Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 40 : Kesulitan semakin besar


__ADS_3


#18+ Episode ini mengandung kekerasan. Mohon bijak dalam membaca.


Tak terasa sudah 4 bulan Angga dan tim tinggal dipulau kecil. Pasca kejadian penyelamatan Beno yang berujung Angga mengalami koma, semua memilih untuk hidup tenang digubuk air terjun serta menghindari persinggungan dengan pihak luar.


Hari-hari mereka lalui dengan mencari bahan pangan, memasak, membersihkan gubuk, berenang dikolam air terjun, dan berbagai hal ringan lainnya. Mereka ingin merasakan kedamaian hidup tanpa kekerasan sambil terus mencari solusi agar bisa kembali pulang kedunia nyata.


Gegar otak yang dialami Angga untungnya hanyalah gegar otak ringan. Meski awalnya ia merasakan mual dan pusing yang terus menerus, namun sebulan dari kejadian, Angga sudah merasakan pulih seperti sedia kala. Itu juga karena perawatan yang diberikan oleh semua tim, terutama Naya yang setia mendampingi Angga siang dan malam tanpa mengenal lelah. Upaya Beno, Fikri, dan Pak Herson yang meracik ramuan untuk Angga juga sangat besar pengaruhnya bagi kesembuhan sang maestro.


Angga dan Naya sudah menunjukkan kedekatan yang lebih besar. Meski tanpa ucapan ikatan, gerak tubuh, tutur kata, dan segala interaksi diantara keduanya telah mewakili perasaan masing-masing.


Begitu juga sinyal-sinyal gelombang cinta yang terjadi pada teman-teman Angga. Lambat namun pasti terlihat bagaimana Fikri dan Rena seperti magnet yang saling menarik diri. Hal baru lainnya adalah terjadinya hubungan spesial antara Beno dan Lita. Pun begitu, Pak Bagas sepertinya mendukung hubungan antara keduanya.


"Ga kerasa, udah 4 bulan aja kita disini, Bro.." ucap Beno saat ia bersama Angga sedang duduk berdua disamping gubuk.


"Iya, tapi gue masih berasa was-was aja. Khawatir terjadi hal-hal buruk seperti yang sudah-sudah," jawab Angga dengan wajah sendu.


"Sudahlah. Berdoa saja yang terbaik untuk kita semua. Mengalir aja bro. Ada masalah ya kita hadapi, ga ada masalah ya kita santai. Ga usah terlalu dipusingkan.." hibur Beno untuk Angga.


--Angga hanya sedikit tersenyum.


--Tatapannya menerawang jauh.


Masih asyik Angga dan Beno berbicara. Sayup terdengar teriakan yang tak asing ditelingaku mereka.


"Bro.. bro, lu denger suara itu?" tanya Beno mulai bergidik.


--Terbayang lagi penderitaannya saat disekap oleh kawanan wanita pulau.


AWUWUWU..


"Wah runyam. Udah diem, malah digangguin. Ayo ajak semuanya masuk ke gubuk!" Angga berpikir cepat.


--Ia merasakan akan datang bahaya yang mengancam tim.


Tepat setelah Angga menutup pintu gubuk. Berhamburan dari hutan, kawanan wanita pulau dalam jumlah yang banyak. Lebih dari 60 orang mengepung gubuk air terjun.


AWUWUWU..


AWUWU


"Mereka datang..mereka datang!" teriak Jaka panik.


"Para wanita, siagakan panah disetiap celah gubuk. Mbak Lita, tolong lindungi para wanita dan Pak Herson. Sedangkan semua pria kecuali Pak Herson mari kita sambut mereka diluar," perintah Angga tegas.


Namun belum sempat mereka keluar dari gubuk, para wanita suku sudah terlebih dulu datang dan dengan beringas mengguncang-guncang gubuk. Keadaan sudah sangat genting. Para wanita itu datang ingin menuntut balas.


"Lupakan panah. Jarak terlalu dekat. Semua bersiap dengan belati, pedang, tombak. Apapun yang bisa kalian gunakan sebagai senjata maka gunakanlah!!" teriak Angga semakin tegang.


Naya dan teman-teman wanita lainnya ternyata bukanlah penakut seperti dulu. Perjalanan dan kesulitan telah menempa mereka. Semuanya dengan wajah serius siap bahu-membahu melawan musuh.


