Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 73


__ADS_3

"Aku tidak perduli itu! Yang aku perdulikan hanya kamu, Ay! Kamu jahat, Ay! ketus Rian.


"Jahat," gumam Aya, "Kamu yang jahat bukan aku, Mas!" ucap Aya melepas tangan suaminya.


"Ada hubungan apa kamu dengan fajar, ha! Ada hubungan apa!" ujar Rian bangkit dan berjalan beberapa langkah memunggungi istrinya.


Aya menatap suaminya, dia bangkit dan menatap punggung suaminya. "Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan mas fajar!" jawab Aya.


"Bohong!"


"Aku tidak bohong. Aku dan Mas fajar hanya sebatas teman dan kita tidak mempunyai hubungan yang seperti kamu maksud, Mas!"


"Aku lihat sendiri, ay! Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, dan kamu masih mengelak?" ucap Rian dengan senyum sinisnya.


"Lihat? Kamu lihat apa?" tanya Aya kebingungan.


"Aku pikir, kamu tidak akan membalas semua pengkhianatan yang pernah aku lakukan, Ay. Dan aku pikir, kau orang yang sangat tulus dalam mencintai seseorang, tapi aku salah! Kau sama denganku. Kau membalas semua yang aku lakukan dengan cara berkhianat dengan pria yang bernama fajar. Pria yang berstatus sahabatmu!"


"Jaga ucapanmu, aku sama sekali tidak berkhianat. Kamu kalau bicara seharusnya di saring dulu. Ucapanmu bisa membuat orang yang mendengarnya tersinggung." ketus Aya emosi.


"Aku bicara fakta. Aku melihat semua, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!" pekik Rian emosi, lalu memutar tubuhnya dan menatap wajah istrinya. "Aku melihat sendiri, kalian berkhianat, Ay!" sambungnya lagi.


"Coba kamu jelaskan ke aku, Mas! Kamu melihat apa saja, ha! Aku sama sekali tidak berkhianat, Mas! Aku sadar, aku ini masih istrimu. Jadi, aku tidak mungkin melakukan hal se hina itu. Cukup kamu saja yang berkhianat di belakangku dengan sahabatku sendiri." sindir Aya.


"Tutup omong kosongmu, Ay. Aku sudah tidak percaya denganmu, lagi. Kamu sudah berubah, kamu bukan Aya yang aku kenal lagi. Aya yang setia dan sangat mencintaiku!"


"Ya, kau benar, Mas! Aku memang bukan Aya yang dulu lagi, bukan Aya yang tergila-gila dengan ucapan manis yang keluar dari mulut orang pengkhianat sepertimu!" ketus Aya berjalan mengambil tas nya. "Terimakasih, telah menyambut kedatanganku dengan ucapan kotormu!"

__ADS_1


"Mau kemana? Mau bertemu dengan fajar? Padahal, baru semalam kalian bertemu, kalian makan malam bersama dan mungkin kalian menghabiskan waktu semalam itu dengan indah. Katakan padaku, sudah berapa lama kamu tinggal satu atap dengan fajar? Sudah berapa lama, ha!" pekik Rian menghentikan langkah Aya yang ingin memutar gagang pintu.


"Apa maksudmu, Mas! Siapa yang tinggal satu atap?" tanya Aya kebingungan..


"Mau beralasan apalagi, Ay! Aku sudah melihat semuanya, aku melihatmu di sambut hangat oleh fajar semalaman. Dan aku yakin, kalian sudah tinggal satu atap selama kamu pergi dari rumahku, iya, kan!" pekik Rian.


"Kamu gila, Mas! Apa yang semua kamu katakan itu tidak benar. Aku tidak pernah tinggal satu atap dengan Mas fajar. Kamu salah paham!"


"Salah paham? Aku salah paham dari mana, Ay? Jelas-jelas ke dua bola mataku melihat sendiri, bagaimana kamu di sambut hangat oleh pria yang tidak tahu diri itu! Aku memang salah, Ay! Dan aku mengakui semuanya, aku mengakui semua kesalahanku. Tidak ada yang aku tutup-tutupi dari kamu, tidak ada, Ay! Tapi kamu apa? Kamu malah menutupi semua kesalahanmu dan terus mengelak." ujar Rian. "Kau tahu, hati ini ... sakit! SAKIT! saat melihatmu dan pria itu masuk ke dalam satu rumah yang sama."


