
TAPP
TAP
TAP..
Angga berlari cepat. Didepan sana pria berjaket kulit menyambut dengan tegang. Bagaimanapun juga ia telah mendengar kehebatan Angga saat dipulau. Sehebat apapun kemampuannya, tetap ia harus bekerja keras untuk menaklukkan Angga.
Tanpa jeda Angga berinisiatif untuk melakukan serangan terlebih dahulu. Kaki dan tangannya beterbangan seperti kilat. Tak mau kalah adu fisik, Pria jaket menghindar dan menangkisnya dengan kecepatan yang sama. Sedikit saja ia lengah, tubuhnya yang akan menjadi bulan-bulanan amukan Angga.
BAMM
BAMMM
Sekian lusin pukulan dan tendangan Angga akhirnya membuahkan hasil. Dua pukulan kuat Angga menumbuk keras ulu hati sang lawan. Beberapa langkah ia terdorong mundur. Dadanya terasa sesak dan nyeri. Perutnya tiba-tiba mulas seperti mau e'e'.
"Masih mau lanjut, atau kita adu joged aja?. Gue udah dapet pendukung banyak saat goyang ngebor di episode sebelumnya," Angga tersenyum sinis.
"Tutup mulutmu!!" Meski masih merasa sakit dan celana yang menggantung kebelakang terdorong e'e', pria berjaket tetap memaksakan diri untuk kembali maju.
Giliran lawan kini memberondong Angga dengan belasan pukulan dan tendangan. Sayangnya, tak satupun upaya serangan itu membuahkan hasil.
Hingga akhirnya..
PLAKK..
Lawan berhasil menampar pipi Angga dengan keras. Angga terbelalak kaget dan mendadak mual.
"Rasain tuh jurus tamparan tangan bau e'e'!!. Masih fresh, lembek, berserat, dan basahhh..Hahaha," pria tersebut tergelak.
--Angga muntah-muntah dipojok lapangan.
--Mungkin itu karma karena dulu dipulau ia telah membuat Fikri muntah gara-gara kalimat 'konco kentel koyo umbel (teman kental seperti ingus)'.
Biarkan Angga menghayati perannya dulu dipojok lapangan. Kita berpindah pada Pak Bagas yang tengah beradu pedang dengan pria gondrong.
SRATT
Dalam sebuah sabetan pedang, Pak Bagas berhasil melukai bahu lawan. Meski tak parah, namun upaya itu mampu mengurangi tempo permainan lawan.
Tak mau menerima kerugian begitu saja, pria gondrong kembali datang menuntut balas atas luka bahu yang ia derita.
Pedang lawan berkelebatan meminta tumbal. Pak Bagas berkelit kesamping area pertarungan. Alih-alih melawan dengan pedang, Pak Bagas justru mengangkat kakinya tinggi, kemudian menariknya cepat kebelakang seperti pengungkit.
DUKKK
Benar saja, kaitan kaki itu mendorong tumit dan membentur keras di punggung pria gondrong. Pria itu langsung tersungkur.
Pak Bagas berbalik arah, melompat tinggi siap menusukkan pedang kepunggung lawan yang masih tertelungkup.
SRATT
SRATTT
__ADS_1
Namun si gondrong cukup tangguh. Refleknya berguling kesamping membuat ia lepas dari ancaman maut. Pedang Pak Bagas mencabik permukaan tanah dengan kuat.
"Lu cukup tangguh pak tua, tapi gue ga akan nyerah begitu saja. Hahaha," cibir pria gondrong persuasif.
"Pak tua, pak tua..ndasmu!! (Kepalamu!!). Panggil gue, pria dewasa..hiyaa.." usai menumpahkan kekesalannya, Pak Bagas kembali bergerak menekan pertahanan lawan.
BATT
BATTT
Disisi lain, belati Rendra berlarian meminta korban. Dua hentakan belati dikedua genggaman tangannya berhasil mengoyak dua perut pasukan lawan yang telah berani mengusik ketampanan seorang asisten CEO.
"Wusss..lu keren amat, Bro!!" teriak Fikri menjalarkan semangat pada Rendra yang baru saja berhasil menumbangkan dua lawan sekaligus.
"Kalian yang hebat. Gue hanya ketularan," balas Rendra terkekeh.
"Ati-ati lu ketularan tabiat muntahnya Fikri," teriak Beno jahil sambil ia terus meladeni serangan lawan.
--Benar-benar tim yang koplak.
***
Jauh digudang belakang. Terlihat Naya, Rena, serta beberapa pembantu wanita sedang gemetar dalam persembunyian. Inginnya Naya dan Rena ikut bertempur memanggul senjata seperti saat dipulau. Namun mereka tak berani mencederai perintah Angga begitu saja.
"Aduh gimana ini, Ren?!. Rencana kita amburadul gara-gara Pablo lebih dulu menyerang. Mana kita belum ada persiapan juga. Aduhh..semoga Angga dan yang lain bisa mengatasinya.." Naya terlihat risau.
"Tenangkan diri lu, Nay. Berpikir positif aja. Jangan biarkan pikiran negatif gerogotin jiwa lu. Yakinlah kehebatan Angga dan tim akan mampu mengatasi semua," sahut Rena menguatkan.
