Diamnya Seorang Istri

Diamnya Seorang Istri
Bab 53


__ADS_3

"Huh! Aku masih mengharapkan kesempatan itu, Ay!" ucap Rian.


Aya meraba kaca pintu taksi. Tetesan demi tetesan air hujan mulai turun dari langit.


"Hujan," gumam Aya lalu menoleh ke arah suaminya. "Berikan ponselku sebentar! Aku harus memastikan Lidya juga Mas Pras dalam keadaan baik-baik saja!" titah Aya lagi.


"Biarkan aku yang menghubungi mereka menggunakan ponselku! Ponselmu biar aku yang pegang!" jawab Rian merogoh dan mengambil ponsel miliknya.


"Terserah mu," ketus Aya menatap pepohonan lagi dari dalam Taksi.


Rian mendekatkan benda pipihnya ke telinga sambil menunggu telfonnya di angkat, tak henti-hentinya Rian menatap wajah wanita di sampingnya.


Sedangkan di satu sisi, Pras dan Lidya langsung masuk ke dalam taksi. Deringan ponsel membuat Pras merogoh dan melihat nama si penelepon.


"Siapa kak?" tanya Lidya.


Pras memperlihatkan nama yang tertera di layar ponselnya. "Kamu bisa lihat, ini siapa?" tanya Pras membuat Lidya menganggukkan kepalanya.


"Kak Rian! Tumben sekali kak Rian menelfon kakak! Apa mungkin Kak Aya dalam masalah?" tebak Lidya.


"Jangan bodoh, Lidya. Pasti dia mau membuat pidato panjang kali lebar, karena aku sudah membuatnya kesal." jawab Pras menggeser tombol hijau.


"Iya, ada apa?" tanya Pras setelah mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Rian dengan lembut.


"Kabar?" gumam Pras menautkan ke dua alisnya, "Kau waras kan? Atau, kau sudah gila karena Aya?" sambungnya lagi.


"Kenapa Kak?" tanya Lidya, "Coba aktifkan pengeras suara, aku mau dengar!" titahnya lagi.


Pras mengaktifkan pengeras suara.


"Iya, bagaimana kabarmu, Pras? Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Rian sambil menatap wanita di sampingnya yang sedang menyimak pembicaraan.


"Aku baik-baik, saja! Kelihatannya, otakmu sudah geser," ujar Pras.

__ADS_1


"Mas Pras!" panggil Aya, "Ini aku, Aya!" sambungnya lagi.


Mendengar suara Aya, Pras jadi mengerti alasan Rian berkata lembut padanya.


"Oh, jadi karena ini, kamu menanyakan kabarku, Rian?" tanya Pras terkekeh.


"Jangan menertawakanku!" ketus Rian.


"Wah, santai. Aku suka kamu yang lemah lembut, Rian! Bukan yang seperti ini!" ujar Pras dengan nada yang dibuat-buat.


"Jaga ucapanmu, itu! Jangan membuatku ilfill dengan sikapmu!" ketus Rian.


Aya merebut ponsel milik suaminya, "Biar aku yang bicara, Mas!" titah Aya. "Mas, ini aku Aya. Syukurlah kalau kalian baik-baik saja! Aku mau minta maaf, karena aku tiba-tiba hilang dari restoran. Sekarang, aku pergi ke butik dengan Mas Rian!" ujar Aya


"Kak Aya! Aku tahu, kok! Tadi, aku lihat Kak Aya yang bertengkar dengan Kak Rian di depan restoran. Kita bisa memaklumi!" timpal Lidya.


"Syukurlah, kalau kalian melihatku tadi! Tapi, kenapa kalian tidak menolongku? Aku butuh pertolongan dari kalian! Dan Mas fajar mana? Aku mau bicara dengannya! Apa Mas fajar sedang fokus menyetir?" tanya Aya membuat Pras menghembuskan napasnya kasar.


"Kita pulang berdua menggunakan taksi, Ay! Fajar pulang sendiri!" jawab Pras.


Aya menautkan kedua alisnya, bingung.


"Sudahlah! Kamu tidak perlu mencemaskan Pras dan lainnya. Dia sudah besar, Ay!" gumam Rian yang mendapat tatapan tajam dari wanita di sampingnya.


"Aku tidak bicara denganmu, Mas! Kamu bisa diam dan jangan ikut campur urusanku!" ketus Aya. "Mas Pras masih bisa dengar aku, kan? Sekarang, Mas Pras beritahu aku, kenapa kalian menggunakan taksi? Apa yang terjadi antara kalian, Mas?" tanya Aya lagi.


