Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 46


__ADS_3

"Hei, memangnya aku bodoh, Vin? Tanpa kamu sadari, aku selalu memantau pergerakanmu! Tapi kamu tenang saja! Aku menutupi semua ini dari ibu, karena aku tidak mau mendengar Aya di caci maki terus!" ujar Rian.


"Mas, tapi anak ini anakmu! Bukan anak dari--"


"Aku tidak tahu, itu! Dan aku tidak mau tahu!" ketus Rian. "Aku capek! Aku mau tidur! Kamu bisa tidur di sini dan aku akan tidur di kamar sebelah!"


"Mas, kamu tidak boleh seperti ini, dong! Kita ini suami istri, Masa, kamu mau tidur di kamar lain. Kita tidur di sini sama-sama, ya!" pinta Vina memohon.


"Aku malas mendengar ocehanmu, Vin! Lebih baik, aku tidur di kamarku dengan Aya. Aku bisa terbebas dari ocehanmu. Setiap hari mendengar mulutmu marah-marah rasanya kepalaku ingin meledak!" ketus Rian berjalan menuju pintu kamar.


"Mas, aku diam! Tapi kamu tidur di sini! Kamu tidur di kamar ini, ya! Aku mohon ... kamu tidur berdua denganku!" cegah Vina meraih tangan suaminya.


"Tidurlah dulu, jika kepala sudah dingin ... aku akan kembali ke sini!" ucap Rian melepas tangan istri siri nya.


"Tapi, Mas! Kamu tidak bohong, kan? Kamu kembali ke sini, kan, Mas? tanya Vina.


"Kamu tenang saja! Aku akan kembali ke sini! Sudahlah! Aku ini capek! Jangan buat aku semakin marah dan malas berdekatan denganmu!" ketus Rian menepis tangan Vina dan berjalan keluar kamar.


Setelah melihat kepergian suaminya. Vina melempar selimut yang berada di kamarnya. "Argkh!" pekik Vina keras, "Kenapa Mas Rian bisa tahu semua ini, sih! Aku pikir, Mas Rian tidak akan mengawasiku dengan mengirimkan beberapa anak buahnya. Jika seperti ini, aku tidak mungkin menemui dia lagi!" ujarnya lagi.


Di dalam kamar, Rian menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang. Banyak kenangan di dalam kamar ini selama 3 tahun ke belakang.


"Aya, aku merindukanmu. Aku tidak mau kita berpisah! Sudah cukup, aku jauh darimu ... sekarang, aku mau kita bersatu seperti dulu, lagi! Tapi apa semua itu bisa terjadi? Apalagi saat melihat statusmu di ponselku. Bicara tentang status, kenapa Pras mau memotret mereka tanpa sepengetahuan aku! Wah, apa Pras sengaja membuatku cemburu! Ini tidak bisa di biarkan!" gumam Rian.


Sedangkan di satu sisi, fajar yang sedang meeting dengan salah satu klien penting nya pun tercengang saat melihat status Aya yang sedang menjalani pemotretan bersama seorang wanita.


'Aya! Kenapa dia bisa secantik ini! Aku tidak bisa diam di sini! Aku harus menyusulnya. Aku tidak mau, fotografer itu menggoda Aya, apalagi dalam keadaan Aya yang sedang bersedih!' batin Fajar lalu menatap salah satu klien yang sedang presentasi. 'Tapi aku tidak bisa meninggalkan meeting ini. Ah Siaal! Terpaksa, aku harus membiarkan wajah cantik Aya di perlihatkan di depan fotografer itu. Padahal, setahuku ... Aya sangat malas berfoto apalagi menjadi model!' batinnya lagi.


Setelah melakukan sesi foto masing-masing. Kini Aya dan Lidya akan melakukan sesi foto berdua.

__ADS_1


Dengan arahan dari Pras, Aya dan Lidya tampak bergaya dengan luwes dan tak kaku.


Cekrek!


Cekrek!


"Coba rubah gayanya! Aya duduk dan kamu berdiri, Lidya!" titah Pras yang di angguki oleh keduanya.


Setelah sesi foto berakhir. Aya dan Lidya mengistirahatkan tubuhnya.


"Kak, ternyata capek juga, ya!" keluh Lidya.


