
"Bu Aya ada di ruangannya. Pak fajar bisa tunggu sebentar. Biar saja yang memanggilkan Bu Aya!" titah Rere.
"Tunggu dulu. Aku sempat mendengar kalian semua mengatakan grand opening. Memangnya, siapa yang mau buka usaha?" tanya fajar mencegah Rere menaiki tangga.
'Syukurlah, kalau pak fajar tidak mendengar semua ucapan kita semua dengan Bu aya.' batin Rere menghembuskan napasnya lega.
"Hei, aku bertanya dan tolong jawab pertanyaanku!" titah fajar.
"Maaf, pak! Tapi kita sedang berbicara ruko samping yang kosong. Kita dengar-dengar kalau ruko samping sudah ada yang membelinya. Dan itu artinya, sebentar lagi kita akan melihat grand opening ruko samping. Tapi kita juga tidak tahu, produk apa saja yang akan dijual di ruko samping. Dan Bu Aya sangat senang. Akhirnya, kita punya teman!" jawab rere bohong, 'Semoga saja, Pak fajar mempercayai semua ucapanku!' batin Rere.
"Ruko yang kosong ini? Bukankah ruko di samping terlalu sempit? Tidak cocok untuk usaha!" jawab fajar.
"Saya juga tidak tahu kejelasannya, Pak. Kita semua juga dengar dari orang-orang yang berbelanja di butik. Untuk urusan benar atau tidaknya, kita tidak tahu!" titah Rere.
"Ya, sudah. Sekarang, panggilkan Aya. Aku tunggu di sini." titah fajar membuat Rere berlarian menaiki tangga agar cepat sampai di lantai atas.
Setelah sampai di lantai atas. Rere mengetuk pintu ruangan yang tertutup.
Tok ...
Tok ....
"Bu Aya!" panggil Rere sambil mengetuk pintu ruangan bos nya.
"Masuk, Re!" titah Aya.
"Baik, Bu!" jawab Rere membuka pintu ruangan dan berjalan masuk.
"Ada apa, Re? Baru saja aku menjatuhkan pantatku di kursi kerjaku." tanya Aya menyalakan laptopnya.
"Bu, di lantai bawah ada Pak fajar. Dan pak fajar sempat mendengar pembicaraan kita." ucap Rere.
__ADS_1
"Lalu, kamu bicara jujur tentang pembukaan cabang butik kita di Bandung?" tanya Aya tak percaya.
"Tidak, Bu. Untung saja, Pak fajar hanya mendengar kata-kata grand opening saja. Jadi, saya bisa berbohong. Saya bilang saja, kalau ruko sebelah yang kosong, sudah di beli orang dan kita semua sedang menunggu grand opening ruko tersebut." jawab Rere.
"Terimakasih, Re. Kamu sudah menutupi semua ini dari Mas fajar!"
"Iya, Bu. Sama-sama. Ibu yang akan turun menemui Pak fajar atau Pak fajar yang naik ke atas?" tanya Rere memastikan.
"Suruh Mas fajar naik ke atas saja, Re! Kebetulan aku capek naik turun terus. Tadi sebelum sampai butik, aku harus membereskan kamar suamiku dulu yang seperti kapal pecah." jawab Aya.
"Maksud ibu, Pak Rian?" tanya Rere lirih.
"Siapa lagi suamiku kalau Mas Rian! Kamu ini aneh, Re! Memangnya, aku punya suami berapa, Hem? Coba beritahu aku. Berapa suamiku?" tanya Aya menggelengkan kepalanya lirih berulang kali.
"Hehehe ... takutnya sudah berubah, Bu! Mengingat Mbak Vina yang bersikap--"
"Jangan diteruskan lagi, Re! Aku tidak mau, moodku hancur. Sekarang, kamu turun dan kamu bilang ke mas fajar, suruh dia naik ke atas, okeh!" titah Aya, "Dan satu hal lagi, buatkan minuman untuk Mas fajar."
"Baik, Bu!" jawab Rere kemudian berjalan keluar ruangan.
"Kata Bu Aya, pak fajar suruh naik ke atas saja. Bu Aya sedang kelelahan!" titah Rere.
"Ya, sudah. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku akan menemui Aya di ruangannya!" jawab fajar lalu melangkahkan kakinya menaiki satu per anak tangga.
