
"Aku tanya serius kak?" ucap Lidya.
"Maaf Lidya. Kakak tidak bisa memperbaiki rumah tangga kakak dengan suami Kakak. Sudah, ya! Jangan bicara apapun lagi. Kakak malas membicarakan semua ini. Bukan berarti, kakak tidak menghargai topik pembicaraanmu. Tapi, biasakah kita cari topik bicara lainnya. Atau, kamu ke sini mau cari apa? Biar Kakak bantu?" ujar Aya.
"Sebenarnya, aku ke sini di ajak Kak Rian, Kak! Cuma, Kak Rian pulang duluan!"
"Mas Rian? Jangan bilang, semalam Mas Rian nginap di rumahmu. Soalnya--"
"Iya, Kak. Dan kakak tahu, Kak Rian sangat menyesal. Dia tidak menyangka pernikahannya akan berakhir seperti ini. Aku kasihan saja melihat Kak Rian." ujar Lidya.
"Tapi, ini jalan yang terbaik. Mas Rian mempunyai wanita simpanan dan kamu juga tahu wanita simpanannya sedang hamil. Kamu ini tidak perlu memikirkan nasib pernikahan Kakak. Pikirkan saja bagaimana kamu bisa lulus dengan nilai yang terbaik. Karena, kakak akan beri hadiah jika kamu lulus dengan nilai terbaik."
"Apa hadiahnya, Kak? Kasih tahu aku, dong!" ujar Lidya penasaran.
"Rahasia dong! Sekarang, kita turun. Dan kakak akan temani kamu cari pakai cocok di pakai kampus! Di sini banyak diskon nya loh!" bisik Aya sambil menaik turunkan alisnya.
"Diskon!" mata Lidya kembali berbinar saat mendengar kata 'diskon' yang keluar dari mulut Aya.
"Iya, yuk kita lihat-lihat. Di sini juga ada beberapa macam varian sepatu."
"Wah, butik Kakak berkembang sangat pesat, ya! Padahal dulu, tidak ada sepatu di sini!"
"Semua ini berkat doa mu. Ayo kita turun!" titah Aya berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya.
Lidya menerima uluran tangan wanita yang beberapa tahun lebih tua darinya. 'Maafkan aku, Kak Rian. Aku sudah gagal membujuk Kak Aya. Sesuai dengan janjiku, setelah ada penolakan maka aku tidak akan memaksanya lagi. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk kalian!' batin Lidya.
"Kamu tahu, besok kakak mulai memasukkan beberapa barang baru seperti tas dan high heels. Siapa tahu, kamu minat. Karena besok, Kakak akan memberikan diskon 50 persen untuk pembelian tas juga high heels di hari pertama!" ujar Aya berjalan menuruni tangga.
"Nanti, aku mau bilang ke kak Pras untuk mentransfer uang yang banyak!"
"Hahaha ... bagaimana kabar kakakmu. Dia baik-baik saja, kan?"
__ADS_1
"Ya begitulah. Keadaan Kak Pras jauh lebih buruk. Hobinya suka marah-marah saat kak Rian tinggal di rumahku!" ucap Lidya dengan senyumnya.
"Marah? Memangnya, mereka ada masalah apa?"
"Kak Pras tidak suka jika aku berdekatan dengan Kak Rian. Dia takut, kalau istri siri Kak Rian marah atau menganggapku sebagai pelakor."
"Oh!" jawab Aya sambil menganggukkan kepalanya. "Kakak tahu apa yang di pikirkan Mas Pras. Tapi, menurut kakak, lebih baik kamu ikuti saja perintah kakakmu. Pasti dia ingin yang terbaik untukmu!"
"Tapi aku juga kasihan dengan Kak Rian. Kakak tahu tidak? Kak Rian semalaman gelisah. Dia memikirkan bagaimana caranya agar kakak tidak menceraikan Kak Rian. Dia sangat menyesali perbuatannya."
"Penyesalan datang di akhir, bukan?" jawab Aya lalu melangkahkan kakinya menuju dress selutut yang terpajang di dekat pintu masuk. "Lihatlah, ini bagus untukmu!" titah Aya.
Lidya menatap sekilas dress yang sangat cantik itu. "Aku tidak pantas memakai pakaian seperti itu, kak! Kak Pras pasti langsung marah."
