Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 76


__ADS_3

"Tapi kalau Kak Rian tidak makan, Kak Rian bisa sakit. Mau Kak Rian sakit lalu Kak Aya bersenang-senang di luar sana dengan pria lain. Atau, pria yang bernama fajar itu akan semakin leluasa mendekati Kak Aya karena tahu, kalau Kak Rian sakit, Hem? Tidak, kan!" ujar Lidya membuat Rian berpikir sejenak.


"Tapi, aku tidak lapar, Lidya! Minta Bibi untuk menyiapkan makananku saja. Kalau aku lapar, baru aku bicara denganmu." titah Rian.


"Baiklah, kalau itu mau Kakak. Aku akan minta Bibi menyiapkan sarapan pagi untuk Kakak! Kakak istirahat, ya!" jawab Lidya.


Sedangkan di satu sisi. Aya menancapkan gas mobilnya pelan. Dia memikirkan setiap ucapan yang dilontarkan sang suami padanya, tadi.


"Kira-kira arti ucapan Mas Rian apa, ya? Kenapa dia bisa bilang, kalau aku dan Mas Fajar tinggal satu atap. Dan tunggu dulu. Aku juga sempat dengar, Mas Rian bilang ... dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Apa jangan-jangan kemarin Mas Rian mengikutiku? Dan dia melihat Mas fajar yang menyambut hangat di depan rumahku. Haduh, pantas saja Mas Rian marah sampai mabuk seperti tadi. Ini juga kesalahanku. Aku yang salah. Tidak sepantasnya aku membiarkan Mas fajar keluar masuk rumahku. Mau bagaimana pun, aku masih istri Sah dari Mas Rian. Tapi tunggu dulu, berarti secara tidak langsung, Mas Rian sudah mengetahui rumah baruku?" gumam Aya sambil menatap lurus ke depan.


Di dalam mobil fajar. Dia selalu bertanya-tanya tentang tujuan Aya sekarang.


"Kira-kira, Aya mau kemana? Apa dia mau ke butik? Tapi tumben sekali, pagi-pagi seperti ini ... dia pergi ke butik. Biasanya, dia kalau pergi ke butik sedikit siang karena malas macet!" gumam fajar.


Vina, wanita yang bernasib malang. Di sembunyikan oleh suaminya di rumah yang sangat sederhana dan jauh dari masyarakat sekitar.


Kedatangan asisten rumah tangganya yang sangat ceroboh, membuat wanita itu dalam beberapa menit sekali marah-marah tidak jelas.


"Kamu sebenarnya bisa kerja tidak, ha! Kerjaanmu selalu tidak bejus!" bentak Vina pada asisten rumah tangganya yang baru.


"Ma-maafkan saya, Bu. Sekali lagi, saya minta maaf, Bu!" mohon wanita paruh baya yang bernama Sri.


"Maaf, maaf! Memangnya dengan kata maaf semuanya akan kembali seperti semula, ha! Aku heran, kenapa suamiku bisa memperkerjakanmu di tempatku ini. Intinya aku tidak mau tahu, kau harus membereskan semua kekacauan ini. Gelas pecah, dan piring kotor lainnya!" kesal Vina.


"Baik Bu!" titah Sri membuat Vina berjalan menuju kamarnya.


Setelah berada di dalam kamar, Vina segera mengambil ponselnya. "Aku harus menghubungi Mas Rian. Dia tidak bisa seenaknya memberiku Pembantu seperti Sri. Wanita tua yang sangat ceroboh!" gumam Vina meraih dan menelfon suaminya.

__ADS_1


Tut ... Tut ....


"Ayo angkat telfon ku, Mas!" lirih Vina menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang.


Sedangkan di satu sisi. Rian menghembuskan napasnya kasar saat melihat layar ponselnya menyala.


"Dia lagi, lama kelamaan aku bosan dengannya! Selalu merecoki hidupku!" gumam Rian meletakkan ponselnya di atas meja.


"Kak Rian!" panggil Lidya. "Bibi sedang sibuk masak makan siang. Jadi, aku saja yang membawa sarapan pagi untuk Kak Rian. Kakak makan, ya!" titah Lidya meletakkan nampan yang berisi sarapan pagi untuk Rian


"Siapa yang telfon, kak?" tanya Lidya.


