Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 72


__ADS_3

"Kenapa Kak Rian tidak mengangkat telfon ku. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Kak Rian? Aku coba telfon Kak Pras saja. Siapa tahu, Kak Pras belum berangkat ke kantor!" titah Lidya mencari nomer ponsel Kakaknya dan berusaha menghubunginya.


Tut ... Tut ...


"Ada apa, Lidya?" tanya Pras yang baru saja mengangkat telfon dari adiknya.


"Kak, kakak sudah berangkat ke kantor?" tanya Lidya dari penasaran.


"Sudah. Kakak baru saja sampai di kantor. Memangnya, ada apa? Jangan bilang, kamu membuat ulah lagi," tebak Pras menjatuhkan pantatnya di kursi kerjanya.


"Oh, lalu Kak Rian?" tanya Lidya lagi.


"Hei, sedari tadi topikmu tidak jauh dari Rian dan Rian. Jangan bilang, kamu mulai menyukai Rian. Lidya, kau dan Rian tidak cocok. Dan Rian bukan orang baik, dia tukang selingkuh!" ujar Pras membuat Lidya mengerucutkan bibirnya.


"Siapa yang menyukai Kak Rian, Kak! Kakak jangan aneh-aneh. Aku tidak mungkin menyukai Kak Rian." kesal Lidya.


"Lalu, ada apa kamu menanyakan kabar Rian, kalau kamu tidak menyukainya. Intinya, Kakak tidak suka kamu menyukai pria seperti Rian. Awas saja, kalau kamu jadi pelakor. Kakak akan tendang kamu dari rumah dan mencoret namamu dari kartu keluarga!" ancam Pras lalu mematikan telfon.


"Hallo, Kak! Kak ... Tut--tut--!" panggilan Lidya sudah terputus.


"Ish, Kakak! Kak Pras ini benar-benar menyebalkan. Apa dia tidak tahu, usahaku dalam mendekatkan Kak Rian dengan Kak Aya. Tapi kira-kira bagaimana keadaan Kak Rian, ya! Aku harus cepat pulang ke rumah!" gumam Lidya meletakkan ponselnya di dashboard dan menancapkan gas mobilnya.


Di satu sisi, Aya menautkan ke dua alisnya saat melihat mobil Lidya melaju dengan kecepatan penuh. "Kenapa mobil Lidya berjalan sangat cepat. Apa terjadi sesuatu dengan Lidya? Atau sedang terjadi sesuatu di rumahnya?" gumam Aya menancapkan gas mobilnya mengikuti mobil Lidya. Begitu juga dengan fajar. Melihat mobil Aya berjalan cepat, fajar langsung menancapkan gas mobilnya.


"Sebenarnya, mereka mau kemana? Kenapa mobilnya melaju cepat. Apa yang sebenarnya terjadi! Aku takut, terjadi sesuatu dengan Aya jika mengendarai ugal-ugalan seperti itu!" gumam fajar.


Setelah beberapa menit mobilnya membelah jalanan ibu kota. Akhirnya Lidya dan Aya sudah sampai di halaman rumah Pras.


"Ini rumah siapa?" tanya fajar saat menghentikan mobilnya di tepi rumah Pras. "Dan kenapa Aya juga wanita itu masuk ke dalam rumah tersebut. Apa jangan-jangan ini rumah wanita itu?" ujarnya lagi.

__ADS_1


"Ayo, Kak! Kita masuk," titah Lidya menarik tangan Aya untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Lain kali, kamu tidak boleh berkendara ugal-ugalan seperti tadi, Lidya. Semua itu bisa membahayakan keselamatanmu. Jelaskan pada Kakak! Kenapa kamu berkendara ugal-ugalan seperti tadi!" titah Aya menghentikan langkahnya di depan pintu utama rumah Pras.


"Kita masuk dulu, Kak! Baru aku ceritakan!" ujar Lidya.


"Kakak tidak mau masuk, kalau kamu belum bicara jujur!"


"Huh, baiklah. Aku akan ceritakan. Sebenarnya, seperti ini, Kak Rian tidak bisa di hubungi dan Kak Pras sudah berangkat ke kantor. Aku takut saja, terjadi sesuatu dengan Kak Rian. Kakak tahu, kan? aku sudah menganggap Kak Rian seperti kakakku sendiri. Aku sangat menyayangi Kak Rian!" jawab Lidya jujur.


