Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 21 : Diserang


__ADS_3


 


Pagi yang indah, pagi yang cerah. Tak terasa sudah hampir setengah bulan Angga dan timnya berada di pulau kecil. Tim penyelamat tak kunjung datang. Hari-hari yang ada diisi oleh mereka dengan berbagai upaya untuk bertahan hidup.


Pagi itu mereka bangun. Bukit menghijau yang semalaman menaungi mereka terlihat tegak berdiri gagah diantara padatnya pohon-pohon hutan. Matahari menjilat wajah semua orang, seolah memberi semangat untuk terus berjuang seperti mentari yang tak lelah untuk bersinar.


"Pagi.." sapa Angga begitu melihat Naya duduk. Si cantik dewi kampus tersenyum lembut.


"Pagi juga, Cakep.." Sisi menjawab ucapan Angga yang jelas-jelas tidak tertuju untuknya.


"Yee..kok malah lu yang jawab sih. Pake bilang cakep juga," Naya mendesis kesal.


"Ooh ga boleh?" goda Sisi lebih jauh. Terlihat Rena juga mulai bangun dan duduk disamping Sisi.


"Ya boleh-boleh aja sih. Tapi kan dia ngucapin buat gue," Naya semakin cemberut.


"Trus menurut lu si Angga ga cakep gitu?" sambung Sisi.


"Ya cakep donk," jawab Naya spontan.


"Woii, Ngga. Kata Naya, selamat pagi juga. Dan lu kata dia juga cakep," teriak Sisi cukup keras meski jarak mereka hanya 2 meter.


"Ish lu malu-maluin aja!" potong Naya dengan wajah merah kuning hijau karena malu.


"Hahaha..daripada lu, malu-malu mau.." imbuh Rena membantu perjuangan Sisi.


"Kalian ya. Awas lu pada!" Naya menghambur ke tempat duduk sahabatnya dan menggelitik mereka tanpa ampun.


"Udah, Nay. Ampuun.." Rena memohon-mohon.


"Ampunnn. Wkwkwk..Gue bisa ngompol tar.." teriak Sisi setali tiga uang dengan teriakan Rena sebelumnya.


"Terus aja, Nay. Gue pengen Sisi ngompolll.." teriak Fikri bersemangat.


"Ini saatnya gue balas dendam..Hahaha," gumam Fikri dengan wajah horor.



Semua tim tengah asyik menikmati kambing bakar didepan api unggun sebelum kembali melakukan perjalanan.


Matahari sudah semakin meninggi ketika mereka sudah bersiap berangkat. Tas yang berisi perbekalan digantung bersama menggunakan dua batang kayu, kemudian ditandu oleh beberapa pria secara bergantian.


"Berhenti." teriakan Angga mengagetkan.


Beberapa meter didepan mereka terlihat semak bergerak-gerak. Tak lama kemudian muncul seekor harimau berukuran sedang. Secara bertahap dan perlahan harimau itu berjalan anggun berlenggak-lenggok bak peragawati mendekati Angga serta kawan-kawannya.


"Permisi jeng, pasar sebelah mana ya?" ucap harimau dengan lembut.


Haha, tentu tidak demikian. Meski buah vantat harimau itu semox, namun harimau tetaplah harimau dengan cakar dan taringnya.


Belum hilang rasa kaget mereka, menyusur tepian bukit menuju mereka, datang seekor ular cukup besar dengan mengeluarkan suara desisan yang khas. Ukurannya hampir sebesar betis pria dewasa, dengan panjang sekitar empat hingga lima meter.


Kondisi sangat rumit dan mencekam. Mereka diantara dua bahaya. Sejenak Pak Bagas maju bersiap membantu mendampingi Angga.

__ADS_1


"Pak Bagas tetap bersama tim. Pastikan mereka aman. Lindungi mereka bersama Fikri. Beno, lu maju bantu gue," Angga memberikan perintah.


"Lu pilih deh, mo lawan macan ato uler?. Gue mah sisanya aja gapapa," kondisi segenting itu, namun Angga dengan santainya malah bertanya pilihan pada Beno.


"Gue uler aja bro. Kasihan lu ga ada seru-serunya kalau lawan uler," jawab Beno tak kalah santainya.


"Lu bedua gimana sih. Yang serius dong. Kita udah pada tegang, lu malah maen tebak-tebakan," semprot Jaka panik.


"Lu tenang bro. Udah biasa kita adepin kek gini-gini," ujar Fikri yang berdiri bersama tim di garda terbelakang.


