
"Pemenangnya adalah cinta, iya, kan?" tanya Pras yang mendapat senyuman dari Aya.
"Iya, Mas! Maka dari itu, aku sedang menyibukkan diriku dengan berbagai kesibukan! Aku tidak mau larut dalam masalah ini. Aku bisa gila, Mas!"
"Tapi kata Rian, kamu punya teman pria, dan teman pria mu selalu ada untukmu?" tanya Pras lagi.
"Iya, namanya Mas Fajar. Dan dia selalu ada untukku. Sampai-sampai ibu mertuaku sendiri bilang, kalau aku berselingkuh di belakang Mas Rian!" jawab Aya lagi.
"Aku boleh kasih saran untukmu, Ay?" tanya Pras.
"Silahkan, Mas! Dengan senang hati, aku akan mendengarnya!" jawab Aya.
"Jangan terlalu dekat dengan pria mana pun sebelum kamu resmi bercerai dengan suamimu. Aku tidak mau, kamu di tuduh berselingkuh karena kedekatanmu dengan pria lain, walaupun itu sebatas teman. Jangan buat seolah-olah kamu yang salah, padahal Rian yang salah! Kamu tahu, arti ucapanku, kan, Ay!" tanya Pras.
"Aku tahu, Mas! Tapi aku sudah bilang berulang kali ke Mas Fajar supaya menjaga jarak denganku, tapi Mas fajar tetap mendampingiku. Katanya, Mas fajar takut, kalau terjadi sesuatu padaku!" jawab Aya meminta bantal sofa di dekat Pras melalui gerakan tangannya.
Pras mengambil bantal sofa dan memberikan pada Aya. "Ya, aku tidak bisa berkata-kata lagi tentang itu, Ay! Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Walaupun Rian sahabatku, tapi dia memang salah. Dan dia pantas mendapatkan hukuman. Mau kamu bercerai atau tidak, aku tidak akan mempermasalahkan. Itu urusan kalian berdua! Tapi ingat ucapanku. Jangan sampai karena kedekatanmu dengan fajar, membuat semua orang menyimpulkan kalau kamu yang salah, kalau kamu yang berselingkuh di belakang Rian!"
"Lalu, aku harus bagaimana, Mas? Aku tidak mungkin menolak semua bantuan dari Mas Fajar. Dia sudah sangat baik kepadaku!" ujar Aya.
"Terkadang, kita harus menolak pemberian seseorang, jika itu sudah bersifat berlebihan, Ay! Buang rasa tidak enakmu! Kamu bisa belajar dengan Lidya!" titah Pras.
"Terimakasih, Mas! Aku akan mencobanya. Oh, iya. Kamu mau minta bayaran berapa? Biar kita diskusi. Setelah deal, aku akan meminta Rere untuk menyiapkan dana nya!" tanya Aya.
"Aku tidak perlu di bayar, aku ikhlas melakukan semua ini. Asalkan, aku bisa melihat adikku ceria dan tersenyum seperti tadi. Terimakasih sudah memberi kesempatan Lidya untuk menjadi model di butikmu ini. Cita-citanya yang menjadi model, selalu aku halangi karena kamu tahu sendiri kan ... kalau dunia model itu keras, harus terima menggunakan kostum apa saja dan aku tidak suka ... jika adikku di potret sembarang orang!"
"Kamu ini! Dia sudah besar, Mas! Mau sampai kapan, kamu melihatnya seperti bayi? Dia bebas untuk bergaul dan menggapai cita-citanya!" ujar Aya menggelengkan kepalanya lirih.
"Aku tidak suka, adikku salah bergaul."
__ADS_1
"Beruntung sekali Lidya mempunyai Kakak sepertimu!" ujar Aya.
"Kamu juga adikku, Ay! Kamu bisa meminta bantuan padaku, aku akan membantumu!" ucap Pras.
"Ekhem!" suara deheman Lidya yang baru saja masuk membuat Pras dan Aya seketika menatap wajah cantik Lidya.
"Nih, makanan sama minumannya! Aku letakkan di meja, ya!"
"Oh iya, kalian lagi ngobrol apa si? Sepertinya, asik sekali! Boleh, dong! Aku dengar?" tanya Lidya menjatuhkan pantatnya di samping Pras. "Kakak," panggil Lidya memeluk Pras erat. "Kak Aya mau menikah dengan Kak Pras?" tanya Lidya membuat Aya dan Pras seketika saling menatap.
