Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 34 : Scorpions Attack


__ADS_3


---


Scene ini sebenarnya ikut di episode sebelumnya. Namun karena episode tersebut sudah terlalu banyak pembahasan, akhirnya geserlah kemari. Scene ini juga pesanan khusus dari sohib Author (sesama Author juga sie..yang merasa, sila tunjuk jari๐Ÿ˜) yang katanya penasaran dengan nasib Beno hehe.


Beno terlihat diikat disebuah tiang. Letak tiang itu persis ada ditengah sebuah lapangan mini persegi panjang, mirip lapangan basket tapi tanpa ring basketnya.


Apakah Beno masih the bugilz man tanpa selembar benangpun?. Yapp..begitulah adanya. Ini adalah hari ke 4 sejak Beno ditangkap.


4 hari tanpa busana?, ditengah lapangan?, apa Beno tidak masuk angin?. Wah hehe, tenang saja. Beno ini digadang-gadang sebagai calon pejantan tangguh bagi Putri CEO. Tentu saja keselamatan dan kelangsungan hidupnya mendapat perlakuan khusus dari mereka. Perlu digaris bawahi, Putri CEO tidak pernah menyiksa pria. Meski diikat, tapi makanan dan tidur tetap terjamin. Para pria terdahulu meninggoy karena kelelahan fisik, bukan penganiayaan.


Begitu juga dengan Beno, ia mendapatkan servis memuaskan dari tuan rumah. Saat waktu makan tiba, bergantian para wanita cantik akan berebut menyuapinya. Saat tiba waktu mandi, Beno dimandiin hehe. Saat malam, Beno dipindahkan ke dalam gubuk yang lengkap dengan selimut kulit serigala. Namun tentu saja tetap dalam kondisi gubuk terkunci rapat dan full penjagaan. Kecuali nantinya Beno bersedia menyerahkan dirinya sepenuh jiwa raga, maka status penahanan akan dicabut.


Syukurlah, jarum neraka Beno masih dalam kondisi aman terkendali. Pimpinan Putri CEO memberikan instruksi bahwa 'penggunaan' ciehh penggunaan haha. Pemanfaatan tubuh Beno akan dimulai pada malam hari ke 5 setelah penangkapan. Karena pada hari itulah akan ada pesta bulan purnama. Dan sang pimpinan yang akan mendapatkan kehormatan sebagai wanita penggagah pertama. Setelah pimpinan, baru anak buah boleh menikmati sisanya. Jika ini hari ke 4 maka besok malam adalah hari pesta purnama, saat paling mendebarkan bagi Beno.


AWUWUWU..


"Kamu itu mulus, bersih, muda, dengan pentungan yang menawan. Pria terbaik diantara semua pria yang pernah ada disini.." ucap seorang wanita berusia sekitar 27tahun.


--Saat itu ia sedang memberikan minum untuk Beno.


--Beberapa wanita lain berjaga, lengkap dengan senjata kayu yang bagi mereka sangat uwu, padahal hanya terlihat seperti senjata lucu prikitiuw bagi Beno.


Meski matahari sangat terik, namun Beno tidak serta-merta terpapar matahari langsung. Tiang itu memiliki naungan seperti payung besar dipuncaknya. Beno juga tidak harus berdiri terus. Meski diikat pada tiang, ia bebas untuk duduk dan bersandar. Satu-satunya alasan kenapa Beno dipajang sedemikian rupa di tengah lapang adalah untuk menumbuhkan minat dan hasrat warga. Sebuah alasan yang membagongkan.


"Kalian orang-orang aneh. Mana jiwa kemanusiaan kalian?" Beno melotot marah.


4 Hari disana, Beno mengalami grafik stress yang tinggi. Hampir setiap saat ia marah. Wajahnya tak ada gairah, seperti orang yang putus asa. Ia sudah tak peduli lagi pada ketelanjangannya yang mempesona. Lebih kalut lagi tatkala ia tahu tentang tujuan dari penyekapan tersebut. Beno seperti hilang semangat hidup. Apalagi jika teringat bahwa Angga juga hilang, kecil kemungkinan bagi Beno akan terselamatkan.


