Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 44


__ADS_3

"Mas serius? Berarti Mas mengizinkan Lidya menjadi model di butikku?" tanya Aya tak percaya.


"Aku serius. Tapi, aku sendiri yang memotret kalian. Jangan sampai ada orang lain yang melihat kalian memakai pakaian seperti itu."


"Tapi, foto Lidya akan kita gunakan sebagai sampul di sebuah majalah butik kita."


"Itu tidak apa-apa. Mereka melihat dari foto bukan asli. Aku tidak suka, fotografer itu melihat tubuh kalian secara nyata. Aku kesana. Tunggu saja, dan kalian bisa bersiap-siap sembari menungguku!" titah Pras.


"Terimakasih, Mas!" jawab Aya kemudian mengakhiri panggilannya.


"Bagaimana, Kak? kak Pras memperbolehkanku, kan?" tanya Lidya yang mendapat anggukan kecil dari Aya. "Yeay! Akhirnya, aku menjadi model! Terimakasih, Kak! Aku sangat beruntung bisa kenal dengan Kakak!" titah Lidya memeluk tubuh Aya erat.


"Jangan bahagia dulu. Karena seperti yang kamu duga. Mas Pras sendiri yang akan memotret kita. Sekarang, kita siap-siap, agar jika Mas Pras datang, kita sudah siap!" titah Aya.


"Ayo, Kak! Aku semangat sekali!" jawab Lidya antusias.


"Rere!" panggil Aya membuat wanita yang bernama Rere berjalan menghampirinya.


"Iya, Bu!" jawab Rere.


"Perkenalkan dia Lidya. Lidya ini akan menjadi model produk kita yang baru. Kamu bisa kan? Make up dia?"


"Bisa, Bu. Dan modelnya hanya mbak Lidya saja?" tanya Rere memastikan.

__ADS_1


"Tidak. Aku akan menemani Lidya. Dan satu hal lagi, nanti akan ada pria datang bernama Pras. Dia yang akan menjadi fotografer aku dan Lidya. Antar dia masuk ke ruang pemotretan aja, ya! Aku takut, dia datang tapi aku dan Lidya belum siap!"


"Baik, Bu! Jadi, kita tidak perlu memanggil fotografer andalan kita?"


"Tidak perlu. Karena produk terbaru kita mempunyai sisi negatif yaitu terekspos nya sedikit di bagian punggung. Maka, biarkan Mas Pras yang memotret kita!" titah Aya.


"Baik, Bu!" jawab Rere, lalu menatap sekilas wanita di sampingnya. 'Bukankah, wanita ini wanita yang di bawa Pak Rian dan aku sempat dengar, kalau wanita ini wanita simpanan Pak Rian. Tapi kenapa Bu Aya bisa se akrab ini? Atau jangan-jangan Bu Aya tidak tahu, kalau wanita ini wanita simpanan suaminya?' batin Rere, "Silahkan ikuti saya!" titah Rere berjalan mendahului Lidya.


"Kakak, aku pergi dulu, ya! Terimakasih atas pekerjaannya ini! Aku sayang Kakak!" ujar Lidya yang lagi dan lagi membuat Rere kebingungan.


'Kakak? Apa wanita ini adik dari Bu Aya? Tapi setahuku, Bu Aya tidak mempunyai saudara di sini? Dari pada aku pusing memikirkan wanita ini. Lebih baik, aku laksanakan semua perintah Bu aya.' batin Rere.


Sedangkan di satu sisi, terlihat Pras sedang tersenyum manis, "Rian, Rian kau ini bagaimana, Hem? Aku pikir, rencanamu akan berhasil tapi lagi dan lagi kau gagal. Sepertinya, di saat pemotretan nanti, aku harus mengirimkan beberapa foto Aya. Pasti Rian akan terbakar cemburu. Meledak tuh amarahnya, hahaha! Melihat sahabat menderita, ternyata tidak terlalu menyedihkan," gumam Pras memutar kursinya dan mengambil kamera andalannya di laci dekat dengan mejanya


Setelah sampai di kediaman rumahnya. Rian berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Mas, aku sadar akan posisiku, tapi aku tidak mau di duakan lagi. Aku bahagia, saat kamu mau menceraikan Aya, tapi kenapa kamu malah mencari wanita lain! Apa kurangnya aku, Mas!" teriak Vina, "Cepat jawab pertanyaanku. Siapa wanita tadi!" sambungnya lagi.