Angga perlahan berjongkok. Mengambil sebuah batu dan melempar tepat ke wajah harimau. Dengan cepat Angga berlari, mengajak harimau lebih menjauh dari orang-orang.


Angga berdiri bebas dengan jarak sekitar sepuluh meter dari tim. Harimau yang mengejarnya dengan cepat melompat, mengarahkan dua cakar dikaki depannya untuk mencabik Angga.


Dengan lincah Angga berguling kesamping. Harimau itu hannya menyapu ruang kosong. Melihat posisi harimau yang masih melintang disampingnya, Angga bereaksi cepat mengirimkan tendangan dengan dua kakinya. Sang harimau mengaum ganas, terdorong beberapa meter kesamping dan hampir terguling.


Harimau berputar dan kembali berlari menyerang Angga. Kali ini sang maestro memanfaatkan dahan pohon untuk mengangkat tubuhnya. Angga meraih sebuah dahan, menarik tubuhnya sambil juga menyabetkan pedang dengan begitu lihai.


CRASHH..


Satu sayatan besar menggores bagian pelipis harimau. Merahnya darah bercucuran diwajah harimau serta mengalir ke bagian mata hingga sedikit mengganggu penglihatan.


Auman keras terdengar. Sang harimau begitu marah dan semakin ambisi untuk menyerang Angga. Ia melompat-lompat untuk meraih Angga yang masih bertengger didahan pohon.


Disaat harimau sedang sibuk untuk meraih Angga, disisi yang lain terlihat Beno berlari menghindari serangan ular besar. Meski bertubuh besar, ular tersebut masih cukup lincah.


Beno berusaha melompat dari satu batu ke batu yang lain untuk menghindari serangan.


Pada lompatan yang kesekian kalinya, Beno berhasil memancing serangan ular kearah bebatuan bukit. Beno melompat dalam kejaran ular. Na'as, ular yang tak memiliki rem hanya bisa pasrah tatkala wajahnya menumbuk badan bukit dengan keras. Kasihan sekali nasib sang ular. Gigi gingsulnya yang membuat ia terlihat manis, kini tanggal akibat terlalu kerasnya benturan.


BLAZZ..


Sayangnya, luka sayatan dari Beno bukanlah suatu hal yang berarti bagi ular. Dengan sangat cepat ular tersebut memutar kepalanya dan mengarah hendak menggigit Beno.


Beno menghindar dengan melompat kebagian sisi dari tubuhnya. Namun ular terus mengejar dengan beringas. Hingga tanpa sadar Beno menginjak bagian ekor ular.


Merasa Beno menekan tubuhnya, ular tesebut mengayunkan ekornya. Melempar Beno hingga membentur dinding bukit.


"Hehe 1 sama bos. Gantian lu sekarang yang nyium tembok," mungkin demikian ucapan ular jika mampu kita terjemahkan.


Posisi Beno kini terjepit. Dibelakangnya adalah dinding bukit, sedangkan ular kian merangsek ke arah Beno.


Beno masih menggeliat ditanah sambil memegangi punggungnya yang sakit akibat benturan sebelumnya. Saat ia mulai merangkak berdiri, ular sudah membuka lebar mulutnya diudara, siap menerkam Beno.


Hampir saja Beno putus harapan hingga terdengar suara aneh.


KWAUU!!


Sang ular menjerit karena sakit yang tak terhingga. Dalam sudut kritis, Lita mendekat dan melemparkan tombaknya hingga menancap disalah satu mata ular.


Saat itu baik Fikri dan Pak Bagas masih fokus menyaksikan perkelahian antara Angga dan Harimau. Kemunculan Lita datang disaat yang sangat tepat.


Kembali pada Angga dan Harimau. Ketika lompatan kesekian kali dari Harimau, Angga melompat turun dengan posisi berputar. Pedang ditangannya sekali lagi melukai sang Harimau. Sebuah luka yang melintang lurus dari bawah leher hingga mendekati kaki belakang.


Harimau dalam rasa sakitnya terlihat terus menyerang dengan membabi-buta. Dengan gerakan indah Angga melakukan beberapa kali salto diudara hingga jatuh tepat dipunggung Harimau. Persis seperti saat Angga menyembelih Kambing gunung, kali ini Harimau menjemput ajalnya ditangan Angga dengan cara yang sama. Ketajaman pedang yang dimiliki Angga memang patut diacungi jempol. Dilihat dari bentuk dan kualitasnya serta pahatan huruf kanji dibagian batang pedang, menunjukkan sepertinya pedang tersebut adalah benda import dari Jepang yang spesial

__ADS_1


Disisi lain, Beno dengan tertatih kembali melakukan serangan terhadap ular yang sedang kesakitan. Kisah hidup sang ular sungguh merana. Gigi gingsulnya telah raib, kini satu matanya juga telah rusak.


