
2 Minggu kemudian..
Naya sedang terpekur meratapi kesendirian. Airmata tiap hari seperti sudah menjadi langganan untuk singgah dipipinya yang seputih pualam. Author sempat ingin menyarankan kepada Naya, lebih baik abonemen airmata curah kiloan saja daripada harus lelah menangis setiap hari. Namun niat itu diurungkan oleh Author mengingat bab ini adalah bab sedih yang tidak pantas kiranya diselingi dengan candaan.
...
Hadirmu,
Canduku.
Sapamu,
Hasratku.
Senyummu,
Bahagiaku.
Saat tak ada,
Retak cermin didada,
Remuk redam rasa,
Tergolek cinta.
Rindu,
Melayang tak tentu,
Kalbu meratap galau,
Ingin terbelenggu,
Pilu.
Butiran ini,
Karena hati,
Tak mampu berseri.
Menunggu,
Bagai sewindu,
Menatap sendu.
Engkaulah sayap jiwa,
Tanpamu aku merana.
...
Dalam sedihnya, Naya memandang jauh kedepan. Melintas didepan matanya, lamunan tentang sketsa-sketsa kisah perjalanan bersama Angga selama ini. Betapa hebatnya Angga saat berjuang demi Naya dan tim di pulau Mawar. Bagaimana upaya Angga bertaruh nyawa menghadapi berbagai bahaya, baik yang datang dari manusia maupun binatang. Namun apalah daya, kini Naya tinggallah sendiri menjalani hari penuh sebak didada nan perih tak terperi.
---
Flashback on
__ADS_1
Kejadian 2 minggu yang lalu..
"Pasien mengalami luka tembak pada bagian dada sebelah kiri, letak dimana jantung berada. Kami akan berupaya yang terbaik untuk keselamatannya. Hanya saja, kecil kemungkinan pasien dapat bertahan lebih lama jika peluru telah bersarang dijantungnya. Tabahkan diri, hadapilah segala kemungkinan yang bisa terjadi," ucap Dokter yang menangani Angga.
"Baik, Dok. Kami berharap yang terbaik untuk teman kami.." balas Beno cepat.
"Oya. Tolong lakukan transfusi darah bagi kerabat atau teman yang berkenan mendonorkan darahnya. Pasien memerlukan persediaan darah yang cukup untuk proses operasi pengangkatan peluru, sedangkan stok darah di rumah sakit ini terbatas. Komunikasikan dengan suster untuk golongan darah yang dibutuhkan," lanjut sang dokter sebelum kemudian pergi melanjutkan pekerjaannya.
Kemungkinan hidup bagi Angga begitu tipis. Kembali ia harus menjalani koma tepat seperti yang terjadi saat di pulau mawar. Namun berbeda dengan saat dipulau, kondisi Angga kali ini jauh lebih kritis. Mustahil bagi siapapun dapat hidup kembali setelah jantungnya mengalami luka tembakan.
Tak hanya Naya, Beno dan yang lainnya begitu kalut mendapati kondisi Angga yang seperti ini. Namun mereka tetap berusaha tegar menerima kenyataan yang ada. Mereka harus mampu bersabar menerima keadaan terburuk sekalipun.
Diujung lorong rumah sakit terlihat Kapten Kavka dan Yulfi juga masih setia menemani proses penanganan Angga. Dikota itu, kota Malam, Angga tergolek tak berdaya diujung maut.
Flashback off
---
"Nonaaa..nona. Pasiennya siuman!" teriak seorang suster memanggil Naya yang sedang terduduk sendiri dikursi taman Rumah Sakit kota Malam.
Tergopoh-gopoh Naya menghampiri pujaan hatinya yang tengah dibantu suster untuk duduk dibibir tempat tidur.
"Kamu sudah sadar, Sayang. Aku sangat khawatir..hiks hikss," Naya tersedu bahagia.
"Apa yang sudah terjadi?. Aku hanya ingat terakhir kali saat tertembak. Setelah itu aku merasa seperti tertidur lelap sampai sekarang baru bangun." Ucap Angga.