"Biar aku saja yang jelaskan, Kak! Kak Pras tidak mungkin mau menjelaskan semua kejadian itu!" titah Lidya menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.


"Huh! Jadi begini ceritanya. Aku tidak memaksa Kakak percaya atau tidak, tapi memang ini kejadian yang sebenarnya. Aku dan Kak Pras sama sekali tidak memanipulasi cerita ini, Kak!"


"Lidya, tidak perlu basa basi. Sekarang, kamu jelaskan semuanya. Aku perlu tahu!" titah Aya.


"Sayang, sudahi telfonnya." titah Rian berusaha merebut ponsel miliknya.


"Aku pinjam sebentar, Mas! Dan jangan panggil aku sayang! Aku tidak suka di panggil sayang olehmu!" ketus Aya yang dapat di dengar oleh Pras dan Lidya.

__ADS_1


"Kak Aya masih bertengkar dengan Kak Rian?" tanya Lidya memastikan.


"Tidak! Kita tidak bertengkar. Cepat jelaskan apa yang terjadi, Lidya! Aku mau mendengarnya!" ujar Aya penasaran.


"Jadi begini, Kak! Ternyata, Kak fajar itu orang yang jahat! Dia melakukan tindakan kekeraasan padaku!" lirih Lidya membuat Aya dan Rian yang mendengarnya terkejut.


"Apa! Kekerasan?" pekik Aya tak percaya.


"Walaupun aku terkejut, tapi aku sudah tahu ciri-ciri pria seperti fajar!" timpal Rian santai.


"Iya, Kak! Kak fajar mendorong tubuhku sampai terbentur, dan Kak Pras tidak terima."


"Jangan bilang, setelah itu ... Mas Pras dan Mas Fajar bertengkar, iya?" tebak Aya.


"Iya, memang apalagi kalau bukan bertengkar! Tentu, Kak Pras tidak terima kalau adiknya terus di sakiti." jawab Lidya menyenggol lengan Pras, "Semua ucapanku benar, kan, kak Pras?" titahnya lagi.


"Hem, aku hanya membela adikku, dia tidak bersalah!" ujar Pras.


"Tuh kan semua ucapanku benar! Sekarang, aku mohon ke Kakak, jangan dekat-dekat dengan Kak Fajar! Dia bukan pria yang baik! Dia pria yang jahat! Sangat jahat!" ucap Lidya.


"Tapi aku tidak yakin kalau Mas fajar akan berbuat se kejam itu. Pasti ada sebabnya, sebelum kamu di dorong oleh Mas Fajar, kira-kira kamu melakukan kesalahan apa?" tanya Aya menatap sekilas suaminya yang tengah menyimak.


"Sudahi, Ay! Kita perlu membicarakan hubungan rumah tangga kita! Jangan membicarakan lainnya!" rayu Rian yang diabaikan istrinya, Aya.


"Sebelumnya, Kak Pras mencegah Kak fajar turun dari mobil. Karena Kak Pras mendapat pesan dari Kak Rian untuk tidak mengganggu waktu berduanya dengan Kak Aya. Ya kurang lebih seperti itu kejadiannya, Kak! Sampai aku marah dan tarik rambut kak Fajar!" jawab Lidya jujur.


"Huh! Jadi, semua ini karena Mas Rian?" tanya Aya kembali menatap tajam suaminya.


Mendengar namanya di bawa-bawa dalam topik pembicaraan istrinya, Rian seketika menatap wajah Aya.


"Kenapa ada namaku, Ay?" tanya Rian penasaran.


"Aku akan tegur dan bicarakan ini ke mas Rian. Terimakasih atas penjelasannya, Lidya! Kalau begitu, kamu langsung saja ke butik Kakak, ya!" ujar Aya lalu mengakhiri panggilannya.


Setelah panggilannya berakhir, Aya meletakkan ponsel milik suaminya ke dalam pangkuan. "Ini, Mas! Dan aku peringatkan ke kamu, jangan pernah membuat masalah!" ketus Aya.

__ADS_1


"Masalah seperti apa, Ay? Aku tidak tahu apa yang kamu katakan!" jawab Rian kebingungan.


"Kamu tahu, Mas! Karena ucapanmu, mereka jadi bertengkar!" ketus Aya


__ADS_2