
"Lahh..dia yang nanya, dia juga yang sewot wkwkwk.." Fikri tertawa nyaring.
Namun tawa nyaring Fikri membawa masalah bagi mereka. Berawal dari terdengarnya suara gesekan benda besar yang menyeret tanah. Lambat laun pintu batu gua bergerak seolah ada yang akan memindahkan. Suara tawa Fikri telah mengusik ketenangan tidurnya.
Beberapa detik kemudian tepat dibelakang mereka, dimulut gua muncul sosok tinggi besar berwarna gelap.
Semua berhamburan menjauhi bibir gua. Nyala api unggun yang bergoyang tertiup angin perlahan memperjelas sosok besar yang berada disana.
GROARRH..
Lebih tinggi dari tubuh manusia biasa. Sesosok makhluk berbulu hitam lebat setinggi 2 meter menyeringai marah.
Giginya begitu runcing, dihiasi taring-taring tajam yang menyembul disela bibirnya. Makhluk itu berdiri layaknya manusia. Kuku panjang menghitam disemua ruas jari kaki dan tangannya memperburuk citra bengisnya.
GROARRH..
Belum usai keterpanaan terhadap mahkluk hitam tersebut, dari dalam gua muncul satu lagi mahkluk serupa. Kini dihadapan Angga tengah berdiri dua mahkluk besar hitam yang sangat menakutkan.
"Kyaa..makhluk apa itu!!" teriak Sisi histeris.
"Baru aja kelar urusan sama emak-emak sadis. Ada lagi masalah..hadohh," Beno mendengus jengkel.
"Ini alam liar bro. Bahaya terus mengancam," ucap Fikri sok menasehati.
--Padahal kakinya gemetar tak karuan.
"Apa yang diucapkan Mbak Restu waktu di Biwian, kesulitan demi kesulitan silih berganti. Ternyata benar-benar terjadi.." suara batin Angga saat teringat pertemuannya dengan Mbah Restu di pulau Biwian.
Hewan besar sebangsa Orangutan berdiri didepan tim Angga dengan penuh kemarahan. Kedua hewan itu merasa terganggu akan kehadiran manusia disana. Namun sebenarnya, tak bisa menyalahkan tim Angga begitu saja. Ditempat bebas seperti itu, tak layak jika menganggap pihak lain mengganggu hanya karena kebisingan suara. Tapi yang namanya hewan tetaplah bukan manusia yang lengkap dengan segala akal dan etika. Itulah mengapa hukum rimba hanya mengedepankan kekuatan dan kekuasaan, mereka tak pernah dituntut berpikir untuk menyelesaikan masalah.
Demi melindungi teman-temannya, Angga mengambil langkah kedepan untuk menghadapi makhluk mengerikan tersebut. Pak Bagas ikut maju, seperti tatkala menghadapi singa bersama Angga. Namun Fikri mencegahnya.
"Pak Bagas simpan tenaga dulu. Biar gue dan Beno yang menghadapi kingkong sialan satunya. Jika Angga atau kami terdesak, Pak Bagas baru turun membantu dengan tenaga yang masih full," Fikri maju membawa pedang menggantikan posisi Pak Bagas.
--Beno mengikuti di belakangnya.
"Sttt..bro, itu pedang guaa.." bisik Beno tak terima.
"Tuh banyak belati. Lu pake deh 2,3,5 terserah.." jawab Fikri tak mau mengalah.
"Ahh..songong lu!" Beno mundur sejenak, namun tak mengambil belati. Justru meminjam tombak yang dipegang Lita.
__ADS_1
"Abang pinjem tombaknya ya cantik," ucap Beno mulai kumat jahilnya.
"Berani lu?, Itu ada bokapnya.." tunjuk Jaka ke arah Pak Bagas.
"Hormat saya, calon bapak mertuaa.." lanjut Beno semakin ngawur.
"Woyy..kingkong rabies noh. Kelamaan lu, anjir. Keburu dicivok najong tar kita!" Angga melotot sadis karena ulah Beno.
Kedua Orangutan serempak berlari kearah tim. Sigap Angga memblokir langkah salah satu Orangutan. Fikri juga maju menghalau Orangutan lainnya.
Orangutan sekuat tenaga mengayunkan lengannya kearah pelipis Angga. Secepat kilat Angga menghindar, kemudian melakukan serangan balasan dengan menyabetkan pedangnya.
Dengan enteng Orangutan menepis pedang Angga menggunakan telapak tangannya yang dipenuhi kuku dan kulit yang kapalan. Senjata Angga tak mampu sedikitpun menggoresnya.
"Eh Bujubuneng, itu kapalan ato vantat kapal?!..tebel banget," sergah Jaka saat menyaksikan pertarungan.
"Diem lu, jan rusak konsentrasi mereka!" Rena menjewer keras telinga Jaka.
--Yang dijewer hanya mampu menutup mulutnya, tak berani berteriak.
Angga masih tertegun melihat pedangnya tak berdaya digenggaman Orangutan.Tak disangka, Orangutan mengayunkan lengannya yang lain dengan cepat.
