Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 39


__ADS_3

"Aku akan membuat drama lagi dengan adikmu!" jawab Rian dengan senyum iblisnya.


"Tidak, tidak! Aku tidak setuju. Dia masih kecil! Masih kuliah. Jangan aneh-aneh." ketus Pras.


"Ayolah bantu aku, Pras! Kita sudah bersahabat sejak lama. Dan aku sudah mengenal adikmu lama! Kita saling mengenal!" rayu Rian yang mendapat gelengan dari sahabatnya.


"Kau pikir, adikku mainan, ha! Bagaimana, kalau istri muda mu mencelakai adikku karena ulahmu. Aku tidak mau menanggung resikonya!"


"Itu tidak mungkin."


"Tidak mungkin bagaimana, Rian! Kalau Aya aku percaya, tapi kalau istrimu yang satu ini ... aku tidak percaya!"


"Aku yang akan menjaminnya." bujuk Rian lagi.


"Kau ini, apa kau tidak capek berbohong terus. Mau ber drama apa lagi, kamu mau meminta adikku untuk menjadi selingkuhanmu? Oh, tidak bisa. Otak adikku bisa teracuni olehmu!" tolak Pras mentah-mentah.


"Biarkan adikmu yang akan memutuskan. Sekarang, beritahu aku, di mana adikmu berada? Kita ke sana!"


"Tidak akan!"


"Pras, kau tahu aku, kan? Aku tidak mungkin merugikan orang lain."


"Aku tahu kau ini manusia, tapi aku tidak tahu seperti apa isi otakmu itu. Aku tidak mau adikku yang cantik dan polos, ternodai pikirannya olehmu!" ketus Pras.


Di saat Rian dan Pras sedang bertengkar, tiba-tiba mereka mendengar suara pintu terbuka, membuat ke dua pria itu seketika menoleh.


"Lidya! Kenapa kau kembali ke rumah ini? Sudah kakak bilang, jangan kembali ke sini sebelum kakak minta!" kesal Pras saat melihat adiknya datang.


"Keberuntungan bagiku!" lirih Rian, "Lidya, apa kabar? Kita sudah lama tidak bertemu." tanya Rian dengan nada lembut.

__ADS_1


"Hai, Kak Rian. Kabarku baik. Oh iya, Kak Pras! Aku datang ke sini, karena ada buku yang aku lupa bawa. Jadi, aku mampir sebentar!" ucap Lidya.


"Boleh aku minta tolong, Lidya?" tanya Rian membuat Pras menatap tajam sahabatnya.


"Rian! Aku tidak setuju dengan caramu!" ketus Pras.


"Minta tolong apa, kak?" tanya Lidya.


"Sebaiknya, kita duduk dan aku akan ceritakan semuanya!" titah Rian.


"Lidya, masuk ke kamar dan ambil buku yang lupa kamu bawa. Setelah itu, kamu langsung pergi, jangan dengarkan ucapan Rian!" titah Pras.


"Tapi kenapa, Kak? Kasihan Kak Rian. Dia membutuhkan bantuanku!" ucap Lidya membuat Pras seketika menggeram kesal.


"Jangan sampai kakak marah karena kau membatu Rian! Ingat, Rian ingin menjebakmu!"


Lidya yang melihat raut wajah lesu Rian pun menganggukkan kepalanya, "Kak, jika ini menyangkut Kak Aya, aku mau membantu. Lagi pula, Kak Aya baik padaku. Iya, kan, Kak Pras?" ujar Lidya meminta pendapat dari Kakak kandungnya.


"Terserahmu saja, Lidya! Tapi ingat, jika terjadi sesuatu padamu. Orang yang pertama kali kamu salahkan, adalah Rian!" kesal Pras.


"Sekarang, kita duduk! Dan Kakak akan menjelaskan semuanya padamu!" titah Rian membuat Lidya mengangguk paham.


Lidya mendudukan pantatnya di sofa, lalu menyimak apa yang akan di katakan sahabat kakaknya.


Rian menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Sebenarnya, istriku meminta cerai dariku, Lidya!" lirih Rian membuat Lidya terkejut.


