
Setelah semua berdiskusi dengan matang, berhadiah kentut Beno yang cetor membahanoy. Selang 2 hari kemudian, tim Angga kembali berkumpul. Namun kali ini disertai kehadiran Pak Leo, Bu Sonia, dan juga Rendra.
"Naya secara pribadi sudah menceritakan hal ini kepada kami. Bagaimana Sukma dengan pasukannya, bagaimana Sisi dan Jaka, serta poin-poin atensi kalian di pulau tersebut. Khusus Sukma dan pasukannya, saya ada rencana tersendiri nanti. Namun saya belum bisa mengungkapkan sekarang karena harus berembuk dulu bersama Pak Kaaran dan Bu Lita. Yang jelas, saya pribadi merasa terpanggil untuk mengentaskan mereka dari keterpurukan." Ucap Pak Leo mengawali pertemuan sore itu.
"Kami saat ini fokus pada kondisi suku Lampard yang akan mendatangi kelompok Putri CEO, serta menemukan keberadaan Sisi maupun Jaka. Selebihnya, mengenai rencana Pak Leo, saya Tut Wuri Handayani saja.." Angga menanggapi.
"Apa rencanamu?"
"Kami perlu bantuan dari Pak Leo berupa armada Helikopter, akomodasi yang memadai, peralatan komunikasi yang tepat guna, serta persenjataan yang dibutuhkan," ungkap Angga.
"Tentu..tentu saja. Silahkan gunakan segala fasilitas yang ada. Rendra, tolong bantu Angga menyiapkannya!" perintah Pak Leo pada asistennya.
"Baik, Pak."
"Untuk semua anggota tim, apakah ada yang keberatan untuk kembali mendarat di pulau Mawar?" tanya Angga pada masing-masing personal yang terlibat.
"Saya sudah bilang ke Pak Rektor jika ingin selalu bersama tim. Sepertinya itu sudah cukup mewakili keseriusan saya," sahut Pak Bagas mantap.
"Lu tanya gua, bro?. Yang bener aja. Selama ada lu, gue ga mau ditinggal.." Beno ikut setuju.
"Kalian ga bisa melupakan gue begitu saja. Trio lestari, eh Trio gatoloco akan selalu solid, lengkap, dan bersahaja, sampai maut memisahkan kita!!"
PLAKK
"Ngomong apa sih lu, Ndro!!" Beno memukul bahu Fikri dengan jengkel begitu mendengar kata 'bersahaja' yang sungguh off-side dari konteks.
"Gue abis jadian, bro. Ga mungkin gue mau ditinggal begitu saja disini. Apalagi Naya, sohib terbaik gue juga ikut." Rena ganti memberikan tanggapan.
--Naya tersenyum senang mendengar namanya disebut Rena sebagai sohib terbaik.
"Tinggal mbak Lita nih. Apa bisa kerjaannya ditinggal lagi?" tanya Angga.
"Hahaha. Sebelumnya, saya sudah sepakat dengan Pak Kaaran dan juga William untuk sejenak meng-handle perusahaan saya selama kebutuhan tim memanggil. Lagipula, Ayah dan anu itu..juga ikut. Saya tak boleh berpangku tangan," Lita menjawab lugas sambil sedikit malu saat ingin menyebutkan nama Beno.
"Anu..anu apaan?!. Sama cowok sendiri masih juga malu-malu. Parahhh.." potong Beno sewot.
"Bukan malu sama kamunya. Itu tuh Pak Leo, saya kan sungkan!!" Lita membela diri.
"Halahh..Sungkan, sungguh-sungguh mengharapkan maksudnya?!" Beno mendelik galak, namun justru terlihat menggelikan mengingat baby face yang tersemat diwajahnya sungguh tak pantas untuk bergaya galak.
"Kapan rencana kalian berangkat kesana?" tanya Pak Leo lebih lanjut.
