
---
Siapa itu kelompok wanita yang menahan Beno?, mengapa mereka juga melucuti pakaian Beno?, apakah mereka sebangsa manusia kanibal yang sempat dibicarakan oleh Jaka pada episode yang telah lalu? Ataukah mereka juga sama-sama penyintas layaknya Angga dan teman-temannya?.
Tiga puluh tahun yang lalu, sekitar tiga puluh orang penduduk wanita pulau Biwian pergi menyeberang lautan menuju ke negara Malaysia. Mereka semua adalah anak dan istri dari para pria pulau Biwian yang ditinggal merantau.
Mengisi kesuntukan karena tak ada suami yang menemani ataupun bentuk kerinduan kepada sang ayah, dengan menyewa sebuah perahu nelayan berkapasitas penumpang tiga puluh orang ditambah muatan, mereka memanfaatkan uang yang ada untuk berbelanja dan jalan-jalan. Negara Malaysia yang berbatasan langsung dengan pulau Cumamantan milik Negara Indonesia menjadi tujuan piknik mereka. Jarak pulau Biwian lebih dekat ke arah Malaysia daripada menuju pusat kota Grassick sebagai kota Kabupaten.
Namun sayang seribu kali sayang. Perahu kayu yang sangat tidak recommended untuk digunakan sebagai transportasi perjalanan jarak jauh itu tersapu ombak. Seluruh penumpang terhempas dari perahu yang baru saja melintas didekat perairan pulau kecil. Merekapun terseret arus hingga terdampar di pulau. Lima orang dari mereka meninggal saat mengalami musibah.
Semua wanita dengan rentang usia Dua puluh hingga tiga puluh lima tahun berjumlah dua puluh lima orang ditambah dua pria awak perahu berusaha bertahan hidup di pulau kecil dimana Angga dan timnya kini berada.
Untuk bertahan hidup, mereka memakan daun dan daging mentah tanpa melalui proses dimasak, tak ada satupun dari mereka yang membawa korek api. Sedangkan membuat api manualpun mereka tak bisa. Diantara jijik dan lapar, mereka tetap memakannya meski dalam keadaan mentah. Belakangan, mereka baru menemukan korek api saat bertemu penyintas yang terdampar lainnya.
__ADS_1
Begitu kerasnya kehidupan di alam liar membuat mereka menjadi brutal dan bengis. Masing-masing personal hanya berpikir bagaimana berjuang untuk dirinya sendiri. Setiap orang berpacu mengejar upaya pemenuhan napsu diri. Keputusasaan untuk bisa meninggalkan pulau itu, menjadikan mereka semakin terpuruk hingga kehilangan akal sehat. Dengan segala hasrat yang ada, para wanita tersebut secara brutal merebut paksa hak kebebasan rekan mereka sendiri. Para wanita memaksa menggagahi kedua pria awak perahu. Hidup dihutan menjadikan mereka mewarisi napsu binatang. Makan dan berhubungan badan adalah kebutuhan utama bagi mereka, tak ubahnya seperti binatang lainnya.
Alih-alih menjadikan dua pria itu pemimpin kelompok, justru mereka diperbudak sebagai pelayan kepuasan. Ingin para pria itu melawan, namun apa daya, lagi-lagi keduanya harus mengaku lemah, keduanya kalah jumlah. Hari-hari para pria itu akhirnya menjadi piala bergilir bagi semua wanita. Hanya butuh waktu dua tahun bagi para pria awak perahu untuk sukses menjemput kematian. Ditahun kedua tinggal disana, kedua pria tersebut sudah tak berdaya menghadapi siksaan dan berujung meregang nyawa.
Bukannya menyesal karena telah menyebabkan 2 pria meninggal, lambat laun kebiasaan memperbudak pria menjadi satu kebiasaan utama bagi mereka. Di tahun-tahun berikutnya, setiap menemukan pria terdampar, maka nasibnya akan berakhir sebagai korban pelecehan. Namun yang berbeda dengan dunia umum, di pulau itu justru pria yang mengalami pelecehan. Tak ada pria yang mampu bertahan lama. Tak lebih dari satu hingga dua tahun akan meninggal karena beratnya siksaan fisik yang diterima.
Buah dari menggauli berbagai pria, kini para wanita yang menguasai pulau itu sudah berkembangbiak hampir menjadi 100 orang. Namun anehnya, kesemua bayi yang dilahirkan selalu berjenis kelamin wanita. Seolah mereka dikutuk untuk terus melestarikan kebiasaan bejad hingga turun menurun.
