
"Kau pikir, aku tidak punya uang, ha!" ujar Rian emosi. Dia mengeluarkan dompet dan mengambil uang pecahan seratus ribu senilai sepuluh lembar.
"Itu cukup, kan? Kalau kurang, kau bisa bilang padaku. Sekarang, aku mau .... kau antar aku pergi dari sejauh mungkin!" pekiknya lagi.
"Tapi, kita harus mempunyai tujuan yang jelas, Pak! Kita tidak bisa berputar-putar di jalan!"
"Baiklah. Antarkan aku ke rumah Pras! Tapi sebelumnya, aku mau membeli minuman di club depan sana! Kita berhenti sejenak di sana!" titah Rian.
"Baik, Pak! Jika seperti ini, saya mau mengantarkan Bapak karena Bapak mempunyai tujuan yang jelas!" ucap supir taksi tersebut. Perlahan tangannya menancapkan gas dan taksi pun mulai membelah jalanan ibu kota yang terlihat ramai.
Sedangkan di satu sisi. Pras berusaha menelfon sahabatnya yang entah di mana.
"Kak, kakak sudah berhasil menelfon Kak Rian?" tanya Lidya saat melihat raut wajah kakaknya yang tenang.
"Dia tidak mengangkat telfon ku. Mungkin, dia sedang bersenang-senang bersama istrinya yang baru? Kamu tidak perlu khawatir dengannya. Kamu cukup masuk ke kamar dan kerjakan tugas kuliahmu. Besok, kau masuk kuliah." titah Pras.
"Aku sedikit khawatir dengan Kak Rian, Kak! Apalagi saat melihat Kak Aya bersikap dingin dengan Kak Rian. Aku takut, Kak Rian berubah seperti dulu lagi. Yang suka mabuk-mabukan tidak jelas!"
"Lidya. Dia bukan siapa-siapa mu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Rian. Biar Rian urusan Kakak!"
"Iya, aku tahu, Kak! Tapi kalau sampai malam nanti, Kak Rian belum pulang ke rumah ini, Kakak coba hubungi lagi, ya! Aku takut terjadi sesuatu padanya. Aku sudah menganggapnya sebagai Kakakku sendiri." ujar Lidya yang mendapat anggukan kecil dari Pras.
"Hem. Mungkin saja dia pulang ke asalnya?" jawab Pras.
"Kalau Kak Rian pulang ke rumahnya. Kak Rian bisa minta hubungi kakak dulu. Jadi, kita tidak mengkhawatirkannya. Mau bagaimana pun, Kak Rian tanggungjawab kita, Kak!"
"Iya, iya! Masuklah. Kerjakan tugasmu. Urusan Rian, biar aku saja yang menanganinya." titah Pras membuat Lidya berjalan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Di satu sisi. Setelah membeli minuman di club terdekat. Kini Rian sudah sampai di depan halaman rumah Pras.
Mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Seketika Pras berjalan dan membuka tirai jendela rumahnya. Dia melihat sahabatnya yang baru saja turun dari mobil dengan wajah kusutnya. Segera Pras membuka pintu utama rumahnya.
"Hei, kau di sini?" tanya Rian saat melihat pintu terbuka.
"Kau dari mana saja, ha? Kenapa pakaianmu berantakan. Kau habis bertengkar?" tanya Pras mempersilahkan sahabatnya masuk ke dalam. "Kau bawa apa?" sambungnya lagi.
"Ini?!" ujar Rian memperlihatkan botol minuman yang baru saja di beli.
Melihat botol minuman, seketika mata Pras membulat sempurna. "Kau! Kau gila, Rian! Kau mau minum di rumah ini?" tanya Pras tak percaya. Dia menutup pintu rumahnya dan berjalan menghampiri sahabatnya. "Aku tidak izinkan kamu minum minuman seperti ini di rumahku. Apalagi rumahku ada Lidya. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Adikku sendiri."
"Itu tidak mungkin. Kita minum di kamarku saja! Aku butuh teman untuk melampiaskan semua masalahku!" ajak Rian berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Aku tetap tidak mengizinkanmu, Rian! Aku tidak mau, terjadi keributan di rumah ini. Sebaiknya, kau buang jauh-jauh minuman itu!" ketus Pras menutup pintu kamar Rian.
