
"Benar juga apa yang dikatakan Kakak. Kakak kan sudah menikahi wanita itu. Jadi, kalau Kakak mau bercerai dengan wanita itu, tunggu wanita itu melahirkan, dong!" timpal Lidya yang mendapat anggukan kecil dari Rian.
"Setelah anak itu lahir, akan akan melakukan tes DNA."
"Wow, itu ide yang bagus, kak! Jadi, kita bisa tahu, anak siapa yang lahir nanti, apakah anak itu anak Kak Rian, atau anak dari pria lain. Tapi aku juga mau bertanya lagi, jika benar ... anak itu anak Kak Rian, bagaimana?" tanya Lidya lagi.
"Aku akan merawat anak itu. Karena, dia darah dagingku!" jawab Rian.
"Tapi kalau dia bukan anak kandung Kak Rian, bagaimana? Apa Kakak mau menceraikan wanita itu? Sedangkan, aku pikir-pikir ... posisi Kakak dan Kak Aya mungkin sudah resmi bercerai?"
"Aku akan menceraikan Vina. Aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku bersama pengkhianat!" jawab Rian.
"Kakak juga pengkhianat dan Kakak cocok dengan wanita itu. Sama-sama pengkhianat, kan?" jawab Lidya lirih.
Mendengar pengakuan dari wanita di hadapannya, Rian memicingkan matanya tak suka. Iya, Kakak memang pengkhianat. Tapi itu dulu, sekarang Kakak sudah berubah!"
"Hem, sama saja, Kak! Oh, iya. Semalam Kakak pulang jam berapa? Dan kenapa Kakak juga Kak Pras mabuk? Apa kalian berdua ada masalah kantor?"
"Tidak ada. Aku sengaja mengajak Pras untuk menemaniku minum." jawab Rian jujur, "Dan satu lagi, aku perlu ingatkan padamu, Lidya."
"Apa, Kak? Apa yang perlu aku ingat?" tanya Lidya penasaran.
"Jika aku atau Pras mabuk atau mengunci kamar seperti tadi pagi. Kamu jangan coba-coba masuk ke dalam kamar seorang diri. Aku takut terjadi hal buruk!"
"Kakak santai saja. Aku bisa menjaga diri dari kalian." kekeh Lidya.
"Tapi aku tidak yakin, Lidya."
"Iya, Kak! Lain kali ... aku tidak seperti tadi lagi. Aku akan meminta Bibi untuk masuk ke dalam kamar. Atau, aku suruh tukang kebun rumah ini saja untuk masuk ke dalam kamar. Jadi, jika terjadi sesuatu--"
__ADS_1
"Sudahlah. Intinya, jangan ulangi lagi kesalahanmu." potong Rian.
"Memangnya, kenapa Kak? Kak Pras juga bicara seperti itu sewaktu dia menarik tanganku keluar kamar Kakak!"
"Kau tahu, Pras belum menikah?" ucap Rian.
"Aku jelas tahu, kalau Kak Pras belum menikah. Aku kan adik dari Kak Pras." jawab Lidya.
"Ya, sudah."
"Ish, jelaskan dengan detail, Kak!" kesal Lidya.
"Kamu sudah dewasa, Lidya. Masa hal sekecil ini, kamu tidak tahu."
"Aku memang tidak tahu. Kak Pras cuma bilang, aku harus berhati-hati dengan kalian kalau sedang mabuk. Setahuku, orang mabuk memang bahaya, dia bisa melakukan apa saja tanpa sadar. Tapi ini beda cerita, Kak! Yang mabuk Kak Rian dan Kak Pras. Mana mungkin kalian mau melakukan hal aneh padaku, adik kalian yang paling cantik ini!"
"Kejadian di hari esok, tidak akan ada yang tahu, Lidya. Aku gerah, aku mau mandi! Bantu aku!" titah Rian.
"Bantu aku ke kamar mandi, tapi sepertinya kakiku belum bisa terkena air. Masih terasa perih dan nyeri!" jawab Rian.