"Diamlah. Apa kamu tidak takut di ceraikan olehku, ha!" kesal Rian.


"Ada apa ini!" ucap Iris yang mendengar suara keributan anak serta menantunya. "Suamimu ini baru pulang, seharusnya kamu sambut suamimu dengan senyuman. Kamu layani dia, jangan teriak-teriak tidak jelas! Pantas Rian tidak betah di rumah. Pasti karena hobimu yang marah-marah tidak jelas!"


"Ibu, aku tidak mungkin marah, jika tidak ada sebab! Mas Rian mempunyai selingkuhan di belakangku! Istri mana yang tidak marah, saat mendengar wanita lain mengucapkan kata sayang ke suami aku di hadapanku, Bu! Aku tidak mau di madu!" ketus Vina.

__ADS_1


"Hei, ingat posisimu. Apa salahnya Rian mempunyai wanita simpanan, ha! Dulu, kamu pernah menjadi wanita simpanan Rian! Cuma bedanya, kamu bisa memberikan anak untuk Rian! Dan ibu merestui pernikahan siri kalian. Jika kamu tidak bisa memberikan keturunan untuk Rian, ibu tidak akan merestui kalian! Biarkan saja Rian ingin bersenang-senang dengan wanita mana pun. Jangan halangi dia!" ketus Iris.


"Ibu! Kenapa ibu bicara seperti itu! Ibu tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini, hatiku sakit, Bu! Bahkan, dadaku untuk bernapas saja terasa sesak!" pekik Vina.


"Bicara tentang perasaan, apa kamu tidak memikirkan perasaan Aya dulu? Bahkan kalau ibu pikir, seharusnya Aya merasakan lebih sakit apa yang kamu rasakan saat ini, Ingat itu!"


"Ibu, ibu benar-benar jahat!" pekik Vina.


"Kamu juga jahat. Sesama orang jahat jangan mengatakan! Sudahlah, sekarang terima saja nasibmu. Rian juga masih muda. Dan dia tampan!"


"Aku tidak bisa terima semua perlakuan Mas Rian yang menyakitiku! Aku sedang mengandung anaknya dan dia malah asik bermesraan dengan wanita lain. Apalagi, wanita itu masih muda dan cantik!"


"Nah, kamu introspeksi diri. Apa sekarang wajahmu secantik dulu? Sekarang, kamu masuk dan bercermin. Biarkan cermin yang berbicara. Jangan sampai tetangga dengar pertengkaran kalian. Ibu capek! Telinga ibu bisa rusak, kalau keseharianmu marah-marah tidak jelas!"


"Aku tidak akan marah, jika Mas Rian memperlakukan aku dengan baik!" geram Vina.


"Ah sudahlah. Bicara denganmu sama saja bicara dengan batu. Terlalu keras! Ibu menyesal memintamu tinggal di sini. Lebih baik, Aya yang tinggal bersama Rian. Aya selalu melayani Rian dengan baik, tidak pernah marah-marah apalagi mengumpatnya!"


"Jangan samakan aku dengan Aya! Aku dan dia sangat berbeda!" kesal Vina.


"Iya, ibu tahu. Aya wanita baik dan sopan. Bahkan, tidak pernah marah ke suaminya. Dan kamu! Kamu wanita yang tidak tahu kata terimakasih." ejek Iris sambil melangkahkan kakinya menuju kamar.


Mendengar ibu mertuanya membanding-bandingkan dirinya dengan Aya. Entah mengapa hati Vina seperti tertusuk ribuan duri tajam.

__ADS_1


'Semua ini karena Aya. Awas saja, Aya. Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan melakukan apapun agar kamu jatuh sejatuh-jatuhnya. Tapi, aku harus mencari tahu siapa wanita itu. Aku tidak mau, Mas Rian menikah lagi di belakangku. Aku bukan Aya yang lemah. Aku adalah Vina, dan seorang Vina harus selalu menang dan unggul dari lainnya!' batinnya sambil mengepal erat


__ADS_2