"Lihat saja sendiri. Aku capek meladeninya. Semenjak ada dia, hidupku menjadi hancur!" jawab Rian merebahkan tubuhnya.


"Matikan saja ponsel Kakak." saran Lidya.


"Serem juga, ya, Kak! Padahal, posisinya dia itu istri sirih Kakak, tapi dia bisa melakukan hal nekat. Aku takut," ucap Lidya bergidik ngeri.


Rian tersenyum saat melihat ekspresi wajah Lidya yang ketakutan. "Angkat saja telfonnya. Lalu kamu bilang, kalau aku sedang bersamamu. Sudah beres," titah Rian yang mendapat gelengan kecil dari Lidya.


"Aku tidak berani, Kak! Aku tidak mau mendapatkan hinaan. Waktu pertemuan pertama aku dengan istri sirih Kakak, aku juga takut. Menurutku dia lebih galak dari Kak Aya."


"Hahaha ... Dia memang lebih galak dari Aya. Kesehariannya saja marah-marah tidak jelas. Aku pergi ke kantor, dia selalu menuduhku pergi menemui Aya. Maka dari itu, aku capek dan aku pindahkan dia ke tempat yang tidak diketahui orang."


"Kemana, Kak? Jangan sampai Kakak buang istri Kakak itu ke hutan. Lalu dia di santap binatang buas. Kasihan juga, Kak!" ujar Lidya.


"Memangnya, aku se jahat itu? Aku membawanya ke suatu tempat yang tidak di ketahui banyak orang. Aku tidak akan membuangnya di hutan, aku masih punya perasaan!" jawab Rian.

__ADS_1


"Kakak geser, aku mau duduk." titah Lidya membuat Rian menggeserkan tubuhnya.


"Kak, bicara tentang perasaan. Bagaimana sih, perasaan Kakak ke istri sirih Kakak? Maksudku seperti ini. Apa Kakak mempunyai rasa cinta atau sayang?" tanya Lidya penasaran.


"Untuk apa kamu bertanya seperti itu? Apa Aya yang menyuruhmu?" tanya Rian balik.


"Kak Aya sama sekali tidak menyuruhku. Aku penasaran saja, Kak! Serius, deh. Aku penasaran dengan hati Kakak. Sebenarnya, cinta Kakak lebih besar ke Kak Aya atau ke istri sirih Kakak?" tanya Lidya lagi. "Ayo, cerita, Kak! Aku janji, aku akan tutup mulut!"


"Aku tidak punya perasaan apapun untuk Vina!" jawab Rian mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.


"Kalau tidak suka, kenapa Kakak mau menikahi dia, kak? Seharusnya, Kakak tolak saja! Kakak tidak perlu menikah dengan wanita itu!"


"Anak kecil sepertimu tidak tahu kejadian yang sebenarnya, Lidya. Jika aku tahu, endingnya seperti ini, aku tidak mungkin mau menikahi Vina!" jawab Rian meminta air putih yang berada di nampan.


Lidya mengambilkan segelas air putih lalu menyodorkan ke arah Rian. "Ini, Kak!" titah Lidya.


"Terimakasih," jawab rian meneguk segelas air putih itu.


"Tapi kenapa Kak Rian mau menikah dengan wanita itu? Sewaktu kakak menjelaskan padaku, aku masih sedikit bingung dan bertanya-tanya."


"Iya, karena dia hamil." jawab Rian. "Sebenarnya, karena dia hamil."


"Hamil anak Kak Rian?" tanya Lidya lagi.


"Mungkin saja!" jawab Rian santai.


"Kenapa jawaban Kakak seperti orang yang tidak yakin? Apa anak itu bukan anak Kakak? Dan Kakak pria yang terakhir kali menyentuh wanita itu sampai akhirnya wanita itu hamil, lalu dia meminta pertanggungjawaban dari Kakak?" tebak Lidya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, Lidya. Kalau pun anak yang ada di dalam kandungannya bukan anak aku, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak bisa menceraikan Vina!" jawab Rian.


__ADS_2