
"Mungkin saja, Ay! Tidak ada yang tidak mungkin. Dan mungkin, Rian meminta Vina untuk berdiam diri di rumah itu. Agar tidak di curigai olehmu. Sekarang, coba berpikir lebih jernih lagi. Jika Vina tidak ada di rumahnya, maka dia pergi kemana? Apa jangan-jangan ... Sebenarnya, Vina ada di rumah Rian tapi ibu mertuamu merahasiakan semua ini darimu?" tebak fajar.
'Iya, apa yang diucapkan Mas fajar ada benarnya juga. Aku tidak sempat masuk ke dalam rumah Mas Rian dan aku tidak sempat melihat rumah Vina yang dulu. Bisa saja, Mas Rian membawa Vina ke rumah yang dulu. Besok aku akan memastikannya sendiri.' batin Aya. "Aku tidak tahu, Mas! Aku mau istirahat, kalau kamu mau pulang, pulang saja! Tapi jangan lupa kunci rumahku sekalian. Aku capek dan ngantuk!" titah Aya beranjak dari tempat duduknya.
"Setelah aku membereskan semua ini, aku akan pulang. Kamu istirahatlah. Aku tidak mau, kamu capek!" titah fajar yang mendapat gelengan kecil dari Aya.
"Tidak perlu, Mas! Ini rumahku. Kamu sudah membawakanku makan malam saja, aku sudah senang. Biar aku yang membereskan sisa makan malam ini. Kamu juga capek, kan?" tolak Aya secara halus.
"Aku sama sekali tidak capek, Ay! Aku ingin membantumu. Ya, sudah. Lebih baik, kamu istirahat dan biarkan semua ini ... aku yang bereskan!" titah fajar.
'Apa benar Mas fajar menyukaiku? Jika benar, bagaimana caraku untuk menolaknya, nanti. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya. Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat.' batin Aya, "Terserahmu, Mas! Kunci pintu rumahku kalau kamu pulang. Aku mau istirahat!"
"Iya, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mengunci rumahmu!" jawab fajar.
Aya berjalan masuk menuju kamarnya. Dia mengunci rapat pintu kamarnya.
"Setelah perpisahan itu datang, aku tidak mau menikah lagi. Aku ingin fokus ke Bisnisku saja. Aku takut, jika aku menikah ... aku akan mendapatkan suami seperti Mas Rian lagi. Tapi bagaimana Mas fajar? Aku harus menjauh darinya. Sebaiknya, aku cepat-cepat membuka butik baruku. Agar aku jauh dari mereka semua!" gumam Aya lirih.
Melihat sahabatnya masuk ke dalam kamar. Fajar langsung membereskan sisa makan malam dirinya dengan sahabatnya.
Piring-piring kotor pun dia cuci. Sampai di mana, fajar melihat jam di dinding tembok dapur yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Astaga, sudah malam. Aku harus pulang! Aku tidak mau mengganggu Aya tidur!" gumam Fajar mencuci tangannya dan berjalan menuju pintu kamar sahabatnya.
Di tempelkan telinganya di daun pintu kamar Aya, "Tidak ada suara. Itu artinya, Aya sudah tidur. Ya, sudah. Aku tidak perlu berpamitan dengannya." gumam fajar berjalan keluar rumah Aya.
Ke esokkan harinya. Aya terbangun saat merasakan wajahnya yang terasa hangat saat terpapar sinar matahari.
"Hoam! Sudah siang?" gumam Aya menggeliat lalu melihat jam di dindingnya yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi. "Astaga, aku kesiangan." pekik Aya.
Sedangkan di satu sisi. Pras dan Rian tergeletak di sofa.
__ADS_1
Karena mendapat rayuan dari Rian. Akhirnya semalam Pras ikut meminum alkohol menemani Rian.
Tok ...
Tok ....
Ketukan pintu sama sekali tidak membangunkan ke dua pria yang tengah tertidur pulas di sofa.
"Kak Rian! Kak Pras, buka pintunya!" titah Lidya sambil mengetuk pintu kamar Rian. "Kak, jangan bilang ... kalau kalian belum bangun! Cepat bangun! Masing-masing dari kalian sudah mempunyai perusahaan sendiri. Seharusnya, jam segini kalian sudah bangun! Cepat bangun!" pekik Lidya.