"Jadi, karena Mas Rian tidak bisa di hubungi, kamu mengebut di jalanan?" tanya Aya tak percaya.


"Iya, Kak! Aku harus melakukan apa saja untuk Kak Rian, karena Kak Rian dan Kak Pras sama-sama penting bagiku. Aku tidak bisa seperti ini, jika bukan karena mereka!" jawab Lidya membuka pintu rumahnya. "Ayo, Kak! Kita masuk, dan Kakak bisa lihat keadaan Kak Rian. Kebetulan kamar Kak Rian ada di lantai dua!" ujarnya lagi.


Aya mengangguk. Dia berjalan masuk ke dalam rumah Pras. "Tidak ada yang berubah!" ujar Aya menatap setiap sudut ruang tamu.


"Iya, Kak! Ayo kita ke kamar Kak Rian!" titah Lidya menarik tangan Aya menaiki tangga.


"Lidya, itu suara apa?" tanya Aya.


Lidya berlari, "Itu suara dari kamar Kak Rian." ucap Lidya berlari dan mengetuk pintu kamar Rian.


Tok ...


Tok ....


"Kak Rian, ini aku Lidya. Boleh aku masuk, Kak?" tanya Lidya.


"Pergi saja, Lidya! Aku sedang tidak ingin di ganggu siapapun!" ketus Rian dari dalam kamar.

__ADS_1


"Kak, tapi aku ba--" ucapan Lidya terhenti saat tubuhnya di tarik oleh Aya.


"Jangan bicara ada aku di sini, Li. Biar aku yang masuk ke kamarnya. Kamarnya di kunci tidak?" tanya Aya lirih.


"Setahuku, kamar Kak Rian tidak di kunci, Kak! Tapi kata Kak Pras terlalu berbahaya jika kita masuk ke kamar Kak Rian. Kak Pras takut, Kak Rian tidak bisa mengendalikan emosinya!" ucap Lidya.


"Aku tahu bagaimana caranya membuat mas Rian sadar. Atas nama Mas Rian, aku minta maaf, ya! Pasti Mas Rian sudah banyak merepotkanmu di sini!" jawab Aya.


"Aku percayakan semuanya ke Kak Aya, semoga ... dengan kehadiran kak Aya di sini, Kak Rian bisa tenang!"


"Terimakasih, Lidya." jawab Aya lalu memutar gagang pintu. 'Mas Rian tidak boleh seperti ini, kasihan Mas Pras dan Lidya. Seharusnya, dia membuka lembaran baru bersama Vina. Aku harus bicara dengannya!' batin Aya perlahan pintu kamar Rian terbuka.


"Kakak hati-hati, ya!" titah Lidya.


Aya menganggukkan kepalanya, dia masuk ke dalam kamar pria yang masih berstatus sebagai suaminya.


Setelah masuk ke dalam kamar Rian. Aya bisa melihat kamar suaminya yang seperti kapal pecah. Banyak pecahan kaca berserakan di lantai.


"Lidya, sudah aku bilang, aku sedang tidak ingin di ganggu! Sebaiknya, kau pergi! Jangan ganggu aku!" ketus Rian sambil menangkup wajahnya yang tertunduk di ujung kamar.


Aya meletakkan tas nya di atas meja rias. Dia berjalan beberapa langkah menuju suaminya. Perlahan kakinya tertekuk agar sejajar dengan tubuh suaminya.


"Lidya! Keluar!" ketus Rian.


"Mas!" panggil Aya membuat Rian menggelengkan kepalanya.


"Aku mulai gila, aku mendengar suara Aya di dalam kamar ini! Aku benar-benar gila!" gumam Rian.


"Mas!" panggil Aya lagi, "Kamu belum gila, aku Aya, Mas! Aku ada di sini, di kamar ini!" titah Aya membuat Rian mendongakkan wajahnya.

__ADS_1


"A-aya!" panggil Rian tak percaya, "I-ini kamu, Ay! Kamu ada di sini? Aku tidak halusinasi, kan? Kamu benar ada di sini?" tanya Rian membelai wajah istrinya.


"Iya, ini aku. Apa yang kamu lakukan di rumah orang, Mas! Kasihan yang punya rumah, pasti terganggu dengan tingkahmu yang seperti ini, Mas!" ucap Aya.


__ADS_2