis. Namun kali ini karena luka-luka ditubuh yang terkena lelehan keringat. Setiap jengkal tubuhku, dari kepala hingga kaki rasanya tak luput dari rasa perih dan nyeri. Pun juga pening dikepala, aku tak tahu arah berjalan untuk menuju gubuk.
Sejenak aku kembali tersentak. Teringat bahwa tadi aku dan Beno sempat bertemu dengan sungai yang jernih. Dan sekarang aku baru teringat bahwa semua sungai yang mengalir dihutan adalah berasal dari kolam air terjun.
POV Pak Herson, off
Kembali ke POV Author
***
Untuk pembaca yang menyukai cara menulis Author di novel ini, yuk mampir juga dikarya Author : DUA DEWI
Mohon dukungan dan ramaikan.
__ADS_1
Terimakasih.