
'Kesempatan ke dua berlaku hanya untuk masalah kecil, Mas! Masalah perselingkuhan dan menghamili wanita lain di belakang aku, apa masih pantas aku berikan kamu kesempatan ke dua? Hatiku sudah hancur dan apa semuanya bisa kembali utuh lagi? Ibarat kata ... gelas kaca itu sudah pecah, Mas! Untuk menyatukannya kembali, pasti perlu waktu dan mungkin ... setelah di satukan kembali ... gelas itu tidak lagi sama seperti awal, yang cantik dan indah!' batin Aya.
Sedangkan di satu sisi. Fajar yang tak jauh dari toilet wanita melihat pria yang dia kenali sedang berdiri di depan pintu yang dia yakini, terdapat sosok wanita yang dia cari.
'Mereka bertemu? Tapi kenapa Aya bohong padaku? Dia bilang, dia mau mencari temannya yang bernama Pras, tapi kenapa aku melihat pemandangan yang membuat mataku terasa sakit!' batin fajar yang tak melepaskan pandangannya.
Aya keluar toilet, dia melihat suaminya yang masih berdiri di depan pintu toilet.
"Kenapa kamu masih di sini, Mas?" tanya Aya sambil membersihkan tangannya dengan tissue.
"Kita belum selesai bicara, sayang! Dengarkan aku dulu!"
"Apalagi, Mas! Dan satu hal lagi, jangan panggil aku dengan sebutan 'sayang'. Aku tidak mau, istri baru mu marah!" kesal Aya.
"Aku mencintaimu, Ay! Kita perbaiki semuanya secara diam-diam." pinta Rian meraih dan menggenggam ke dua tangan istrinya, "Aku tahu, semua ini belum berakhir. Dan aku tahu, kita bisa memperbaiki semuanya. Ini ujian rumah tangga kita. Seharusnya, kita bisa hadapi semuanya sama-sama, Ay! Kamu mau kan ... tetap di sampingku." rayu Rian mengeratkan genggaman tangannya.
"Lepas, Mas! Aku tidak mau, ada orang yang melihat kita di sini!" titah Aya berusaha melepaskan cengkraman tangan suaminya.
"Kita perlu bicara lagi, Ay! Ikut aku!" titah Rian.
"Aku tidak bisa, Mas! Yang lain sudah menungguku!" tolak Aya.
"Kita pulang sama-sama! Biarkan yang lain pulang lebih dulu! Ini masalah serius, aku tidak mau pernikahan kita hancur!" titah Rian kemudian menarik tangan istrinya menuju ruang VIP.
"Mas aku tidak suka kamu tarik-tarik aku, ya! Aku tidak mau berurusan lagi denganmu atau istri baru mu! Sekarang, lepaskan aku, Mas!" geram Aya.
"Ay, aku mohon ... ikut aku, ya! Sebentar saja!"
"Tidak mau Mas!"
"Aya sayang! Aku mohon ... ikut aku, ya! Kita butuh waktu untuk membicarakan semua ini!" pinta Rian membuat Aya menghembuskan napasnya kasar.
"Lepasin aku, Mas! Aku bisa jalan sendiri tanpa perlu di gandeng!"
"Aku takut kamu pergi, Ay! Jadi, aku mau gandeng kamu!" titah Rian.
__ADS_1
"Aku risih, aku bisa jalan sendiri. Aku bukan kamu, Mas! Aku tidak mungkin kabur. Tapi waktuku hanya sebentar," titah Aya melepas genggaman tangan suaminya.
"Kamu bisa bicara ke mereka semua, kalau kamu pulang sendiri, Ay! Aku akan mengantarmu!" tawar Rian.
"Tidak usah, Mas! Sudah berulang kali, aku bilang ... kalau aku tidak mau, ada masalah lagi dengan istri baru mu!" jawab Aya masuk ke dalam ruangan VIP.
Melihat teman wanitanya masuk ke dalam ruangan VIP, fajar berjalan keluar restoran, dia menghampiri Pras dan Lidya yang sudah menunggu di dalam mobil.
"Hubungi Aya, sekarang juga! Suruh dia ke mobil!" titah fajar pada Pras.
"Memangnya, ada apa dengan Aya? Apa ada masalah dengannya?" tanya Pras.
