
Mobil yang dikendarai William berhenti di rest area tol. Sejenak Kaaran turun menemui Pak Leo dan Angga yang berada didalam truk. Pembaca tidak perlu berpikir didalam bak truk akan gerah, panas, dan sebagainya. Tak ada yang sulit bagi seorang Kaaran Dirga. Dalam waktu 1 jam saja ia bisa memerintahkan William untuk mendatangkan truk khusus, lengkap dengan AC, Kulkas dan Sofa empuk didalamnya.
"Pablo mengatakan sedang berada disebuah Vila. Dia bersikeras akan menemui saya di kantornya. Namun saya tetap memaksa bertemu di vila saja dengan alasan waktu terbatas. Naluri saya mengatakan bahwa istri Pak Leo disekap di vila tersebut." Ucap Kaaran menyampaikan informasi terkini.
"Lalu dia bersedia bertemu di vila itu, Pak?" tanya Pak Leo tak sabar.
"Hahaha..jangankan Pablo, Pak Leo saja kadang tidak bisa menolak jika saya memaksa," sahut Kaaran dengan karakter superiornya.
"Dengan lingkup vila, sepertinya upaya kita akan jauh lebih mudah daripada harus menyisir gedung bertingkat," analisa Angga.
"Betul. Tapi kepadatan lawan akan terkonsentrasi dalam satu titik. Itu akan cukup menghambat," Kaaran menanggapi.
"Saya ada ide. Baiknya Pak Kaaran mengajak Pablo beserta beberapa asistennya untuk ngobrol diluar Vila. Mungkin diwarung atau kafe. Itu akan cukup mengurangi intensitas kekuatan lawan. Kemungkinan besar para pengawal terkuat akan ikut serta dengan Pablo," ujar Lita berpendapat.
"Itu ide yang sangat bagus, keren, luar biasa, fantastis, bomba.."
PLAKK
"Kumat lagi lu, Kaleng rombeng!!" Satu pukulan keras Fikri dibahu berhasil menghentikan jiwa ceriwisnya Beno.
"Hiks..kejam nian dikau, Bebs.." Beno meringis najong.
"Biarin!!" sentak Fikri gemas.
"Saya setuju dengan saran Bu Lita. Memang kita perlu main belut kalau melawan raja bulus," sambut Kaaran.
"Yang penting bukan raja singa. Raja singanya masih dipulau sama mbak Sukma,"
"Benooo!!" bentak Angga saat lagi-lagi Beno bikin ulah dengan mulutnya.
--Beno hanya menjulurkan lidah tanpa wajah berdosa sedikitpun.
***
Truk terus mengekor dibelakang mobil Karaan saat mereka mulai memasuki kota Bata tempat dimana vila Pablo berada. Kota Bata adalah kota yang berdiri sendiri di area lingkup kota Malam. Kota itu adalah wilayah perbukitan yang sejuk dan dingin. Perkebunan sayur dan buah tersebar dihampir semua wilayah kota.
"Wireless check," ucap William kepada seluruh tim saat mereka mulai mengenakan Glasses ear-tecno karya Zack.
"Auwooo...suara jernih diterima. Aduhh keren banget alat ini. Apalagi kacamatanya model sunglasses kayak gini. Uuhh..udah seperti kelompok mafia aja kita, Man. Waww..ini lensanya juga mantep gila ish. Denah dan onderdil truk langsung terlihat. Gimana dengan onderdil manusia ya?" Beno dengan mulut bocornya seperti sedang melakukan siaran radio.
--Baru saja ia memutar kepalanya untuk mencoba mendeteksi 'onderdil manusia', namun tatapan membunuh Naya, Rena, dan Lita langsung membuat Beno mengkerut seketika.
__ADS_1
"Benooo!!!"
"Sudah-sudah. Berhenti dulu candanya. Kita akan segera memasuki gerbang vila Pablo!" ucap Kaaran melalui ear-tecno.
--Khusus Kaaran, ia menolak menyertakan Glasses dan hanya memilih menggunakan ear-tecno saja.
--Bukan karena tidak suka, tapi sejak dari rumah Pak Leo, ia sudah mendapat ultimatum keras dari Rania untuk tidak mengenakan bagian kacamata karena Rania sangat paham bagaimana cara kerja alat buatan anaknya itu.