"Auww.." Angga terpekik. Meski ia sempat merunduk, namun sebagian cakar masih berhasil menggores kulit kepalanya.
Baru selesai Naya berteriak. Orangutan sudah bergerak kembali. Kali ini pedang dalam genggamannya ia ayunkan, yang secara otomatis membuat Angga ikut terlontar demi mempertahankan pedangnya.
BUKK..
Tubuh Angga membentur dinding gua. Entah kenapa aksi Angga kali ini terlihat kurang maksimal. Mungkin kelelahan fisik karena marathon sejak disekap Gino, bertarung dengan Gino, bertarung dengan Putri CEO, berlarian dihutan, hingga saat ini kembali bertarung melawan Orangutan. Tenaga Angga cukup terkuras. Sedangkan waktu istirahatnya sangat terbatas.
Orangutan kembali mendekat ketubuh Angga yang masih terkapar ditanah. Pedangnya terlontar entah kemana. Kini tubuh Angga diangkat tinggi dan dilemparkan dengan tekanan yang kuat.
BUKK
KRAKK..
Tubuh Angga terpelanting menghujam pepohonan dan semak belukar yang penuh perdu berduri.
Dilain sisi, Fikri maupun Beno nampak mampu mengimbangi serangan dari Orangutan. Malah terkesan seperti kucing-kucingan. Saat hewan itu berhadapan dengan Fikri, maka Beno akan mengusik dari sisi yang lain. Namun saat hewan itu menghadap kearah Beno, maka giliran Fikri yang akan mengganggunya. Alhasil, mereka lebih pantas disebut main kejar-kejaran dibanding disebut sebagai pertarungan. Orangutan yang sudah minim akal, semakin dibuat senewen oleh mereka.
Pak Bagas berkelebat membantu Angga. Jaka juga terlihat berlari kearah tubuh Angga yang tergolek menimpa ranting dan semak.
Menggunakan pedang Angga yang terjatuh, Pak Bagas beraksi lincah mengincar bagian kaki dari Orangutan. Beberapa kali Pak Bagas terlihat mundur mengambil jarak aman, kemudian kembali masuk menggunakan pertarungan bawah. Postur Orangutan yang cukup tinggi terlihat kesulitan meladeni permainan bawah. Beberapa kali pedang Pak Bagas menggores bagian kaki, namun seperti pejal karena terhambat tebalnya bulu gimbal tanpa mampu mencapai kulit sang hewan.
__ADS_1
Semakin lama, Pak Bagas semakin terkuras tenaganya. Segala upaya penyerangan seperti tak memilik arti apa-apa bagi lawannya.
"Yah..merunduk!!" teriak Lita kepada ayahnya.
SLAPP
...
...
GROAARHH..
Orangutan menggeram nyaring. Tahu-tahu sepucuk anak panah telah melesak dan menusuk mata kanannya.
Tak jauh dibelakang Pak Bagas yang masih menunduk, terlihat Lita tersenyum puas. Ditangannya tergenggam sebuah busur panah.
"Benoo..incar matanya!!" teriak Lita lagi dengan lantang.
BRASHH
Tak salah jika Beno memilih tombak. Batangnya yang panjang mempermudah Beno untuk melakukan penusukan. Sukses besar, kini telah menancap sebatang tombak dimata kiri lawan. Aksi Beno terlihat seperti seorang atlet lempar lembing profesional.
GROAARHH..
GROOHHH
Dua ekor Orangutan merasakan sakit yang luar biasa pada bagian mata mereka. Mereka melompat-lompat hingga menimbulkan kepulan tanah yang beterbangan.
Fikri dan Beno segera berlari membantu Jaka. Bertiga mereka membopong tubuh Angga yang masih tak sadarkan diri.
"Semuaa..larii!!" teriak Beno memberi instruksi, menggantikan Angga.
Dalam kawalan Pak Bagas dan Lita, para wanita berlari menyibak gelapnya hutan. Untungnya Sisi sempat menyulut obor saat melihat kondisi genting yang terjadi pada Angga. Menyusul dibelakang mereka, tiga pria juga berlari cepat sambil memanggul Angga.
Orangutan tak mengejar. Mereka lebih sibuk dengan rasa sakit dimata yang begitu mendera. Alih-alih mengejar, melepas panah dan tombak yang menancap dimata mereka saja sangat kesulitan.
Tim Angga menghentikan langkah ketika sayup terdengar suara kokok ayam hutan. Akhirnya mereka mampu bernapas dengan lega ketika pagi menyapa.
"Kita siapkan tandu dulu untuk membawa Angga. Setelah itu kita jalan lagi. Kalian tundalah rasa lapar dan haus hingga tiba di gubuk lagi. Kita harus segera merawat Angga.." Beno sebagai wakil dari Angga berusaha secermat mungkin mengambil tindakan dan keputusan.
--Disamping tubuh Angga yang terbaring, terlihat Naya terus saja menangis tiada henti.
__ADS_1
Bersambung ke next episode 🔜