Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 54 : Refreshments


__ADS_3


Mengawali pagi dalam hirupan udara yang damai. Sangat berbeda dengan saat masih dipulau, semua serba menegangkan. Pagi dipulau selalu diawali dengan debaran. Begitu nyamannya suasana kota yang kondusif. Tak ada nuansa ketakutan yang menghantui jiwa.


Pagi ini Angga dan tim mengikuti acara sarapan pagi dikediaman Pak Leo. Nampak Pak Leo, Rendra, dan Naya menjamu mereka. Sonia tak sedikitpun menampakkan batang hidungnya.


"Saya dan Lita mohon diri dulu untuk pulang. Mobil jemputan dari kantor Lita sudah menunggu diluar," Pak Bagas memohon diri.


"Tetap berkomunikasi ya Pak Bagas dan Bu Lita.." pinta Pak Leo sebelum keduanya meninggalkan tempat tersebut.


"Ashiaapp.." balas Pak Bagas sembari melakukan gerakan tangan memberi hormat.


Pak Leo mengangguk kepada Pak Bagas dan Lita, kemudian mengalihkan pandangan kepada anggota tim lainnya, "Angga, Beno, Fikri, Rena..kalian silahkan bawa mobil dari sini saja. Rumah kalian kata Naya searah semua." Ucap Pak Leo.


"Baik, Pak. Selama tidak merepotkan," jawab Angga santun.


"Hahaha..sekali lagi lu sungkan-sungkan disini, gua kepret lu!" Pak Leo mendelik jenaka.


Beberapa saat kemudian Angga dan yang lain juga tampak berpamitan. Sebuah kejutan kecil bagi Angga, sang dewi kampus meminta ikut atas persetujuan Pak Leo. Jelas tentu saja dong hati Angga menjadi berbunga-bunga, berjamur-jamur, bersemak-semak karenanya.


 



 


"Gue ga turun ya bro. Kangen berat nih sama bokap nyokap," ucap Angga dari balik kemudi setelah sebelumnya juga menurunkan Fikri maupun Rena kerumah masing-masing.


"Kangen apa kangen hayoo?. Ato lu udah ga sabar mo kenalin calon menantu ke mereka?!" serang Beno jahil.


"Ahh rese banget lu ah. Biar itu menjadi bagian dari misi rahasia gue. Lu ga perlu tau!" sahut Angga kesal.


--Disamping Angga nampak Naya tertunduk malu-malu kucing.


"Jangan malu-malu, Kucing!!" goda Beno lagi tapi kini tertuju pada si cantik Naya.


"Anjayy..pake ngatain kucing segala. Udah..udah sono turun lu, Hahh!!. Biang rese lu." Sembur Angga langsung menginjak pedal gas tanpa peduli pada Beno yang baru menginjakkan satu kaki ditanah.


GUBRAKK

__ADS_1


Beno jatuh tertelantang ditanah. Mobil yang dikemudikan Angga sudah melesat jauh meninggalkan Beno dengan segala sumpah serapahnya. "Bangsad lu kingkong rabies!!" teriak Beno penuh amarah.


"Ish kamu tega banget. Kasihan tuh Beno sampe kejengkang gitu," Naya bersimpatik.


"Kalau mau bantuin Beno, aku mundurin nih mobil. Sekalian aja kamu nginep dirumah Beno sana. Aku akan pulang sendiri aja." Sebuah kecemburuan yang tidak pada tempatnya terlontar dari mulut Angga.


"Hihihi..sejak kapan Pak Maestro jadi ambekan?! Uluh uluh..uluhh. Cepp..cep jangan nangis ya sayang." Naya terpingkal melihat Angga yang sensi berat.


Dengan gemas Angga menjewer telinga kekasihnya, "Aduduuhh. Hemm mulai KDRT nehh ceritanya?!"


Tanpa menjawab, justru tangan Angga berpindah dari telinga Naya menuju kepala, kemudian dengan gemas mengacak-acak rambut sang dewi.


 



 


"Bu..Pak, maafkan Angga sudah bikin susah. Kalian jadi kepikiran nasib Angga," sang maestro tertunduk lesu dihadapan kedua orangtuanya.


--Saat ini mereka sedang duduk bersama di ruang tamu rumah keluarga Angga yang sempit.


"Apa yang terjadi padamu hingga 5 bulan baru pulang?"


"Ceritanya sangat pelik, Pak. Waktu itu Angga dan rombongan dari kampus sedang perjalanan kembali dari pulau Biwian. Ternyata ada penjahat yang membajak kapal dan ingin menculik Naya. Wanita disebelahku ini yang bernama Naya, Pak..Bu. Untuk menyelamatkan Naya, aku dan teman-teman memanfaatkan sekoci untuk melarikan diri. Tapi malah kami terdampar di pulau asing dan tidak bisa pulang. Baru kemarin Papanya Naya bisa menemukan keberadaan kami," ungkap Angga.


