
"Kenapa bisa seceroboh ini, Hem? Pasti rasanya sakit. Kita ke rumah sakit saja, ya! Aku tidak mau lukamu infeksi jika di diamkan saja seperti ini!" titah fajar berjalan dan mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Aya. "Coba aku lihat lukamu. Aku mau memastikan, lukamu tidak parah!" sambungnya lagi.
"Lukaku tidak parah. Dan kamu tidak perlu panik seperti ini, Mas! Aku baik-baik saja!"
"Lihat dulu, Ay! Kamu dari dulu, selalu bilang ... kalau lukamu baik-baik saja, tapi apa? Lukamu parah!" kesal fajar.
'Aduh, Rere kenapa lama sekali!' batin Aya memperlihatkan jarinya yang terluka. "Nih, kamu bisa lihat sendiri lukaku seperti apa, Mas! Hanya luka kecil saja, tidak perlu di bawa dokter atau rumah sakit!" jawab Aya santai.
fajar memegang tangan Aya dan melihat luka di jari wanita tersebut.
"Iya, lukanya memang kecil, Ay! Tapi kalau infeksi bagaimana? Aku tidak mau, terjadi sesuatu padamu. Sebaiknya, kita ke rumah sakit, ya!" ajak fajar, "Aku akan menemanimu!" sambungnya lagi.
"Tidak perlu, Mas! Kamu tidak perlu mencemaskan aku seperti ini! Aku baik-baik saja. Dan ini hanya luka kecil saja!" titah Aya lalu mendengar suara ketukan dari pintu ruangannya.
Tok ...
Tok ....
"Permisi, Bu Aya!" ucap Rere berdiri di depan pintu ruangan Aya.
"Masuk saja, Re!" titah Aya menarik tangannya yang sedang di pegang oleh fajar.
"Saya letakkan di meja, ya, Bu!" ujar Rere meletakkan dua cangkir teh hangat.
"Oh, iya, Re! Kamu bisa bantu Mas fajar tidak?" ucap Aya.
"Bantu apa, Bu?" jawab Rere penasaran.
"Tolong, ambil makanan di mobil Mas fajar. Kuncinya ada di mas fajar!" titah Aya lalu menatap pria di hadapannya. "Cepat kamu berikan kunci mobilmu ke Rere, Mas! Biar dia yang ambil sarapan pagi kita. Kebetulan aku sudah lapar!" titahnya lagi.
Fajar merogoh saku celananya dan memberikan kunci mobilnya pada karyawan Aya.
"Maaf sudah merepotkanmu!" ucap fajar.
"Tidak apa-apa, Pak! Kalau begitu, saya pamit turun dulu!" titah Rere kemudian berjalan keluar ruangan.
Setelah melihat kepergian karyawannya. Aya beranjak dari tempat duduknya. "Kamu minum teh hangatnya dulu, Mas! Maaf ya, aku menyiapkan teh hangat saja."
__ADS_1
"Ay, kita ke rumah sakit, yuk! Wajahmu juga pucat, loh!" titah fajar.
"Wajahku pucat? Wajahku tidak pucat. Aku sudah memolesnya dengan make up. Apa make up yang aku oles kurang tebal? Atau make up ku berantakan, Mas?" tanya Aya sambil menepuk-nepuk wajahnya ringan.
"Aya, aku serius. Kita ke dokter dan periksakan tanganmu. Jangan-jangan kamu kehabisan darah, maka dari itu wajahmu pucat?" tebak fajar yang mendapat gelengan kecil dari wanita hadapannya.
"Kamu ini aneh, Mas! Luka sekecil ini ... kamu bilang, aku kehabisan darah? Memangnya, aku anak kecil yang mudah kamu tipu, Mas! Tapi anak kecil jaman sekarang aja pintar-pintar!"
"Ay, please! Wajahmu pucat loh!"
"Tapi aku tidak apa-apa, Mas! Aku cuma kecapean! Kamu tahu kecapean? Aku lelah naik turun tangga. Maka dari itu, wajahku pucat." kesal Aya, "Jangan paksa aku! Kamu ini bukan siapa-siapaku dan kamu tidak berhak memaksaku!"
"Okeh, aku memang bukan siapa-siapamu. Tapi aku ingin yang terbaik untukmu. Aku ingin, kamu sehat, Ay! Sekarang, aku tidak akan memaksamu pergi ke dokter, tapi aku mau .... kamu duduk dan minum teh hangat itu. Kamu bilang, kamu kecapean kan? Sekarang, aku mau ... kamu rileks!" titah fajar.