"Apa!" pekik Lidya, "Maksudnya Kak Aya mau menceraikan Kakak? Tapi kesalahan apa yang Kakak lakukan sampai kak Aya mau menceraikan Kakak? Bukankah, hubungan kalian selama ini baik-baik saja. Bahkan, aku tidak pernah mendengar kalian bertengkar!" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Itu karena Rian menikah lagi, dan kali ini ... dia memintamu untuk dijadikan istri ke tiga nya. Apa kamu mau, menjadi istri ke tiga? Kalau aku tidak mau. Maka dari itu, aku melarangmu, Lidya!" ujar Pras.


"Kalau dijadikan istri ke tiga, aku tidak mau, kak! Aku masih punya hati dan perasaan. Bagaimana, kalau Kak Aya tahu, kasihan dia! Hatinya baru saja hancur karena ulah Kakak, dan sekarang ... kakak mau memintaku menikah dan menjadikanku istri ke tiga. Maaf, Kak! Lebih baik, aku tidak menikah dari pada menikah tapi aku merebut kebahagiaan orang lain!"


Mendengar jawaban dari adiknya yang terpengaruh dari kata-katanya, Pras tersenyum sinis, "Sudah jelaskan? Lidya tidak mau membantumu!" ucap Pras dengan senyum mengejeknya.


"Lidya, apa yang di katakan Kakakmu tidak benar. Aku tidak mungkin memintamu untuk menikah denganku. Kita sudah lama kenal dan aku tidak mungkin melakukan itu!" kesal Rian.


"Lalu, apa Kak? Tapi benar, kalau kakak menikah lagi? Dan Kak Aya meminta cerai karena Kakak yang menikah lagi? iya?" tanya Lidya yang mendapat anggukan kecil dari Rian.


"Benar, aku juga terpaksa. Kali ini, kamu bisa bantu aku, kan? Kamu bisa bantu aku dengan cara membuat panas istri ke dua ku lalu tidak betah bersamaku. Dan kamu bisa bujuk Aya untuk membatalkan perceraian itu?" pinta Rian memohon.


"Tapi, aku masih kecil, Kak? Tidak mungkin, aku membujuk Kak Aya. Sedangkan, aku sama sekali tidak punya pengalaman?" keluh Lidya. "Aku tidak bisa, Kak! Dan kali ini, aku setuju dengan Kak Aya. Lebih baik Kakak menuruti semua permintaan Kak Aya. Karena, aku tahu, bagaimana rasa sakitnya itu. Di putusi pacar aja, terkadang ... sakitnya membuat kita hilang arah. Apalagi, Kakak mendua. Memangnya, kurangnya Kak Aya apa, Kak? Dia baik, cantik, dan mandiri. Jarang sekali, wanita yang mempunyai sifat itu. Tapi malah Kakak menyia-nyiakan. Ini kesalahan Kakak!"


"Lidya, aku tahu ... aku salah. Tapi, aku melakukan semua itu karena aku terpaksa! Kamu tahu arti terpaksa? Cintaku dan sayangku hanya untuk istriku, Aya! Kamu bisa, kan? Bantu aku!" pinta Rian memohon. "Aku janji, kalau kamu mau bantu aku, aku akan mengabulkan semua permintaan kamu! Aku janji!" rayu Rian lagi.


"Jika Kak Aya hatinya sudah hancur, mau Kakak beri aku segepok uang atau benda mewah lainnya, aku sama sekali tidak akan bisa membujuknya. Karena ini masalah hati. Apalagi, kalau kak Aya di dampingi teman atau lainnya yang men support dan menguatkannya. Semua ucapanku tidak akan mempan." jawab Lidya beranjak berdiri.


"Kamu tega melihatku hancur! Kamu bilang, kamu menganggapku sebagai Kakakmu sama seperti Pras. Aku bisa gila, kehilangan Aya." lirih Rian membuat Lidya menghembuskan napasnya kasar.


"Tapi, Kak--"


"Kali ini saja, Lidya. Aku tahu, aku salah. Tapi, aku tidak bisa hidup tanpa istriku. Aku menyesali semua perbuatanku. Aku menginginkan Aya kembali ke pelukanku!" pinta Rian memohon.


"Huft! Baiklah, Kak! Demi Kakak aku mau mencobanya, tapi jika tidak berhasil, aku mundur, ya!" jawab Lidya pasrah.


"Hei, sudah kakak bilang, jangan--" ucapan Pras terhenti saat Rian memotongnya.


"Diamlah! Adikmu sudah setuju!" ketus Rian dengan senyuman manisnya saat menatap wajah Lidya.

__ADS_1


__ADS_2