"Uuh cantik banget lho Nak Naya ini. Kayak bidadari kahyangan," puji Bu Cahyo.


"Apa dia kekasihmu, Nak?"


"Ehmm..jika Bapak dan Ibu merestui," jawab Angga sambil menunduk malu.


"Bapak Ibu hanya Tut Wuri Handayani. Apa yang menjadi pilihanmu akan kami dukung sebaik-baiknya."


"Nak Naya rumahnya mana?. Putrinya Pak siapa?, mungkin bapak kenal.."


"Saya anaknya Pak Leo Purnadeva, rumah saya di..."


"Sudah. Tak perlu dilanjutkan perkenalannya. Siapa yang tak mengenal Pak Leo. Seorang bos besar nomer satu dikota ini yang baik hati. Sebuah kehormatan bagi kami jika putrinya mau bersanding dengan putra kami.." potong Pak Cahyo cepat.

__ADS_1


"Apakah Nak Naya akan menginap disini?. Jarak kerumah kamu dari sini satu jam lebih lho," tanya Bu Cahyo, berharap sang dewi cantik bersedia bermalam digubuk reyotnya.


"Sebenarnya Pak Leo sedang menghadapi masalah, Bu..Pak. Penjahat yang mengejar Naya dikapal waktu itu adalah orang suruhan dari bos lain yang ingin menggunakan Naya sebagai sandera demi merebut perusahaan Pak Leo. Dan kemarin saya dan teman-teman sudah berjanji pada Pak Leo untuk membantu mengatasinya. Jadi mungkin saya dan Naya hanya bermalam beberapa hari disini, karena kami akan segera menjalankan misi.." terang Angga serius.


"Bapak percaya padamu, Nak. Dan janganlah ragu membantu sesama selama kamu mampu. Bapak rasa, kemampuan beladirimu yang diajarkan kakek sudah sangat cukup untuk diamalkan," dukung Pak Cahyo.


Mata Naya berbinar melihat bagaimana dukungan yang diberikan pada Angga. Dirumah yang sederhana itu, hidup didalamnya keluarga harmonis yang begitu pengertian satu sama lain. Sebuah kedamaian keluarga yang bahkan jarang Naya alami karena kesibukan Pak Leo yang begitu padat, ditambah Mama Sonia yang ikut-ikutan mempersibukkan diri sehingga Naya terkadang merasakan kesepian serta merindukan perhatian.


"Baiklah..yuk Nay, bantu ibu didapur. Kita bikin menu kolaborasi spesial untuk dua pangeran ini," Bu Cahyo menggandeng sang calon menantu, diikuti tatapan mata Angga hingga mereka hilang dibalik kelambu ruang tengah.


Beberapa hari dirumah Angga membuat Naya benar-benar mendapatkan pengalaman baru. Seolah ia memperoleh penyegaran dari penatnya berkehidupan dalam kemewahan. Dalam kesederhanaan, nyatanya dapat pula ditemukan kedamaian. Sebuah pola refreshments yang cukup berbeda dari rutinitas yang sudah berjalan bertahun-tahun sejak Naya kecil hingga dewasa.


Selain itu semua, Naya juga merasakan keintiman hubungan bersama Angga. Meski mereka tak tidur satu kamar, tapi hampir semua sisa waktu diluar jam tidur adalah saat kebersamaan yang sangat berkualitas. Melalui kesempatan itu mereka saling mengenal pribadi lebih jauh, lewat cara itu keduanya menemukan chemistry dalam hubungan pria dan wanita dewasa.


Tepat dihari ketiga Naya menginap dirumah Angga, datang panggilan telepon dari Pak Leo. "Nay, sampaikan pada tim. Melalui mata-mata internal kita ada indikasi bahwa Pablo akan melakukan penyerangan. Segera kembali bersama tim untuk mendiskusikan langkah kita selanjutnya," ucap Pak Leo dari seberang telepon.


Ada saatnya mereka menikmati indahnya kedamaian. Namun ada saatnya pula bagi mereka untuk kembali berjibaku mengemban misi yang telah disepakati bersama.


Tubi tukinyut ke next episode 🔜


***


#jempolnya mana?? 🤭🙏


^^^Salam Cihuii,^^^


^^^DPKBPC @2021^^^


^^^FigurX Productions^^^


***


Untuk pembaca yang menyukai cara menulis Author di novel ini, yuk mampir juga dikarya Author : DUA DEWI



Mohon dukungan dan ramaikan.


Terimakasih.

__ADS_1


***


__ADS_2