Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 64


__ADS_3

'Vina ini memang wanita pengganggu! Sudah tahu, aku sedang bersama Aya. Tapi dia selalu menghubungiku! Dasar wanita gatal!' batin Rian membaca semua pesan dari istri sirihnya tanpa berniat membalas pesannya.


Di dalam ruangan. Aya menghembuskan napasnya kasar. Dia mengambil tas dan berjalan keluar ruangan.


'Ingat, Mas Rian sudah mengecewakanmu.' batin Aya sambil menuruni tangga.


Melihat istrinya turun dari tangga. Rian seketika berdiri dan tersenyum manis ke arah istrinya.


"Sudah selesai, Ay?" tanya Rian basa basi.


"Sudah. Sebaiknya kamu pulang, Mas! Aku juga mau pulang!" titah Aya berjalan keluar butik di ikuti oleh Rian di belakangnya.


"Biar aku antar kamu pulang, Ay!" ajak Rian.


Aya menatap sekilas pria di sampingnya. Tangannya mulai mengunci butik setelah sebelumnya lampu di butiknya dia padamkan.


Setelah mengunci butiknya. Aya berjalan menuju mobil.


"Ay, aku antar kamu, ya!" titah Rian lagi menghalangi istrinya masuk membuka pintu mobil.


"Minggir Mas! Aku bisa pulang sendiri. Dan jangan perdulikan aku lagi!" ketus Aya.


"Ay, ini sudah malam. Aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian. Biar aku antar kamu, ya!" bujuk Rian lagi.


"Aku bisa pulang sendiri, Mas!" ketus Aya mendorong tubuh suaminya. "Jangan halangi aku untuk pulang, Mas!" sambungnya lagi.


"Ay, aku tahu aku salah. Tapi aku mau memperbaiki kesalahanku! Kasih aku kesempatan, Ay! Aku mohon!" titah Rian saat melihat istrinya masuk ke dalam mobil.


Aya mulai menyalakan mesin mobil dan mobil pun berjalan mundur keluar dari halaman butiknya meninggalkan Rian seorang diri.


"Ay, tunggu aku! Aku tidak bisa membiarkanmu pergi malam-malam sendirian. Setidaknya, kasih aku kesempatan, Ay! Aku butuh kesempatan ke dua! Aku butuh, Sayang!" pekik Rian berusaha mengejar mobil istrinya.


Aya menatap suaminya yang tengah berlari mengejar mobilnya dari spion kaca.


'Maafkan aku, Mas! Jika aku tidak bersikap tegas. Maka kamu akan memanfaatkan aku terus. Semoga saja, dengan sikapku yang seperti ini. Kamu akan marah karena tidak merasa di hargai olehku!" gumam Aya menancapkan gas nya lebih cepat.

__ADS_1


Rian tak bisa mengejar mobil istrinya. Dia menendang batu kerikil yang berada di sekitarnya.


"Argkh! Kenapa Aya menjadi seperti ini!" geram Rian. "Tapi, aku harus memastikan keselamatan Aya. Aku harus mencari taksi dan menjaga Aya dari kejauhan!" ujarnya lagi lalu melihat taksi yang sedang berjalan ke arahnya. "Taksi!"


Rian masuk ke dalam taksi. "Kejar mobil putih itu, Pak! Dan beri sedikit jarak. Aku harus memastikan istriku pulang dengan selamat!" titah Rian.


"Baik, Pak!" jawab supir taksi.


Sedangkan di satu sisi. Aya yang tengah fokus menyetir mobil. Tiba-tiba mendengar nada dering dari ponselnya. Segera, dia meraih dan melihat nama si penelepon.


"Mas fajar. Ada apa Mas fajar menelfonku?" gumam Aya menggeser tombol hijau. "Hallo, Mas! Aku sedang menyetir di jalan. Aku tidak bisa berlama-lama mengangkat telfonmu!" ujar Aya.


"Oh, kamu sedang menyetir mobil. Baiklah, matikan saja telfonnya!" jawab fajar dari sebrang sana.


"Kamu ada apa menelfonku, Mas?" tanya Aya sambil menghimpit benda pipihnya di antara pundak dan telinganya.


"Aku sudah ada di rumahmu, Ay! Aku juga membawakanmu makan malam. Kita makan bersama, ya!" ucap fajar dari sebrang sana.


