
"Ya, ibu coba usahakan mendapatkan ponsel ibu yang berada di tangan suami ibu. Jika Ibu berhasil, maka Saya jamin proses perceraian itu akan berjalan dengan lancar," jawab pengacara.
"Baik Pak, saya akan usahakan untuk mendapatkan ponsel saya dari suami saya." ucap aya.
Setelah panggilannya berakhir. Aya memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lagi. Dia membantu Rere dan karyawan lainnya yang sedang memindahkan barang-barangnya ke dalam mobil.
"Apa semuanya sudah dimasukkan ke dalam mobil?" tanya aya.
"Kelihatannya semuanya sudah dimasukkan ke dalam mobil. tapi biar saya dan Lala cek lagi." titah Rere.
Akhirnya mobil Aya membelah jalanan ibu kota menuju kota Bandung.
Tak membutuhkan waktu lama untuk mereka sampai di Bandung.
Matahari yang mulai tenggelam pun menandakan bahwa malam hari akan tiba.
Rere, Lala dan karyawan lainnya pun berusaha secepat mungkin untuk membereskan ruko baru yang di sewa Aya.
Setelah menyelesaikan dengan waktu singkat. Aya memutuskan untuk meminta karyawannya menginap bersamanya di sebuah hotel yang tak jauh dari ruko.
Tak terasa hari berganti dengan cepat. Setelah berhasil mendapatkan bukti perselingkuhan suaminya dari fajar. Kini surat dari pengadilan pun sudah berada di tangan Aya dan Rian.
Rian terkejut saat melihat surat dari pengadilan tersebut. Dia tak percaya dengan apa yang di pegangnya.
"Besok sidang perceraianku dengan Aya?" gumam Rian membuat Lidya dan Pras yang berada di sampingnya mengangguk lirih.
"Iya, kau harus menerima semuanya. Terimalah Vina sebagai istrimu. Percuma saja, kau menyembunyikan Vina." timpal Pras.
"Iya, Kak. Mungkin Kak Vina jodoh Kakak!" ucap Lidya.
"Tapi aku masih mencintai Aya!" gumam Rian lirih.
"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Kakak tidak perlu khawatir. Sekarang, Kakak bawa Kak Vina dan terima dia dengan tulus. Siapa tahu, Kak Vina bisa berubah." titah Lidya.
Rian beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya.
Melihat mobil Rian keluar gerbang rumahnya. Pras dan Lidya saling menatap.
"Apa Kak Rian mendengarkan saran kita, atau Kak Rian mau menghampiri Kak Aya?" tanya Lidya yang mendapat gelengan dari Pras.
"Kita tidak boleh ikut campur urusannya. Sekarang, kita masuk!" titah Pras.
Di satu sisi, Rian mengendarai mobilnya menuju butik Aya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit mobilnya membelah jalanan ibu kota. Kini mobil Rian sudah terparkir mulus di depan butik Aya.
"Ay!" panggil Rian setelah masuk ke dalam butik.
Rere yang melihat suami bos nya pun, langsung bergegas menghampiri. "Maaf, ibu Aya sedang tidak ada di butik!" ucap Rere.
"Jangan berbohong! Di mana Aya!" pekik Rian emosi.
"Ibu Aya sudah lama tidak di butik. Ibu Aya sudah pindah dari kota ini dan memberi saya--"
"Apa, pindah? Pindah kemana?" pekik Rian terkejut.
"Siapa yang pindah?" kini giliran fajar yang baru saja datang, "Siapa yang pindah!"
"Istriku pindah kemana! Katakan!" pekik Rian.
"Aya pindah?" tanya fajar terkejut.
"Kau, kau tidak tahu kalau Aya pindah?" tanya Rian yang mendapat gelengan dari fajar.
"Aku tidak tahu, maka dari itu aku terkejut. Aku pikir, selama beberapa hari ini ... ponsel Aya tidak aktif karena dia sedang sibuk bekerja. Dan aku baru saja menyelesaikan proyek di luar kota." jawab fajar.
"Lalu, Aya pindah kemana?" gumam Rian meremas surat persidangannya.
"Ibu Aya bilang, dia akan memunculkan diri saat persidangan nanti." jawab Rere.