"Dia sedang dalam masalah. Hubungi dia sekarang juga!" titah Fajar membuat Pras mengambil ponsel dan menghubungi istri dari sahabatnya.
Tut ...
Tut ....
Merasakan ponselnya bergetar, Aya yang baru saja mendudukan pantatnya pun langsung mengambil dan melihat nama si penelepon. 'Mas Pras, pasti mereka sudah menungguku terlalu lama!' batin Aya menggeser tombol hijau dan mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
"Mas, ponselku! Kembalikan ponselku, Mas!" titah Aya.
"Biar aku saja yang mengangkat telfonnya! Memangnya, telfon dari siapa?" tanya Rian menatap nama penelfon di layar ponsel istrinya.
"Pras? Kamu punya nomer Pras? Sejak kapan kamu punya nomer dia, Ay! Aku tidak suka kamu menyimpan nomer pria lain! Ingat, kamu ini masih istriku!" kesal Rian mendekatkan ponsel istrinya ke telinga. "Ada apa! Aya sedang bersamaku!" ketus Rian.
"Oh, jadi Aya sedang bersamamu?" tanya Pras berbisik. "Aku hanya memastikan keadaan Aya, dia baik-baik saja atau tidak! Soalnya, dia tiba-tiba menghilang setelah berpamitan ke toilet!" jawabnya lagi.
"Aya pulang bersamaku. Kalian semua pulanglah lebih dulu! Jangan menunggu Aya!" jawab Rian.
"Okeh! Aku bicarakan ini ke lainnya. Have fun!" ujar Pras mematikan panggilannya.
Setelah telfonnya berakhir, Rian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Mas, itu ponselku!" ketus Aya.
__ADS_1
"Aku pinjam ponselmu dulu!"
"Tidak boleh, Mas! Itu privasiku! Cepat kembalikan ponselku!" titah Aya yang mendapat gelengan kecil dari suaminya.
"Sekarang, aku mau kita bahas hubungan rumah tangga kita!" titah Rian.
"Apa yang perlu kita bahas, Mas? Semuanya sudah selesai! Aku mau kamu kembalikan ponselku! Aku harus pergi!" kesal Aya.
"Kalau kita tetap bersama-sama menggunakan syarat bagaimana, Ay?" tanya Rian mengalihkan pembicaraan.
"Apa maksudmu! Syarat seperti apa?" tanya Aya.
"Aku akan berikan semua hartaku padamu, tapi kamu jangan pergi dariku, Ay! Aku tidak mau kita berpisah!" pinta Rian.
"Oh, jadi kamu mikir ... kalau aku wanita yang gila harta, Mas? Kamu pikir, aku wanita matre!" pekik Aya tak percaya.
"Bukan seperti itu, Ay! Aku tidak pernah menganggapmu wanita matre, aku cuma mau memberikan apa yang aku punya! Asalkan kamu mau mempertahankan rumah tangga kita!"
"Itu tidak mungkin, Mas! Lebih baik, aku hidup berkecukupan, dari pada aku hidup bersama pria pembohong sepertimu! Hatiku sakit saat melihat kamu selingkuh bersama sahabatku! Aku tidak akan bisa melupakan itu, Mas!"
"Sayang, aku rela semua yang aku punya untukmu! asalkan kamu ada di sisiku!" rayu Rian.
"Kamu gila, Mas! Dulu kamu kemana aja! Kamu bersenang-senang dengan Vina di belakang aku!"
"Ay, aku khilaf!"
"Tidak ada kata khilaf, Mas! Sekarang, berikan ponselku dan aku harus pergi! Semua orang sudah menungguku!" ujar Aya beranjak berdiri. Dia berjalan menuju suaminya yang tengah duduk. "Berikan ponselnya, Mas!"
"Tidak akan! Aku pegang ponselmu ini, Ay! Aku mau tahu, kamu menyimpan berapa banyak nomer pria di dalam ponselmu ini!" ketus Rian.
"Ish, Mas! Stop! Mau berapa banyak aku menyimpan nomer pria, itu bukan urusanmu lagi!"
"Itu masih urusanku, Ay! Kita belum ada surat cerai yang Sah!"
"Okeh, ambil saja ponselku itu! Aku bisa beli ponsel baru! Lama kelamaan, aku capek sama kamu, Mas! Sikapmu benar-benar berubah!" pekik Aya melanjutkan langkahnya keluar ruangan VIP
__ADS_1