"Secepatnya. Mungkin besok atau lusa," jawab Angga.
"Kalian bisa membawa 1 Helikopter untuk tim. Saya tambahkan 1 Helikopter lagi berisi 7 sampai 10 orang pengawal terbaik untuk membantu disana. Saya rasa suku Lampard akan lebih ganas daripada pasukan Pablo," imbuh Pak Leo.
"Sepertinya tak perlu, Pak. 1 Helikopter saja sudah cukup," tampik Angga merasa tak enak jika terlalu merepotkan.
"Wohh..tidak bisa begitu. Disana akan ada anak saya dan calon menantu yang sedang dirundung bahaya. Saya tidak mau ambil resiko!"
"Cieeeh...mas menantu, lampu hijau menyala!" goda Beno mulai kumat dengan mulut kaleng rombengnya.
"Lampu hijau gundulmu!!. Diem lu Komodo sangee!" bentak Angga.
"Mentang-mentang ada camernya, trus langsung bentak-bentak gitu..ishh takuuutt!!" Beno semakin menjadi-jadi.
"Aw..aww..awww!!" Lita tak tinggal diam dengan mengirimkan cubitan maut disemua bagian bahu dan perut Beno.
__ADS_1
"Aduhhh..kejam nian dikau, Bebs. Jangan diperut dong cubitnya, kebawahan dikiiit!"
"Benooo!!"
Hahaha kadang Author itu herman sendiri, kenapa hampir disetiap akhir scene selaluuu saja Beno bikin ulah. Mungkin sudah bawaan dari orok jika Beno terlahir sebagai pria penghibur, penghibur bagi teman-temannya agar tidak terlalu spaneng.
***
Sukma terhenyak tatkala mendengar kebisingan diluar sana. Dua buah Helikopter bergantian mendarat di tanah lapang milik kelompoknya.
"Nayaaa..Renaa..Litaaa.." teriak Sukma senang dan segera berlari menyongsong kedatangan tamu istimewa tersebut.
Sejenak para wanita berpelukan. Mungkin sudah seperti itulah adanya wanita yang selalu mengekspresikan sebuah gejolak jiwa dengan sesama jenis melalui pelukan. Namun berbeda kasus jika itu adalah sesama pria atau pria bertemu wanita, masih ada kecanggungan untuk melakukan luapan emosi seperti itu. Meski memang ada sebagian pria yang melakukan hal tersebut karena memiliki keakraban yang lebih dalam.
Beno beranjak ingin ikut memeluk Sukma, namun dicegah oleh toyoran tangan Lita. "Awass, keganjenan!!" bisik Lita dengan sorot mata setajam silet.
"Next mau usul ke Author ahh. Bikin novel judulnya 'Galak-galak CEO' atau 'Kekasihku CEO galak' atau 'CEO wanita galak' atau.."
UUGGHHH..
Beno tak mampu melanjutkan kalimatnya saat siku Lita sudah mendarat syantik dirusuk kanannya dengan keras dan 'bersahaja', hehe.
"Ayo masuk dulu. Kita ngobrol-ngobrol didalam. Bapak-bapak yang lain silahkan beristirahat dulu di gubuk sebelah, biar disiapkan oleh rekan-rekan saya.." ajak Sukma dengan raut muka senang.
"Gimana urusan kalian dengan para penjahat itu?" tanya Sukma saat mereka telah duduk santai digubuk khusus tamu.
"Syukurlah sudah beres, Mbak. Semua pasukannya sudah diamankan yang berwenang. Sayangnya, pimpinan mereka kabur." Ungkap Naya mewakili teman-temannya.
"Syukurlah. Semoga pimpinan mereka tidak berlanjut menyusahkan kalian kedepannya,"
"Terimakasih, Mbak." Naya tersenyum cantik, secantik wajahnya, wajah sang dewi kampus yang sekarang sudah tidak ngampus lagi.
