Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 60


__ADS_3

"Semuanya aman. Ibu tenang saja!" jawab Rian menjatuhkan pantatnya di sofa samping ibunya.


"Kau tahu, Rian! Sesuai dengan dugaanmu. Tadi Aya datang ke rumah ini. Dan dia menanyakan keberadaan Vina!" ucap Iris.


"Lalu, ibu jawab apa? Ibu tutup mulutkan?" tanya Rian mulai menyimak topik pembicaraan ibunya


"Tentu ibu tutup mulut. Ibu masih mengharapkan jika Aya tetap menjadi menantu ibu! Kau tahu, setiap hari bersama Vina, rasanya kepala ibu mau pecah! Ibu tidak sanggup mendengar ocehan wanita itu. Mereka sangat berbeda!" keluh Iris.


"Iya, Bu. Mereka memang sahabat, tapi sikapnya sangat bertolak belakang. Aku menyesal sudah menyia-nyiakan Aya!" jawab Rian membuat Iris merasa bersalah.


"Kamu belum terlambat, Rian! Kamu masih bisa mendapatkan Aya lagi! Kalian belum cerai!"


"Tapi Aya sudah bulat memutuskan untuk bercerai dariku, Bu! Jika Aya benar-benar menceraikanku, aku jamin ... hidupku akan hancur! Aku tidak bisa hidup tanpa Aya, Bu! Dia satu-satunya wanita yang aku cintai!" ucap Rian.


"Jika Aya bisa memberikanmu keturunan, pasti ibu tidak akan memintamu untuk menikahi Vina. Tapi nyatanya Aya tidak bisa membuatmu mempunyai keturunan!"


"Kita bisa, Bu! Hanya saja, Tuhan belum memberikan kepercayaan itu! Aku kasihan ke Aya, Bu! Setiap ibu datang ke rumah ini, ibu selalu membahas soal cucu, cucu dan cucu! Kita berjuang mati-matian, Bu! Kita sudah lakukan semua cara, tapi memang Tuhan belum memberikan kepercayaan pada kita."


"Sudahlah, Rian! Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang, ibu tidak mau tahu, kau harus berhasil meluluhkan hati Aya lagi. Dan setelah anak yang ada di dalam perut Vina lahir, kau harus ceraikan Vina. Ibu mau, kau dan aya yang merawat anak itu!" titah Iris.


"Masalah merawat anak, itu urusan mudah bagiku. Yang membuat kepalaku pusing sampai sekarang ini, adalah Aya. Aku sudah kehabisan cara, Bu. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Aya. Apalagi ada fajar, dia pria yang selalu mendukung Aya untuk bercerai denganku!"


"Jangan sampai pria itu menghasut Aya terlalu lama, Rian!" jawab Iris.

__ADS_1


"Aku pun berpikir seperti itu. Lama kelamaan otak Aya seperti di cuci oleh Fajar."


"Sepertinya, kamu harus membuat Aya membenci fajar. Dengan begitu, mereka akan berjauhan. Dan kamu bisa masuk lagi ke dalam hidup Aya."


"Tapi bagaimana caranya, Bu? Sedangkan, mereka terus saja bersama. Bagaimana caranya, agar mereka saling membenci?" tanya Rian kebingungan. "Ibu ada saran? Kalau ada, tolong ibu kasih ke aku!" sambungnya lagi.


"Itu sangat mudah, Rian! Kamu tinggal putar otakmu saja! Ibu tidak mau memikirkan masalah Fajar! Atau begini saja, kamu carikan Fajar seorang wanita untuk menjadi pendamping hidupnya, saja. Ibu yakin, pria sepertinya pasti tidak fokus dengan sosok wanita pendamping hidupnya. Dia pasti fokus dengan Aya. Tapi, menurut ibu, pria itu akan merebut Aya dari mu!"


"Ish, ucapan ibu membuatku semakin pusing! Fajar memang menyukai Aya. Dia berusaha mengambil hati Aya. Dan dia juga bicara sendiri padaku. Setelah aku dan Aya bercerai, dia mau menggantikan posisiku. Dan aku tidak sudi itu! Aku tidak mau, posisiku digantikan oleh siapapun!" kesal Rian.


