Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 59 : TPS (Tim Penyelamat Sonia)


__ADS_3


Kepada semua pembaca setia novel ini,


Author mohon maaf kemarin tidak bisa update lanjutan. Author sedang mengalami musibah. Kakak dari Author meninggal dunia. semoga dapat dimaklumi.


Alhamdulillah hari ini sudah bisa update lagi.


Hepi reading..


 


Hari telah gelap. Hingga mendekati pukul 20.00 Pablo belum juga menghubungi kembali. Pak Leo dan Naya menjadi risau dibuatnya.


Malam itu Pak Leo yang masih cukup lemah terpaksa beranjak ke peraduan karena rasa kantuk yang begitu kuat mendera. Tim Gitoca kembali bermalam dirumah tersebut untuk kedua kalinya. Mereka dalam kondisi siaga menunggu kabar selanjutnya untuk bergerak. Jika tak ada kabarpun, mereka akan berinisiatif langsung bergerak esok hari.


"Kenapa kloningan Juan Pablo Montoya ga ngehubungin lagi ya?" ucap Beno dengan wajah penuh tanda tanya.


"Mungkin dia masih sibuk arisan, aerobik, spa.." jawab Fikri seenaknya.


"Dia itu cowok, Dodol!. Lu kira emak-emak sosialita gitu?!" sembur Beno dongkol.


"Ya kali aja kan. Secara, orang stress kan dia. Wong edan kuwi bebas (orang gila itu bebas) kalo kata Nella Kharisma," canda Fikri.


"Bro, ada tamu didepan. Bos kan lagi tidur. Baiknya lu sama gue aja yang nemuin. Siapa tahu ada solusi untuk kesulitan Bos Leo.." Rendra muncul dan memanggil Angga.


"Baiklah. Tapi sama Naya juga. Dia kan tuan rumah disini," Angga berdiri mengikuti langkah Rendra setelah sebelumnya mengajak Naya turut serta.


"Selamat malam. Saya rekan bisnis Pak Leo. Perkenalkan, nama saya Kaaran Dirga. Ini istri saya, Rania. Dan ini asisten saya, William. Tentu Rendra sudah mengenal kami karena seringnya perusahaan kami bekerjasama bersama Pak Leo," ucap pria tampan penuh karisma namun bukan bernama Nella Kharisma.


(Bagi yang belum tahu siapa itu Kaaran Dirga. Silahkan baca Novel : Anak Genius Zoe & Zack).


"Iya benar. Pak Kaaran ini salah satu CEO perusahaan yang tersohor. Kami sering menjalin kerjasama dengan beliau," imbuh Rendra menegaskan.


"Kebetulan kami sedang singgah di kota ini untuk sejenak menikmati pantai, istri saya suka sekali dengan pantai. Kebetulan saya mendengar kabar tentang musibah yang dialami Pak Leo dan keluarga. Pablo memang terkenal sebagai orang yang arogan dan licik," lanjut Kaaran.


"Eh sayang, kamu tahu siapa Pablo yang sedang kami bahas?" sebuah kemesraan suami istri terpampang begitu jelas didepan Angga dan Naya.


"Emang siapa?" tanya Rania sambil menyandarkan manja kepalanya dibahu Kaaran.


"Dia adalah pemilik perusahaan yang bersedia menampung setiap proyek kotor yang diumpan oleh Paman Boron!"

__ADS_1


"Apaa?!. Jadi selama ini project-project yang direbut secara licik oleh Paman Boron adalah karena support Pablo?"


"Yaa begitulah,"


"Ehmm..jadi begini. Maksud kedatangan kami kesini adalah ingin menawarkan bantuan. Sepertinya kita juga memiliki kesamaan dalam hal siapa lawan kita. Meski kami lebih terkonsentrasi pada Paman Boron, tapi keberadaan Pablo sebagai penadah project gelap yang diumpan Paman Boron tentu juga menjadi hal lain yang perlu kami waspadai. Diluar itu semua, kedekatan perusahaan kami dan perusahaan Pak Leo menjadikan ikatan batin tersendiri sehingga tak hanya nyaman dilingkup bisnis, namun merambah pada segi persaudaraan," ujar Kaaran.


Sejenak Rendra menatap kearah Naya dan Angga, seolah meminta persetujuan.


"Ada satu masalah yang belum anda ketahui, Pak Kaaran.." Naya angkat bicara.


"Apa itu kalau saya boleh tahu?" Kaaran memicingkan mata.


"Mama saya, diculik Pablo saat penyerangan tadi.." jawab Naya sedih.


"Apaa?!. Kenapa peristiwa sebesar ini tidak diceritakan kepada saya oleh Pak Leo?!" Kaaran terperangah.


"Papa sedang dalam kondisi lemah dan luka-luka. Mungkin belum terpikirkan untuk menghubungi Pak Kaaran." Sambung Naya.


***



--Saat itu pukul 11 malam waktu setempat.


--Kaaran, Rania, dan William terpaksa bermalam dirumah Pak Leo untuk membantu.