Beno tak munafik. Ia seperti pria pada umumnya yang tertarik lawan jenis. Sebagai pria muda, hasrat ena-enanya juga sedang tinggi-tingginya. Tapi ia juga manusia waras yang punya hati, pikiran, dan cita-cita. Hidup tak melulu tentang sekz. Ia butuh cinta, ia butuh pekerjaan, ada cita-cita masa depan yang ingin diraih, ada ketaatan seorang anak yang ingin berbakti pada orangtuanya, dan yang tak kalah penting..adanya nilai pelajaran Pak Herson semester lalu yang harus diperbaiki sebelum skripsi.


Diambang purnama, ia merana. Masa depan terkebiri paksa seolah fatamorgana. Dunia seperti sedang memenjarakannya, dalam himpitan siksaan batin tak bertepi. Harapan bagai angan semu tanpa realita, membunuh imaji. Menyendiri dalam sepi.


---



---


Tim Fikri masih melakukan pencarian. Tujuan pertama mereka adalah menemukan Angga dan Naya terlebih dahulu. Harapannya, jika Angga berhasil ditemukan maka mereka akan semakin bertambah kekuatan untuk menyerang Putri CEO dan menyelamatkan Beno.


Namun pencarian hari ini sudah merambah malam. Berburu kancil dan mempersiapkannya sebagai bekal ternyata cukup memakan waktu.


"Malam ini kita perlu mencari tempat istirahat dulu. Perut perlu diisi, mata perlu merem. Biar besok pagi kita lebih fresh buat ngelanjutin pencarian," ucap Fikri.

__ADS_1


--Saat itu mereka sedang menyibak gelapnya belantara dengan bantuan penerangan obor.


"Ikut apa kata Pak Ketu.." jawab Jaka mewakili lainnya.


Layaknya cerita novel, tiba-tiba saja mereka menemukan sebuah gua tanah. Memang jika memakai cara novel, semuanya jadi terasa mudah dan serba lengkap tersedia, seperti swalayan.


Gua tanah adalah gua yang menjorok kebawah. Biasanya tanah disekitar tempat itu memiliki kandungan batu yang cukup tinggi. Bebatuan itu tersambung antara satu dengan lainnya seperti lempengan dibawah tanah. Oleh karena itu, lorong bisa terbentuk disana. Lebih mudahnya bisa dibayangkan seperti batuan karang ditepi pantai. Karang acapkali memiliki lubang kecil maupun besar. Seperti itulah yang terjadi pada gua bawah tanah. Terlebih, pulau itu memiliki pantai yang cukup dekat. Bukan hal yang mustahil jika gugusan karang tersebar dibawah pulau.


Gua yang ditemukan tim Fikri tak cukup besar. Bentuknya berkelok sedalam 5 meter. Pada bagian tengahnya terbuka ruang lebih lebar seperti kamar. Beberapa stalagtit dan stalagmit bermunculan disana.


"Gua ini cukup lembab. Tapi jauh lebih baik daripada kita tidur diluar ruangan. Bisa-bisa kita mengalami serangan hewan buas seperti yang terjadi pada Beno dan Pak Herson," Fikri berkata sembari matanya bergerak kesana-kemari mengamati setiap sisi dinding gua.


"Dipilih saja permukaan batu yang tidak basah sebagai alas tidur. Mas Jaka, ayo ikut saya sebentar mencari ranting untuk api unggun," pemahaman dan inisiatif Pak Bagas sungguh membantu Fikri dalam memimpin tim.


Beberapa jam setelah semuanya makan malam, terlihat mereka sudah terlelap dalam buaian mimpi. Tersisa Fikri seorang diri berjaga di paruh malam pertama. Nantinya Pak Bagas akan bergantian menjaga di paruh malam kedua hingga pagi menjelang.


Dalam temaram cahaya api unggun yang sedikit meredup, Fikri mengamati masing-masing anggota tim yang sedang beristirahat. Hatinya penuh kesedihan melihat wajah-wajah letih itu. Kesulitan demi kesulitan telah mereka lalui satu per satu. Berbagai masalah telah mereka atasi dengan sabar dan tabah. Mungkin kali ini adalah kesulitan yang paling parah dibanding kejadian-kejadian sebelumnya. Atau mungkin akan terjadi masalah yang lebih parah di kemudian hari, tak ada yang tahu.


