Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 29 : Menang atau mati


__ADS_3


 


Beno dan Pak Herson terpaksa menyimpang dari jalur sebelumnya yang sesuai radius. Adanya bukti dari lokasi sebelumnya, menunjukkan bahwa Angga dan Naya sedang menghadapi masalah dan terpaksa lepas dari jalur patroli.


Hingga langit benar-benar gelap, mereka masih belum menemukan keberadaan Angga maupun Naya. Meski gubuk Candra sebenarnya tak terpaut jauh dari lokasi pertempuran, namun Beno dan Pak Herson memilih arah simpang yang salah. Justru mereka sekarang mengarah masuk lebih jauh ke dalam hutan.


"Kita belum juga menemukan mereka, Pak Bro.." ucap Beno sambil menyeka keringat dikeningnya.


--Terlihat Pak Herson juga cukup gundah, berbeda dengan sebelumnya yang terlihat cukup yakin akan menemukan Angga.


Berbekal dua penerangan yang berasal dari obor yang mereka buat, langkah keduanya terus menembus ke dalam rerimbunan hutan.


"Sepertinya kita harus mencari tempat bermalam, Pak. Keadaan gelap begini akan sulit mencari mereka. Bisa jadi akan muncul binatang buas juga," ucap Beno memecah keheningan.


"Disini semuanya pepohonan, Bro. Kita akan sulit menemukan gua atau semacamnya," sanggah Pak Herson.


"Apa daya, kita terpaksa harus bermalam dibawah pohon." Lanjut Beno mengarahkan.


--Bagaimanapun juga kini ia adalah pemimpin tim mewakili Angga.


--Mau tak mau Pak Herson harus mengikuti apa yang menjadi perintah Beno.


"Apa kita tidak kembali ke gubuk saja?. Bisa jadi Angga dan Naya sudah kembali kesana," saran Pak Herson.


--Sejujurnya, ia cukup miris jika harus bermalam di alam liar seperti itu.


"Pencarian ini belum final, Pak. Oke lah, bisa jadi mereka udah balik ke gubuk. Tapi sebaiknya kita upayakan dulu untuk mencari. Setelah kita bermalam disini, besok pagi kita akan lanjut mencari sekaligus berjalan pulang ke gubuk," Beno tetap bersikukuh dengan rencananya.


--Alhasil, Pak Herson hanya bisa manut apa yang dititahkan pemimpin cadangan tersebut.


"Baiklah, kita berbagi tugas. Ente nyalain api unggun ya, Pak Bro. Gue berburu sebentar disekitar sini buat makan malam kita," ucap Beno.


Beruntung bagi Beno, ia menemukan ayam hutan yang sedang terkantuk-kantuk sambil mengerami telurnya. Beno tak bisa membayangkan jika harus berburu binatang lainnya. Beno bukan Angga dengan segala kecepatan dan kelincahannya. Seekor kelincipun akan sangat sulit untuk diburu Beno.


"Pak Bro. Bekal air masih cukup ya?" tanya Beno memastikan, sambil pula ia menyiangi ayam hutan yang sudah disembelih.

__ADS_1


"Buanyak banget malah. Kita kan belum sempat meminumnya sedikitpun sejak berangkat tadi," jawab Pak Herson dengan ekspresi senang.


Tentu ia tak akan pernah membayangkan bagaimana sulitnya jika harus mencari sumber air ditengah kegelapan malam.


Dibawah sebuah pohon besar, dengan mengandalkan penerangan api unggun, mereka berdua menyantap daging ayam bakar yang baru selesai diangkat dari api. Tak ada garam, tak ada bumbu apapun. Meski rasanya hambar, namun keinginan diri untuk kenyang lebih mendominasi.


"Sejak turun dari sekoci sampai sekarang, baru kali ini gue makan seperti layaknya petualang sungguhan. Selama ini para wanita ternyata cukup berhasil menyiapkan hidangan yang nikmat dengan dilengkapi beberapa bumbu meski terbatas," ucap Pak Herson sambil menahan rasa panas makanan yang ia paksa masuk mulut meski baru saja diangkat dari atas bara api.


"Kita cowok, Pak Bro. Ga terlalu pilih-pilih dalam makanan. Yang penting kenyang," timpal Beno sedikit terkekeh.


"Lu betol banget. Penting banyak, rasa nomer terakhir..Hahaha," Pak Herson ikut terbahak.


Baru selesai mereka makan. Belum sempat pula bersendawa, dari balik kegelapan muncul suara menderu, mirip seperti suara geram yang tertahan. Sontak Beno dan Pak Herson tersentak. Inilah yang mereka takutkan jika berada diluar. Datangnya bahaya tidak dapat diprediksi.