"Sudahlah. Dari pada membahas masalah yang membuatmu naik darah. Ibu mau bertanya padamu, Vina kau bawa kemana?" tanya Iris penasaran.


"Aku bawa dia ke tempat yang tidak di ketahui Aya dan lainnya."


"Maksud ibu, kamu bawa Vina kemana? Jangan bawa dia ke tempat yang sekiranya dia tidak nyaman, Ri! Dia sedang hamil cucu ibu! Ibu tidak mau terjadi sesuatu dengan cucu ibu!"


Sedangkan di satu sisi, Vina menendang kopernya ke sembarang arah. Dirinya benar-benar kesal saat melihat keadaan rumahnya yang sempit dan kecil.


"Mas Rian bilang, ini rumah sederhana. Tapi bagiku bukan sederhana melainkan sangat sederhana. Untuk apa aku mempunyai suami yang kaya raya, tapi sebagai istri yang sedang mengandung anaknya, dia justru memberikanku tempat kecil seperti ini! Walaupun aku tidak tahu ini anak siapa, tapi intinya ... Aku mau, ayah dari anak-anakku kelak adalah Mas Rian bukan yang lainnya!" ucap Vina dengan senyum sinisnya. "Ya, sudah. Dari pada aku stres memikirkan Mas Rian. Lebih baik, aku terima semua ini. Jika seminggu kemudian Mas Rian tetap mengabaikanku. Maka aku akan pulang sendiri ke rumah Mas Rian. Biar Mas Rian tahu rasa! Salah siapa, dia memintaku untuk tinggal di tempat kecil seperti ini!" sambungnya lagi sambil mengambil dan menarik kopernya ke dalam kamar.


Sedangkan di satu sisi. Aya mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merebahkan tubuhnya di kasur pribadinya.


"Huh! Intinya Perceraian itu akan terjadi. Bukan akan tapi harus terjadi. Aku tidak mau terus-terusan hidup dalam bayang-bayang Mas Rian. Aku harus terbebas darinya. Harus!" gumam Aya lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


Setelah melakukan ritual mandinya. Tiba-tiba perut Vina berbunyi menandakan bahwa dirinya sedang lapar.


"Oh, iya. Sedari pagi aku belum makan. Dan kini, perutku baru lapar. Kira-kira di sini, ada makanan apa, ya?" gumam Vina berjalan menuju dapur.


Vina menggelengkan kepalanya saat melihat dapur yang kotor dan penuh debu.


"Astaga, Mas Rian! Ini dapur atau apa! Kenapa rumah ini banyak sekali kekurangannya!" pekik Vina membuka kulkas.


Emosinya seakan meledak saat melihat tidak ada isi apapun di dalam kulkas.


"Emosiku benar-benar di uji di rumah ini!" pekik Vina membuka etalase dapur lainnya.


Vina hanya menemukan satu mie instan yang tergeletak di etalase bagian atas. "Astaga, apa aku harus memakan mie instan ini? Mas Rian benar-benar keterlaluan! Dia sama sekali tidak pernah memikirkan nasibku dan nasib calon anak ini! Yang ada di otaknya selalu Aya, Aya, dan Aya! Sampai aku muak dengan nama Aya itu!" gerutu Vina lalu mengambil ponselnya.


"Lebih baik, aku hubungi Mas Rian." sambungnya lagi.


Tut ...


Tut ....


Sedangkan di satu sisi. Rian yang tengah tertidur nyenyak pun terganggu saat mendengar deringan ponselnya. Segera, dia meraba dan menggeser tombol hijau.


"Apa!" tanya Rian.

__ADS_1


"Mas, kamu gila, ya! Aku lapar!" ketus Vina.


"Kalau lapar kenapa menelfonku, ha! Memangnya, aku penjual makanan? Beli makanan di luar! Jangan manja!" titah Rian lagi


__ADS_2