"Oh, iya, Mas! Sebentar lagi, aku sampai! Kamu tunggu saja di dalam rumah. Kamu masih simpan kunci rumahku, kan?" tanya Aya memastikan.


"Iya, Mas!" jawab Aya lalu mengakhiri panggilannya.


Setelah panggilannya berakhir. Aya meletakkan ponselnya di dashboard mobil. Dia menancapkan gas mobilnya lagi.


Rian menatap mobil milik istrinya dari dalam taksi. "Hati-hati, Pak! Jangan sampai istriku tahu, kalau kita mengikutinya!" titah Rian sekali lagi.


"Baik, Pak!" jawab supir taksi.


Setelah beberapa menit mobil Aya membelah jalanan ibukota. Akhirnya, kini mobil Aya terparkir dengan mulus di teras rumahnya.


Dari kejauhan taksi yang ditumpangi Rian telah berhenti. Dia dapat melihat istrinya keluar dari mobil dan di sambut hangat oleh pria yang ingin merebut istrinya.


"Siaal, jadi ada Fajar juga? Mereka tinggal satu atap?" gumam Rian emosi. "Tunggu sebentar, aku akan turun, Pak!"


"Silahkan, Pak!" jawab Pak supir

__ADS_1


Rian turun dari taksi. Dia berjalan menghampiri istrinya. Samar-samar dia mendengar percakapan ringan istrinya dengan pria yang berstatus sebagai sahabatnya.


"Kamu sudah lama menungguku di luar, Mas?" tanya Aya setelah berhadapan dengan fajar.


"Tidak. Aku sudah menyiapkan makan malam. Sebaiknya, kamu bersihkan dulu tubuhmu. Tapi tumben sekali ... weekend kamu pulang larut malam?' tanya fajar mempersilahkan Aya masuk ke dalam rumah.


"Iya, kerjaan lagi banyak. Ada beberapa barang yang baru datang. Dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku harus memastikan barang-barang tersebut sesuai pesananku atau tidak!" jawab Aya berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Rian mengepalkan tangannya erat. Lalu berjalan masuk ke dalam taksi lagi.


"Jalan, Pak!" titah Rian dengan emosi.


"Baik, Pak! Kita mau jalan kemana?" tanya pak supir taksi.


"Kemana saja! Aku sedang muak melihat kemesraan mereka. Seharusnya, yang ada di sana ... itu aku bukan Fajar! Pria itu memang harus di singkirkan!" geram Rian emosi.


Mendengar jawaban dari penumpangnya. Supir taksi itu menautkan ke dua alisnya. Dia menatap Rian dari kaca spion taksinya, "Pak, di depan ada perempatan. Kita mau belok atau lurus?" tanya supir taksi lagi.


"Terserah!" ketus Rian.


'Terserah? Lalu, aku mau bawa Bapak ini kemana?' batin supir taksi kebingungan.


"Bagaimana, caranya ... agar Aya jauh dari fajar. Aku tidak mau, Aya semakin dekat dengan fajar. Aku tidak mau, fajar mengisi hati Aya dan merebut hati Aya dariku!" lirih Rian lalu menendang kursi kemudi membuat supir taksi tersebut terkejut.


"Pak, Bapak tidak boleh menendang bangku orang. Bagaimana, kalau saya reflek menancapkan gas atau--"


"Diamlah! Fokus saja menyetir!" ketus Rian.


"Saya tidak bisa fokus menyetir jika Bapak terus menendang kursi yang di duduki saya. Sekarang, saya tanya ... tujuan bapak kemana?" tanya supir taksi tersebut.


"Jalan saja! Apa susahnya jalan, hah!" ketus Rian.


Mendengar jawaban dari penumpangnya. Akhirnya, supir taksi tersebut mengehentikan taksinya di pinggir jalan. "Sebaiknya, Bapak turun dan cari kendaraan lainnya lagi. Saya tidak bisa mengantarkan Bapak ke tujuan yang tidak jelas!" titah supir taksi membuat Rian yang sedang kesal semakin kesal.


"Kau! Kau berani denganku!" pekik Rian emosi

__ADS_1


"Maaf, tapi saya tidak tahu tujuan Bapak kemana! Dan saya takut, Bapak tidak bisa membayar tarif taksi ini!" jawab supir taksi dengan lembut.


__ADS_2