Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO

Di Pulau Kecil Bersama Putri CEO
Episode 16 : Dari hati ke hati


__ADS_3

Semua beranjak ke peraduan tatkala malam semakin larut. Kepenatan telah berada dipuncaknya. Tersisa petugas jaga yang akan mengawali penjagaan perdana di malam pertama.


Masing-masing memilih posisi tidur sesuka hati. Di dalam gubuk hanya terbentang satu dipan besar untuk menampung seluruh anggota tim. Semua hanya berpikir untuk beristirahat dan bertahan hidup. Tak ada sedikitpun pikiran untuk memanfaatkan situasi tidur karena campur aduk antara pria dan wanita. Secara naluri mereka hanya membuat sendiri jarak demi kenyamanan bersama.


"Bangunkan kami jika ada gerakan mencurigakan atau ada serangan tiba-tiba," pesan Angga kepada semua yang mendapatkan tugas berjaga.


Beno dan Rena mendapatkan giliran tugas pertama untuk berjaga. Mereka duduk tepat didepan pintu gubuk dimana api unggun berada disana.


"Cape, Ren?" tanya Beno memecah keheningan.


"Semua cape, Ben. Emang lu engga?" Rena tersenyum mendengar pertanyaan Beno yang terkesan basa-basi banget baginya.


"Ya kali aja. Lu kan wonder woman hehe," Beno menjulurkan lidahnya. Setidaknya dengan bercanda dapat mengusir rasa kantuk.


"Eh Ben, lu liat dah itu. Bisa-bisanya pala Naya tidur diatas lengan Angga. Gue tuh curiga ama mereka sejak pertemuan di aula kapan hari. Cuma ya gitu, Naya mah ngeles mulu," Rena menunjuk melalui celah pintu dimana Angga dan Naya sedang tidur.


"Gue juga ngerasa gitu, Ren. Kayaknya mereka bedua nih sama-sama suka, tapi malu untuk mengakui," sambut Beno menjawab.


"Naya itu sekarang beda tau ga. Lebih ceria, ada semangat dimatanya. Beda banget kek jaman di kampus yang ekspresinya lempeng-lempeng aja. Lu tau kan tadi, pas mo mandi tadi gua pancing-pancing kan pake cara mojokin Angga. Ehh bininya belain hahaha.." sambung Rena.


"Iya bener." Beno sependapat.


"Jelas banget malah. Bu Mayang aja ampe ikut curiga gitu," Rena mengulas kembali pembicaraan saat hendak mandi tadi.


"Gue tadi juga kaget. Masa mereka bedua tahu-tahu jalan bareng dari luar gubuk. Kayak orang pacaran." imbuh Beno.


"Fix ini mah. Ada sinyal positip dari mereka. Kita doakan aja yang terbaik buat mereka.." ucap Rena memungkasi.


"Ehmm, Ren.." Beno ingin mengatakan sesuatu namun terasa sulit.


"Apa lu?" tanya Rena lugas.


"Kalo lu, Ren. Ga ada deket ama siapa gitu?. Ato naksir siapa kek.." akhirnya Beno mengeluarkan apa yang tadi ia tahan.

__ADS_1


"Ga ada bro. Belom ada yang spesial sejauh ini," ucap Rena tanpa tedeng aling-aling.


"Gue juga ga ada spesial-spesialnya juga buat lu?" Beno terus mengejar, bahkan mengarah ke to the point.


"Hahaha, Benooo..Beno. Gue mah udah ngebaca arah pembicaraan lu. Dari dulu gue juga ngerasa perhatian lu yang ada lebih ke gue. Tapi gue hanya nyaman jadi sohib lu, Ben. Bahkan disini gue ngerasa kalo lu seolah sodara bagi gue. Plis Ben, gue ga mau merusak persahabatan ini. Lu ganteng bro, lu bisa dapetin wanita yang jauh lebih cakep daripada gue." Hati Beno serasa tertumbuk godam tatkala mendengar jawaban Rena. Tapi Beno masih berusaha tenang dan tak menunjukkan perubahan sikap.


"Ga ada revisi gitu?" Beno ngeyel.


"Stop, Ben. Gue ga suka dipaksa dan diatur. Yah kecuali diatur sebagai tim seperti yang dilakukan Angga!" Rena memberikan ketegasannya. Beno murung tapi segera ia tutupi dengan seutas senyuman.


***


Jadwal penjaga shift ke dua telah tiba. Fikri dan Sisi telah menggantikan posisi Beno dan Rena.


"Bisa tidur tadi lu?" tanya Fikri sambil sejenak berdiri mengambil beberapa ranting kering dan ditambahkan diatas api unggun.