Secara alami mereka terlatih untuk bisa berlari mengejar buruan, entah itu buruan berupa binatang maupun berupa pria. Kemampuan fisik tertempa sedemikian rupa demi menunjang kehidupan disana. Begitu juga dengan kemampuan bertarung. Insting mereka terlatih untuk bisa menghadapi berbagai ancaman di alam liar.
Terhitung saat Beno mereka tangkap, ada sekitar dua puluh orang wanita dewasa diatas usia tiga puluh tahun, puluhan wanita remaja diatas usia delapan belas tahun, dan belasan anak dibawah usia sepuluh tahun. Itu artinya, disana ada sekitar 80 hingga 90 wanita produktif yang siap dibuahi dan siap pula hamil.
Dibidang persenjataan, penguasa pulau ternyata kurang memiliki pengetahuan. Tiga puluh tahun tinggal disana, mereka hanya mampu membuat tombak kayu. Bahkan pedang dan pisaupun mereka buat berbahankan kayu. Kayu-kayu itu diasah sedemikian rupa menggunakan bebatuan hingga menjadi runcing dan tajam. Mereka tak pernah berpikir untuk menggunakan bebatuan pengasah itu sendiri sebagai bahan senjata.
Bagaimana dengan pakaian mereka?. Sebagian orang masih memanfaatkan pakaian yang ada meski ala kadarnya, lusuh dan terkesan compang-camping. Bagi yang sudah tidak memiliki bahan kain lagi, maka mereka merangkai dedaunan sebagai pengganti pakaian. Tapi, meskipun dalam berpakaian mereka sangat sederhana, lain halnya dengan menjaga kecantikan. Berbagai tumbuhan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memelihara keindahan kulit, menyegarkan wajah, mengencangkan tubuh, dan mewangikan tubuh.
__ADS_1
Mereka tinggal di gubuk-gubuk sederhana berbahan kayu, bambu, dan jerami. Letak pemukiman itu sekitar dua jam perjalanan sebelah selatan gubuk air terjun. Jarak yang cukup jauh untuk menjadikan kecilnya kemungkinan bertemu dengan pihak tim Angga. Itulah mengapa hingga sejauh ini tim Angga belum pernah mengalami perseteruan dengan pihak wanita penguasa pulau.
Kelompok wanita penguasa pulau ini sulit untuk dikualifikasikan. Dikatakan sebagai suku pedalaman, mereka sebenarnya berasal dari dunia modern. Dikatakan sebagai penduduk primitif, mereka memakai bahasa umum dan bisa diajak berkomunikasi. Dikatakan sebagai manusia kanibal, nyatanya mereka tidak memakan manusia. Dikatakan sebagai kawanan perampok, mereka tidak merebut harta, kecuali harta berharga pria. Hanya karena jumlahnya saja yang cukup banyak sehingga mereka terkesan sebagai kelompok yang besar, melakukan berbagai serangan secara terkoordinir.
Uniknya, keberadaan mereka tak pernah ter-endus oleh negara ataupun pulau disekitarnya. Entah sengaja disembunyikan, atau memang pulau itu adalah pulau misterius yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu, atau memang sangat jarang pulau itu dilintasi manusia.
Keunikan berikutnya adalah pemakaian nama kelompok mereka. Dengan lucunya mereka menamai kelompok itu 'Putri CEO'. CEO diambil dari kepanjangan 'Criticaly Endangered Ovaries'. Maknanya adalah para Putri disana menganggap bahwa ovarium mereka rawan dari kepunahan. Oleh karena itulah pelestariannya gencar mereka lakukan. Yang lucu lagi adalah bagaimana mereka dapat memahami sebagian bahasa Inggris untuk menunjang bahasa umum yang ada.
Dan kini, Beno telah ada ditangan mereka. Tak menutup kemungkinan para pria lainnya termasuk Gino dan Candra akan tertangkap dan menjadi pria peliharaan disana.
Sampai pada episode ini, mungkin pembaca baru menyadari bahwa judul novel 'Di pulau kecil bersama Putri CEO' bukan sekedar merujuk pada Naya semata.
---
__ADS_1
*Cerita ini murni karangan fiksi. Tidak mewakili keadaan sebenarnya.
---