Beberapa saat setelah Angga berteriak, dinding-dinding gubuk mulai bergoyang kuat.

__ADS_1


BLARRR..


Atap gubuk runtuh. Disusul dengan jebolnya dinding-dinding gubuk. Sebagian kayu dan bambu menimpa tubuh Angga serta yang lainnya. Namun mereka tak peduli lagi pada rasa sakit. Dalam formasi melingkar, semua siap menghadapi gempuran dari luar.


Kericuhan terjadi. Tepat diatas reruntuhan gubuk, kini tengah terjadi pertempuran sengit. Angga dan pria lainnya berusaha mengambil porsi lawan sebanyak-banyaknya demi mengurangi beban lawan bagi tim wanita.


Lita bersama Naya terlihat sedang bahu membahu menghadapi sekitar 5 orang sekaligus. Meski kemampuan Naya terbatas, namun Lita mampu memantik semangat Naya untuk pantang menyerah. Mereka secara bergantian menyerang seperti dua orang striker sepakbola yang sedang bermain umpan 1-2. Hanya dengan teknik itulah Lita bisa meringankan beban Naya, dan justru memberikan peluang untuk Naya agar lebih mudah membekuk lawan.


Disisi lain Jaka dan Fikri dengan disiplin mendampingi Rena, Sisi, dan Bu Mayang dalam melakukan perlawanan. Segala upaya mereka lakukan demi mempertahankan diri.


Pak Herson dan Beno yang sebelumnya pernah berjuang bersama, menunjukkan komunikasi kerjasama yang sangat baik. Alih-alih membawa tombak, Pak Herson justru menggunakan keahlian melemparnya untuk menyerang lawan. Batu-batu beterbangan, melindungi Beno yang melompat kesana kemari mengikuti ayunan pedangnya. Sepertinya Pak Herson adalah mantan atlet tolak peluru dikala muda dulu. Atau yang terburuk, mungkin dia terbiasa melempari mangga tetangga saat masih kecil, entahlah.


Tepian air terjun terlihat seperti medan perang. Angga sudah tak memiliki belas kasihan lagi saat menghabisi lawan. Mereka yang datang sendiri mengantarkan nyawa. Angga dan timnya hanyalah mempertahankan diri.


"Ati-ati gaes. Senjata kayu mereka beracun. Lu bakal mati kering dalam 3 hari kalo sampai luka!" Teriak Angga saat teringat peristiwa getok kepala menggunakan sisa gagang pedang kayu yang dilakukan oleh ibu-ibu kompleks dulu.


--Kompleks marga satwa.


Ketika melihat seorang wanita yang berkacak pinggang sambil memerintah sana-sini, Angga akhirnya paham jika wanita tersebut adalah pimpinan dari suku wanita. Dengan sigap Angga melesat menuju wanita tersebut.


Pertempuran semakin meluas. Berbagai pertarungan tersebar merata hingga ketepian kolam air terjun. Terlihat Pak Bagas dengan lincahnya melenting kesana kemari menusukkan belati dalam genggaman.


Melihat Angga mengejar kearahnya, pimpinan wanita itu menjauh. Memancing Angga masuk direrimbunan hutan. Berusaha mencari area pertarungan yang lebih lapang dan leluasa.


Keduanya bertemu di bibir hutan. Bersenjatakan tongkat panjang, wanita itu berusaha memukul tubuh Angga. Gerakannya sangat lincah dan terlatih. Sepertinya, dia sempat mempelajari ilmu beladiri sebelum terdampar dipulau.


"Modyarr kowe (kamu) bocah!" teriak sang wanita.


Tongkat itu bergerak cepat tanpa jeda, mengunci pergerakan Angga hingga cukup kesulitan menggunakan pedangnya. Ia hanya menghindar dan menghindar dalam kejaran tongkat yang seperti tiada henti berputar mengincar setiap bagian tubuhnya.


PLANG..


Satu pukulan keras tongkat berhasil menghantam lengan kanan Angga, bermaksud menjatuhkan genggaman pedang pada tangan Angga.


Sejenak Angga menahan nyeri yang cepat menjalar ditangannya. Tangannya terasa kebas seketika. Angga mundur beberapa langkah.


