
"Hem, aku masih ngantuk! Kalian bisa pergi dari kamarku! Sudah ada sekertarisku yang akan menghandle semua pekerjaanku!" jawab Rian lalu berjalan beberapa langkah menuju kasur.
Melihat sikap dan tingkah laku Rian. Lidya segera berjalan beberapa langkah, dia menarik paksa tangan Rian agar bangkit dari kasurnya.
"Kak, kalau kakak malas-malasan seperti ini, aku jamin ... semua kekacauan yang ada di sini, akan sampai ke tangan Kak Aya." ancam Lidya membuat Pras yang mendengarnya tersenyum sinis.
"Lidya, kita pergi saja. Dia tidak akan memperdulikan ucapanmu. Mau kamu bilang atau foto kekacauan ini ke Aya, Rian tidak akan perduli. Dan bisa saja Aya tidak perduli dengan tingkah laku Rian lagi. Dia sudah mendapatkan pengganti Rian!" sindir Pras menarik tangan adiknya keluar kamar Rian.
Setelah melihat Pras dan Lidya keluar kamarnya. Rian meremas sprei kasur. Lalu, dia melempar semua barang yang berada di sekitarnya.
"Argkh!" pekik Rian frustrasi.
Prang!
Suara pecahan kaca terdengar sampai telinga Pras dan Lidya.
"Kak, ada apa di kamar Kak Rian?" tanya Lidya setelah mendengar suara barang terjatuh.
"Biarkan saja. Kamu tidak perlu memperdulikan Rian. Dia sedang marah. Dan kakak ingatkan padamu. Jangan pernah masuk atau meminta kunci pada bibi. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Walaupun ada pekerjaan penting atau lainnya." titah Pras.
"Memangnya kenapa? Apa kakak takut, kalau aku melihat kalian mabuk? Sudah biasa kan, mendengar kalian mabuk?" tanya Lidya lalu melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku harus pergi. Kita lanjutkan obrolan kita nanti lagi. Aku ada kuliah di pagi hari!" titah Lidya.
"Hem, pergilah!" jawab Pras.
Lidya tersenyum dan melanjutkan langkahnya keluar rumah.
Melihat kepergian adiknya. Pras langsung masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Setelah keluar dari rumahnya. Lidya memutar tubuhnya dan tak melihat batang hidung kakaknya. Dia berjalan menuju jendela kamar Rian dari samping rumahnya.
"Pak!" panggil Lidya saat melihat tukang kebun yang sedang mencabut rumput di samping rumahnya.
"Iya, non!" jawab tukang kebun tersebut.
"Pak, aku sempat mendengar suara barang terjatuh. Nah, aku mau minta tolong Bapak boleh? Aku mau minta tolong ... Bapak ambil tangga di sana dan Bapak naik lalu intip. Bapak lihat, apa yang sedang terjadi di dalam kamar Kak Rian. Karena Kak Pras tidak memperbolehkan aku masuk." ujar Lidya.
"Tapi, Non. Kalau Pak Pras marah bagaimana? Saya masih membutuhkan pekerjaan ini." tanya tukang kebun tersebut.
"Tidak akan marah. Bapak percaya saja denganku. Jika terjadi sesuatu atau ketahuan dengan Kak Pras, aku sendiri yang akan membela Bapak. Sekarang, Bapak naik dan lihat situasi di dalam kamar Kak Rian. Tapi, tangganya kurang tinggi, Pak! Bapak harus pintar naik ke atas. Cepat, ya, Pak! Aku ada kuliah di pagi hari!" titah Lidya.
"Baik, Non. Saya ambil tangga dulu." jawab tukang kebun lalu berjalan beberapa langkah mengambil tangga dan meletakkannya di dekat kamar Rian.
"Hati-hati, Pak!" titah Lidya lagi saat melihat tukang kebunnya mulai menaiki tangga. 'Semoga saja, tidak terjadi sesuatu dengan Kak Rian. Aku takut, Kak Rian kehabisan akal karena memikirkan Kak aya.' batin Lidya.
"Bagaimana, Pak?" tanya Lidya saat melihat tukang kebunnya turun dari tangga.
