
Mobil Van warna hitam yang dipinjam Angga dari Pak Leo sesaat terlihat melaju cepat membelah jalanan menuju rumah Beno. Nampak Angga dan Naya duduk dikursi depan dengan wajah tegang.
"Semoga kita bisa mengatasi kegilaan Pablo kali ini," lirih Naya.
"Kuharap juga begitu. Kasihan Papamu selalu tak tenang hari-harinya karena ulah Pablo. Kita harus bisa segera membekuknya," sahut Angga.
"Cara bicaramu begitu serius terkait masalah Papa. Ketulusanmu dalam membantu seolah kamu anaknya Papa," ucap Naya dengan tatapan kosong kearah jalanan.
"Kuharap juga begitu. Menjadi anaknya setelah memiliki anaknya hehe," Angga terkekeh.
Naya tersentak, tak menyangka pembicaraan Angga akan mengarah kesana. "Kamu serius?" tanya Naya.
Sambil tetap fokus mengemudi, Angga merespon pertanyaan Naya, "Aku bukan tipe cowok yang suka main-main. Apa kamu juga serius?" Angga bertanya balik.
"Aku belum pernah punya cowok sebelumnya. Harapanku satu saja dan yang terakhir," jawab Naya dengan wajah merebak merah.
"Ooh..yaudah sih, besok kita langsung nikah.."
"Yah Anggaaa.. aku malu," Angga begitu gemas dengan wajah itu, wajah cantik imut yang sedang malu-malu, Kucing!.
"Nay, diapain aja lu selama dirumah kingkong rabies?" tanya Beno saat ia tengah duduk manis dibangku tengah mobil.
--Saat ini mobil sedang melaju menuju 'halte' berikutnya, rumah Fikri.
"Jangan rese lagi lu?. Mau gue jatuhin lagi dari mobil?" semprot Angga.
"Lahh..harusnya gue yang kesel, Begoo!. Lu ga liat gue kejengkang kemaren kayak kecoak dibalik?. Bisa-bisanya lu malah nyemprot gue?!. Hermin deh.."
"Siapa suruh mulut lu ngocor mulu kayak kran aer rusak?!. Sekarang diulangin lagi gacornya??"
"Hahaha sori bro sorii..sensi amat lu. Awas tensi darah naek. Ga lucu kalo Naya tar nikah ama orang stroke wkwkwk," Beno terbahak.
BLUKK
Botol mineral tiba-tiba saja terbang bebas dari kursi kemudi, tepat menumbuk wajah keceh badai milik Beno.
"Hahaha..puas-puasin lemparnya. Tar kalo dah stroke ga bisa dipake lempar tuh tangan..wkwkwk," Beno semakin menggila.
CIIITT
"Turun lu komodo sangee!!" teriak Angga dengan wajah merah kuning hijau.
"Ampuni saya om. Saya tunawisma, belum makan juga tiga hari ini.." Beno menghiba.
Satu mobil kompak terbahak. Penumpang hanya tiga orang, namun riuh tawa mereka sudah seperti mobil carteran kursi 8 orang tapi diisi 15 penumpang. Benar-benar keharmonisan sebuah persahabatan yang menganehkan.
Asyik bercanda, tak terasa mereka telah tiba didepan rumah Fikri. Tapi janggalnya, Rena juga telah ikut menunggu disana.
"Eh sejak kapan lu disini, Ren?" tanya Beno curigation.
__ADS_1
"Dari kemaren,"
"Duh kasihan banget. Lu pasti disekap ya sama tokek ababil?!. Tega banget Fikri mah.." Angga memulai aksi propaganda, percis seperti yang dilakukan Beno sebelumnya terhadap Naya.
"Sekap..sekap pala lu sengklek. Yang bener aja lu kingkong rabies!" bentak Fikri esmoni.
"Gosah marah juga kalee. Kalo enggak yaudah santuy," Beno ikut nimbrung perhelatan akbar tersebut.
"Tapi Angga bener juga sih. Mana mungkin Rena datang secara suka rela ke rumah lu. Kecuali, dipaksa.." imbuh Beno membumbui.
"Beuhh komodo sangee ikut-ikutan. Iya..iya..Rena emang gue paksa. Dia gue paksa ngaku ke nyokap gue kalo kita udah jadian. Puas lu?!"
"Lah lah lah..dia ngaku. Hahaha," Naya ikut masuk menyerobot jantung pertahanan.
Seketika Fikri dan Rena membuang muka. Mereka sudah seperti pasangan mesuum tertangkap basah dikamar hotel. Malunya itu sampai ke ubun-ubun monas.
Keberadaan Rena dirumah Fikri justru mampu mempersingkat waktu. Sekarang tugas mereka hanya tinggal satu penjemputan di 'halte' terakhir, rumah Pak Bagas dan Lita.
"Woww..rumah calon bini lu segede ini, Ben!!" Angga terbelalak melihat rumah Lita yang seperti hotel megah, meski jauh lebih besar rumah Naya.
"Ya ya ya..gue suka. Libas dia bro. Waktunya gue balas dendam..Hahaha," Fikri tertawa horror.
--Beno sudah mengkerut dibalik kursi mirip keong masuk ke cangkangnya.
"Jadi begini..." ucap Pak Leo memulai diskusi tim.
"Hahaha sori ada WA..jadi begini. Pengintai internal dari pihak kita mendapat informasi bahwasanya Pablo memiliki rencana untuk menyerang kita secara terang-terangan. Hal ini berkaitan dengan kekalahan pasukan mereka dari tim Angga saat dipulau. Pablo tak terima dan ingin membalas," terang Pak Leo.
