
"Permisi, Pak. Bisa pinjam korek?" ucap Angga pada penjaga gerbang dengan menyamar sebagai sopir truk.
"Ohiya..silahka.."
BUUKK
Penjaga tersebut langsung pingsan tatkala mendapatkan hantaman keras dari tangan Angga ditengkuknya.
"Woy!! Hentikan. Apa yang ka.."
HEPPP
BUKK
Satu penjaga gerbang lainnya datang bermaksud menolong. Namun Pak Bagas lebih cepat. Dengan menyelinap, ia tempe-tempe sudah berada dibelakang si penjaga, kemudian membekapnya. Pukulan ditengkuk mengakhiri kesadaran sang penjaga.
"Beres, dua penjaga sudah kami lumpuhkan." Ucap Angga saat ia dan Pak Bagas kembali masuk ke bak truk.
"Yah..yah..yahhh. Angga gimana sih?!. Adohh parah. Kenapa dibikin pingsan?," Beno sedikit kesal.
"Lah emang kenapa?. Maunya lu peluk trus lu nodai gitu?!" seloroh Angga.
"Wahh..sakit lu, Kingkong rabies. Angga lu gimana sih?!. Kan rencananya itu penjaga mo kita interogasi buat ngasih tau dimana Bu Sovia disekap!. Lah kalau pingsan gitu gimana coba?" cerocos Beno.
"Wah iya yaa, lupa ya kita, Pak Bagas..hehe soriii," gantian sekarang Angga yang menjulurkan lidah dengan wajah tanpa dosa.
"Ben. So-ni-aaa, bukan Sovia. Kamu kira istriku minyak goreng, begitu?!" Pak Leo mendelik horror.
--Beno langsung menjatuhkan lutut, bergerak menyembah-nyembah Pak Leo sebagai upaya permintaan maaf.
"Halo om, tante, enyak, babeh, tuan-tuan, dan nyonya-nyonya. Marilah minum jamu, eh..salah. Disini operator Zack mengambil alih. Saya sudah menyimak pembicaraan pada ear-tecno. Sekarang, biarkan saya yang menjalankan robot lebah dari jarak jauh. Om yang membawa pengendali lebah disana, tolong bantu Zack mengamati layar pantau. Soalnya Zack juga belum tahu yang mana yang namanya Bu Sania!!"
"Soniaaa..!!!"
"Tadi Sovia, sekarang Sania. Saya jadi curiga, jangan-jangan istri saya memang punya pabrik minyak goreng tanpa sepengatahuan saya.." Pak Leo semakin meradang.
***
"Pengamatan kamera lebah dari jantung pertahanan lawan. Dibagian ruang tamu ada sekitar 50 orang pengawal bersiaga. Menuju ruang makan dan ruang tengah ada sekitar 40 orang. Bergeser ke dapur, hanya ada 30 orang yang asyik memasak. Melangkah ke lantai 20 ada sekitar 70 orang pengawal. Dan dibagian ujung lantai 20 ada sebuah kamar yang dijaga ketat oleh 50 orang. Nah..wajah Bu Sonia terlihat disana." ucap Fikri sambil mengamati layar pantau robot lebah yang saat ini sedang menyusup kedalam vila.
"Bentar..bentar. Pengawalnya perasaan kok banyak banget yah?. Ratusan pengawal lho. Bangunannya juga lantai 20. Jangan-jangan lebahnya nyasar ke gedung hotel disebelah?!" interupsi dari Beno.
"Oh..sorii, Author typo. Kebanyakan nol belakangnya hehe," Author menjulurkan lidah dengan wajah tanpa dosa juga.
"Authorrr, serius nape!"
"Siaaap. Serius!"
"Mau tidak mau kita harus menyerang terang-terangan. Kondisi vila membuat kita tidak bisa menyelinap. Tim 1, langsung masuk dari pintu depan. Tim 2 bersama saya akan mencari cara agar secepatnya bisa mencapai kamar tempat penyekapan Bu Sonia. Tim 3 bersiaplah membantu jika tim 1 terlihat kuwalahan!" Angga memberi instruksi.
Tim 1 yakni Pak Bagas, Beno, dan 2 pengawal segera bergerak menyerang. Bersamaan dengan itu tim 2 yakni Angga dan Rendra juga bergerak menyamping mencari celah untuk cepat melaju ke lantai 20, eh lantai 2 maksud Author.
__ADS_1
"Heii..siapa kalian?. Berhenti!" teriak seorang pengawal lawan saat melihat tim 1 memasuki bagian ruang tamu tanpa permisi.
ZAPPP
Satu tembakan bius berperedam langsung membuat 1 lawan terkapar.
Pak Bagas berkelebat menuju seorang penjaga. Dengan gerakan lincah dan indah Pak Bagas menyorongkan pedang. Lawan berkelit kesamping, namun bogem mentah Pak Bagas sudah menunggu disana.
BAKK
Sisi luar rahang lawan membentur kuatnya genggaman tangan Pak Bagas. Lawan sejenak terhuyung. Segera Pak Bagas melompat untuk menyusulkan tendangan ke rahang yang sama.