Cepat Angga mengatur pernapasan, mengalirkan hawa murni mengisi pembuluh darah ditangan. Hangat segera menjalar mengikis kebas.


Wanita itu tertegun melihat pedang Angga yang tak juga terlepas. Dalam jeda yang singkat itu, Angga memanfaatkan kesempatan. Ia melompat tinggi keudara, mengirimkan sebuah tendangan yang dengan sangat akurat memapar dagu lawan. Wanita itu terhuyung ke belakang.


Sebelum kakinya tiba kembali ketanah, sekali lagi Angga menyerang menggunakan pedangnya.


SRATT..


Wanita yang masih terhuyung itu menerima tebasan pedang tanpa persiapan sedikitpun. Perutnya koyak dengan luka melintang cukup panjang, namun tak sampai menembus isi perutnya, hanya torehan luka gores yang tak mengancam nyawa.


Pada pertarungan yang lain, terlihat Jaka terpojok oleh tiga orang wanita. Mati-matian ia mempertahankan diri. Namun keahliannya yang minim itu membuat ia tak berkutik. Satu ujung runcing tombak menggores pahanya.


Pada posisi Lita dan Naya. Terlihat dua orang wanita mengunci pergerakan Naya. Tanpa berpikir panjang Lita merangsek maju demi menyelamatkan Naya. Namun na'as, ujung pedang kayu yang runcing menancap dibahunya.


Keadaan kembali genting. Meski beberapa orang seperti Angga dan Pak Bagas dapat unggul dalam pertarungan, tapi berbeda dengan yang lainnya. Teman-teman Angga mulai kehabisan tenaga. Sebelas orang melawan enam hingga tujuh kali lipat dari jumlah mereka.


ZLAPP

__ADS_1


"AHHH.."


Seketika waktu seperti terhenti. Disisi puing gubuk terlihat Bu Mayang mengerang pilu menerima hujaman tombak diperutnya.


"Mahh!!" teriak Pak Herson frustasi, namun ia tak mampu berbuat banyak. Lawan masih mendesak dihadapannya.


Meski sebagian lawan telah tumbang, namun Jaka, Lita, dan Bu Mayang juga terluka. Terlebih Bu Mayang yang hingga saat ini masih terkapar dengan sebuah tombak yang menancap diperutnya.


AUHHHMM..


Tak disangka, Dua Singa kembali datang. Wanita pulau yang masih tersisa terlihat berhamburan melarikan diri karena ketakutan.


Dua orang wanita tertangkap oleh terkaman kedua singa dan berakhir tragis dengan tubuh koyak-moyak tanpa nyawa. Sisa wanita lainnya semakin terbirit menjauh.


ZLAZZH


Angga kembali menyabetkan pedangnya menggores bagian lengan pimpinan suku saat si wanita sedikit lengah akibat kedatangan dua singa.


Dengan cepat Angga beralih kebelakang tubuh lawannya. Mengaitkan lengan pada leher, dan satu tangan lagi menggenggam pedang dengan gerakan mengancam.


"Gue peringatkan, Lu. Jangan pernah mencoba mengusik kami lagi. Jika itu terjadi lagi, maka lu yang pertama akan gue cari dan gue habisin!!" ancam Angga sadis.


"Iya, Pak. Ampun, Pak." Teriak sang wanita ketakutan.


--Badannya gemetar akut.


--Wanita itu tak menyangka kedigdayaan Jagito Plus, terutama Angga sang Panglima Hulubalang.


"Pak..Pakk. Ndasmu!! (Kepalamu!!)" bentak Angga naik pitam.


"Eh iya maaf. Om, eh Mas..ampunn," ulang si wanita.


"Ingat pesan gue!!" Angga kemudian melepaskan wanita tersebut begitu saja dan segera berlari menuju Bu Mayang.


--Sejenak dua singa mendekat dan merundukkan badan kepada Angga, kemudian pergi.



Bersambung ke next episode 🔜


^^^DPKBPC @2021^^^


^^^FigurX Productions^^^


***


Untuk pembaca yang menyukai cara menulis Author di novel ini, yuk mampir juga dikarya Author : DUA DEWI



Mohon dukungan dan ramaikan.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2