Setelah sampai di depan ruangan Aya. Fajar mencoba mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok ...
Tok ....
"Aya!" panggil fajar.
__ADS_1
"Iya, Mas! Masuk saja!" teriak Aya membuat fajar membuka pintu ruang kerja Aya dan masuk ke dalamnya.
"Mas, tumben datang pagi-pagi sekali. Ada apa, Hem?" tanya Aya basa basi.
"Aku hanya ingin mengecek keadaanmu saja, Ay! Aku takut terjadi sesuatu padamu. Jika sudah melihatmu seperti ini, aku merasa tenang." jawab fajar menjatuhkan pantatnya di sofa.
"Kamu bisa saja, Mas! Oh, iya. Kamu tidak datang ke rumahku, kan? Tadi pagi, aku lupa memberimu kabar, kalau aku mau berangkat lebih awal."
"Tidak apa-apa. Aku sempat ke rumahmu, tapi tidak ada mobilmu. Dan kelihatannya, rumahmu juga sepi. Jadi, aku langsung datang ke butikmu ini!" jawab fajar, 'Apa aku tanyakan saja, kepergian Aya ke rumah wanita tadi? Tapi jika aku bertanya sekarang ... maka Aya akan tahu, kalau sedari tadi mobilnya, aku ikuti?' batin fajar bingung.
"Hahaha ... iya, kamu tahu sendirikan, Mas? Kemarin beberapa karung pakaian datang. Dan mau tidak mau, aku harus membongkarnya. Jika aku membongkarnya di jam buka butik. Itu, artinya ... aku akan merepotkan karyawan lainnya. Juga tidak enak di lihat pelanggan." ujar Aya masuk akal.
'Ay, kamu sangat pandai berbohong.' batin fajar.
"Kamu tidak ke kantor, Mas?" tanya Aya saat melihat sahabatnya melamun.
"Em, hari ini aku free. Aku sudah menyelesaikan pekerjaanku kemarin. Dan aku bawakan kamu sarapan pagi. Aku tahu, kamu belum makan, kan? Ayo, kita makan sama-sama!" titah fajar.
"Mas, kamu tidak perlu repot-repot. Aku bisa cari makan sendiri. Kalau kamu bersikap manis seperti ini, padaku ... bagaimana aku bisa mandiri, Mas! Aku harus belajar mandiri." jawab Aya, 'Ya Tuhan. Bagaimana Mas Rian tidak berpikir buruk tentangku dan Mas fajar. Jika sikap Mas fajar saja sangat manis padaku. Secepatnya, aku harus pergi dari kehidupan mereka. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang mereka.' batin Aya.
"Aku sama sekali tidak merasa di repotkan kamu, Ay! Aku justru senang, kamu bisa sehat dan bahagia terus di saat situasimu yang seperti ini." jawab fajar bangkit berdiri, "Aku ambil makanannya dulu di salam mobil!"
"Minta bantuan ke Rere saja, Mas! Kebetulan, aku sedang memintanya membuatkan minuman untukmu. Sebentar lagi, dia datang!" ujar Aya.
"Ya, sudah." jawab fajar lalu melihat jari telunjuk Aya di plester. "Ay, tanganmu kenapa?" tanya fajar penasaran.
"Tangan?" gumam Aya menatap jarinya.
"Iya, kenapa jarimu di plester? Apa kamu baru saja terluka? Semalam, aku belum melihatnya!" tanya fajar.
"A-aku tidak apa-apa, Mas. Tadi, sewaktu aku mau menutup mobil. Tanganku sedikit terjepit. Jadinya seperti ini!" jawab Aya.
__ADS_1
"Kamu tidak berbohong, kan?" tanya fajar memastikan.
"Untuk apa aku berbohong, Mas! Tidak mungkin aku berbohong padamu, Mas!" jawab Aya dengan senyum palsunya. 'Maafkan aku, Mas. Aku memang berbohong. Tapi aku tidak bisa memberitahukan alasan yang sebenarnya, kalau jariku terluka karena membersihkan kamar Mas Rian yang seperti kapal pecah!' batin Aya menyembunyikan tangannya. "Aku tidak apa-apa!" sambungnya lagi.