
"Nayaaa..." seorang wanita paruh baya berlari menyambut kedatangan tim Angga.
Sonia, Mama dari Naya terlihat sangat bersuka cita tatkala dapat kembali memeluk anak semata wayangnya tersebut. Sonia adalah sosok Mama yang modis. Diusianya yang tak muda lagi, ia masih terlihat berdandan glamor demi mempercantik diri. Yah, namanya istri CEO kelas wachid, tentu saja tak ingin terlihat buruk dihadapan masyarakat. Nampaknya Naya lebih menurun dari wajah Papanya, berikut sikap kalem dan tidak berlebihan yang melekat pada sang Papa. Naya hanya berdandan apa adanya tanpa harus terlihat glamor, namun tetap terlihat cantik dan elegan. Sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Mamanya.
"Anakku..kamu dimana aja selama ini?!. Dan siapa mereka ini?" tanya Sonia menunjukkan wajah khawatirnya.
"Ceritanya sangat panjang, Ma. Oya mereka teman-teman dari kampus Naya. Aku laper banget, Ma. Bisakah kita bercerita sambil makan?" Naya memelas.
"Ajak mereka makan. Dari melihat tampang, sepertinya mereka orang susah semua. Sekali-kali makan disini, anggap saja kita sedekah ke fakir miskin," Naya mendengus kesal mendengar kalimat sombong Sonia.
"Naya disergap pasukannya Pablo saat feri membawa mereka kembali dari pulau Biwian. Peristiwa dilaut itu tak didengar masyarakat sama sekali. Kemungkinan besar Pablo memberikan ancaman sehingga awak kapal memilih untuk menyembunyikan kasus tersebut." Pak Leo membuka cerita saat mereka usai menyelesaikan acara makan bersama di meja makan super jumbo rumah keluarga Naya yang selebar lapangan badminton.
"Untungnya teman-teman Naya menyembunyikan Naya dan membawa kabur menggunakan sekoci. Tapi sayang, sekoci itu terbawa ombak hingga mereka terdampar disebuah pulau kecil. Disana banyak kesulitan, Ma. Mulai dari ular berbisa, hewan buas, suku primitif, hingga serbuan pasukan Pablo yang mengendus keberadaan Naya disana. Berkat kehebatan Nak Angga memimpin tim dan melindungi Naya, anak kita bisa pulang kembali," lanjut Pak Leo menunjukkan tatapan simpatik terhadap Angga dan tim.
"Halahh..lagu lama itu, Pa. Paling habis ini mereka minta bayaran. Namanya juga orang susah, iya kan?!" tatapan merendah dari mata Sonia ditambah senyuman sinis membuatnya mirip seperti tokoh mertua antagonis di sinetron-sinetron.
"Mamaa. Kok gitu sih Mama ini. Udah deh jangan diterusin sikap kayak gitu," Naya sewot.
"Mama ini bukannya berterimakasih, malah ngomong gitu sih," imbuh Pak Leo membela Naya.
"Kalian berdua ini terlalu lembek. Mudah diperdaya orang jadinya. Lihat tuh Pablo, buah dari ketidakberdayaan Papa dalam bersikap tegas. Dulunya Pablo juga orang miskin seperti mereka ini. Tapi apa kebaikan Papa dibalas baik juga sama Pablo?" cibir Sonia.
"Ehmm maaf jika kehadiran kami malah membuat keluarga ini bertengkar. Ada baiknya kami mohon diri saja. Lagipula kami juga sudah rindu dengan keluarga," Angga menengahi.
Sejujurnya Angga kembali minder saat mendengar ucapan Sonia. Ia memang dari keluarga sederhana, berbeda jauh dengan keadaan keluarga Naya. Disisi lain Angga juga merasa tersinggung karena Sonia begitu mudahnya merendahkan orang tanpa belas kasihan.
"Hahaha santailah Nak Angga. Beristirahat dulu barang sejenak disini. Mandi dulu, bersihkan diri, agar nanti bertemu keluarga dalam keadaan fresh. Sepenuh hati saya sungguh berterimakasih atas segala bantuan Nak Angga pada anak kami. Biarkan kami sedikit memberikan pelayanan sebagai bentuk rasa terimakasih.." Pak Leo mencoba menenangkan, karena ia paham reaksi Angga yang menunjukkan ketersinggungannya.
"Sudah menjadi kewajiban kami saling membantu sesama, Pak. Apalagi teman sendiri seperti Naya," Angga menjawab dengan sopan.
__ADS_1
"Teman apa teman? Hahaha. Saya lihat kalian tidak sekedar sebagai teman. Apa kamu tidak ingin bersama Naya dulu disini menikmati kedamaian tanpa ancaman bahaya?" goda Pak Leo yang sepertinya memberikan lampu hijau atas hubungan keduanya.
"Apa Pa?!. Maksud Papa, mereka berpacaran gitu?" Sonia tersentak.
"Tanyakan sendiri ke mereka, Ma!" jawab Pak Leo terkesan cuek bebek.
"Pokoknya Mama ga setuju jika Naya berhubungan dengan orang-orang seperti mereka. Apa kata teman-teman arisan Mama nanti kalau tahu Naya berpacaran dengan orang dari kelas rendahan?!. Mau ditaruh dimana muka Mamaaa?" Sonia mendelik emosi.
