
Tak ingin membuang waktu. Vina segera menelfon suaminya.
Sedangkan di satu sisi, Rian yang baru saja kembali duduk di ruangan Aya pun terkejut saat mendengar nada dering ponselnya. Segera, dia merogoh dan melihat nama si penelepon.
"Vina. Untuk apa dia menelfonku?" gumam Rian menggeser tombol hijau lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya. "Hallo, ada apa menelfonku, Vin?" ujar Rian sambil mengangkat kedua kakinya lurus ke meja.
"Mas, kamu ada di mana? Kenapa belum pulang juga. Aku merindukanmu, eh bukan aku! Melainkan calon anak kita. Entah kenapa, aku selalu terbayang-bayang wajahmu. Maafkan aku, jika kelakuanku tadi, sudah membuatmu emosi. Kamu pulang, ya!" titah Vina dengan lembut.
"Aku tidak bisa pulang sekarang. Urusanku belum selesai. Setelah selesai, aku akan pulang!"
"Mas, kasihan calon anak kita, loh! Mau bagaimana pun, semua ini bukan keinginanku. Semua ini, keinginan calon anak kita. Anak yang aku kandung. Memangnya, urusan apalagi yang sedang kamu kerjakan?" tanya Vina menatap lurus ke depan.
"Tidak perlu tahu, urusan apa yang sedang aku kerjakan. Sekarang, istirahatlah. Aku sibuk!" ketus Rian mengakhiri panggilannya.
Tanpa sepengetahuan Rian. Aya mendengar semua percakapan antara suaminya dan madunya dari balik pintu ruangannya.
'Mas, aku tidak tahu, apa yang kamu pikirkan sebelum memutuskan untuk menikahi Vina. Tapi, perlu kamu tahu, mau kamu bersikap dingin atau manis, atau mungkin menyesal telah menikahi Vina. Aku akan tetap minta cerai dari kamu. Aku tidak mau merusak kebahagiaan wanita lain. Vina lebih membutuhkan kamu. Apalagi, dia sedang hamil anakmu. Lebih baik, aku yang mengalah. Toh, hati ini sudah hancur, hati ini sudah hilang percaya untukmu. Hati ini sudah tersakiti!' batin Aya, kemudian masuk ke dalam ruangannya.
Melihat istrinya datang, Rian menarik ke dua sudut bibirnya.
"Ay, kita jalan-jalan yuk! Sudah lama, kita tidak berduaan dan--"
"Aku tidak bisa, Mas. Sebentar lagi, Mas Fajar datang. Aku sibuk!" jawab Aya. "Ajak aja Vina jalan-jalan. Pasti dia senang!" sambungnya lagi.
"Aku sedang mengajakmu, Ay, bukan Vina." kesal Rian.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak bisa. Sebentar lagi, aku harus pergi dengan Mas fajar."
"Pergi? Aku tidak suka kamu pergi berduaan dengan fajar, Ay. Ingat statusmu. Semua orang tahu, akan statusmu yang masih menjadi istri Sah ku, Ay! Bagaimana, kalau ada rekan kerjaku yang tahu, kamu sedang jalan dengan fajar. Apa yang akan mereka pikirkan! Mereka bisa menilaimu buruk, Ay. Intinya, aku tidak akan mengizinkanmu pergi berduaan dengan fajar!"
"Ya sudah. Urus perceraian kita secepat mungkin, Mas! Dan setelah itu, kita bisa bebas. Kita bisa menentukan kehidupan kita masing-masing! Aku bebas berduaan dengan Mas Fajar dan kamu bebas mengumumkan Vina sebagai istri barumu!"
"Tidak semudah itu. Apa rasa cintamu padaku sudah hilang, Ay!"
"Iya. Setelah aku tahu semuanya, rasa cinta dan sayangku hilang. Bukan hilang saja, tapi semuanya sudah hancur dan tak bisa di perbaiki."
"Ay," panggil Rian sambil berjalan menghampiri istrinya, Aya. "Aku tahu, aku salah. Tapi apa kamu yakin tentang keputusan ini?"