Dari kegelapan terlihat dua pasang mata bersinar memantulkan pendar cahaya api unggun. Beno segera berdiri meraih senjata. Begitu juga Pak Herson dengan belatinya.


"Tak ada pilihan, Pak Bro. Disini tak ada Angga dan Pak Bagas. Kita harus berjuang menghadapi. Menang atau mati!" mata Beno berkilat penuh ketegasan.


--Pak Herson hanya menjawab dengan anggukan, matanya tak lepas dari memandang dua pasang mata berkilau yang semakin mendekat.


Dalam jarak 8 meter, sinaran api unggun mulai mampu menyuguhkan visual sebenarnya dari dua pasang mata yang menggeram tadi. Bulu-bulu hitam dan coklat berpadu, membungkus mata yang bersinar dan moncong bergigi runcing.


"Bukan serigala?" tanya Pak Herson sangsi.


"Serigala jauh lebih besar dan sedikit berbeda posturnya. Yang ini beneran anjink kalo kata gue," Beno menekankan.


Dua ekor anjink hutan (versi : Beno) yang sepertinya lapar, terus saja menggeram. Melihat daging vantat Beno yang gemol dan emvuk membuat mereka tergiur. Dengan berlari cepat mereka mendekat ke arah api unggun. Tapi nampaknya ada rasa takut terhadap api. Mereka hanya menyalak-nyalak dengan gonggongan yang terus-menerus tanpa henti, namun tak berani melangkah semakin mendekat.


"Hehehe..mereka sepertinya takut api, Bro.." Pak Herson sedikit girang.


"Lah terus kita mau diem-dieman gini sampe pagi sambil dengerin kicau mereka yang merdu itu?!" Sarkas Beno.


"Lu berani?. Kalau lu berangkat, gue ikut," ucap Pak Herson sebagai pupuk bawang dalam hal pertempuran.


"Hancurkan mereka!!" teriak Beno nyaring menandingi 'kicau merdu' dua anjink.


Beno mengambil sebuah batu sebesar kepala manusia dan dengan kuat melemparnya ke arah dua anjink hutan.

__ADS_1


BUKK..


Batu mengenai lempeng perut salah satu anjink. Anjink itu terkaing sesaat kemudian keduanya segera berlari menyebar.


Anjink yang lebih dekat dengan Pak Herson kembali berlari. Sepertinya kini ia nekad menerobos tanpa memperdulikan api.


KLANGG


Kali ini batu sebesar kepalan manusia yang dilempar Pak Herson, telak mengenai kepala sang anjink. Darah mengalir dikepala itu, dan ia berhenti berlari.


Dari sisi lain, Beno menyambut lompatan anjink dengan sebuah sabetan pedang. Sayangnya Beno terlambat. Pedang baru berkelebat setelah anjink sudah masuk ke dalam jarak serang. Beno terancam kuku dan taring tajam yang siap mengerat daging ditubuhnya. Beno hanya mampu pasrah. Ia berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua lengan. Resiko rabies menghantui didepan mata. Jika tergigit, maka Beno tak akan lagi berpura-pura kesurupan atau gila seperti yang ia lakukan didepan teman-temannya tadi siang, melainkan benar-benar menjadi gila.


BUKK..


JEBBB


Pak Herson yang sebelumnya telah berhasil menahan serangan anjink menggunakan lemparan batu, tiba-tiba menendang sekuat tenaga tubuh anjink yang menyerang Beno. Tak berhenti disitu, anjink yang terjatuh ditanah juga mendapat satu tikaman belati milik Pak Herson.


Anjink masih berusaha berdiri meski darah mengalir dari perutnya. Seolah tak terima, anjink memperdekat jarak ke arah Pak Herson.


Namun respon Beno kali ini lebih cepat daripada sebelumnya. Melihat bahwa Pak Herson telah menyelamatkan nyawanya, Beno berlari maju menyongsong tubuh anjink dari sisi samping.


SRETT..


Anjink yang berniat membalas perlakuan Pak Herson kini terkapar ditanah. Pedang Beno mampu menggores panjang tubuh sang anjink. Sesaat anjink itu meronta meregang nyawa, dan kemudian tergolek kaku.


Melihat satu kawannya mati ditangan manusia, anjink yang berdarah kepalanya akibat lemparan batu dari Pak Herson kini berlari menjauh. Ia menyelamatkan diri membelah kegelapan malam.


"Fiuhh..hampir saja," Beno menghela napas.


 



 


Tensi semakin meningkat. jangan lewatkan tanjakan episode yang semakin mendebarkan.

__ADS_1


Like, komen, dan segala bentuk support anda akan menjadi suntikan penyemangat bagi keberlangsungan novel ini.


***


__ADS_2