Ternyata vila yang digunakan Pablo bukanlah vila sembarang vila. Vila itu mungkin satu-satunya yang berukuran terbesar disana. Sebuah vila yang lebih pantas disebut sebagai mini mansion ketimbang disebut sebagai vila karena ukuran dan desainnya yang terlihat sangat berbeda dengan vila pada umumnya.
Sebuah gerbang besi besar terbuka otomatis saat Kaaran mengeluarkan wajahnya dari balik kaca mobil. Nampaknya terdapat kamera tersembunyi yang berfungsi untuk melihat siapa tamu yang datang kesana. Tanpa diketahui siapapun, Kaaran juga mengirimkan koordinat lokasi kepada rekan polisinya di Polda.
"Ahh..tuan Kaaran. Sebuah kehormatan bagi saya karena sudah dikunjungi CEO besar seperti tuan," Pablo menyambut kedatangan Kaaran dan langsung diawali dengan kalimat manisnya.
Untuk menghindari kecurigaan, Rania sebelumnya telah dipindahkan kedalam bak truk. Jadi seolah Kaaran hanya datang berdua bersama William.
"Pak Pablo terlalu merendah. Semua orang juga tahu jika anda adalah CEO besar di propinsi ini," jawab Kaaran merendah.
"Hahaha Pak Kaaran bisa saja. Masih ada Pak Leo yang jauh lebih megah singgasananya di propinsi kami. Ahh kenapa kita malah ngobrol diteras, silahkan masuk Pak Kaaran.." nada bicara Pablo menunjukkan sedikit penekanan saat menyebutkan nama Pak Leo.
"Ahh..saya jenuh didalam ruangan, Pak. Orang bilang kota ini gudangnya sayuran dan buah. Kalau boleh usul, kita jalan ke perkebunan apel sambil membahas bisnis, bagaimana?. Truk sampel saya nitip dulu disini. Pokoknya ini harus deal, Pak. Percuma saya jauh-jauh membawa sampel kalau tidak dapat hasil apa-apa," ucap Kaaran dengan sangat meyakinkan.
"Hahaha..tentu saja, tentu saja, Tuan Kaaran. Saya akan membawa anda ke perkebunan apel terbaik dikota ini," Pablo tergelak bahagia tanpa menyadari bahwa ia sedang memakan umpan dari Kaaran.
"Apa itu, Tuan?"
"Saya ingin penjagaan ekstra saat kita membicarakan bisnis ini. Perbanyak pengawal dan bawa semua pengawal yang terbaik. Saya tidak mau ada pengganggu hadir!" satu lagi umpan dilempar oleh Kaaran.
"Tentu saja, Tuan. Apapun yang anda perlukan, sampaikan saja. Tak perlu sungkan.." balas Pablo senang mendengar ucapan Kaaran.
Suatu hal yang sulit untuk bisa menjalin kerjasama dengan Kaaran layaknya Pak Leo dan Lita. Saat Kaaran menghubungi Pablo untuk menawarkan kerjasama, tentu Pablo seperti mendapatkan durian runtuh. Oleh karena itulah, apapun yang diminta Kaaran akan sebisa mungkin dituruti oleh Pablo. Tentu saja Pablo tak ingin membuat Kaaran kecewa yang akan berimbas pada gagalnya kerjasama.
Dua mobil segera beriring pergi meninggalkan vila. Terlihat Pablo berangkat bersama seorang asisten dan 6 orang pengawal utama sesuai permintaan Kaaran. Dari balik kaca mobil, Kaaran mengulum senyum karena berhasil membawa Pablo, kemudian mengedipkan satu matanya kearah William.
"Wah bos, ampun. Jangan berubah jadi genit ke saya. Cukup timnya Angga saja yang somplak. Kita harus jaga wibawa.." ucap William dari balik kemudi.
"Kamu itu yang mulai ketularan mulut bocornya Beno. Bisa-bisanya bilang saya genit ke cowok!!" balas Kaaran.
"Ya maaf bos. Kan dulu bos suka ganti-ganti cewek. Siapa tahu bos sekarang tertekan lalu jadi menyimpang suka sama cowok," imbuh William.