"Sangat yakin, Mas! Aku tidak mau di madu! Aku menyetujui semua ucapanmu itu, karena aku tahu ... kamu mengatakan semuanya dengan tulus. Tapi, ternyata aku salah, Mas! Kamu berbohong lagi! Buktinya, kamu sama sekali tidak menjauhiku."
"Maafkan aku, Ay. Lalu, apa maumu? Aku akan mengabulkan semua permintaanmu asalkan kit tidak bercerai. Aku janji, aku akan menceraikan Vina setelah anak itu lahir!" pinta Rian memohon.
"Ay--"
"Pulang Mas. Tidak ada gunanya, kamu di sini!" pekik Aya.
"Okeh. Aku pulang! Tapi, aku tidak mau si Fajar terus-terusan mendekatimu." ketus Rian beranjak berdiri. "Aku pulang, Ay!" titahnya Rian lagi sambil menghampiri istrinya.
"Hem!" jawab Aya, lalu berjalan mundur beberapa langkah. "Kamu mau apa, Mas?" tanya Aya lagi saat melihat suaminya berjalan mendekatinya.
"Ciuum kening. Memangnya, aku tidak boleh menciuum istriku sendiri!"
__ADS_1
"Jangan Mas. Pulanglah, tidak perlu ciuum-ciuum segala. Malu, jika ada yang melihat kita!" tolak Aya menjatuhkan pantatnya di kursi kerjanya.
"Huh! Ya, sudahlah. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan sampai tergoda rayuan Fajar. Dia buaya yang sedang cari mangsa!"
"Terimakasih atas perhatianmu!" jawab Aya, lalu melihat suaminya keluar ruangannya.
Setelah melihat kepergian suaminya. Aya mengusap wajahnya kasar. "Aku cinta kamu, Mas! Tapi kenapa kamu menghancurkan semua!" gumam Aya menatap bingkai kecil foto pernikahannya yang berada di atas meja.
Di balik tembok ruangan Aya, Rian mendengar semua ucapan istrinya. "Aku juga mencintaimu, Ay. Aku janji, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankanmu. Kamu jangan khawatir, kita pasti bersama lagi seperti dulu." lirih Rian berjalan kemudian berjalan menuruni anak tangga.
Di saat Rian menuruni anak tangga. Dia melihat sosok fajar yang sedang berjalan menaiki anak tangga.
"Jangan mengganggu istri orang. Aya masih istriku!" ketus Rian setelah menghadang Fajar.
"Sekarang, memang Aya masih istrimu. Tapi besok, atau lusa atau beberapa hari lagi. Aya akan menjadi mantan istrimu. Dan kau, Rian. Kau tidak tidak bisa melarangku untuk mendekati Aya. Dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik, pria yang lebih bertanggung jawab, pria yang menjadikannya sebagai seorang ratu. Bukan malah mendapatkan pria yang berkhianat!" sindir fajar membuat Rian mengepalkan tangannya erat.
'Siaalan. Aku harus bisa mengontrol emosiku di butik Aya. Aku tidak mau, Aya semakin marah padaku!' batin Rian berusaha menetralkan emosinya.
"Kenapa? Kau marah?" ejek fajar.
"Aku tidak ada waktu untuk meladeni pebinor sepertimu!" ketus Rian melanjutkan langkahnya melewati fajar.
"Pergilah. Dan biarkan Aya hidup bahagia bersamaku. Aku akan membahagiakannya!" ujar fajar membuat Rian menghentikan langkahnya.
'Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkan Aya jatuh ke pelukanmu! Selamanya, Aya akan tetap menjadi milikku!' batin Rian kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
__ADS_1
Rere yang tak sengaja mendengar pertengkaran antar suami bos nya juga sahabat bos nya pun segera menyembunyikan dirinya di balik tembok.
"Astaga, jadi Pak fajar menyukai Bu Aya?" gumam Rere tak percaya. "Dan pak fajar ingin merebut Bu Aya dari Pak Rian. Sebenarnya, ada masalah apa dengan mereka? Aku juga sempat dengar, jika Bu Aya meminta cerai dari Pak Rian. Padahal, aku tidak pernah melihat mereka bertengkar." sambungnya lagi. "Apa aku ceritakan saja ke Bu Aya, atau aku pura-pura tidak tahu?"