Aya menatap sekilas pria di hadapannya, lalu dia kembali melanjutkan langkahnya dan menjatuhkan pantatnya di sofa.
"Kamu juga duduk, Mas! Tidak enak, tamu berdiri di situ!" titah Aya.
fajar mengangguk. Dia berjalan dan mendudukkan pantatnya di satu sofa dengan dengan Aya.
"Minum, Mas!" titah Aya.
"Maafkan aku. Ucapanku tadi salah!" ujar Aya tiba-tiba.
"Aku tahu, kamu tidak nyaman dengan sikapku yang seperti ini, kan? Katakan saja, Ay!" tanya fajar.
"Tidak." jawab Aya bohong.
"Kamu jangan bohong, Ay! Katakan saja. Agar aku sadar diri!"
"Maafkan aku, Mas! Tapi apa yang kamu katakan benar, aku merasa risih saat kamu memperlakukan aku begitu perhatian." jawab Aya jujur.
"Enak kan, kalau jujur?" tanya fajar membuat Aya menatap pria di sampingnya.
"Kamu tidak marah, Mas?" tanya Aya tak percaya.
"Untuk apa aku marah, ay! Aku sama sekali tidak marah. Aku justru senang, kamu sudah mau bicara jujur denganku."
__ADS_1
"Terimakasih sudah mau mengerti perasaanku, Mas!" ucap Aya dengan senyum manisnya.
"Sama-sama. Mulai besok, aku akan menjaga jarak agar kamu tidak risih padaku!"
"Sekali lagi, aku ucapkan terimakasih, Mas!" titah Aya lagi.
'Okeh, aku akan menuruti semua permintaan Aya. Aku tidak mau Aya nyaman bersama orang lain. Aya akan menjadi milikku setelah perpisahan itu terjadi!' batin Fajar.
Setelah cukup lama mengobrol, tiba-tiba Rere datang dengan membawa satu kantong plastik yang berisi makanan.
"Pak, Bu! Ini titipan Pak fajar?" ujar Rere memberikan satu kantong plastik kepada fajar.
"Terimakasih, Re!" jawab Aya.
"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit mau lanjutkan pekerjaan di butik dulu!" titah Rere kemudian berjalan keluar ruangan.
"Ay, kamu makan, ya!" ujar fajar membuka dan mengambil styrofoam yang berisi bubur ayam.
"Apa itu, Mas?" tanya Aya penasaran.
"Bubur ayam. Tapi kamu tenang saja, aku sudah minta kuahnya di pisah." jawab fajar.
"Kelihatannya enak, Mas! Terimakasih, ya! Aku tidak pernah memberikan makanan untukmu tapi kamu hampir setiap memberikan makan untukku. Aku semakin tidak enak hati, Mas!"
"Tidak apa-apa. Sekarang, makanlah!" titah fajar menyodorkan bubur ayam tersebut.
Aya menerima bubur dan menyuapkannya ke dalam mulut.
"Mas, mulai sekarang ... aku mohon, kamu jangan datang ke rumahku lagi, ya! Kita bisa bertemu di luar atau di butik!" titah Aya.
"Memangnya kenapa? Kamu terganggu dengan kehadiranku? Ya, sudah. Aku mengerti dan aku tidak akan datang lagi ke rumahmu!" jawab fajar.
"Bukan terganggu, Mas! Melainkan tidak pantas saja. Kita kan bukan muhrim. Jadi, aku rasa, terlalu terbuka dengan orang yang bukan muhrim, akan membuat masalah baru. Apalagi aku masih berstatus sebagai istri dari mas Rian. Aku tidak mau menimbulkan fitnah tentang kita!"
"Iya, aku tahu. Selain menjaga jarak padamu, aku juga tidak akan datang lagi ke rumahmu. Dan semua ini, aku lakukan demi kamu, Ay! Aku tidak mau kehilangan wanita sepertimu!"
"Terimakasih, sekarang kamu juga makan, dong!" titah Aya menyendokkan lagi buburnya ke dalam mulut.
__ADS_1
'Sebelumnya kamu tidak pernah melarangku, tapi kali ini ... aku yakin, ada yang melarangmu dekat denganku yaitu itu suamimu sendiri!' batin Fajar.