"Lidya, kamu sadar dengan ucapanmu, kan?" tanya Aya yang mendapat anggukkan kecil dari Lidya.
"Aku sadar, kak! Sangat sadar! Aku tidak mau Kak Aya menikah dengan pria yang bernama fajar itu!" gumam Lidya.
"Kamu nguping pembicaraan kakak dan Kak Aya?" tanya Pras mengusap punggung adiknya yang sedikit terbuka.
"Tidak, kak! Untuk apa aku menguping pembicaraan Kakak!" jawab Lidya jujur.
"Iya, tau dari mana kamu, Lidya kalau Kakak menikah dengan Mas Fajar? Kakak ini masih berstatus istri Mas Rian. Tidak mungkin, Kakak menikah dengan Mas fajar atau Mas Pras. Kamu jangan aneh, deh!" timpal Aya.
"Aku tidak aneh, Kak! Tadi aku sempat mendengar Rere bicara. Eh, bukan bicara melainkan bergosip tentang orang yang bernama Fajar. Kata semua karyawan Kakak! Orang yang bernama fajar itu akan merebut Kakak dari Kak Rian. Daripada Kakak sama Fajar. Lebih baik, Kakak sama Kak Pras. Aku malah tenang juga bahagia!" jawab Lidya.
"Tidak mungkin, itu hanya gosip. Mas fajar sahabat Kaka, Lidya bukan calon suami. Dan dia orang yang sangat baik, tidak mungkin dia mau merebut Kakak!" jawab Aya.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Kak!" kesal Lidya. "Iya, kan Kak Pras? Tidak ada yang tidak mungkin." ujar Lidya pada Pras.
"Iya. Apa yang dikatakan Lidya benar. Tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya bisa menjadi mungkin, Ay!" jawab Pras.
"Mas, kenapa kamu mendukung Lidya? Mas fajar bukan pria seperti itu!"
__ADS_1
"Kalau fajar bukan pria seperti itu, kenapa karyawanmu bisa menggosipkan sampai sejauh ini, Ay! Aku rasa ... fajar menyukaimu. Dia memiliki perasaan padamu!" jawab Pras.
"Tidak mungkin, Mas!" jawab Aya yang tak percaya.
"Kalau kak Aya tidak percaya ... kita buktikan saja. Kak Aya menemui orang yang bernama fajar itu bersama kak Pras. Dan Kakak bilang ... kalau kak Pras orang paling dekat dengan Kakak. Pasti raut wajah fajar itu langsung berubah masam!" ujar Lidya.
"Tapi Kakak tidak percaya, Lidya!"
"Buktikan saja!" ujar Lidya.
"Kita buktikan saja, Ay! Karena menurut ceritamu tadi, sudah bisa di simpulkan kalau fajar memang memiliki rasa padamu!" timpal Pras, "Aku tidak keberatan melakukan rencana Lidya!" sambungnya lagi.
"Tapi aku-- okeh, kita buktikan!" jawab Aya pasrah. "Nanti jam makan siang, Mas fajar akan ke sini. Seperti biasa, dia akan mengajakku makan siang bersama. Apa kalian mau ikut makan siang denganku?" tanya Aya.
"Jelas ikut! Tapi dengan catatan. Kita satu mobil! kita berempat satu mobil, itu maksudku! Kak Pras bawa mobil kan?"
"Kamu juga bawa mobil! Kaka lihat mobilmu ada di halaman butik!" jawab Pras.
"Tapi kuncinya, tidak ada kak! Kuncinya terbawa Kak Rian! Malang sekali nasibku!" keluh Lidya.
"Baiklah. Kita satu mobil. Sebentar lagi jam makan siang akan datang!"
"Memangnya, fajar tidak libur? Bukankah, hari ini weekend?" tanya Pras memastikan.
"Mas fajar tidak ada libur! Aku juga tidak tahu, terbuat dari apa tubuhnya!" jawab Aya.
"Pasti dari besi. Kan kuat!" jawab Lidya asal.
"Kamu terbuat dari apa?" tanya Pras dengan nada mengejeknya.
__ADS_1
"Tanah lah! Masa Kakak tidak tahu!" kesal Lidya.