Tentu saja Sukma kaget. Bagaimanapun juga, meski tim lengkap, namun tanpa ada kehadiran Angga disana, itu akan membawa masalah serius untuk semua. Angga adalah napas bagi setiap pergerakan.
"Angga sejenak mendarat di pulau Biwian untuk menemui mbah Restu, karena dia sudah berjanji untuk kesana setelah masalah penjahat beres. Ia akan menghubungi untuk dijemput Helikopter jika urusan disana telah selesai," Naya menerangkan.
"Apa?!, mbah Restu?. Darimana Angga mengenal mbah Restu?" Sukma terperangah kaget.
"Iya mbah Restu. Tapi saya kurang paham sejak kapan Angga kenal mbah Restu. Apa mbak Sukma juga kenal dengan mbah Restu?" Naya bertanya balik.
"Tentu saja sangat kenal. Beliau guru yang mengajarkan beladiri kepada saya sejak kecil hingga kami akhirnya berpisah karena saya terdampar disini!" ucap Sukma antusias.
"Wahh..luar biasa. Berarti Angga sedang upgrade ilmu kanuragan nih disana," Fikri terbelalak.
"Entah apa yang akan mereka lakukan. Tapi saya sangat senang. Angga bertemu orang yang sangat tepat," imbuh Sukma.
"Ben..Beno!" panggil Fikri pada sahabatnya.
"Kenapa bro?" Beno menjawab.
"Ini sudah mau akhir scene, lu ga ngelawak lagi?" tanya Fikri seolah serius.
"Yaelah. Lu kira gue datang kesini jauh-jauh cuma buat ngelawak gitu?!" Beno mendelik sewot.
"Eh mbak Sukma. Setelah berpuasa tidak 'nganu' cukup lama. Apa mbak Sukma ga berasa adem panas gitu?, Hehe. Kalau mau, itu ada Pak Bagas. Duren tangguh yang siap dijadikan suami dan siap pula membuahi!!" nyatanya Beno kambuh juga.
"Benoooo!!!"
__ADS_1
***
"Terimakasih Nak Angga telah memenuhi janji untuk datang kembali kesini," ucap mbah Restu dengan wajah teduh.
"Sebenarnya saya cukup ragu awalnya, Mbah. Saya hanya menerima permintaan mbah Restu melalui alam bawah sadar tatkala saya koma. Jujur saja saya ragu tentang otentikasi permintaan tersebut," sahut Angga dengan sopan.
"Kamu bukan sekedar bermimpi, Nak. Mbah memang yang mengundangmu untuk datang. Itu benar adanya.." mbah Restu meyakinkan.
Sampai disini Angga cukup terpukau. Seorang tua didepannya ini tak hanya sekedar dituakan dan semata imam di masjid. Terlebih, kemampuan mbah Restu sungguh mumpuni dan diluar nalar manusia. Meski tak bisa dicerna oleh logika secara gamblang, namun hal ini nyata adanya. Dan justru Angga telah mengalami sendiri bersama mbah Restu. Kini Angga paham bahwa diatas ilmu ada ilmu. Dan dibalik ilmu itu sendiri, menyimpan sebuah rahasia ilmu yang jauh lebih hebat dari sekedar ilmu kasat mata.
"Kamu boleh merasa aneh, Nak. Namun bumi ini begitu luas. Indonesia saja tersebar dengan berbagai pulau dan suku bangsa lengkap dengan kelebihan yang dimiliki masing-masing. Akan selalu ada misteri diberbagai tempat dan keadaan. Lain ladang lain belalang, lain mulut lain giginya. Ada banyak orang hebat diluar sana. Contoh mudahnya, kamu ingat bagaimana para pahlawan melawan para penjajah?, ada yang kebal tembak, kebal bacok, bahkan mampu menghilang tak kasat mata. Itu bukan mitos atau isapan jempol belaka. Para pahlawan itulah bukti nyata bahwa ada kekuatan misteri yang mereka mampui. Atau kamu bisa lihat bagaimana orang bisa melakukan debus, atau juga penari reog yang santai saja makan beling. Ya memang ada juga yang menggunakan ilmu hitam dengan bantuan makhluk halus. Kita bisa memilahnya dalam batasan ilmu hitam dan ilmu putih. Sampai disini harusnya kamu bisa mencerna dengan baik." Mbah Restu menjelaskan dengan detail.