"Kurang ajar kamu , Will. Sekarang sudah mulai berani menghina saya yaa!!. Hahaha..tapi kenapa kita malah gembira ya kumpul sama orang-orang somplak disekeliling Pak Leo?" Kaaran sejenak mengumpat, kemudian terbahak, namun canda tawa mereka cepat terkebiri paksa karena mobil sudah memasuki area perkebunan yang dimaksud oleh Pablo.
Berjalan mengekor dibelakang Pablo, terlihat Kaaran dan William dengan wajah yang sok serius. Dibelakang mereka tampak 6 orang berbadan kekar juga berjalan mengiringi.
"Saya belum sarapan. Kita coba nasi pecel disini dulu ya sebelum memulai membicarakan bisnis ini," pinta Kaaran mengulur waktu. Bersamaan dengan itu William sejenak memohon diri ke toilet.
__ADS_1
"Tim, tahan dulu. Biarkan saya menghubungi tuan muda Zack untuk meretas jalur komunikasi Pablo dengan anak buahnya di vila kemudian memblokirnya," ucap William melalui ear-tecno.
"Halo tuan muda zack, anda masih disekolah?" tanya William menghubungi Zack.
"Saya sudah pulang, dijemput tante Rina.." jawab Zack diseberang sana.
"Oh Rina, aku merindukanmu.." batin William, namun segera ia sudahi lamunan itu karena ada hal penting yang harus segera disampaikan kepada Zack.
"Ok tuan muda. Saya minta bantuannya. Tolong retas semua jalur komunikasi disekitar posisi Papa anda. Blokir semua jalur, kecuali handphone Papa, saya, dan jalur ear-tecno." William memberi instruksi.
"Baik, ditunggu. Saya akan menyelesaikannya dalam 2 menit,"
"Ok, Tim. Tuan muda Zack sedang bergerak meretas. Dia perlu 2 menit untuk bisa masuk kejaringan dan mengambil alih. Setelah jalur komunikasi mereka terputus, Angga dan tim silahkan mulai bergerak!" lanjut William.
"Wait...siapa itu Zack?, dan sehebat apa dia sampai bisa meretas jaringan komunikasi hanya dalam waktu 2 menit?" Fikri penasaran mengingat hobinya juga sejalan dengan apa yang digiati oleh Zack.
"Dia putra kami. Umurnya belum 7 tahun.." Rania menanggapi, juga melalui jalur ear-tecno.
"Whatt??, belum 7 tahun?!. Luar biasaa..edaan, bombastis, spektakuler.." lagi, lagi, dan lagi suara Beno yang cempreng itu mencemari pendengaran semua pengguna ear-tecno.
--Untung saja jeweran mesrah Lita ditelinga Beno mampu menghentikan suara sumbang tersebut.
"Tidak hanya meretas. Itu ear-tecno yang nangkring ditelingamu juga buatan anak saya. Oya Willy, tolong bilang pada Zack untuk memindahkan jalur komunikasi mereka langsung ke channel bernyanyi Zoe secara live. Biarkan mereka semakin stress saat tak bisa menghubungi bos mereka ditambah suara nyanyian Zoe disetiap upaya panggilan keluar. Saya minta Zoe langsung on-air streaming selama peretasan berlangsung," ujar Rania menggebu-gebu.
--Didepan Pablo, wajah Kaaran berusaha menahan senyum mendengar ulah jahil Rania dan tim.
"Hahh, Papa sedang ada di kota Malam?!. Untuk apa Papa jauh-jauh kesana ya, Kak?" ucap Zack peda kakaknya sambil memperhatikan layar monitor.
"Ga tau lah. Urusan orang dewasa itu rumit. Udah ah, aku mau siap-siap konser on-air dulu. Kabari aku jika sudah ready yah.." Zoe berlari kecil meninggalkan Zack menuju studionya.
---
Bersambung dulu ya 🔜
#Mulai dari episode yang lalu hingga kedepannya, akan ada crossover di novel ini dari para pemain dari novel 'Anak Genius : Zoe & Zack'. Bagi yang penasaran, silahkan simak novel tersebut. Hati-hati jika sampai ketagihan, resiko ditanggung penumpang.😆
#Terimakasih untuk Author novel Kaaran (Anak Genius : Zoe & Zack) karena sudah dipinjami para pemainnya 😁🙏.
^^^Salam kompak,^^^
^^^DPKBPC @2021^^^
^^^FigurX Productions^^^
***
__ADS_1