Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 70


__ADS_3

"Kak, kakak bercanda, kan? Semua ucapan kakak bohong, kan? Jawab jujur, kak! Kakak sedang bohong, kan?" tanya Lidya yang tak percaya.


"Dari mana kakak bohong, Lidya? Kakak serius. Maka dari itu, kakak mohon ... jangan bicarakan hal ini dengan siapapun. Apalagi ke mas Rian dan Mas fajar. Kakak ingin menatap hidup baru di kota baru." jawab Aya berjalan dan mengambil beberapa sampel untuk butik barunya.


Mendengar jawaban Aya yang sangat serius, Lidya menggelengkan kepalanya. Dia berjalan menghampiri Aya yang tengah memilih sampel.


"Ini bukan cara yang terbaik, Kak! Kakak tidak boleh pergi dari kota ini. Aku kurang suka dengan keputusan Kakak!" jawab Lidya.


"Tidak apa-apa, Lidya. Kalau kamu tidak suka dengan keputusan Kakak. Kakak juga tahu, kok! Tapi maaf, Kakak harus pergi. Kamu mau bantu Kakak, kan? Untuk merahasiakan hal ini?" tanya Aya yang mendapat gelengan dari Lidya.


"Tidak mau, Kak! Aku tidak bisa merahasiakan ini ke semua orang! Mereka akan tahu sendiri, kalau Kakak pergi!" jawab Lidya menjatuhkan pantatnya lagi di sofa.


"Iya, kakak tahu. Semua orang, pasti tahu ... kalau Kakak akan pergi. Tapi, itu setelah semuanya selesai, setelah kakak berhasil membuka cabang dan setelah kakak bercerai dari Mas Rian. Kamu tahu, kenapa kakak melakukan semua ini?" tanya Aya menatap sekilas wanita yang sedang duduk di sofa.


"Tentu, pasti karena kak Rian kan? Sebenarnya, kakak masih mencintai Kak Rian tapi karena kesalahan Kak Rian yang fatal. Jadi, kakak memilih untuk pergi?" jawab Lidya.


"Bukan juga. Kakak ingin pergi karena ... Kakak tahu, kehadiran kakak di sini akan mengganggu beberapa orang. Contohnya, Mas Rian dan istri barunya."


"Dan satu lagi, Kak! Teman Kakak yang bernama fajar." timpal Lidya. "Kakak merasakan kalau dia menyukai kakak? Dan kakak mau menghindar darinya, kan?" tanya Lidya lagi.


Aya tersenyum, "Kamu sudah besar, yah! Sedari kemarin ... kamu sangat pintar dalam urusan percintaan. Semoga saja, besok ... kamu bisa menikah dengan orang yang kamu cintai dan kamu tidak mengalami nasib yang sama seperti kakak ini."


"Semoga saja, aku tidak mengalami nasib yang sama seperti Kakak. Tapi, kakak mau pindah kemana?" tanya Lidya penasaran. "Kakak mau buka cabang di mana? Aku penasaran!" sambungnya lagi.


"Kakak akan beritahu, tapi kamu harus janji dulu. Kamu tidak akan memberitahukan semua ini ke siapapun termasuk kakakmu itu dan Mas Rian." titah Aya.

__ADS_1


"Tapi kalau lama kelamaan terbongkar, bagaimana Kak?" tanya Lidya.


"Tidak apa-apa. Kalau lama kelamaan terbongkar, kakak bisa memaklumi. Tapi, jika terbongkar nanti, kakak pastikan ... kalau Kakak sudah pindah dari kota ini." jawab Aya.


"Okeh. Aku janji, memangnya Kakak mau pindah kemana? Coba beritahu aku! Aku penasaran!" titah Lidya.


"Coba tebak, kakak mau pindah kemana?" tanya Aya dengan senyum jahilnya. "Kalau kamu bisa tebak, Kakak akan beri salah satu koleksi terbaru di butik ini secara gratis. Kamu boleh pilih satu dress saja dan itu gratis!" ujarnya lagi.


"Serius, kak! Kakak mau kasih aku koleksi terbaru dari butik kakak ini?" tanya Lidya antusias, 'Ish, tapi aku tidak boleh terpengaruh ucapan Kak Aya. Ingat, tujuanku ke sini untuk membujuk Kak Aya agar memaafkan semua kesalahan Kak Rian. Kamu tidak boleh terpengaruh, Lidya!' batin Lidya.