"Waktu itu kamu tertembak didada sebelah kiri. Kamu tahu kan kalo dada kiri itu letaknya jantung?. Aku sudah ketakutan setengah mati. Hingga akhirnya dilakukan operasi pengangkatan peluru didada kamu. Tapi ternyata syukurlah, peluru hanya merobek lapisan kulit dan daging, namun tidak mengenai jantung. Peluru bersarang ditubuh kamu, hanya terpaut sekian milimeter dari jantung. Tapi karena kondisimu lemah dan sempat kekurangan darah, kamu koma selama 2 minggu ini. Ohh Angga sayang, aku bahagia banget bisa lihat kami sadar kembali.." sahut Naya dengan berkali-kali mengusap airmata yang membanjir dipipi.
"Bagaimana dengan yang lain? Apa semua selamat? Trus Pablo gimana? Siapa yang berdonor saat aku kekurangan darah? Pak Leo kemana?" Naya dicecar dengan berbagai pertanyaan oleh Angga.
"Semua selamat kok. Kamu sedang berada disalah satu rumah sakit kota Malam. Teman-teman dan juga Papa sudah kembali ke kota Grassick. Secara bergantian mereka datang kesini setiap harinya untuk membantuku menemani kamu. Hanya Kapten Kavka berikut beberapa pasukan elit yang selalu stand by di rumah sakit ini untuk memberikan penjagaan. Semua pengawal Pablo sudah diamankan pihak berwajib. Pasukan elit Kapten Kavka tepat waktu datang karena Pak Kaaran sempat membagikan lokasi kepada Kapten Kavka. Sayangnya Pablo kabur. Untuk pendonor darah kamu, ada seorang wanita baik hati bernama Yulfi. Aku kurang paham tentang siapa Yulfi. Yang jelas, dialah yang membantu Pak Kaaran melawan pasukan Pablo di kebun apel. Beliau juga yang telah mendonorkan darahnya untuk kamu, karena dari semua teman yang ada, hanya darahnyalah yang cocok dengan golongan darahmu." Terang Naya panjang lebar.
Beberapa jam kemudian secara mengejutkan, semua anggota tim termasuk Pak Leo dan Sonia datang berduyun-duyun ke rumah sakit tempat Angga dirawat. Kemungkinan besar Naya telah mengabarkan tentang Angga yang sadar, sehingga seluruh tim datang menyambut kebahagiaan itu.
"Ishh..Beno, mulai dehh!!" tegur Rena merasa tak enak hati karena melihat Naya yang masih berwajah sembab.
"Bukan. Gue bangun karena kangen sama celoteh lu yang sakau!!" jawab Angga berusaha santai.
--Beno menjulurkan lidahnya dengan wajah tanpa dosa.
"Angga. Perkenalan, ini Kapten Kavka. Beliau adalah sahabat Pak Kaaran dari pihak yang berwajib. Beliau dan anggota kepolisian lainnya yang telah meringkus pasukan Pablo. Sayangnya, Kak Yulfi yang telah membantu Pak Kaaran tidak bisa ikut hadir karena sibuk mengirim berkarung-karung apel ke kotanya. Rencananya, beliau ingin berjualan buah sebagai sambilan pekerjaan. Pak Kaaran juga kembali ke kotanya karena sibuknya pekerjaan." Ujar Naya.
"Halo, Angga. Selamat ya sudah berhasil melalui masa-masa kritis. Dan terimakasih sudah membantu pihak yang berwenang,"
sapa Kapten Kavka ramah.
"Terimakasih, Pak. Justru saya yang merasa berhutang budi karena sudah ditolong. Bahkan dirawat secara intensif di rumah sakit ini." Jawab Angga sungkan.
"Saya tinggal di Malam. Meski saya bertugas kesana-kemari, namun disinilah saya lahir dan dibesarkan. Sebagai tuan rumah, sudah seyogyanya saya mengapresiasi kehebatan kamu dan tim dalam mengatasi penjahat sekaliber Pablo.." Kapten Kavka masih dengan pendiriannya.