'Jika Aya pindah sendiri, itu artinya fajar memang bukan selingkuhan Aya. Dan sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Harapanku cuma satu, Ay. Melihatmu bahagia. Aku akan datang ke persidangan nanti!' batin Rian berjalan keluar butik dan masuk ke dalam mobilnya.
"Aku harus menjemput Vina." gumam Rian menyalakan dan mengendarai mobilnya.
Sedangkan di satu sisi, Aya tersenyum kecut saat melihat surat persidangannya. "Besok aku akan ke Jakarta dan merubah nasibku. Aku harus kuat!" lirih Aya.
Setelah beberapa menit mobilnya terjebak dalam kemacetan. Akhirnya mobil Rian sampai di depan rumah yang cukup sederhana. Rumah yang beberapa hari ini tidak dia datangi.
Melihat suaminya datang, Vina langsung berlari menghamburkan dirinya ke dalam pelukan suaminya.
"Mas, maafkan aku. Aku salah!" lirih Vina.
"Aku juga minta maaf. Sekarang, berkemaslah. Kita pulang!" titah Rian.
"Masalah rumah, Mas? Katamu rumah--"
"Hust! Diam. Itu urusanku. Tapi sebelum kita pulang ke rumah. Aku mau berbicara sebentar saja!" titah Rian.
__ADS_1
"Apa, Mas?" tanya Vina penasaran.
"Entah anak siapa yang ada di dalam kandunganmu, aku akan menganggapnya sebagai anakku. Tapi, tolong rahasiakan semua ini pada ibu. Dan berubahlah. Kita buka lembaran baru!" pinta Rian. "Aku salah, dan aku akan melepaskan Aya!"
"Kamu serius, Mas? Aku janji, aku akan berubah demi kamu!" jawab Vina dengan senyum manisnya. "Terimakasih, Mas!"
"Hem. Sekarang, kita pulang!" titah Rian membantu Vina membereskan pakaiannya.
'Mas Rian, aku berjanji, aku akan merubah sikapku dan aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu!' batin Vina.
Setelah selesai membereskan pakaiannya. Kini Vina sudah berada di dalam yang dikendarai Rian.
"Terimakasih, Mas! Aku berjanji akan melakukan hal apapun untukmu!" titah Vina.
"Aku hanya perlu bukti!" jawab Rian. 'Sudah seharusnya aku membuka hatiku lagi!' batin Rian.
Ke esokkan hari.
Tepatnya di siang hari. Aya sudah sampai Jakarta. Dia baru saja memarkirkan mobilnya di depan kantor pengadilan agama bersamaan dengan mobil Rian.
Aya tersenyum saat melihat Vina menggandeng lengan pria yang akan menjadi mantan suaminya.
"Ay, aku akan turuti semuanya!" ucap Rian memaksakan senyumnya.
"Terimakasih. Kalau begitu, aku masuk dulu!" jawab Aya kemudian berjalan masuk.
"Kamu yakin mau bercerai dengan Aya, Mas?" tanya Vina memastikan.
"Aku yakin, tidak ada yang bisa di pertahankan lagi dari rumah tanggaku dan Aya. Maka dari itu, jangan kecewakan aku!" titah Rian.
"Aku janji, tidak akan mengecewakanmu!" jawab Vina kemudian mereka berjalan masuk.
Persidangan di mulai. Pengacara Aya menceritakan semua keluh kesah Aya. Begitu juga Rian. Dia menceritakan yang sebenarnya, kalau dirinya yang bersalah.
Ketuk palu dan hakim menyetujui perceraian Aya dan Rian.
Rian hanya bisa menatap Aya dari kejauhan. Status mereka sudah berganti.
"Terimakasih sudah mau berbicara jujur!" ucap Aya setelah keluar dari kantor pengadilan.
"Aku lakukan demi kebaikan kita semua!" jawab Rian lalu melihat fajar yang baru saja sampai.
"Ay, aku mencarimu. Kamu kenapa pindah tanpa memberitahuku dulu. Maaf, sikapku sudah sangat berlebihan." ucap fajar panik.
__ADS_1
"Sekarang, Mas fajar tidak perlu memperdulikanku lagi. Aku sudah bahagia dengan kehidupan baruku. Terimakasih semuanya!" ucap Aya.
Tamat.