"Ayo, tebak!" titah Aya.


"Tapi aku punya syarat lainnya, Kak!" ucap Lidya.


"Apa? Katakan! Oh, iya. Hari ini, kamu ada jam kuliah, kan?" tanya Aya yang mendapat senyuman kecil dari Lidya.


"Pergi dulu ke kampus. Sambil kamu berpikir, Kakak akan pindah ke kota mana!" titah Aya yang mendapat gelengan kepala dari Lidya.


"Aku tidak ada mata kuliah, Kak! Aku sengaja izin pamit ke kampus agar Kak Pras tidak mencurigaiku." jawab Lidya bohong.


"Kamu tidak berbohong, kan? Kakak tidak suka di bohongi. Kuliah itu penting, loh! Jangan sampai kamu bolos kuliah. Kakakmu bisa marah besar dan bisa-bisa kakakmu potong uang jajanmu. Kamu mau?" ancam Aya.


"Tidak mau, Kak! Tapi sekarang aku jujur, aku tidak ada mata kuliah. Aku bingung harus kemana selain di rumah. Kakak tahu sendirikan ... kondisi rumah sedang tidak baik-baik saja." jawab Lidya membuat Aya merasa bersalah.


"Maafkan kita, Lidya. Karena masalah aku dan Mas Rian, kamu harus menanggung resikonya."

__ADS_1


"Kakak tidak perlu meminta maaf. Kakak tidak salah. Yang salah itu si pelakor. Aku heran, pelakor di sini kejam-kejam. Sahabat sendiri pun di tikung! Sekarang, giliran Kak Rian tidak pulang, pelakor itu sama sekali tidak mencari keberadaan Kak Rian." kesal Lidya.


"Jangan seperti itu, Lidya. Kita tidak tahu kehidupan mereka sehari-hari. Mungkin saja, istri baru Mas Rian sedang sibuk?" ujar Aya.


"Ya tapi tidak bisa seperti itu juga, Kak! Mau sesibuk apapun, dia harus melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Jangan pergi entah kemana. Aku heran, kenapa Kak Rian bisa menikahi wanita jelek sepertinya!" ketus Lidya. "Dari segi mana pun, masih cantik Kak Aya." sambungnya lagi.


"Hust! Kamu tidak boleh seperti itu. Semua wanita mempunyai paras yang cantik!" ucap Aya.


"Tidak. Cukup untuk pelakor itu, aku tidak setuju. Di mana-mana pelakor itu jelek. Tidak mempunyai perasaan, hatinya busuk, dia menginginkan kebahagiaan dengan cara merusak kebahagiaan orang lain. Sangat jahat!"


"Okeh. Dari pada kita bahas pelakor yang tidak ada manfaatnya. Lebih baik, kamu bantu Kakak, ya! Kamu pilihkan beberapa sampel yang bagus."


"Okeh, aku akan membantu kak Aya. Tapi aku tebak dulu. Kalau tebakanku benar, kakak harus ikut aku ke rumah. Aku mau, Kakak lihat keadaan kak Rian, ya!" tawar Lidya.


"Huh! Tidak bisa, Lidya. Kakak tidak mau ikut campur urusan Mas Rian lagi."


"Tapi, Kak! Aku mohon ... sekali saja turuti permintaanku!" pinta Lidya memohon.


"Tebak saja dulu!" titah Aya menatap beberapa koleksi desain gaunnya.


"Tapi Kakak mau menerima tawaranku, kan?" tanya Lidya memastikan.


"Kakak sibuk!" jawab Aya.


"Kak!" rengek Lidya menarik lengan Aya. "Ayolah, Kak! Apa kakak tidak kasihan dengan Kak Rian. Ini demi aku, kak! Aku janji, aku tidak akan meminta diskonan atau pakaian gratis ke kak Aya. Aku janji, Kak!"

__ADS_1


"Lebih baik, kamu minta diskonan atau pakaian gratis ke Kakak. Dari pada Kakak harus pergi ke rumahmu, Lidya. Sekarang, tebak dulu. Dan Kakak akan kasih gaun gratis koleksi terbaru. Oh, iya. Untuk hasil pemotretan kemarin, Kakak akan pasang di cabang butik baru. Kamu tidak keberatan, kan?" tanya Aya lagi.


__ADS_2