TOK TOK
TOK
"Permisi.." tiba-tiba Yulfi yang sebelumnya sudah berpamitan pulang, muncul di ambang pintu kamar rumah sakit.
"Lho kamu kok kembali lagi?!. Katanya kemarin buru-buru mau merintis usaha jualan buah?!. Oya Angga. Kenalkan, dia Kak Yulfi. Salah satu anak buah dikesatuan saya yang paling diandalkan. Dia juga yang datang membantu Mas Kaaran disaat kondisi genting diperkebunan apel kala itu," Kapten Kavka menatap kearah pintu dimana Yulfi berada.
"Ahh ya. Maaf bukan kenapa-kenapa sih. Saya balik sebentar, cuma mau menanyakan sesuatu. Buat bahan acuan saya.." ujar Yulfi sedikit malu-malu, Kucing!.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Apel sekilo berapa?"
GUBRAKK!!
#+&+#)!(@&/(!;*#..
***
"Angga.."
"Ibu mohon maaf atas segala kelakuan tak pantas selama ini. Tak seharusnya Ibu merendahkan orang dan berlaku sombong. Ibu sangat malu," Sonia tertunduk malu.
"Jangan malu-malu, Kucing!" serobot Beno yang langsung dipotong cepat oleh Angga.
"Husss!!"
"Namanya manusia, tempatnya khilaf dan alpa. Sudahlah, tak perlu Ibu pikirkan. Yang lalu biarlah berlalu. Saya sudah memaafkan kok. Baiknya kita isi langkah kedepan dengan semangat baru dan kerukunan," balas Angga.
"Kok Ibu?. Mama!!" potong Sonia yang sontak menimbulkan tanya dibenak semua yang ada disana.
"Mama merestui hubungan kalian," imbuh Sonia yang langsung disambut gegap gempita oleh Angga, Naya, serta semua yang ada (hehe, gegap gempita seperti rakyat Indonesia menyambut kemerdekaan).
--Angga langsung guling-guling dilantai, padahal luka jahitan didadanya belum kering.
--Alhasil, terjadi pendarahan lagi disana.
--Tapi Angga tak apa-apa, biar sakit, biar berdarah, yang penting cintanya bermasa depan terang benderang hahaha.
"Ishh..kamu iih. Udah tau belum sembuh malah guling-guling geje!" Naya mencubit gemas lengan Angga.
"Sebaiknya Nak Angga kita bawa pulang ke Grassick saja. Tinggal penyembuhan luka, bisa dilakukan dengan rawat jalan. Dokter keluarga juga ada. Agar bisa mempermudah komunikasi dan perawatan daripada kita harus hilir-mudik kesini," tukas Pak Leo.
"Mondar-mandir, Pak. Bukan hilir-mudik!!. Seperti mudik lebaran ajah," cerocos Beno seperti biasanya.
"Hahaha..Benooo, Beno. Saya suka setiap caramu bercanda. Semua jadi terasa fresh dan ceria. Jauh berbeda dengan masa-masa sebelum ketemu kalian. Suram, hahaha.." Pak Leo tergelak.
"Serius ini, Pak. Bukan becanda!" Beno memicingkan mata.
"Mungkin!!" jawab Pak Leo sebelum kemudian melangkah pergi bersama Sonia untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit.
"Selamat jalan, Angga!. Semoga lekas sembuh. Setelah sembuh total, hubungi saya kembali. Ada hal yang perlu kita bicarakan serius," ujar Kapten Kavka.
"Tim kita mau direkrut seperti Kak Yulfi ya Pak Kapten?" mulut Beno kembali hadir merusak kedamaian dunia.
"Wadowww!!. Vangsaaadhh. Ashoooh!!" jeweran keras Lita dikuping Beno menjawabnya.
---
Pembaca ter-zahudd,
Maafkan Author yang agak telat Up nya. Kerjaan numpuk banget. Mohon bersabar menunggu.
Bersambung yes 🔜
^^^Salam hore,^^^
^^^DPKBPC @2021^^^
^^^FigurX Productions^^^
__ADS_1
***