"Maaf Non, kelihatannya Pak Rian sedang marah. Saya lihat beberapa benda jatuh berserakan di lantai." jawab tukang kebun tersebut.
"Bapak yakin? Semuanya jatuh ke lantai? Lalu, Kak Rian bagaimana? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Lidya mematikan.
"Saya lihat, pak Rian sedang duduk di ujung dekat dengan lemari sambil menangkup wajahnya."
"Oh, terimakasih, Pak! Bapak bisa kembalikan lagi tangganya ke tempat semula. Agar Kak Pras tidak curiga!" titah Lidya.
"Iya, Non. Dan saya sempat mendengar, Pak Rian memanggil nama Cahaya. Mungkin, pak Rian sedang mempunyai masalah dengan orang yang bernama cahaya?"
__ADS_1
"Cahaya?" gumam Lidya. "Nama Cahaya, itu nama istri Kak Rian. Dan istrinya akan menggugat cerai kak Rian. Terimakasih, ya, Pak! Aku harus ke butik menemui istri Kak Rian. Siapa tahu, saat mendengar berita kalau Kak Rian frustrasi dan menyesali perbuatannya yang salah, istri Kak Rian bisa luluh lagi dan mau memaafkan Kak Rian!" jawab Lidya yang di setujui oleh pria paruh baya tersebut.
"Baik, Nona!" jawab tukang kebun tersebut.
Lidya berjalan keluar gerbang rumahnya. Dia masuk ke dalam mobil yang sudah berada di luar gerbang rumahnya. "Aku harus pergi menemui Kak Aya. Kira-kira aku masih punya waktu satu jam lagi sebelum jam kuliah di mulai. Aku tidak tega melihat Kak Rian seperti ini. Dia juga Kakakku, dia pria yang membuatku dan kak Pras bisa hidup enak sampai seperti ini!" gumam Lidya menancapkan gas mobilnya dan mobil pun berjalan meninggalkan kediaman rumahnya.
Sedangkan di satu sisi. Aya menghembuskan napasnya kasar saat melihat jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
"Demi menghindari Mas fajar, aku harus berangkat lebih pagi ke butik. Tapi tak apalah. Aku akan buka butik dan menyiapkan beberapa produk untuk di masukkan ke dalam cabang butikku yang baru." lirih Aya membuka pintu mobil.
Di keluarkan kunci ruko butiknya. Di saat Aya sedang membuka pintu butik. Tiba-tiba dia mendengar suara mobil berhenti tepat di dekatnya.
"Lidya!" gumam Aya saat melihat Lidya turun dari mobil.
"Hello Kak Aya!" sapa Lidya berlari menghamburkan diri ke dalam pelukan Aya.
"Lidya, tumben sekali kamu ke sini pagi-pagi seperti ini?" ucap Aya membalas pelukan Lidya.
"Kak, kedatanganku ke sini, karena aku mau bicara empat mata. Kakak bisa kan ... bicara empat mata denganku? Sebentar saja!" pinta Lidya memohon.
"Bicara tentang apa, Li? Ayo masuk dulu. Kita bicara di dalam saja!" titah Aya setelah membuka pintu butik dan menyalakan setiap lampu di dalam butiknya.
"Karyawan kakak belum datang?" tanya Lidya saat melihat keadaan butik yang sangat sepi.
"Ini jam berapa, Lidya? Butik buka jam 10 pagi. Dan ini masih jam setengah 8 pagi. Kamu ada apa ke sini? Kenapa kamu tidak menghubungi Kakak dulu? Kalau Kakak belum sampai butik bagaimana?" ucap Aya meminta Lidya duduk di sofa tunggu, "Duduklah. Kakak buatkan kamu minum dulu!" titahnya lagi.
Lidya menjatuhkan pantatnya di sofa. "Aku lupa, kalau butik ini buka jam 10 pagi, hehehe ... Tapi kenapa Kakak berangkat lebih awal? Biasanya, owner berangkat siangan atau ... sama sekali tidak berangkat?" tanya Lidya sambil menatap Aya yang sedang menyiapkan teh hangat untuknya.
__ADS_1