Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 58 : Sayap-sayap patah


__ADS_3


Para pembaca ter-yahud..


Mungkin Author terkesan slenge'an kalau menulis, terlalu banyak canda, tiap masuk tahap serius seringnya malah jatuh humor diakhirnya, atau mungkin pilihan kata-katanya juga terkesan kasar. Apapun itu, inilah Author dengan segala kekurangannya. Beda Author, beda gaya dalam menulis. Tapi Author akan tetap berusaha untuk menjadikannya lebih seimbang lagi pada episode-episode mendatang. Terimakasih atas kesetiaannya dalam mengiringi perjalanan novel ini. Tetaplah semangat membaca, agar Author juga tetap semangat dalam menulisnya.


Hepi reading..


 ---


Beberapa jam pasca kejadian, Pak Leo telah kembali pulang kerumah setelah sebelumnya sempat dilarikan kerumah sakit karena luka-luka yang ia derita. Begitu juga dengan tim Angga yang baru saja pulang dari pemeriksaan polisi terkait masalah Pablo.


(Nah kan..Author mau serius kali ini!)


Kekacauan yang ada sempat membuat pihak kepolisian curiga. Yah tentu saja malah bisa dibilang sangat curiga. Pertempuran besar dihalaman rumah CEO nomer wachid di negeri ini, tentu mengundang perhatian banyak pihak. Pasukan Pablo yang ditinggal begitu saja oleh komandannya dimedan pertempuran, akhirnya harus rela digelandang polisi. Korban jiwa maupun luka serius lainnya juga langsung ditangani oleh pihak yang berwenang.


Langkah Pablo yang terburu napsu dengan melakukan penyerangan terang-terangan justru semakin menyulitkan bagi dirinya sendiri. Keadaannya sebagai otak pelaku penyerangan membuahkan tuntutan hukum dari Pak Leo terhadap Pablo.


"Nay, meski kadang Mamamu itu susah diatur, tapi sebenarnya dia wanita baik. Hanya saja, kemewahan dan pergaulan menyilaukan matanya. Justru dalam keadaan seperti ini, Papa merasa sangat kehilangan sosok Mama. Terbayang bagaimana kebersamaan kami saat muda dulu. Bagaimana kerukunan tercipta hingga lahirlah kamu kedunia yang fana ini. Papa sedih, Nay. Papa seperti burung yang enggan terbang lagi. Kepergian Mama seolah membuat Papa merasakan hati yang patah, sayap-sayap patah." Ungkap Pak Leo diatas pembaringan dengan ditemani Naya serta tim Gitoca lainnya.


...


Sayangku, kumohon tetap di sini


Temani jasadku yang belum mati


Rohku melayang tak kembali


Bila kau pun pergi


Meninggalkan yang terbaik


Bagi kita semua


Kucoba kembangkan sayap patahku


'Tuk terbang tinggi lagi di angkasa


Melayang melukis langit merangkai awan


Awan mendung


Sayangku, kumohon tetap di sini


Temani jasadku yang belum mati


Rohku melayang tak kembali


Bila kau pun pergi


Meninggalkan yang terbaik


Bagi kita semua


Kucoba kembangkan sayap patahku


'Tuk terbang tinggi lagi di angkasa


Melayang melukis langit merangkai awan


Awan mendung


(Sayap-sayap patah, Dewa19)

__ADS_1


...


"Naya juga sedih, Pa. Tapi Papa harus tetep kuat menjalani semua ujian ini. Jika Papa menyerah, Mama disana juga akan menyerah. Percayalah, Mama disana juga sedang berjuang dan berdoa untuk bisa berkumpul kembali dengan kita," ucap Naya menghibur.


"Semoga polisi dapat segera melacak keberadaan Pablo dan menemukan dimana Mama disekap," imbuh Angga.


"Mama?" Pak Leo memicingkan mata.


"Ahmm..anuu, maksud saya Bu Sonia.." Angga tergagap malu.


"Itu naluri, Nak. Tak usah kau malu seperti itu hahaha," Pak Leo tersenyum.


"Iya betul, naluri lelaki. Seperti lagunya Samsons. Aku..adalah lelaki, yang selal..hmmhh.." Beno dengan santainya mengalunkan bait lagu milik band Samsons, namun langsung dibekap mulutnya oleh Fikri.


"Stop ngelawaknya. Barusan Author pengen mencoba serius. Lu malah nyablak mulu!!" desis Fikri masih dengan posisi tangan membekap mulut kaleng rombeng Beno.


--Beno pingsan.


--Tangan Fikri tak lagi bau terasi, tapi bau kaos kaki yang sejak jaman terdampar dipulau sampai sekarang belum pernah dicuci.


BIPP..BIP


Terdengar suara handphone Pak Leo berbunyi. Sebuah panggilan masuk. Serempak semua mata tertuju kearah handphone Pak Leo yang tergeletak dimeja nakas.


"Pablo..itu tertulis Pablo!!" sudut mata Lita menangkap tulisan pada layar handphone.


Cepat Lita bergerak mengambil handphone tersebut, bermaksud untuk menyerahkannya pada Pak Leo. Ternyata Beno bermaksud serupa. Beno langsung terbangun dari pingsannya begitu mendengar suara dering telepon menyalak.