"Kalau masih sakit, Kak Rian tidak perlu mandi. Aku juga takut membantu Kak Rian. Aku tidak bisa membantu Kak Rian! Bayangkan saja, aku mau bantu Kak Rian seperti apa? Aku harus memandikan Kak Rian, gitu? Tidak mau, aku saja tidak pernah memandikan Kak Pras. Masa iya, aku harus memandikan Kak Rian. Iya, sih. Aku sudah menganggap Kak Rian seperti kakakku sendiri, tapi tidak begini juga, kak!" ujar Lidya.
"Ambilkan saja air, aku mau seka tubuhku saja." titah Rian.
"Iya. Kalau ambilkan air, aku masih bisa membantu, Kak! Tapi kalau urusan mandi, aku sudah tidak bisa!" jawab Lidya berjalan menuju kamar mandi.
'Seharusnya, aku menahan Aya lebih lama di sini. Aku bisa berpura-pura sakit dan memintanya untuk memandikan aku!' batin Rian.
Sedangkan di satu sisi. Setelah mobilnya terparkir di depan halaman butik. Aya segera turun dan masuk ke dalam butik.
__ADS_1
"Bu, Aya!" titah Rere yang sedang menyapu lantai.
"Re, kamu bisa kirimkan gaun keluaran terbaru ke alamat yang aku berikan, tidak?" tanya Aya melihat butiknya yang rapi dan bersih. "Lalu, barang-barang yang ada di gudang ... itu barang-barang yang kemarin baru datang. Kamu bisa minta karyawan lainnya untuk memilih model yang bagus dan bisa di pasang menggunakan patung di depan." sambungnya lagi.
"Baik, Bu!" jawab Rere.
"Tapi ada tumpukan yang sengaja aku pisahkan. Karena aku mau membawa tumpukan produk kita ke Bandung!"
"Ibu jadi, membuka cabang butik di Bandung?" tanya Rere tak percaya.
"Hem. Aku sudah memutuskan, butik di sini ... akan aku serahkan semuanya padamu. Dan aku akan fokuskan ke butikku yang baru. Tapi aku harap ... kamu rahasiakan dulu dari siapapun. Aku tidak mau, ada yang mendengarnya selain kita semua yang ada di sini!" pinta Aya.
"Baik, Bu. Saya dan teman-teman akan merahasiakan dari orang luar. Biarkan ini menjadi kejutan untuk orang luar!" jawab Rere. "Iya, tidak, teman-teman!" sambungnya lagi.
"Iya, benar. Bu Aya juga harus membuat grand opening untuk cabang butik ibu." timpal karyawan lainnya.
"Saran yang bagus. Aku akan mengatur semuanya. Tidak ada yang ke sini mencariku, kan?" tanya Aya sekali lagi.
"Tidak ada, Bu. Ibu tumben sekali datang pagi-pagi? Dan kenapa tangan ibu sedikit berda rah?" tanya Rere.
"Oh, biasa. Hanya luka kecil. Ya, sudah. Aku naik ke atas dan kalian bisa kembali bekerja. Ingat, harus semangat kerjanya biar dapat bonus yang banyak!" ucap Aya sambil melangkahkan kakinya menaiki setiap anak tangga.
Sedangkan di luar butik. fajar menautkan ke dua alisnya saat tak bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka. "Apa yang kira-kira mereka bicarakan? Kenapa mereka sangat antusias sekali. Dan aku sempat mendengar karyawan Aya menyebut kata-kata grand opening. Apa arti ucapan mereka?" lirih fajar.
Rere kembali menyapu butik. Pandangannya tertuju pada sosok pria yang sedang berdiri di depan pintu butik.
'Apa Pak fajar mendengar obrolan aku dan Bu Aya, tadi? Tapi kata Bu Aya tidak ada yang boleh tahu selain karyawannya!' batin Rere berjalan dan membuka pintu butik. "Silahkan Pak fajar. Mau bertemu dengan Bu Aya?" sapa Rere membuat fajar terkejut.
'Sialaan, aku kepergok karyawan Aya. Aku harus bicara apa?' batin fajar.
__ADS_1
"Pak fajar?" lirih Rere sambil melambaikan tangannya ke wajah fajar.
Fajar tersadar, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam butik. "Aya di mana?" tanya fajar berpura-pura.