
Perjalanan adalah perjuangan,
Rintangan sebagai dinamika,
Tak ada perjuangan yang mulus,
Tak ada penderitaan yang berjalan terus,
Silih berganti sebagai warna.
Hidup adalah anugerah,
Menjaga,
Merawat,
Mempertahankan,
Bukan menyerah.
Jerit dan tangis,
Tawa dan ceria,
Dunia tercipta untukmu,
Kau bebas menjadi apa yang kau mau,
Bagai pelukis alam,
Torehkan karya sebagai makna.
...
"Wahh..bagusnya. kamu selalu puitis gini ya setiap saat?" Naya takjub mendengar lantunan puisi spontanitas Angga.
"Hehe. Aku memang hobi menulis puisi. Terkadang juga suka menyanyi dan menulis novel," timpal Angga.
__ADS_1
"Wihh..bener-bener Pujangga. Suka puisi, suka nyanyi, suka bikin novel pula. Cowok kayak kamu biasanya tergolong cowok romantis lho.." sambut Naya ceria.
"Oyaa?!" Angga tersenyum memperlihatkan putih giginya yang berderet rapi seperti pagar kabupaten.
Mereka berdua sedang berjalan berkeliling disekitaran area gubuk. Pasca kejadian munculnya Singa, Angga menjadi lebih waspada.
Pagi itu ia berkeliling untuk berpatroli. Tak disangka, Naya menawarkan diri untuk ikut membantu. Angga akhirnya memperbolehkan Naya ikut. Mengingat kondisi cukup aman, lagipula mereka tidak akan berkeliling jauh. Hanya berkisar radius 100 meter dari gubuk.
"Kamu belajar beladiri sejak kapan, Ngga?" tanya Naya. Mereka sedang berjalan bersama menyusuri semak yang tak terlalu rimbun.
"Sejak kecil. Sekitar usia 5 tahun aku sudah dikenalkan ilmu beladiri oleh kakekku. Awalnya dulu kakek berharap bisa menurunkan ilmunya pada ayah. Ternyata ayah tak begitu tertarik pada beladiri. Beliau lebih suka dalam hal kreativitas, berkarya membuat sesuatu," ungkap Angga mengenang masa lalu.
"Kakekku dulu pelatih pencak silat bernama Tapak Murni. Beliau sangat tersohor dikampungnya. Hanya beberapa orang dikampung yang bisa menandingi kemampuan kakek. Kadang aku juga diajak kakek untuk menjelajah hutan, belajar hidup di alam liar, berenang disungai, naik gunung. Itu dilakukan kakek dalam upaya mengasah instingku." Lanjut Angga.
"Wah udah lama berarti kamu belajarnya. Pantesan mahir pake banget," puji Naya sambil tersenyum cantik. Wajahnya yang ceria menambah aura keindahan dalam senyuman itu.
"Iya. Tapi aku tak seperti kakek yang mengabdikan ilmu untuk melatih orang, membantu kampung dari gangguan begal, atau sejenisnya. Sampe SMA aku hanya sibuk tawuran. Meski aku tergolong mahir, tapi tak ada satupun prestasi yang membanggakan. Bahkan ketika masuk kuliah, aku mengubur kemampuanku agar tidak terlihat mencolok di kampus. Aku hanya ingin menjadi sarjana dan membanggakan orangtua," Angga tersenyum kecut.
"Semua itu karena peluang. Waktu sekolah, peluangmu hanya ada pada tawuran. Saat kuliah juga kamu tak ada niat untuk mengambil peluang. Padahal dikampus juga ada banyak kontes beladiri. Tapi disini, kamu telah mengambil peluang itu. Kamu menolongku, melindungiku. Prestasi tak harus terlihat secara nyata dan membanggakan diri didepan semua orang. Bagiku, prestasimu sangatlah besar. Kamu pendekar terbaik di pulau ini. Bahkan jawara dari manapun belum tentu bisa berjuang sebaik kamu disini," ucap Naya memberikan pandangan berbeda.
"Hahaha..itu hanya naluri. Aku tak suka melihat kejahatan dan penindasan," Angga tersenyum.
Sejenak mereka berhenti dibawah sebatang pohon rindang. Mata mereka saling menatap, menahan gejolak yang belum juga terungkapkan secara nyata.
Naya sudah memejamkan matanya. Menunggu dengan gemetar tentang apa yang akan dilakukan Angga setelah ini.
Bibir mereka hampir bertemu. Namun dengan cepat Angga melakukan kontrol atas sikapnya. Kedua tangan Angga menelangkup pelan di kedua pipi putih Naya. Sejenak kemudian Angga mengecup lembut kening sang dewi ayu.
"Tunggu sebentar disini, jangan kemana-mana. Aku akan segera kembali!" ucap Angga menutupi kegugupannya. Naya juga nampak tersipu malu. Hatinya demikian melambung menerima perlakuan gentle nan lembut dari Angga.
Naya masih terdiam sendiri dibawah pohon dalam waktu beberapa menit. Tak lama kemudian Angga kembali muncul dari balik pohon dengan membawa setangkai bunga liar. Bunga yang cantik dengan kelopak kemerahan dan bau yang wangi.