Alhasil, handphone yang sudah diangkat Lita spontan tertampik tangan Beno. Handphone itu meluncur kebawah lantai. Pak Bagas sigap menepis handphone agar tidak jatuh. Handphone meluncur kearah wajah Angga. Dengan kaget Angga menutup muka dan mendorong handphone tersebut menjauh dari wajahnya. Namun justru handphone itu kembali melayang. Semua jadi ribut sendiri menyelamatkan handphone hingga sebuah tangan meraihnya. Ya, itu adalah tangan Author yang keceh badai, namun kali ini dengan wajahnya yang sangat-sangat serius.


"Cukup becandanya!! Ga lucu. Sekarang waktunya serius. Saya tidak mau candaan kalian membuat novel saya di cap tidak serius.." bentak Author yang kemudian bergerak ke arah Pak Leo untuk menyerahkan handphone. "Kuberi satu keseriusan, monggo.."


"..."


"Ya Hallo.."


"Apa maumu?. Ga usah berbelit!"


"Hahaha to the point sekali kamu, Leo. Cukup simpel, cabut tuntutan hukum, dan buatkan serah terima tertulis yang disahkan oleh notaris bahwa posisi CEO diserahkan kepada Pablo. Lakukan dua cara itu jika ingin istrimu selamat!"


"Apa yang menjadi jaminan untukku agar kau tak berbohong setelah kupenuhi permintaanmu?"


"Temui aku beberapa jam lagi. Kita akan menukarnya dengan istrimu,"


"Tapi posisi CEO hanya boleh diganti atas persetujuan dewan penasehat,"


"Itu urusanmu. Silahkan cari cara agar dewan penasehat menyetujui. Dan satu lagi, aku tahu polisi sekarang sudah memantau. Maka, jangan coba-coba lapor polisi lagi setelah tuntutan hukum dicabut. Atau istrimu akan benar-benar pulang tinggal nama.."


"Tolong jangan sakiti istriku.."


"Aku tahu kau tak akan rela meninggalkan istrimu demi apapun. Jadi, sebuah perusahaan adalah harga yang cocok untuk 'membeli' istrimu. Hahaha,"


"Baik..baik..aku akan menuruti apa yang kamu minta. Asal kau bisa memastikan istriku dalam keadaan aman,"


"Tentu saja.."


"Dimana saya bisa menemuimu??"


"Tunggu, aku akan menghubungimu lagi. Sambil menunggu, silahkan mulai bergerak memenuhi 2 persyaratan tadi,"


TUTT..TUTTT


Panggilan langsung diputus secara sepihak oleh Pablo sebelum Pak Leo menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


"Yeaay..dapet!!" teriak Angga girang.


"Lu kenapa bro??" Pak Bagas kaget, mulai khawatir kalau-kalau Angga perlahan mengalami depresi atau bahkan kesurupan seperti yang terjadi pada Beno dipulau.


"Santai Pak Bro, aku sehat. Kri..gue tau tadi lu gerak cepat kan buat melacak koordinat keberadaan Pablo memanfaatkan signal saat telepon?!. Sekarang beritahu gue letaknya. Gue pengen hajar mereka!!" mata Angga berbinar.


"Lacak apaan?"


"Ya lacak lokasi lah, masa bukalacak!!"


"Itu mah e-commerce, Begoo. Kagak, gue ga ngelacak kok!"


"Kenapa engga??!"


"Lah lu ga nyuruh.."


"Kan lu bisa inisiatip broo..adohh,"


"Namanya ngelacak itu terencana. Siapkan alat pendukungnya juga. Mana ada ngelacak kok inisiatif, reflek gitu. Haha..aneh lu,"


"Yahh.." Angga lemas seketika.


"Aku harus cari istriku!!" tiba-tiba Pak Leo melompat dari kasur dengan wajah memerah.


"Papa mau kemana?" tanya Naya berusaha menahan laju langkah Pak Leo.


"Kamu dengar sendiri kan tadi?, Pablo semakin menjadi-jadi. Aku harus bikin perhitungan dengan dia. Lepas, Nay!!" Pak Leo meronta.


"Tapi Papa sedang sakit. Lagipula, Papa kesana sendiri juga percuma. Pengawal Pablo sangat berbahaya," Naya semakin terdengar bergetar suaranya.


"Lalu harus bagaimana?. Papa diam, mencabut tuntutan atas Pablo, memberikan perusahaan kita, dan kita biarkan Mama kamu yang sedang ada disana?. Bukan tak mungkin Pablo akan ingkar janji jika kita melihat segala kelicikannya selama ini!!" Pak Leo menatap tajam mata anak semata wayangnya.


"Saya akan berangkat menyelamatkan Bu Sonia," Angga angkat bicara.


"Semua tim Gitoca, Ready!!" teriak Fikri mewakili anggota tim yang lain.


"Mari kita bersiap." Ucap Angga tegas.


--Tanpa canda.


"Kamu yakin?" tanya Pak Leo sangsi.


"Ya engga juga sih, Pak.."


"Ahh..percuma ngomong sama kamu, Ngga!"


"Ya yakin lah, Pak. Super duper yakin malah. Buat apa bapak bayar saya mahal-mahal kalau selamatin Bu Sonia saja ga bisa!?"


"Bayar mahal?. Kita belum membicarakan itu!"


"Sudah, Pak.."


"Kapan?, yang mana?"


"Tuhh..." Angga mengedipkan mata kearah Naya.


 


Bersambung ke next episode 🔜


^^^Salam serius selalu,^^^


^^^DPKBPC @2021^^^

__ADS_1


^^^FigurX Productions^^^


***


__ADS_2