"Kecewa? Karena apa? Bukankah, yang seharusnya kecewa itu Aya bukan kamu? Ingat, perlakuan burukmu tadi membuat Aya marah padamu!"
"Itu tidak sebanding dengan apa yang aku lihat barusan. Kau tahu, aku pikir Aya wanita baik-baik, tapi di belakangku ... dia diam-diam--" ucapan Rian terhenti. Bayangan senyum Aya saat melihat fajar di rumah tadi membuat emosi Rian semakin memuncak.
"Diam-diam apa?" tanya Pras penasaran.
"Argkh! Mereka tinggal satu atap! Aku tidak habis pikir dengan Aya. Kenapa Aya mau tinggal satu atap dengan pria sepertinya! Padahal, dia belum resmi bercerai dariku!" pekik Rian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Satu atap? Aya dengan siapa?" tanya Pras semakin kebingungan.
"Menurutmu siapa, ha? Kalau bukan fajar! Pria itu memang menyebalkan. Dia sudah mencuci otak Aya dan tadi ... aku melihat dia sedang menunggu di depan rumah Aya. Mereka masuk ke dalam rumah itu dengan bahagia."
__ADS_1
"Kau yakin, Rian? Aya seperti itu? Aku tidak percaya, kalau Aya akan melakukan hal serendah itu. Apa mungkin, kau salah lihat!" tanya Pras memastikan.
"Bagaimana aku salah lihat, hah! Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Pria itu tersenyum dan menggoda Aya. Aku lihat sendiri, Pras! Aku tidak bisa biarkan mereka terlalu dekat lagi. Aku tidak mau, Aya jatuh ke pelukan pria itu. Dia istri aku, Pras! Istri aku! Dan selamanya akan tetap menjadi istri aku!" pekik Rian.
"Tapi bukankah Aya mau menceraikanmu, ya? Itu artinya, sebentar lagi Aya bukan istrimu, Rian!"
"Tidak ada kata perceraian. Aku pastikan itu! Aku akan mempertahankan rumah tanggaku. Aku tidak bisa melepaskan Aya ke tangan pria sepertinya!"
"Kau terlalu percaya diri, Rian!"
"Jelas, aku harus percaya diri. Karena apa? Karena semua bukti ada di ponsel Aya, dan ponsel Aya sudah berada di tanganku." jawab Rian bangga. "Sekarang, temani aku minum. Aku butuh teman dan kunci kamar ini agar Lidya tidak masuk!" titahnya lagi.
"Dasar buaya darat. Aya tidak mungkin diam saja. Dia pasti akan mencari bukti lainnya!"
"Bukti apalagi? Vina? Aku sudah asingkan dia ke tempat yang semua orang tidak tahu." jawab Rian tersenyum menang. "Sekarang, temani aku minum!"
"Aku tidak selera minum. Kau bisa minum sendiri," tolak Pras.
"Ayolah, Pras. Aku butuh teman!" ajak Rian.
"Aku malas. Besok ada klien baru yang ingin bertemu denganku. Jadi, aku harus mempersiapkan diriku. Wajahku harus cerah dan penampilanku harus bersih dan segar."
"Sebentar saja, Pras! Ingat, ada beberapa sahamku di perusahaanmu. Aku bisa saja mengambil semua sahamku dan perusahaanmu akan hancur dalam sekejap!" ancam Rian membuat Pras menjatuhkan pantatnya di sofa kamar. "Aku temani, tapi aku tidak tertarik untuk meminum minuman seperti itu!"
"Tidak masalah. Aku hanya butuh teman untuk menyalurkan rasa kesalku." jawab Rian berjalan dan mengambil botol minuman yang mengandung alkohol.
Perlahan tangannya membuka botol tersebut dan menuangkan isinya ke dalam gelas kecil. "Kau tahu, aku tidak mungkin meminum minuman seperti ini, kalau bukan Aya yang membuatku frustrasi."
__ADS_1