"Permisi mas ular, bersedia ikut casting film dengan tema bajak laut mata satu?" tahu-tahu Angga sudah bertengger diatas dahan, tepat disamping kepala sang ular.


BETT..


Pedang Angga terayun kencang, membelah bagian dibawah kepala ular yang seolah adalah leher. Hampir separuh daging pada bagian leher tersebut terpotong. Ular menggelepar seketika dan jatuh bersimbah darah.


"Alhamdulillah.."


"Horee.."


Semua berteriak senang. Lagi dan lagi mereka menyaksikan pertunjukan spektakuler seorang Angga.


"Anggaa.." Naya berlari menghambur kearah Angga yang baru saja turun dari dahan pohon.


"Kamu gapapa?" tanya Naya berurai air mata.


"Woii neng, gue yang cedera. Kenapa dia yang lu khawatirin? herman deh," sembur Beno usil.


"Mbak Lita, makasih banget bantuannya. Meski sekarang jadi CEO, anak pendekar tetaplah anak pendekar dengan segala mental dan instingnya," puji Beno.


"Kamu salah, Ben. Itu insting seorang chef saat ingin memasak belut kuah pedas," Lita tertawa lucu. Wajahnya yang cantik terlihat begitu segar dan berseri.



Beberapa menit mereka istirahat setelah pertempuran melawan dua binatang ganas. Tak lama kemudian tim sudah berjalan beriringan sesuai formasi tiga baris yang diatur Angga dimalam sebelumnya.


"Kita tak bisa menunda waktu lagi. Segera bergerak, temukan tempat bermukim. Yah meski ancaman binatang buas akan selalu ada kapan saja, tapi setidaknya kita sudah mempunyai tempat berlindung, memasang beberapa jebakan, dan dapat beristirahat lebih nyaman," ucap Angga dalam perjalanan memimpin tim.


"Lu gapapa bro?" tanya Angga kepada Beno yang berada disampingnya.


"Pundak gue seperti sedikit ga beres. Rada nyeri gitu. Tapi tenang, ada Bu Mayang sang ahli pijat internasional. Bukan begitu, Bu?" jawab Beno sambil sedikit berteriak.


"Beres mas. Asal jangan rewel aja kayak mulutnya si Jaka," balas Bu Mayang tersenyum.


"Gue lagi, gue lagi.." Jaka sewot.


"Siapa lagi kalau bukan elu biang rewelnya disini?. Cewek-cewek aja pada gigih noh. Lu aja yang kayak lemper," serang Beno.


Tim terus berjalan. Sesekali mereka berhenti. Menemukan beberapa buah-buahan, menikmatinya, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.


Ternyata dibalik bukit terdapat bukit lagi yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Dari tempat mereka bermalam memang tak terlalu terlihat, seolah dua bukit itu adalah satu kesatuan.


Angga tak mengajak tim untuk mendaki bukit, melainkan mengarahkan mereka untuk mengitari sisi yang lainnya dari bukit yang ke dua tersebut. Dan benar saja, dibalik bukit semua berteriak girang.


Sebuah air terjun berada disana. Dibawahnya terdapat kolam dangkal yang menampung air. Beberapa sungai tertaut pada kolam dan membentuk jalur berkelok-kelok menuju hutan dan tentunya akan berakhir dipantai.


"Indah sekali.." Naya tersenyum senang.


"Ya..sangat indah. Sepertinya kita bisa mendirikan gubuk disini. Bagaimana Pak Bagas?" Angga yang seorang pemimpin tak malu untuk meminta masukan dari tim.


"Ada air, kolam posisinya lebih rendah dari tanah, ada tanah lapang untuk membangun gubuk. Area ini juga dikelilingi turunan bukit. Mirip tempat yang kita pakai bermalam kemarin, tapi ini versi besarnya. Ini artinya posisi disini cukup aman untuk digunakan sebagai markas perlindungan." ucap Pak Bagas mencoba memberikan pendapatnya.


"Saya juga sependapat. Ok, kita akan beristirahat disini, makan, kemudian bersiap membangun gubuk yang baru," Angga membuat keputusan.

__ADS_1




__ADS_2