PRAKK
Tubuh lawan terpelanting seketika. Kesadarannya telah hilang.
Empat orang dari ruang tengah berlari menghambur untuk membantu.
"Pram, hubungi bos!!" Teriak seorang lawan kepada temannya.
"Ok!"
...
Mungkin hari ini hari esok atau nanti
Berjuta memori yang terpatri dalam hati ini
Mungkin hari ini hari esok atau nanti
Tak lagi saling menyapa
(Anneth)
...
"Adohh kenapa nih handphone, Hahh!!" pengawal yang bernama Pram emosi saat tak bisa menghubungi Pablo, justru mendengar suara Zoe yang begitu merdu mendayu.
"Ada apa?" tanya temannya.
"Handphone gue error!!"
"Yaudah. Biar gue yang hubungi bos.."
...
Emang lagi manja
Lagi pengen dimanja
Pengen berduaan dengan dirimu saja
Emang lagi syantik
Tapi bukan sok syantik
__ADS_1
Syantik-syantik gini hanya untuk dirimu
(Siti Badriah)
...
"Bangsadd!!. Ini jaringannya pasti yang bermasalah." Umpat pria kedua yang juga gagal menghubungi Pablo dan justru mendengar nyanyian Zoe yang begitu riang energik.
"Tim 3, masukk. Bantu kami!" teriak Beno melalui ear-tecno.
Fikri dan beberapa pengawal bergerak memasuki ruangan. Terlihat Beno sedang menghadapi dua lawan sekaligus. Cepat Fikri membantu sahabatnya tersebut.
Seorang lawan melancarkan tinju ketubuh Beno. Dasar Beno sedikit konslet, tinju lawan bukannya dihindari, namun malah disambut dengan tinju serupa. Alhasil dua tinju pun bertemu dan berbenturan. Yah memang sakit. Namun itulah yang Beno inginkan. Memanfaatkan kelengahan lawan karena menahan rasa sakit, lutut Beno bergerak mengincar kacang ajaib diantara kedua kaki lawan. Namun sayang, lawan ternyata tak semudah perkiraan Beno. Lutut Beno malah disambut siku lawan yang menghujam cepat ke paha Beno.
"Wadaauww!!" Beno mengaduh kesakitan.
Dengan marah Beno berusaha membalas. Siku Beno berlarian kesana-kemari demi sebuah pembalasan. Namun, yang ada justru terlihat lucu karena ulah Beno yang terus-menerus menghunus siku, mirip seorang kameramen yang sedang memanggul kamera dibahunya.
BUKK
"Wadauwww!!" siku Beno akhirnya berhasil memakan korban, telak membentur punggung lawan.
"Komodo sangee!!. Begoo. Anjrittt. Ditolongin, eh malah punggung gue lu sikut!!" Fikri mendelik marah.
"Haisstt..ampun bro. Ga tau gue. Terlanjur kalap jadi salah sasaran hehe.." Beno melongo.
"Awaass!!" seorang lawan tiba-tiba mendorong sebilah belati kearah Fikri.
--Beno cepat menarik tangan Fikri.
Dengan cepat Fikri kembali berbalik arah. Memanfaatkan punggung Beno, Fikri memutar tubuh. Kakinya berhasil menendang pinggang lawan.
Dalam koordinasi yang sangat baik. Bergantian Beno menyerang dengan memanfaatkan punggung Fikri. Bertumpu tangan pada bahu Fikri, Beno melompat tinggi menyarangkan satu tendangan kuat tepat di sisi luar wajah lawan.
Melihat lawannya terkapar, Beno dan Fikri segera berlari membantu yang lainnya.
BRUMM
Tanpa mereka sadari, sebuah motor melaju kencang meninggalkan vila. Sepertinya itu adalah salah satu pengawal yang sengaja ingin memberitahu bos mereka.
"Pak Kaaran, Pak William..siaga. Sepertinya ada motor pengawal yang melaju kesana untuk mengabarkan pada bos mereka," teriak Pak Bagas sambil terus menghadapi lawannya.
Kericuhan terjadi didalam bangunan. Beno, Fikri, dan Pak Bagas dibantu beberapa pengawal terus saja melakukan tekanan demi tekanan.
Angga dan Rendra yang masuk dari pintu belakang juga terpaksa menghentikan langkah karena dihadang orang-orang yang berasal dari dapur.
Pengawal dilantai 2 juga mulai menyadari akan datangnya bahaya. Sigap mereka berjaga. Sebagian lagi dari mereka berlari membantu pengawal dilantai bawah yang mulai terlihat kuwalahan menahan gempuran tim 1 dan 2.
Maaf pembaca. Bukannya mau menggantung lagi, tapi karena disinilah konflik puncak terjadi, maka bagian penyelamatan Sonia butuh beberapa episode untuk menulisnya. Jadi, harap bersabar menunggu update episode berikutnya 🔜.
---
^^^Salam pramuka,^^^
^^^DPKBPC @2021^^^
__ADS_1
^^^FigurX Productions^^^
***