"Mamaaa!. Mama kok gitu sih.." Naya ikut terpancing emosinya.
"Kamu itu anak Mama satu-satunya. Calon penerus perusahaan Papa. Kamu juga akan melahirkan generasi penerus untuk menyambut tongkat estafet kepemimpinan perusahaan. Bagaimana kamu bisa memilih orang ga jelas untuk membantu istrinya memimpin perusahaan sebesar ini?. Belum lagi nanti keturunan tak berkualitas yang akan kamu lahirkan. Kamu mbokyao mikir to, Nay. Jangan cuma mikir cinta-cinta saja. Hidup ini tidak hanya butuh cinta. Apa yang kamu harapkan dengan mencintai pria tak bermutu seperti itu, Hahh?!. Coba jelaskan ke Mama. Mama pengen dengar bagaimana pembelaanmu!" mulut Sonia terus saja menyemburkan kalimat-kalimat sepedas boncabe level 30.
"Mama tidak ingat, Mama dulu berasal dari mana?. Saat itu yang kaya cuma Papa kan?. Jawab Ma..jawab!!" Naya menangis pilu merasakan hatinya yang remuk redam.
"Kamu ga berhak menghakimi Mama seperti itu!. Meski dulu orangtua Mama orang sederhana, tapi kakekmu punya darah priyayi. Ningrat ga bisa disamaratakan dengan kasta rendahan," Sonia berdiri dan berteriak dengan lantang.
"Cukup. Cukup, Bu!. Saya sebenarnya tidak ingin merendahkan istri dari rekan bisnis saya. Tapi panjenengan (anda) sudah sangat keterlaluan. Anda juga tidak berhak menghakimi orang lain seenak JIDAT anda sendiri!!" Lita sontak berdiri dan menyambut kemarahan Sonia.
--Perlakuan Sonia sudah terlalu jauh meninggalkan etika berbicara dan menghargai orang lain.
"Kamu siapa, Hahh?!. Berani-beraninya orang miskin menghardik wanita berkelas seperti saya.." Sonia terus dan terus saja mengeraskan urat syaraf dengan segala keangkuhannya.
"Dia CEO seperti Papa," ujar Pak Leo pendek.
Sonia langsung bungkam. Sejenak ia berpikir tentang langkahnya yang terlalu fatal. Ia tak mengira akan ada CEO lain dimeja makan itu selain suaminya.
Naya yang tersedu, berlari kecil kekamarnya. Rena ikut menyusul sahabatnya itu untuk menenangkan. Sonia yang terlihat malu, segera berbalik badan dan juga berlari kekamarnya. Tersisa Angga, Pak Leo, dan beberapa lainnya yang menatap kejadian itu dengan ternganga. Begitu rumitnya kehidupan kaum jetzet.
Kehidupan. Begitu penuh dengan dinamika dan kejutan. Tak hanya singa betina dihutan belantara yang akan membawa bahaya. Singa rumahan semacam Sonia juga merupakan jenis bahaya dalam bentuk lain. Apalagi singa yang satu ini sudah berkongsi dengan pabrik sambel super pedas untuk memproduksi ucapan yang lebih tajam daripada silet.
"Kamu jangan tersulut, Angga. Bu Lita juga saya mohon untuk kembali tenang. Biar Sonia, saya yang urus. Mohon maafkan mulut istri yang lebih parah daripada pedihnya ucapan netizen.." Pak Leo tertunduk malu.
__ADS_1
"Haha..tak masalah, Pak. Sudah biasa kami menghadapi berbagai kesulitan," Angga menjawab diplomatis.
"Itu tantangan buat kamu Nak Angga. Singa betina saja bisa kamu jinakkan. Sekarang giliran singa rumahan yang perlu kamu luluhkan. Tapi kamu tenang saja, saya ada dibelakangmu. Terlepas dari segala permasalahan ini, saya melihat sesuatu yang berbeda dari tatapan matamu. Kamu bukan orang sembarangan," sahut Pak Leo dengan tatapan serius.
"Sudah, Pak. Jangan diteruskan. Kepalanya Angga semakin membesar tuh.." Fikri angkat bicara, mencairkan suasana.
"Aiihh sebentar. Ada sesuatu yang sepertinya kalian rindukan. Bii..Bibi Sum. Tolong buatkan kami kopi. Sama Jus buah buat Bu Lita dan Rena.." Pak Leo tersenyum penuh arti.
"Aahh..kalo inget kopi, gue jadi inget Jaka," keluh Beno sok melow.
"Hahaha..Jaka masih inden kopinya. Semoga nasib baik bisa mengantarkannya untuk kembali menikmati kopi di kemudian hari," Pak Bahas terbahak.
"Saya permisi menemani Naya juga.." Bu Lita mohon diri.
"Kalau begitu kaum adam bisa bergeser keruang santai. Kita ngopi dulu disana yuk," Pak Leo berdiri, diikuti semua pria lainnya.
Pembaca..
Kita ngopi dulu yuk sambil menunggu update episode berikutnya 🔜
^^^Salam semvak,^^^
^^^DPKBPC @2021^^^
^^^FigurX Productions^^^
***
Warning ⚠️ Author tidak pernah memungut bayaran uang dari pembaca. Author hanya mengharap kerelaan pembaca memberikan LIKE 👍 sebagai bentuk nyata dari apresiasi dan dukungan.
***
__ADS_1