"Ternyata Sonia dibawa kekota tempat domisili Pablo. Selambat-lambatnya besok pukul 6 pagi kita harus sudah berangkat dari sini," ucap Pak Leo prihatin.


"Sebaiknya kita rubah sedikit rencana," Karaan angkat bicara.


"Bagaimana, Pak?" tanya Angga penasaran.


"Saya dan William akan berpura-pura datang kekota itu dan mengajak bertemu mendadak dengan Pablo untuk membicarakan bisnis yang penting. Tim gunakan truk dibelakang saya, seolah truk itu membawa sampel produk. Secara otomatis kita akan dibawa masuk ke markas utama Pablo. Artinya, dengan sangat mudah kita bisa santai memasuki jantung pertahanan tanpa baku hantam."


"Biarkan Pablo saya sibukkan dulu. Kemudian kalian bergerak menyisir untuk menemukan Bu Sonia," ungkap Kaaran dengn penuh keyakinan.


"Wah, Pak Kaaran selain CEO yang hebat dalam dunia bisnia, ternyata juga sangat mahir mengatur strategi.." puji Pak Leo dengan wajah senang.


"Baik. Tapi saat disana, saya minta Pak Leo, Naya, dan Rena tetap berada didalam truk demi keamanan," imbuh Angga.


"Serahkan keamanan Pak Leo dan dua gadis cantik ini pada saya serta Bu Lita. Kami akan berjaga didalam truk. Kebetulan saya sudah cukup mengenal Bu Lita karena beliau adalah rekan bisnis suami saya juga.." Rania muncul diambang pintu kamar kerja Pak Leo bersama dengan Lita, Naya, dan Rena.

__ADS_1


"Ok. Untuk strategi penyerangan akan saya jelaskan. Saat Pak Kaaran dan Pak William menyibukkan Pablo beserta beberapa asisten dan pengawalnya, saya dan Pak Bagas akan terlebih dahulu turun truk untuk membekap satu dua pengawal Pablo dalam mode senyap. Kita akan mengorek tentang keberadaan Bu Sonia melalui pengawal-pengawal tersebut."


"Setelah mengetahui letak pasti keberadaan Bu Sonia. Tim akan dibagi tiga kelompak kecil. Satu tim akan bergerak masuk menggunakan jalur normal, satu tim lagi akan bergerak menggunakan jalur darurat, Tim ketiga adalah gelombang kedua untuk membantu serangan tim 1. Tim 1, Pak Bagas, Beno, dibantu 2 orang pengawal. Tim 2, Rendra dan saya. Tim 3, Fikri dan sisa pengawal." Seperti biasa, Angga sigap mengatur komposisi tim.


"Saya menyimpan lebah pengintai yang dibuat Zoe dan Zack, mungkin diperlukan. Saya juga menyimpan hasil karya Zack berupa alat komunikasi wireless earphone canggih lengkap dengan kacamata pencari keberadaan lawan menggunakan teknologi pendeteksi panas tubuh serta lensa yang mampu mempelajari dengan cepat lokasi untuk memunculkan gambar denah secara realtime dan akurat," Willliam ikut nimbrung.


"Kenapa malah kamu yang dikasih alat-alat canggih oleh anak-anak?!. Aku sebagai bapaknya saja tidak pernah dibuatkan," Kaaran merengut.


"Mana saya tau, Bos.." jawab William asal.


--Tak mungkin ia menceritakan tentang robot lebah yang sengaja dimanfaatkan untuk memantau Rina.


--Glasses ear-tecno sebenarnya juga dipesan secara khusus oleh Wiliam dari Zack untuk nantinya akan dibagikan kepada para pengawal untuk melindungi Bos Kaaran dan Rania.


(Siapakah Zoe & Zack?, dapat disimak pada novel berjudul : Anak Genius Zoe & Zack).


***



Pagi dini hari yang penuh dengan kesibukan. Tim Gatoca, Pak Leo, dan Tim Kaaran tengah menyiapkan segala kebutuhan dan peralatan masing-masing. Rencananya mereka akan berangkat ke kota Malam setengah jam kemudian.


"Pastikan semua tim sudah menerima Glasses ear-tecno dari Pak William dan tahu cara menggunakannya.." teriak Angga mengingatkan.


"Robot Lebah akan dikendalikan oleh tim ketiga yakni tim Fikri. Informasikan kepada kami apapun yang ditemukan oleh tuh lebah jadi-jadian." lanjut Angga.


"Untuk mengurangi korban jiwa, minimalisir penggunaan senjata api maupun senjata tajam kearah bagian vital tubuh. Seyogyanya pergunakan tembak bius berperedam yang saya bagikan. Kali ini kita perlu main cantik dan menawan," Kaaran menambahkan.


Satu jam berikutnya, mobil Kaaran diikuti oleh sebuah dump truck terlihat beriring menyusuri tol Sidoraja - Puring untuk menuju ke kota dingin Malam.


 


To be continued 🔜


^^^Salam hangat,^^^


^^^DPKBPC @2021^^^


^^^FigurX Productions^^^


***

__ADS_1


__ADS_2