"Tapi kamu suka, kan?" tanya Aya yang mendapat anggukan kecil dari Lidya.
"Suka Kak, bagus banget! Pasti ibu produk terbaru butik Kakak!" ujar Lidya.
"Tolong apa, kak?"
"Kamu jadi model pakaian ini di butik Kakak, ya! Kebetulan kakak lihat ... postur tubuhmu sangat ideal." ucap Aya.
"Jangan Kak! Please, aku malu!"
"Lidya, kamu ini cantik. Kalau kakakmu yang marah, biar kakak yang bicara!"
"Bukan begitu, Kak! Kak Pras pasti setuju aja. Tapi, aku tidak pintar bergaya! Bagaimana, kalau hasilnya kaku seperti patung. Tidak lucu, kan! Nanti imbasnya ke butik Kakak!" keluh Lidya membuat Aya terkekeh.
"Tenang saja. Ada Kakak! Kita akan jadi model pakaian ini. Kamu pakai warna nude dan kakak pakai warna hitam. Tapi memang bagian punggung sedikit terbuka. Biar kakak hubungi Mas Pras untuk meminta izin. Kirimkan nomer Kakakmu, Li!" titah Aya menganggukkan kepalanya saat melihat wanita di hadapannya terlihat ragu.
"Kakak yakin kalau kakak mau minta izin ke Kak Pras? Dia jago memotret. Nanti ujung-ujungnya Kak Pras yang memotret kita! Kalau masalah punggung terbuka, aku sudah biasa menggunakan dress seperti itu, Kak! Hanya saja, tanpa sepengetahuan Kak Pras. Seperti pesta bersama teman-teman kampusku, hehehe!"
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kakak juga tidak mau tiba-tiba Mas Pras melihat fotomu yang menggunakan dress ini. Lalu dia bisa salah paham dan memarahimu. Padahal, Kakak yang minta. Kirimkan nomer ponsel Mas Pras, okeh?"
"Iya, kakakku tersayang. Akhirnya, aku bisa jadi model. Walaupun model di butik Kakak, tapi aku sudah sangat senang. Cita-cita kecilku kesampaian juga!" gumam Lidya menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Aya.
"Sama-sama Lidya. Kamu ini sudah aku anggap sebagai adikku sendiri."
"Iya kak. Sebentar, aku kirim dulu!" titah Lidya, lalu mencari nomer Pras dan mengirimkannya pada Aya.
"Sudah, kak! Coba Kakak cek aja!" titah Lidya membuat Aya merogoh saku celananya.
"Okeh, Kakak telfon Mas Pras dulu, ya!" ujar Aya kemudian memencet tombol telfon dan mendekatkan benda pipihnya ke telinga.
Sedangkan di satu sisi. Pras yang tengah bersantai di ruang kerjanya pun terkejut saat mendengar nada dering ponselnya. Di raihnya ponsel tersebut dan Pras dapat melihat nomer tak dikenal.
"Nomer siapa ini?" tanya Pras menggeser tombol hijau dan mengaktifkan pengeras suara.
"Hallo, dengan siapa?" tanya Pras.
"Hallo, Mas Pras. Ini aku, Aya. Aku mau minta izin boleh?" tanya Aya di seberang sana.
"Izin? Izin untuk apa Ay? Dan maaf, aku tidak tahu, kalau nomer asing ini nomermu!" ucap Pras merasa tak enak.
"Tidak apa-apa. Oh iya, aku mau pinjam Lidya, boleh? Kebetulan, aku sedang membutuhkan Lidya sebagai model di butik aku. Kalau Mas Pras mengizinkan, aku akan memakai Lidya menggunakan produk terbaru dari butikku. Dan tenang saja, aku ikut dalam sesi pemotretan ini. Tapi ...."
"Tapi apa, Ay?"
"Mohon maaf, masalah pakaian yang akan di bintangi oleh Lidya dan aku, sedikit terbuka di bagian punggung. Jika Mas Pras keberatan, aku bisa memakluminya." lirih Aya sambil menatap Lidya yang tengah menyimak ucapan Aya dan Kakaknya.
"Sedikit terbuka? Lalu siapa fotografernya?" tanya Pras.
"Di butik memang sudah ada fotografer sewaan kita. Aku akan panggilkan dia setelah mendapat izin dari Mas Pras!"
__ADS_1
"Biar aku saja yang menjadi fotografer kalian!" titah Pras.