Setelah tidak mendapat respon dari dalam kamar Rian selama 5 menit. Akhirnya, Lidya berjalan dan meminta kunci cadangan pada asisten rumah tangganya.
"Bi, aku minta kunci cadangan kamar Kak Rian. Aku mau membangunkan orang-orang yang berada di dalam kamar tersebut!" titah Lidya.
"Tunggu sebentar, Nona! Saya ambilkan dulu!" titah asisten rumah tangganya.
Setelah menunggu beberapa menit. Akhirnya Lidya sudah memegang kunci cadangan kamar Rian. Segera, Lidya berlari dan membuka kamar Rian.
Baru saja Lidya berjalan satu langkah. Dia menci um bau alkohol yang begitu menyengat.
"Kak!" panggil Lidya menendang kaki kakaknya. "Bangun kak! Ini sudah siang!" titahnya lagi.
Pras menggeliat, dia merubah posisi tidurnya dengan kaki di naikan ke atas meja.
"Kak!" panggil Lidya lagi.
Tak mendapat respon dari kakak kandungnya. Kini, Lidya mencoba membangunkan Rian dengan cara yang lain.
"Kak Rian, bangun!" titah Lidya basa basi. "Kak, bangun dong!" titah Lidya lagi.
Rian menggeliat, Kakinya dia tumpuk di atas kaki Pras.
__ADS_1
"Ish, kalian ini benar-benar menyebalkan. Jika kalian tidak bisa dibangunkan dengan cara halus. Lebih baik, aku bangunkan dengan cara lain!" kesal Lidya berjalan menuju kamar mandi dan mengambil gayung yang berisi air dingin. "Rasain, aku yakin ... mereka pasti langsung terbangun." gumam Lidya berjalan keluar kamar mandi.
Setelah sampai di hadapan Rian dan Pras. Kini Lidya sudah siap menumpahkan air yang berada di dalam gayung.
Byur!
"Kebakaran! Kebakaran! Kak, kebakaran!" pekik Lidya membuat Pras dan Rian seketika terbangun.
"Mana? Di mana kebakaran itu!" ucap Pras panik.
"Kebakaran? Tapi kenapa bajuku basah? Apa air bisa mengakibatkan kebakaran?" gumam Rian lirih.
"Iya, ya! Pakaianku juga basah!" ucap Pras lalu menatap gayung yang di genggam adiknya. "Lidya!" pekik Pras marah.
"Iya. Habisnya kalian susah banget di bangunin. Memangnya, kalian tidak punya pekerjaan, ha! Ini sudah siang! Cepat mandi! Kalian harus pergi ke kantor!" titah Lidya membuat Pras menatap jam di dinding kamar Rian.
"Astaga!" pekik Pras saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. "Lidya, ini jam berapa! Seharusnya, kamu bangunin aku satu jam sebelumnya atau dua jam sebelumnya! Jangan seperti ini," geram Pras.
"Bukan salahku, Kak! Berulang kali, aku membangunkan kalian, tapi kalian--"
"Ah, sudahlah! Daripada berdebat denganmu. Lebih baik, aku pergi mandi. Dan tunggu dulu. Bukankah, pintu kamar Rian terkunci? Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Pras kebingungan.
"Ada bibi. Aku yang meminta Bibi mengambil kunci cadangan kamar kak Rian. Aku takut, terjadi sesuatu dengan Kakak!"
"Oh, ayo keluar! Kamu harus pergi kuliah!" titah Pras menarik tangan adiknya.
"Tunggu dulu, Kak! Itu kenapa Kak Rian diam saja! Apa yang terjadi dengan Kak Rian?" tanya Lidya membuyarkan lamunan Rian.
"Aku tidak apa-apa. Kalian keluarlah dari kamarku. Aku mau tidur lagi, kepalaku masih pusing!" usir Rian membuat Lidya menggelengkan kepalanya lirih.
"Kak! Kakak jangan malas! Bagaimana, Kak Aya mau respect, kalau Kakak seperti ini!" kesal Lidya
__ADS_1