"Lalu apa rencana bapak?" tanya Angga serius.
"Lho jangan tanya saya dong. Kan kamu komandan peletonnya. Gimana sih?!. Hermin deh.." balas Pak Leo masih dengan tanda-tanda terjangkit virus bocor alus dari Pak Bagas yang diwarisi secara langsung dari Pak Herson.
"Oh..iya, Pak. Maaf," Pak Leo yang berbicara penuh canda justru ditanggapi dengan cara serius oleh Angga.
"Saya beri satu kesempatan, Monggo..." canda Pak Leo menyindir kalimat Angga beberapa saat yang lalu, hasil catutan dari iklan Djamur 67 pakdhe jin.
" Kalau boleh tahu, dimana letak rumah atau markas yang digunakan Pablo, Pak?" tanya Angga sebelum memulai diskusi.
"Dikota dingin Malam. Sekitar 2-3 jam perjalanan dari sini," jawab Pak Leo dan langsung ditanggapi oleh Beno, "Ga perlu disebutkan durasi jamnya, Pak. Kami juga orang sini.." komplain Beno.
"Yaa..siapa tahu kamu ga pernah plesir, Ben!" sahut Pak Leo enteng.
"Baiklah. Kita mau tak mau harus meluruk kesana terlebih dahulu sebelum kita keduluan oleh pergerakan mereka untuk menyerang kesini. Pak Leo, bisakah penyelidik internal memberikan kabar ada tidaknya Pablo disana saat kita berangkat?" tanya Angga lagi.
"Tentu saja. Tidak."
"Kok tidak, Pak?"
"Ya jelas bisa dong ah. Ngapain saya bayar mereka mahal-mahal kalau hanya lihat Pablo ada atau tidak saja ga bisa?!" sepertinya Pak Leo positif 'sakit' akibat paparan virus Bolus-19 (Bocor alus 19 lubang) buatan dokter legendaris Herson.
"Ok. Jika demikian maka, besok kita akan berangkat kesana. Jangan gunakan formasi tiga arah seperti dipulau, karena tentu mereka sudah mengenalnya. Karena penyerang kita ada lima maka skenarionya adalah membagi tim menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 dengan anggota Fikri dan Beno akan menyusup dari sisi belakang gedung. Kelompok kedua yakni Pak Bagas dan mbak Lita akan bergerak cepat dalam penyerangan dari arah depan. Dua kelompok tersebut akan sama-sama menyerang dari dua arah, mengapit musuh dari dua sisi. Sedangkan aku, akan bergerak dari atas gedung untuk fokus pada Pablo." kepiawaian Angga mengatur tim seperti saat dipulau, kini mengemuka kembali.
__ADS_1
--Kemampuan inilah yang paling banyak menyedot perhatian Naya selama dipulau.
"Dari kami ada bantuan pasukan. Rendra ditambah dengan 20 orang pasukan pilihan akan siap mendukung," ucap Pak Leo menambahkan.
"Jika demikian, maka Rendra akan bersamaku bergerak dari atas gedung untuk menemukan Pablo. Secepatnya Pablo dicekal akan cepat pula menghentikan perlawanan musuh. 20 Orang sisa pasukan akan dibagi masing-masing 10 orang untuk membantu kelompak 1 dan 2." Lanjut Angga.
"Saya dan Rena bagaimana?" tanya Naya bingung.
"Kamu dan Rena akan bergerak dibelakang kelompok 2 yakni timnya Pak Bagas. Tugas kalian berdua adalah ikut bertempur menyokong serangan kelompok 2 melalui lapis kedua, sekaligus sebagai P3K," tegas Angga.
"Tugas saya apa bos?" tanya Pak Leo karena seperti tak dibutuhkan sama sekali oleh Angga.
"Tugas bapak, siapkan semua bukti kejahatan Pablo, kemudian laporkan kepihak yang berwajib. Jadi seolah kita adalah perpanjangan tangan polisi untuk membantu menangkap Pablo. Kenapa kita tidak langsung lapor saja dan biarkan polisi bergerak sendiri?, karena Pablo sangat licik. Bukan tidak mungkin Pablo akan kabur sebelum polisi sampai disana. Jadi istilahnya, kita sengaja bikin ribut disana agar polisi datang, yang otomatis justru akan memperkuat kita," Haha..baru kali ini ada CEO diperintah-perintah.
Baru saja mereka hendak menyudahi diskusi, terdengar suara bising dan keributan yang berasal dari luar rumah Pak Leo. Sonia yang sebelumnya ada dikamar tiba-tiba menjadi panik dan berlari kearah suaminya dengan ketakutan.
"Ada apa ini, Rendra?. Cepat kamu cek didepan!!" perintah Pak Leo.
Rendra baru saja akan beranjak melangkah, namun terdengar suara susulan yang lebih keras.
PLANG..
BRAKKK
Beberapa mobil terlihat menerobos paksa, menabrak pagar keliling rumah. Dan kini, mobil-mobil itu sudah bertengger garang dihalaman rumah keluarga Naya yang luas.
...
...
Stop dulu,
Tarik napas,
...
Lanjutt!!
"Hei kalian..jangan buru-buru masuk dong. Terlalu prematur. Tunggu episode berikutnya!!" teriak Naya.
"Ashiapp kaka!!"
😆
Semakin menegangkan.
Tubi tukinyut ke next episode 🔜
#Jangan lupa sedekah jempol👍
^^^Salam semvak,^^^
^^^DPKBPC @2021^^^
^^^FigurX Productions^^^
__ADS_1
***