Perlahan Angga menyelipkan bunga tersebut diatas telinga Naya.
"Bunga cantik untuk dewi yang cantik," bisik Angga yang kemudian meraih tangan Naya untuk kembali berjalan bersama menyusuri hutan.
Berbeda dengan sebelumnya, kini setiap berjalan, mereka tak lepas dari bergandengan tangan. Hati Naya sungguh senang menerima keharmonisan yang diberikan Angga.
"Angga..terimakasih," ucap Naya tersipu sambil sesekali melirik wajah tampan yang ada disampingnya. Angga hanya menjawab dengan satu cubitan kecil pada hidung Naya, membuat Naya semakin lumer meleleh tak karuan.
Waktu sudah berjalan beberapa lama dari sejak mereka meninggalkan gubuk. Anggota tim lainnya, saat ini sedang bergotong-royong memperkuat bangunan gubuk agar lebih aman dalam melindungi mereka dari berbagai gangguan. Tim juga akan membuat pagar kayu yang mengelilingi gubuk. Segala upaya dilakukan untuk kenyamanan bermukim. Karena semua tak tahu kapan mereka bisa kembali pulang.
__ADS_1
Memang Angga ini kurang ajar yah pembaca. Disaat teman-temannya sibuk memperbaiki gubuk, Angga dan Naya malah sibuk berpacaran sendiri hehe.
Sebenarnya Angga telah membagi tugas masing-masing. Angga memilih berpatroli karena dialah yang paling mahir dalam ilmu beladiri dan mengenal alam. Mungkin selain Angga, hanya Pak Bagas yang bisa dianggap mampu untuk berpatroli. Meski terkesan remeh dengan berjalan-jalan keliling, namun sesungguhnya sangat sarat akan resiko dan bahaya. Apapun bisa terjadi dihutan. Binatang buas model apapun bisa saja muncul setiap saat, belum lagi kekhawatiran pada keberadaan suku pedalaman, ditunjang medan tempuh yang tak bisa dibilang mudah.
Beberapa sinyal kedekatan diantara beberapa personel tim juga mulai terlihat. Rena secara bertahap terlihat mulai mencuri perhatian Fahri. Disisi lain Beno, yang sepertinya tertarik pada Rena menjadi gigit semvak. Ada juga Jaka yang berusaha mencuri perhatian Sisi. Terlihat, Sisi juga membuka hati untuk Jaka. Beberapa saat terakhir, Angga merasakan adanya perhatian berlebih dari Lita. Pun Naya juga mengamati itu. Namun kedekatan Angga dan Naya memberikan rambu tersendiri bagi upaya Lita. Pak Bagas, Pak Herson, dan Bu Mayang hanya memandang dengan tersenyum setiap interaksi yang terjadi diantara muda-mudi disana.
"Ngga, kamu sudah pernah punya pacar sebelumnya?. Atau bahkan sekarang sudah punya tapi aku belum tau.." Naya kembali berucap setelah keduanya beberapa saat bergandengan dalam diam.
"Aku..hehe. Emang penting buat kamu?. Apa kamu takut punya pesaing gitu? Hehe," goda Angga.
"Anggaaa..hmmm. Udah jawab aja, ribet amat!" Naya merajuk manja. Bibirnya terlihat manyun menutupi rasa malu berpadu dengan gejolak keingintahuan.
"Masih orisinil ini, Bu. Belum pernah buka segel," jawab Angga seolah pedagang handphone yang sedang menawarkan dagangannya.
"Yee..emang handphone?!. Pake segel segala.." sergah Naya sedikit sewot.
"Nah..mulai deh keliatan bawelnya..hahaha," Angga mencubit pipi Naya dan berlari menjauh.
"Anggaa!!" Naya mengejar.
Namun beberapa saat berlari, tiba-tiba Angga menghentikan langkahnya. Naya sudah berhasil menyusul dibelakang Angga, namun menerima isyarat dari Angga untuk diam.
"Sstt..diam dulu. Ada suara dan gerakan mencurigakan didepan sana," bisik Angga. Naya ketakutan dan bersembunyi dibalik punggung Angga. Ia khawatir Singa itu akan kembali dan membalas dendam. Naya juga khawatir pada ancaman binatang lainnya.
Beberapa meter didepan mereka, terlihat semak-semak bergerak. Terdengar beberapa langkah cukup berat. Suara ranting-ranting patah karena terinjak dan dedaunan yang bergesek akibat terdorong sesuatu semakin membuat hati Naya mengkerut.
"Aku takut.." Naya menggamit erat lengan Angga.
"Tenang, Sayang. Aku akan melindungi kamu, apapun resikonya," Angga berusaha menenangkan dengan meletakkan tangan lainnya diatas tangan Naya yang masih mengait erat dilengannya.
"What's?? Sayang?!" jantung Naya berdegup kencang. Hatinya berkecamuk antara takut dan bahagia.
Untuk pembaca yang menyukai cara menulis Author di novel ini, yuk mampir juga dikarya Author : DUA DEWI
__ADS_1
Mohon dukungan dan ramaikan.
Terimakasih.