"Namanya juga foto, ya, pasti capek!" timpal Pras sambil melihat beberapa hasil jepretannya.


"Mas, bagaimana? Apa hasilnya ada yang tidak bagus? Kalau ada yang tidak bagus atau kurang bagus, kamu bisa bilang ke kita. Biar kita lakukan pemotretan ulang!" titah Aya membuat Pras berjalan dan menjatuhkan pantatnya di tengah-tengah Aya dan Lidya.


"Kalian penasaran, kan? Maka dari itu, aku akan tunjukkan hasilnya ke kalian sekarang, juga!" titah Pras.


"Kak, hasilnya bagus, ya! Kak Pras memang the best!" puji Lidya memeluk Pras, "Aku bangga mempunyai Kakak seperti Kak Pras!" pujinya lagi.


"Iya, Mas! Hasilnya bagus. Kamu minta bayaran berapa? Biar aku suruh Rere menyiapkannya!" ujar Aya menyenderkan tubuhnya di punggung kursi.


Pras menatap sekilas wanita yang tengah memejamkan matanya. "Kamu capek, Ay? Atau ngantuk?" tanya Pras membuat Aya membuka kelopak matanya lagi.


"Tidak! Aku tidak capek dan aku tidak ngantuk! Aku cuma mau meluruskan punggung ini!" jawab Aya sambil menampilkan senyum manisnya.


"Yang sabar, aku sudah tahu semuanya. Dan aku sangat bersalah, karena beberapa hari yang lalu, aku menghubungimu saat Rian mabuk!" ucap Pras.


"Tak apa-apa, Mas Rian juga masih suamiku. Mas Pras tidak perlu merasa bersalah. Justru, aku sangat berterimakasih karena Mas Pras mau membantu Mas Rian. Maafkan kelakuan Mas Rian yang kemarin, ya!" jawab Aya, "Oh iya, kalian minum apa? Biar aku hubungi Rere dulu! Aku sampai lupa, menawarkan kalian minum!"

__ADS_1


"Kakak! Kakak tidak perlu menghubungi Rere! Biar aku saja! Berapa nomernya!" titah Lidya menggeser tubuhnya beberapa centi.


"Wah terimakasih Lidya!"


"Eh, tapi aku mau turun ke bawah aja, kak! Aku mau bicara langsung aja! Kak Aya dan Kak Pras mau minum apa? Biar aku sampaikan!" tanya Lidya.


"Terserah kamu, Lidya!" jawab Pras.


"Kakak samakan saja denganmu! Jangan lupa meminta camilan juga, ya!" titah Aya.


"Okeh, siap, Kakak!" jawab Lidya berjalan keluar ruangan pemotretan.


Setelah kepergian Lidya, Pras merubah posisi duduknya agar menghadap Aya. "Ay, kamu yakin mau cerai dari Rian?" tanya Pras memastikan.


"Mas, kamu tahu, tidak! Belum ada satu hari, sudah ada dua orang yang bilang seperti itu!" kekeh Aya.


"Dan aku tahu orangnya. Orang itu pasti Lidya juga aku, kan?" jawab Pras yang mendapat anggukan kecil dari Aya.


"Iya, Mas! Lucu, bukan?"


"Tapi, kamu benar, mau cerai dari Rian?" tanya Pras lagi. "Kalian saling mencintai, loh!" sambungnya lagi.


"Mencintai tidak harus memiliki! Mungkin kata itu sangat tepat di aku, Mas!" jawab Aya.


"Kamu ini istri Sah Rian. Seharusnya, kamu yang pantas bersanding dengan Rian bukan Vina, wanita pelakor itu!" ujar Pras.


"Jika diantara mereka tidak ada calon buah hati, mungkin aku akan berjuang, tapi diantara mereka akan lahir buah hati. Dan aku tidak mau calon buah hati mereka kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Biarkan aku yang mengalah. Lagian hatiku juga sudah hancur! Dan cintaku untuk Mas Rian sudah pudar!" jawab Aya dengan senyum manisnya.


"Kamu bohong, Ay! Kamu masih sangat mencintai Rian! Aku bisa lihat itu dari tatapan matamu!"

__ADS_1


"Mas Pras, memang sekarang cinta dan rasa sakit itu sedang berperang. Dan mungkin, kamu sudah tahu ... siapa pemenangnya?"


__ADS_2