"Lalu, bagaimana dengan hatiku dulu, Mas! Aku melihatmu berpelukan dengan Vina di halaman rumah Vina. Bagaimana hancurnya hatiku saat itu, Mas! Apa kamu merasakannya, dulu? Tidak, kan? Kalian justru tertawa bahagia di belakangku. Sekarang, kita seri, Mas!" jawab Aya mengeratkan cengkraman tangannya yang memegang tas nya.


"Tapi aku tidak mau, wanita yang aku cintai di sentuh pria lain, Ay! Aku tidak mau!"


"Aku tidak pernah di sentuh siapapun. Aku bukan wanita mura han seperti Vina. Yang menghalalkan segala cara untuk merebut kamu dariku, Mas! Sampai-sampai hamil anakmu!" ketus Aya. "Aku harus pergi," sambungnya lagi lalu membuka pintu kamar.


"Aw, ... kamu mau pergi kemana, ha! Suamimu ini belum selesai bicara!" ringis Rian lalu melihat cairan merah yang keluar dari kakinya.


"Lepasin aku, Mas! Aku harus pergi!" ketus Aya.


"Ay, jangan gugat cerai aku!" pinta Rian memohon, dia menekuk ke dua lututnya bersujud di depan tubuh Aya. "Aku mohon ... kita perbaiki semuanya dari nol. Aku janji, aku tidak akan berselingkuh lagi. Sewaktu itu, pikiranku kacau, Ay! Aku takut kamu pergi meninggalkanku karena ibu yang selalu mengumpatmu yang tak bisa memberikan cucu untuknya, aku mohon ..."


"Berdiri, Mas! Lebih baik, kamu obati lukamu dulu!" titah Aya.


"Aku tidak akan berdiri sebelum kamu menerimaku lagi. Aku tidak sanggup melihatmu dengan fajar. Okeh, aku akan memaafkan kesalahanmu yang telah berkhianat dengan fajar dan aku tidak akan berbicara dengan siapapun. Asalkan kamu mau kembali bersamaku, Ay! Aku sudah menurunkan harga diriku di depanmu, Ay! Kita kembali, ya!" titah Rian lagi.


Aya menghembuskan napasnya kasar. Dia membantu suaminya berdiri. "Aku bantu kamu duduk di kasur, Mas!" titah Aya.

__ADS_1


"Ay, please!" mohon Rian.


"Kita duduk di kasur dulu, Mas! Lukamu harus di obati. Itu da rah nya sudah menetes kemana-mana. Aku takut terjadi sesuatu denganmu!" ujar Aya lagi sambil membantu suaminya berjalan menuju tepi ranjang.


Set berhasil menundukkan suaminya di tepi ranjang, Aya menekuk ke dua lututnya. Dia melihat pecahan kaca yang masih menancap di kaki suaminya.


"Tahan sakit sebentar saja. Aku mau ambil pecahan kaca yang ada di kakimu!" titah Aya.


"Aku tidak akan merasa sakit di kakiku. Hatiku jauh lebih sakit, Ay!" jawab Rian di abaikan istrinya.


Aya lebih memilih untuk mengambil serpihan kaca yang menancap di kaki suaminya.


"Sakit, mas?" tanya Aya setelah berhasil membuang serpihan kaca. "Di sini ada obat merah, tidak? Biar aku obati sekalian kakinya?" sambungnya lagi.


"Tidak ada!" jawab Rian. "Dan aku tidak butuh obat. Yang aku butuhkan hanya kehadiranmu di sisiku, Ay!" ujarnya lagi.


Aya meletakkan tas nya di tepi ranjang, dia berjalan keluar kamar.


'Aku merindukan moment-moment seperti ini, Ay! Aku rela sakit asalkan kamu selalu ada di sisiku.' batin Rian.


Setelah keluar dari kamar suaminya, Aya berjalan mengetuk kamar Lidya.


"Lidya!" panggil Aya.


"Iya, Kak! Sebentar!" teriak Lidya lalu berlari membukakan pintu kamarnya.


Krek!

__ADS_1


"Ada apa, kak?" tanya Lidya setelah membuka pintu kamar.


__ADS_2