"Saya mengerti mbah. Tapi terus terang saya tidak tahu cara melakukannya," balas Angga.
"Oleh karena itulah aku mengundangmu kesini anak muda!. Ada hal yang ingin aku ajarkan kepadamu,"
"Beneran, Mbah?. Aduhh terimakasih banyak mbah Restu.." Angga mencium gembira punggung tangan mbah Restu sebagai ungkapan kegembiraannya.
"Kamu beristirahatlah dahulu. Kamar sudah disediakan. Beberapa jam lagi waktunya ibadah Dhuhur dan makan siang. Bergabunglah bersama mbah dimasjid sebelum kita makan bersama. Mungkin kamu ingin beradzan lagi seperti waktu itu!" ajak mbah Restu seolah seperti sedang berbicara dengan cucunya sendiri.
"Tentu saja paling favorit bagi saya untuk bisa adzan disetiap tempat baru yang saya singgahi," mata Angga berbinar.
"Kamu memang pemuda yang berbeda, Nak!" puji mbah Restu sebelum kemudian berlalu kekamarnya.
"Tapi disini tidak ada Beno, Mbah." Ujar Angga yang langsung membuat mbah Angga menghentikan langkahnya.
"Beno siapa?" Mbah Restu menoleh.
"Sahabat saya,"
"Kenapa dengan Beno?"
"Biasanya dia yang akan menutup scene dengan lawakan. Tapi sayangnya, dia tak ada disini sekarang!"
Mbah Restu melengos pergi karena tak paham dengan cara bercanda kaum muda jaman sekarang. Bagi mbah Restu, lawakan adalah saat terpingkal menyaksikan guyonan Punakawan pada sesi santai pewayangan. Atau mungkin merasa lucu saat melihat aksi pantomim Charlie Chaplin, bukan Charlie ST12 lho ya.
Hayoo, siapa yang tahu Punakawan dan Charlie Chaplin itu siapa, dan bagaimana ciri-cirinya?, tinggalkan jejak di kolom komentar yah.
***
Persiapan menuju pertemuan dengan suku Lampard telah dimulai oleh Sukma dan tim Angga. Angga juga akan meningkatkan kemampuan dengan bimbingan mbah Restu. Pak Leo juga memiliki rencana tersendiri untuk meningkatkan harkat hidup Putri CEO di pulau Mawar.
Ancaman yang masih perlu diwaspadai adalah kedatangan suku Lampard dan juga comeback-nya Pablo dari pelarian. Tak menutup kemungkinan akan datang ancaman lain bagi Angga dan timnya.
Selain itu semua, masih ada sekian banyak PR tentang kiprah selanjutnya dari keluarga Zoe & Zack dalam novel ini, aksi agen rahasia yakni Kapten Kavka dan Yulfi, masa depan Angga dan tim setelah lulus kuliah, nasib Putri CEO di pulau Mawar, kelanjutan hubungan para pasangan dalam novel ini, nasib Sisi dan Jaka, dan lain sebagainya.
Tak ada gading yang tak retak. Tak ada Beno yang tak somplak. Begitu juga dengan novel ini yang masih jauh dari kata sempurna. Author memohon maaf atas segala kekurangan novel "Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO". Episode berikutnya adalah episode terakhir menuju kata 'Tamat'.
---
Menuju episode terakhir 🔜
^^^Salam sehat selalu,^^^
^^^DPKBPC @2021^^^
__ADS_1
^^^FigurX Productions^^^
***