"Pules banget malah. Baru 2 jem udah bangun, kurang aja rasanya..hoamm," jawab Sisi sambil menguap lebar. Rasa kantuk belum sepenuhnya hilang dari matanya.


"Tar kan bisa tidur lagi. Cuma 2 jam inih," ucap Fikri memberi semangat.


"Nih air bersih, pake cuci muka gih. Biar rada segeran!" Fikri menyorongkan satu botol mineral kearah Sisi dan langsung diterima oleh Sisi.


"Kri.." suara Sisi serak.


"Kenapa?" tanya Fikri.


"Gue kadang ngerasa iri sama pemain utama," ucap Sisi ambigu.


"Pemain utama apaan dah?" Fikri mengerutkan kening.


"Dalam hal ini kan fokus utamanya ada di Naya karena dikejar para penjahat. Dia pemain utama wanita. Dan lu juga tau, Angga yang paling superior dan diandalkan disini. Dia otomatis jadi pemain utama pria.." Sisi mencoba menerapkan.


"Lalu masalahnya apa?. Lu iri lihat Naya deket sama Angga?" tanya Fikri lebih lanjut setelah mulai bisa mencerna jalan pikiran Sisi.

__ADS_1


"Ga gitu juga. Gue iri pada peran mereka disini. Semua orang perhatiannya tertuju ke mereka berdua. Nah kita-kita cuma puas sebagai pemain figuran," ucap Sisi terkesan rumit.


"Lu ga boleh mikir kek gitu. Siapa juga yang mau dapat masalah seperti Naya. Dan siapa juga yang mau menerima beban tanggung jawab yang besar seperti Angga. Mereka itu berperan sesuai apa yang mereka jalani. Ya memang benar kita seolah figuran. Tapi itulah kapasitas kita. Gue ga semahir Angga dalam beladiri. Gue ga punya pengalaman hidup di alam liar seperti Angga yang terbiasa sejak kecil. Naya itu dewi primadona kampus nomer satu. Lu bukan anak CEO. Lu juga bukan cewek yang masuk didalam radar pengamatan Angga. Maaf bukannya merendahkan ya, Sis. Tapi hanya meluruskan. Semua punya porsi masing-masing sesuai dengan kemampuan, kualitas, karakter, dan sebagainya." Fikri menasehati. Ia mengenal Angga sejak lama. Namun ia juga tidak ingin terlihat lebih menonjol dibanding Angga. Toh kenyataan Fikri bisa otomatis menonjol sendiri melalui prestasi akademiknya. Sebaliknya Angga juga tak pernah ingin lebih menonjol dari Fikri dalam hal akademik.


"Iya lu cukup bener," Sisi mengamini perkataan Fikri.


"Bukan sekedar cukup, tapi emang bener!" Fikri menggaris-bawahi.


"Jodoh lu udah diatur Tuhan. Lu ga perlu pusing apalagi iri. Kisah lu sebagai peran utama juga kelak ada sendiri sesuai jalan idup lu," imbuh Fikri.


"Iya Ben, gue paham. Maafin gue.." Sisi merasa menyesal.


"Ngomong-ngomong, kenapa lu pengen jadi pemeran utama?" Fikri melemparkan satu dua kerikil ke dalam api unggun hanya untuk bermain percikan bara.


"Dia nomer satu dan gue selalu mendapatkan sisa. Ahh udahlah lupakan saja. Lagipula gue udah nyesel dan ga pengen jadi pemeran utama lagi," Sisi berusaha tersenyum menghalau kesuntukan yang sebelumnya mendera.


"Bukan ga pengen jadi pemeran utama. Tapi menundanya menunggu masa buat lu tiba," Fikri meluruskan. Sisi tak memberi sahutan. Sejenak mereka terdiam dalam alam pikir masing-masing.


"Kri, lu pernah ngerasa jatuh cinta ga?" tanya Sisi setelah beberapa saat mereka saling terdiam.


"Haha..dulu pas SMA. Suka sama cewek, eh diembat gitaris band gue. Kebetulan gue dulu vokalis cowok. Dan gue naksir vokalis cewek yang juga anggota grup band kita-kita. Setelah itu gue trauma ga berani suka sama cewek lagi. Takut terulang sakit yang sama," Fikri tersenyum tipis mengenang masa sekolahnya.


"Hahaha.. cinlok nih ceritanye," goda Sisi.


"Ya gitu deh," Fikri menggoyangkan bahunya.


"Gue boleh terus terang, Kri?" dengan hati-hati Sisi bertanya lagi.


"Jangan bilang lu naksir gue! Hahaha," ucap Fikri Pede.


"Haistt..gimana ceritanya sampe gue suka ama tukang muntah?? Haha..pisss bro," Sisi tergelak sambil menunjukkan dua jarinya.


"Sialan lu!"

__ADS_1


***


__ADS_2