"Kalian sangat baik. Aku sangat terharu..tuhkan, pengen nangis jadinya..hiks..hikss," wajah Naya merebak.
--Bulir airmata bening sudah menggenang dibalik kelopak mata, siap meluncur turun menyusuri pipinya yang seputih pualam.
"Udah, Nay. Gosah nangis lu ah. Jangan berisik!!. Tar penjahat pada tau kalo kita ngumpet dimariii.." ucap Rena berusaha sebisa mungkin menekan rasa emosional Naya.
"Bukan karena itu, Ren. Ini..inii..tangan gue udah lu dudukin dari tadi. Kenapa lu ga nyadar juga..hwaaa!!. Ampe kesemutan parah," tangis Naya semkin menjadi-jadi.
Buru-buru Rena bergeser dari tempatnya. "Yaelah lu kek banyolan Sule ama Andre aja.." lirik Rena sewot.
"Ini ga lagi ngebanyol tauu!!. Beneran sakit, peanggg!" Naya menumpahkan kekesalannya.
Hahaha..entah kenapa, beberapa episode ini Author jadi kacau nulisnya. Waktunya serius malah canda. Saatnya bertempur malah ngakak. Jangan-jangan Author mulai terjangkit virusnya Pak Herson seperti halnya Pak Bagas dan Pak Leo, Bolus-19.
***
Dalam kesibukan tinggi masing-masing orang, Pablo dan kedua pengawal utamanya berusaha mencuri kesempatan. Sigap mereka bertiga menyelinap masuk kedalam rumah Pak Leo. Sebenarnya Angga dan Pak Bagas sudah menyadari hal tersebut. Namun kondisi mereka yang masih menghadapi musuh menjadi penghambat upaya untuk bergerak mundur membantu Pak Leo.
"Hahaha...saudaraku, apa kabar?" tawa Pablo mengejek.
"Saudara apa?. Kita hanya teman. Dan itupun juga sudah berakhir sejak kau mulai ulah licikmu itu!!" bentak Pak Leo marah.
"Ssttt..ga perlu teriak juga. Aku ga budek. Aku suka gayamu. Sudah terkepung, tapi ucapanmu masih tajam juga.." sarkas Pablo.
__ADS_1
"Kalian, majulah!!. Hajar pria sok hebat itu!"
Dua pria disamping Pablo segera menyerang Pak Leo. Berbeda dengan yang lain, Pak Leo hanya seorang pebisnis sejati. Dia bukan petarung ataupun mempunyai pengalaman beladiri.
BUKK
BUK
"Papaa!!"
Sonia histeris melihat suaminya dikeroyok oleh dua orang sekaligus. Pak Leo tersungkur setelah menerima dua pukulan telak dibagian perut dan dada.
Tak berhenti disitu. Seorang pria bergerak maju dan menunggangi tubuh Pak Leo yang tertelentang dilantai. Belasan pukulan ia lesakkan kedada dan wajah Pak Leo.
Entah pada pukulan keberapa, Pak Leo lemas tak sadarkan diri. Wajahnya penuh lebam dan darah yang mengalir. Sonia panik luar biasa. Kesombongan yang ia tunjukkan selama ini seolah luruh. Ia kini tak ubahnya seperti tikus dalam kepungan tiga ekor kucing persia.
"Hentikan!!. Jangan kalian sakiti suamiku lagii.." teriak Sonia tersedu.
"Ok. Ok nyonya besar. Kami akan menuruti kata-katamu." Pablo menjawab teriakan Sonia.
Berhenti dari menganiaya Pak Leo, ketiganya justru merangsek mendekati Sonia.
"Tunggu..apa yang akan kalian lakuka.."
BLUKK
Belum selesai ucapan Sonia, sebuah tongkat sudah terayun menumbuk tengkuknya. Seketika ibu dari Inaya Sari Dewi tersebut pingsan.
Didepan pintu rumah terdengar suara mobil menderu. Salah satu dari empat mobil Pablo menerobos mendekati bagian bangunan utama.
Cekatan dua pengawal utama serta Pablo meringkus tubuh sang singa rumahan dan membawanya dalam gendongan. Ketiganya masuk kedalam mobil yang telah bersiaga, kemudian mobil itu melesat pergi meninggalkan kerumunan orang yang masih bertempur sengit.
Angga berlari mengejar, namun sudah terlambat. Mobil itu telah mencapai tepian aspal jalan raya. Sekejap kemudian mobil tersebut sudah menghilang dari pandangan.
"Brengzekk!!" teriak Angga begitu kesal.
"Kamu sih, bertarungnya kebanyakan canda.." sindir Author.
"Eluu yang bikin cerita novel ini jadi ga ada juntrungannya!!. Udah kebanyakan drama, masalah mulu yang muncul, eh skenario perkelahian dibikin versi guyon. Parah lu, Thor!" sembur Angga penuh amarah.
"Yaa ini juga demi kamu, Ngga!!
"Demi gue apaan?!"
"Kisahmu biar laku!!"
Lanjut ke episode berikutnya yah 🔜
^^^Salam nganu,^^^
^^^DPKBPC @2021^^^
^^^FigurX Productions^^^
__ADS_1
***