Sejenak tatapan Fikri terhenti pada tubuh Rena yang sedang nyenyak tidur diujung ruangan. Ada gerakan aneh disekitar tubuh Rena. Bergegas Fikri menyulut sebuah obor dan mendekati Rena.


Bola mata Fikri membulat kaget saat melihat Rena dari jarak dekat. Ada puluhan benda kecil yang bergerak mendekati Rena. Sebagian juga sudah merayap dijaket yang Rena kenakan. beruntung anggota yang lainnya memilih tidur ditengah ruangan, sekitar 2 meter dari tempat Rena tidur.


"Hahh?!. Kalajengking.." Fikri terperangah.


"Hwaa..ada kelabang juga!!" Fikri semakin kaget.


Tiga kalajengking terlempar ke dinding gua. Rena terbangun begitu merasakan pergerakan Fikri.


"Ada apa, Kri?" Rena mengerjapkan mata.


"Jangan bergerak. Ada kalajengking dan kelabang dijaket lu!" teriak Fikri memberi peringatan.


"Aaahh..Fikri, tolong guee!!" Rena meraung dan menangis karena ketakutan.


--Tubuhnya mematung tak berani bergerak.


SRETT


SRET


BRASHH..


Fikri tanpa jeda terus saja mencongkel setiap hewan yang masih menempel dijaket Rena. Sekitar sepuluh hewan berhasil dihalau oleh Fikri. Kesemuanya terlempar ke dinding dan pojok ruangan.


"Cepat berdiri!!" perintah Fikri setelah melihat tak ada hewan lagi yang menempel.

__ADS_1


"Aaahh.." Rena menjerit kesakitan saat berdiri.


--Tangannya menekan ke bagian dada.


Tanpa pikir panjang, Fikri cepat meraih resleting jaket Rena kemudian menarik paksa kancing kemeja Rena bagian atas. Seekor kelabang terlihat menempel erat didada bagian atas Rena, sekian centimeter diatas lingkar fujiyama yang membulat padat.


Dengan frustasi Fikri menarik binatang tersebut dan membantingnya ditanah, berlanjut ia injak-injak binatang tersebut hingga mati tak berbentuk.


Terlihat luka memerah didada Rena. Setengah gunung fujiyama juga terlihat jelas aduhai, bergerak-gerak karena dorongan dinamika napas Rena. Tapi ini bukan waktunya menyaksikan pemandangan alam.


"Tahan sebentar!" ucap Fikri parau.


--Tenggorokannya tercekat antara panik dan asyik.


Fikri mendatangi tempat dimana Rena tidur. Beberapa kalajengking dan kelabang diinjaknya. Sebagian yang menempel dinding ia sulut dengan obor hingga menggelepar kepanasan.


Mata Fikri jelalatan mencari sumber sarang para hewan tersebut. Ternyata dari sebuah lubang sebesar kepal manusia di pojok ruangan terus-menerus bersusulan keluar puluhan kalajengking dan kelabang. Dengan marah Fikri memukul semua hewan yang keluar menggunakan nyala obor. Setelah itu ia menyumpal lubang yang ada menggunakan obor yang masih menyala. Sejenak terhirup bau-bauan seperti kepiting bakar. Belasan kelabang dan kalajengking mati dengan tubuh remuk karena injakan Fikri, puluhan lainnya mati kaku terbakar api.


"Ada apa??" Sisi terbangun.


--Ia segera membangunkan yang lainnya.


--Fikri justru malah cemberut.


"Yaah..ga jadi modusin fujiyama mountain," Fikri tersenyum kecut.


"Temenin Rena. Dia tersengat kelabang. Gue turun ke hutan dulu nyariin tanaman obat sebelum lukanya membengkak. Sengatan kelabang itu beracun," teriak Fikri menutupi kegugupannya dan


segera berlari meninggalkan bibir gua.


---



Bersambung ke episode selanjutnya ๐Ÿ”œ


---


Bantu promo CS bikinan teman Author,


"Transformasi Si Gadis Tonggos"



Ceritanya menarik dan unik. Jangan ragu-ragu untuk mampir.

__ADS_1


Intip juga judul novel lainnya dari Author yang satu ini. Karyanya keren ajib semua.


***


__ADS_2